
Happy reading!
***
.
Mata hitam itu memandang intens pada kertas putih yang berisi persetujuan Lea menjadi wanitanya. William terkekeh samar, kilatan berbahaya dari manik hitamnya terpancar jelas.
"Jalaang ...."
Sudah beberapa menit berakhir hanya dengan memandang benda di atas meja itu. William seakan tidak percaya. Wanita yang selama ini dikatainya sampah ternyata bisa mengancam. Yang lebih mengejutkan, Lea tampak biasa saja saat dia mengajukan persyaratan.
Jika biasanya Lea terintimidasi oleh tatapannya, tadi wanita itu berani menatap manik hitamnya meski masih terlihat ragu-ragu.
"Pada akhirnya semua tentang uang."
William kembali bergumam, pikirannya berlari pada kejadian lalu, waktu dirinya memiliki seorang kekasih yang pada akhirnya berkhianat demi lelaki yang lebih kaya.
Dia tampak frustrasi. William menghembuskan napas kasar lalu memasukkan kertas itu ke dalam laci. Kegiatannya tiap malam harus terhenti karena lembaran kertas putih itu. Tidak ada yang istimewa, tapi hati William seakan hanyut seperti perahu kertas yang terbawa arus air. Hancur lenyap, tak tersisa.
Malam semakin larut, hanya kesunyian yang menemani William. Dua teman yang selalu bersamanya memiliki kesibukan masing-masing.
Mengingat lagi apa yang dilihatnya malam itu, William tidak bisa memejamkan mata. Manik hitamnya makin menajam dengan sunggingan miring di sudut bibir. Tangan William mengepal seiring dengan gertakan gigi yang terdengar.
"Dia jalaang," desisnya geram.
Waktu yang terus berputar mengantarkan William pada pagi yang cerah. Rambatan malu-malu sang mentari membuat William menguap lebar. Dia mengusap matanya yang kelelahan karena tidak bisa tidur semalam.
William bangkit dari sofa tempatnya bersandar semalam, keluar dan mengendarai mobil tanpa tujuan.
Hanya beberapa menit dari kasino, William berhenti di depan gedung yang seminggu lalu dilewatinya sepulang dari kantor polisi. Kali ini William tidak hanya memandang dari kejauhan, tapi kakinya seperti ditarik oleh magnet dan berjalan dengan sendirinya keluar dari mobil.
Lelaki itu lupa akan janjinya hari itu, janji pada diri sendiri untuk tidak menemui Lea sebelum dia tahu siapa Lea. Iblis merasuki pikiran William.
Sampai di lantai enam, manik hitam itu menyalakan bara api. Melihat seorang lelaki yang memegang sebuket bunga, berdiri sembari mengetuk pintu apartemen Lea. William seperti tersengat aliran listrik, dia melangkah lebar lalu membalikkan badan orang itu untuk berhadapan dengannya.
"Siapa kau?" Hunter mengerutkan kening terkejut. Menyentak tangan orang bermasker yang memegang kerahnya.
Seketika maniknya yang berbinar langsung meredup ketika mengenali wajah yang tertutupi masker itu. Bukan hal baru bagi Hunter bertemu dengan William. Koneksi Hunter banyak dan tentu saja dia tahu William, apa saja yang telah lelaki itu perbuat pada Lea. Bukan hanya sekali, tetapi berkali-kali.
"Aku yang seharusnya bertanya, apa yang kau lakukan di depan rumah wanitaku?"
"Wanita?" Hunter membeo dengan seringai kecil. "Baru pertama kali aku melihat orang yang tidak tahu malu. Kau menyebutnya 'wanitaku' setelah membuatnya seolah dia adalah sampah?"
Sebuah pukulan mendarat di rahang William. William tergelonjak, tidak menyangka Hunter melayangkan pukulan keras. Namun, William tetap bergeming, amarahnya berhasil dia redam kali ini. Ketika Hunter hendak memukul untuk kedua kalinya, pintu apartemen Lea terbuka.
"Tempat ini bukan ring tinju!"
Wajah datar Lea langsung menyapa dua lelaki yang sedang dilanda amarah itu. Hunter memutar tubuh, menghadap Lea yang tidak terkejut dengan kehadiran William.
"Kau tidak serius sedang menjalin hubungan dengan orang ini 'kan? Katakan itu bohong, Lea! Dia berhalusinasi 'kan?"
Hunter menggoyang pundak Lea yang bergeming. Sangat berharap kenyataan seperti yang dibayangkannya, Lea miliknya sendiri.
