
Happy Reading!
***
.
Selalu saja suasana menjadi aneh tiap kali Kenzie berucap. Kali ini, Lea berdiri dan pergi ke kamar mandi. Pandangannya tidak putus menatap punggung Lea yang sudah ditelan pintu toilet.
"Sepertinya hubungan pacaran dalam konteks kehidupanmu memiliki arti seperti itu, Nona Kenzie." Tanggapan Hunter mengalihkan fokus Lea. "Seperti apa?"
"Tidur bersama. Apa kau selalu menganggapnya seperti itu?"
Kenzie menyeringai kecil. "Bukankah memang seperti itu? Kau punya keinginan untuk tidur dengan orang yang kau sukai. Bahkan bisa menghabiskan semua waktu yang kau punya untuk memenuhi kebutuhan biologis. Bagiku, pacaran memang begitu. Aku tidur dengan mereka karena aku suka dan ingin memberikan cintaku dengan cara seperti itu."
Sebuah decakan menghampiri pendengaran Kenzie. Ditatapnya Hunter yang terkekeh mengejek. "Aku menganggapmu salah mengartikan sebuah hubungan. Tidak ada yang melarangmu untuk memenuhi kebutuhan biologis, tapi hubungan pacaran tidak hanya tentang itu. Kau perlu berkencan, minum bersama dan berbincang hanya sekadar untuk mengenali mereka, mengetahui apa saja tentang mereka. Misalnya, seperti apa warna kesukaan mereka, makanan kesukaan, tempat favorit dan hal kecil apapun tentang mereka. Apa kau mengetahui hal kecil itu pada pasanganmu?"
Diam cukup menjawab pertanyaan Hunter. Dia mengulas senyum dengan tangan yang sibuk mengaduk minuman panas di atas meja Lea. "Aku dan Mara seperti itu. Aku tahu kalau dia suka cokelat hangat yang diaduk seperti ini. Ya, hal sekecil ini membuatku hangat. Tentang apa yang kau bicarakan tadi, aku menghargai Mara. Aku tidak memaksa jika dia tidak ingin. Aku juga pria normal, adakalanya aku ingin menciumnya, tapi kalau Mara tidak mau, aku akan menahan diri."
Kenzie mendesah kasar dan mengerucut. "Yang kau bilang memang benar, tapi kenapa aku kesal? Boleh tidak, aku menonjok mulutmu sekali saja?"
Hanya dijawab oleh tawa kecil. "Kau temannya Mara, berarti kau seseorang yang berarti baginya." Tangan Hunter mengetuk meja berkali-kali dan memandang lurus ke mata Kenzie lalu berujar tegas, "Apa kau tahu siapa pria yang baru saja kau sebutkan tadi? Leon dan Bryan?"
Kenzie menggeleng cepat. "Kami hanya one night stand. Itu pun hanya dengan Bryan. Kalau Leon, dia bukan orang yang gampang dirayu, memang tampangnya bodoh, tapi dia punya pengendalian diri yany cukup tinggi. Soal siapa mereka, aku tidak mengenal mereka," jawab Kenzie panjang lebar yang cukup sekali menjawab rasa penasaran Hunter.
"Nona Kenz ...," panggil Hunter kecil. Bola matanya bergerak mengawasi jangan-jangan Lea memerhatikannya.
"Huh?!"
"Kalau aku memintamu jangan membawa mereka ikut serta dalam liburan kita nanti, apa kau akan menurutinya?" Hunter bertanya dengan waspada.
Kenzie cukup tanggap. Dia melihat mata Hunter yang bersinar tapi penuh ketegasan. Sesaat Kenzie sempat lupa bagaimana caranya bernapas karena saking dekatnya Hunter di depannya. "Mereka orang yang berbahaya ya?"
Kemudian Kenzie mengangguk. "Aku mengerti. Aku tidak perlu alasan jika ini menyangkut kenyamanan Lea."
"Terima kasih." Hunter mengulas senyum terbaiknya lalu beralih untuk berbincang ringan dengan Kenzie. "Seperti katamu, jangan meminta alasan apapun. Kumohon!"
Tak selang berapa lama, Lea juga kembali dari toilet. "Kau tidak merenovasi tempatmu rupanya. Toiletnya masih sama. Selalu tersumbat."
