After Yesterday

After Yesterday
After Yesterday 33



Happy reading!


***


.


Setelah memutuskan untuk mengajak serta Bryan dan Leon, Lea rupanya mendapat pertentangan dari Hunter. Pria bermanik bening itu terlihat tidak suka. Dari matanya yang berubah suram serta senyum yang terkesan dipaksakan.


"Aku mendukung semua keputusanmu, tapi alangkah baiknya kalau kau juga mendiskusikan hal ini terlebih dahulu denganku," ujar Hunter.


Hari yang panas tidak membuat kepala Lea ikut memanas. Dia menunduk sesal. Sedikit berbeda dari Lea yang biasa. Benar kata Hunter. Mereka sudah lama bekerja sama dan pria itu selalu membantunya. Sekali saja, Hunter tidak pernah memaksakan kehendak atau pun mengingkari perkataannya. Dia selalu menuruti kemauan Lea.


"Maafkan aku. Aku buru-buru karena terbawa perasaan."


Hunter mendesah pelan lalu menarik Lea ke ayunan yang berada di bibir pantai. "Aku tidak marah, tapi sedikit kesal."


Dalam hati, pria itu tampaknya gelisah dan tidak bisa berpikir jernih walau mulutnya mengatakan baik-baik saja. Meski overthinking, Hunter berusaha meredam perasaannya yang mulai meluap-luap. Dia bukan siapa-siapa bagi Lea. Walau wanita itu tidak menghindar saat dia mencium pipinya, tetapi hati wanita terlalu dalam untuk diukur. Hunter takut jika suatu saat Lea menjauhinya karena dia posesif.


"Kau tetap akan membantuku 'kan?"


Tuh kan. Disenyumi Lea sungguh membuat Hunter mati gaya. Dia tidak bisa mengatakan tidak. "Aku senang karena kau mengandalkanku. Aku selalu di sisimu, Mara." Hunter tersenyum, memastikan dirinya baik-baik saja setelah Lea tersenyum yang hanya untuknya.


"Apa yang kau rencanakan?" tanya Hunter setelah keduanya lama terdiam merasakan semilir angin di bawah terik matahari.


"Kalau berjalan lancar, tidak lama lagi akan ada kabar," sahut Lea seraya membuka mata. Dia merasakan teriknya mentari di kulit yang cokelat dan saatnya sekarang dia ingin masuk ke dalam air yang membiru di depan sana. "Kau tidak membawa papan selancarmu?" tanya Lea basa-basi pada Hunter.


"Kau mau berselancar?" Hunter balik bertanya. Senyum tipis di bibirnya menandakan sesuatu.


Lea tertawa pelan. Sembari menuju ke dalam air, dia mengerucut, "Kau pernah melihatku berselancar? Jangan bercanda!" Hunter ikut tertawa kemudian menyusul Lea yang sudah menyelam di laut.


Air laut yang terlihat biru dengan suara sepasang anak manusia menambah keriuhan yang mulanya diciptakan oleh ombak. Kepala Lea berulang kali ditekan masuk ke dalam air sementara pelakunya tertawa puas.


"Hentikan, Hunty!" Teriakan Lea menggema dengan tangan yang memeluk erat perut Hunter. Pria itu tertawa geli sembari menarik diri meski tidak berhasil.


"Jangan panggil aku seperti itu! Terdengar seperti nama perempuan."


Belum berhasil Lea membuka mulut untuk protes, Hunter lebih cepat menariknya masuk ke dalam air. Pria itu tertawa sehingga gigi putihnya terlihat di dalam sana. Lea sedikit kesal, tapi dadanya menghangat. Entah karena air lautnya yang hangat atau karena tadi berjemur terlalu lama.


Sadar mulut Lea kemasukan air, Hunter kemudian buru-buru menariknya kembali ke permukaan. Wajah wanita itu memerah. "Maaf," sesalnya.


"Jangan melakukan hal yang gampang disesali." Tanpa menoleh, Lea keluar dari sana yang langsung disusuli Hunter.


"Aku tidak akan mengulanginya," tambah Hunter.


Lea tiba-tiba berhenti membuat Hunter menabraknya sehingga Lea terhuyung. Refleks, tangan Hunter merangkul Lea tepat di dada wanita itu.


Suasana berubah canggung. Wajah Hunter merah padam, sementara Lea menahan malu karena dua orang yang berdiri tepat di hadapannya kini mengulum senyum.


"Musim panas memang panas ya, Jaksa Haggins." Seorang lelaki berseragam polisi berceletuk sambil berdehem.


Tangan Hunter yang masih bersemayam di dada Lea segera ditepis wanita itu. Dia sedikit menoleh dan berbisik, "Aku selalu membalas sekecil apapun kesalahan itu," ancamnya memastikan Hunter mendengarnya.