"Dia kaya dan bisa memberi apa yang aku inginkan," ucap Lea tanpa ekspresi. "Enyahlah, aku tidak membutuhkan bunga itu!"
***
Tidak ada yang bisa dilakukan Lea ketika tangan kekar itu menariknya keluar dari apartemen, meski dia meronta, tenaganya jauh di bawah William. Tidak ada senyum remeh seperti yang ditunjukkan pada Hunter tadi. William benar-benar marah.
"Aku tidak percaya jalaang sepertimu akan diam saja di rumah," desis William marah.
Rahang lelaki itu mengetat dan kakinya melangkah lebar, menyeret Lea untuk menuruni tangga darurat. Lea sesekali meringis sakit saat pergelangannya dicengkeram kuat oleh William.
"Aku melarangmu bicara, Jalaang!"
"Bajiingan! Brengsekk!"
Lea memukul-mukul punggung William, meronta agar lelaki itu menurunkannya. "Kau iblis, bajiingan keji!"
William menulikan telinga dan melempar Lea tatkala pintu mobil terbuka. Dia menindih Lea, mengunci gerakan wanita itu saat Lea hendak bangkit.
"Diam, Jalaang!"
Segera William mengunci pintu dan mobil itu melaju kencang, membawa Lea pergi dari tempat ternyamannya di Las Vegas.
Lea terdiam. Hanya matanya yang berkelana, mengenali setiap daerah yang belum pernah dijelajahinya selama berada di sini.
Dalam hati, Lea berharap, tempat yang akan menerimanya bukanlah neraka.
Mobil itu melaju bertambah kencang sesaat setelah William mendapat telepon. Raut datar dan penuh amarah tadi sejenak berubah, menampakkan sosok manis yang tidak bisa ditolak pesonanya.
Jika saja Lea tidak tahu bahwa dia adalah iblis, mungkin hatinya akan meleleh melihat senyum manis William. Lea memang mengakui jika William sangat tampan, tapi kenyataan bahwa hati lelaki itu dikuasai iblis tidak membenarkan hatinya untuk jatuh pada pesona William.
Lagi-lagi mobil itu berbelok dengan kecepatan tinggi membuat kepala Lea mengangguk-angguk tidak berdaya. William menyeringai, tidak peduli betapa sulitnya bagi Lea hanya sekadar untuk menegakkan kepala.
Jantung Lea berdegup kencang tatkala mobil itu memasuki pelataran bangunan tinggi. Sebuah apartemen yang terkenal di kawasan elit.
Masih memakai cara yang sama, William menyeret Lea dari mobil, memaksa kaki pendeknya melangkah lebar mengikuti langkah William. Meski kakinya lelah, Lea tetap memaksa, berusaha kuat agar William tidak menyiksanya. Hanya satu ketakutan Lea pada lelaki ini. Kekerasan.
Tiba di sebuah unit apartemen, Lea melebarkan mata melihat siapa yang keluar dari sana. Wajah malaikat yang melecehkannya malam itu.
Lea hendak berlari dari sana, namun tangan William mencekal, mendorong tubuhnya masuk ke dalam. "Kau membutuhkan lelaki, bukan? Maka puaskan dia. Kau milikku! Jangan lupakan itu!"
Sedetik kemudian, air mata Lea menguncur deras bersamaan dengan Bryan yang menariknya masuk.
"Kau menepati janji, Dude!" Bryan terkekeh puas, menepuk pundak William yang berbalik tanpa ekspresi.
"Berikan bayarannya nanti!"
"Tentu saja, kau akan mendapatkannya."
Bryan menutup pintu, mendorong dan memaksa Lea masuk lalu melakukan apapun yang disukainya. Bermain dengan tubuh wanita yang berderai air mata itu.
"Bajiingan! Aku mengutukmu agar masuk neraka!" Tidak puas dengan umpatan itu, Lea memukul, mendorong, dan menampar Bryan.
Namun, lelaki itu bergeming. Wajah malaikatnya tersenyum, menindih Lea di sofa sehingga menyulitkan Lea bergerak.
"Aku tidak akan pernah memaafkanmu, Iblis. Aku membencimu!!!"
Semua sumpah serapah terlontar, sampai saat Bryan hendak mencium bibirnya, Lea menggigit bibir Bryan hingga berdarah.
PLAK!
PLAK!
"B*tch!"
Dua tamparan bolak-balik menyulutkan api di tubuh Lea yang berkobar. Dia menendang sekeras mungkin dan mengenai selangkangann Bryan. "Bahkan neraka tidak akan menampung iblis sepertimu!"
.
***