Kenzie mengedik santai. "Aku tinggal sendirian. Tidak apa-apa."
Waktu terus berguling. Sang pemilik siang perlahan miring ke arah barat. Seolah baru tersadar, Hunter buru-buru undur diri. Dia harus menyelesaikan beberapa pekerjaannya yang terbengkalai karena situasi belakangan ini.
Keberadaan Kenzie di dapur memberi kesempatan untuk berduaan bagi Lea dan Hunter. Pria bermanik cerah itu tersenyum tipis lalu sedikit membungkuk guna menggapai pipi mungil yang selalu menciptakan lesung tatkala tersenyum. Dia mendaratkan sebuah kecupan di sana yang dihadiahi senyum oleh pemilik pipi.
Deheman dari arah belakang menyadarkan Lea dari dunianya yang berbunga-bunga. Dia berbalik hendak menghindar, tapi tangannya secepat mungkin dicekal. "Kalau aku harus mati, setidaknta aku harus mati dengan tenang. Ceritakan tentang kalian!"
Lea tidak mengiyakan, tapi dia duduk di ruang tamu. Ekspresinya tidak terbaca. "Seperti yang kau lihat. Aku tidak menghindar saat dia mencium pipiku. Seperti itulah hubungan kami. Tadi sudah aku katakan, kami lebih dekat dari sekadar teman."
Kenzie memeluk Lea dari belakang. "Syukurlah, aku sempat khawatir kau tidak mau membuka hatimu untuknya. Aku tahu dia pria yang baik, tapi tidak menyangka kalau dia benar-benar baik dan tulus."
Lea memuta kepala dan menatap Kenzie dengan pandangan penuh arti. Senyum terukir di bibirnya. "Apa maksud dari perkataanmu?"
Kenzie kelabakan. Dia akhirnya ikut duduk lalu menyela cepat, "Kau tidur di sini?"
"Tidak." Lea menggeleng. "Aku harus menyiapkan pakaian untuk bermain di pantai." Dan kemudian melanjutkan, "Kau tadi menyangka Jullian yang datang bersamaku?"
Tersenyum menyeleneh, Kenzie tidak bisa mengelak. "Aku berharap bisa melihatnya sedikit saja, tapi kau sangat jahat."
"Aku tidak tahu. Maaf," ujar Lea acuh. "Dia punya pacar. Aku tidak tahu dia serius atau tidak, tapi selalu meluangkan waktu untuknya. Aku tebak, mungkin saja dia serius."
Kenzie menghela napas panjang dan tersenyum pahit. Sungguh sakit rasanya menyukai orang yang tidak memiliki perasaan yang sama. "Dia adiknya William 'kan?" Dijawab anggukan oleh Lea. "Kau tidak apa-apa?" tanya Kenzie memastikan.
"It's ok. Tapi saat wanita itu tahu siapa aku, aku takut dia mati berdiri. Selama ini dia mengira aku menggoda kakaknya yang maniak itu, tanpa tahu cerita sebenarnya."
Kali ini giliran Kenzie yang memandang khawatir pada temannya itu. "Kau sudah siap dengan segala kebetulan?"
"Jangan khawatir! Sekarang aku punya segalanya, keadaan akan berbalik. Kali ini, aku tidak akan tinggal diam seperti dulu. Kita lihat saja siapa yang menggigit siapa." Kilatan mata yang teduh itu berubah seketika. Tajam dan penuh ancaman serta seringai menakutkan terbit di wajahnya.
Jika dulu Kenzie melihat Lea sebagai kucing malang yang hanya bisa mencakar sesekali, namun saat ini telah berubah. Lea terlihat lebih menakutkan dari apapun. Tidak seperti wanita kecil yang menangis karena diperlakukan tidak adil hanya karena masa lalu yang buruk.
"Jika butuh bantuan, aku akan selalu di sini untukmu," jelas Kenzie menenangkan.
"Aku hanya butuh satu hal."
"Apa itu?"
"Pastikan Leon dan Bryan ikut denganmu ke liburan kita."
Kenzie melongo tidak percaya. Dia terbungkam beberapa detik hingga dikejutkan oleh tepukan Lea di mulutnya. "Mereka temannya brengsekk itu kalau-kalau kau tidak tahu. Aku punya dendam dengan Bryan Knight."
.
***