"Maaf, Inspektur Goliath. Aku dan pacarku sedang berlibur." Lea segera mengambil sehelai handuk yang sudah dipersiapkannya tadi dan menutupi tubuhnya yang hanya tertutupi bikini.


Tanpa Lea sadari, muka pria yang di belakangnya makin memerah saat dia mengatakan kalimat itu. Hunter berbalik canggung dan meneguk sebotol air meski sebenarnya tidak haus.


"Maafkan aku juga, Jaksa Haggins. Sepertinya aku mengganggu liburan romantismu, tetapi sesuatu yang mendesak sedang terjadi. Aku mendengar kabar bahwa kau berlibur di pantai ini dan kebetulan kejadiannya terjadi hari ini."


Lea mengangguk mengerti setelah Polisi itu menjelaskan apa yang sedang terjadi.


***


"Aku menyiapkan kostum beruang." Bisikan Hunter menyadarkan Lea ketika otaknya berputar untuk menutupi identitas di kerumunan ini.


Tepat di depan sana, di lantai atas hotel tempatnya menginap, pria dan wanita berseragam polisi serta security berkerumun. Diikuti Hunter, Lea menerobos tanpa menutupi wajahnya seperti yang direncanakan.


"Apa yang terjadi?" Hunter yang memulai, karena dia sudah tahu siapa otak di balik ini.


Seorang polisi menanggapi. "Seorang pria ditemukan tewas di kamarnya setelah memanggil layanan hotel untuk makan siang. Belum ada jejak apapun yang ditemukan polisi. Hasilnya akan kami umumkan setelah laporan otopsi keluar."


"Siapa pria itu?" tanya Hunter.


"Leon Falcon," sahut polisi tersebut yang membuat Hunter melebarkan mata. Dia refleks memandang Lea yang sudah berjarak dari tempatnya berdiri.


Bagaimana bisa Lea membunuh pemilik real estate terkaya di Nevada ini? Setahu Hunter, Leon tidak pernah memiliki kesan buruk pada Lea, kecuali karena pria itu teman baiknya William. Dan sekarang, yang dia bunuh adalah Leon, bukan Bryan yang telah berlaku bejat?


Di sisi lain, Lea mendekat pada pria yang duduk lemas di lantai. Penampilan pria itu carut-marut, tidak berdaya. Tangannya yang diselimuti kaos tangan menyentuh dahi pria itu sehingga kepalanya menengadah.


"Kita bertemu lagi, Bryan Knight!" Lea berbisik pelan dengan seringai kecil yang tampak seperti senyuman santai sampai Bryan terkejut bukan main. Bola mata pria itu hampir keluar jika saja indera penglihatan itu berupa manik-manik atau buatan tangan manusia.


"K-kkkk ... kau?!" Suara bergetar dan terbata-bata berhasil keluar dari mulut Bryan, tetapi buru-buru ditutupi oleh suara tegas Lea.


"Apa kau saksi mata kasus ini?" tegas Lea sehingga beberapa mata polisi tertuju pada keduanya.


"Dia penghuni kamar ini, Tuan Bryan Knight." Seorang polisi pria yang menyahut karena seluruh indera Bryan seakan mati rasa. Terkejut? Tentu saja. Sampai rasanya seperti tidak nyata.


"Bagaimana dengan saksi yang lain?" Lea menyelidik seantero ruangan. Didapatinya seorang wanita berpakaian khas pekerja hotel yang perlahan maju. "Saya ... petugas layanan kamar yang mengetahui kalau orang itu meninggal."


Lea mengangguk kemudian menatap polisi yang tadi menjemputnya dari pantai. "Tolong tunggu sebentar saja, Inspektur Goliath, karena saya harus menemukan bukti pembunuhan ini."


"Pembunuhan?!" Semua orang sontak terperanjat dan memandang Lea dengan wajah serius, kecuali Hunter yang tampak was-was.


"Benar. Pembunuhan oleh racun." Lea menjawab yakin. "Karena korban belum menyentuh makanan yang disediakan hotel ini, berarti bukan oleh racun makanan di tempat ini. Jam berapa tepatnya korban sampai di hotel ini?"


"Pukul 11.57 PDT (Pasific Daylight Time ^Waktu musim panas Pasifik)."


"Berdasarkan waktu kematian korban yang berkisar antara 12.05-12.15, berarti pelakunya berada di sisi korban selama waktu itu." Lea memberi spekulasi.


Lea memerhatikan reaksi orang-orang yang mulai tertarik, termasuk pekerja hotel yang tampak sedikit lega. "Dan kau ...," Lea menunjuk pelayan Hotel. "Siapa namamu?"


"Dahlia."


"Apa kau bersekongkol dengan pria ini?" Lea beralih menunjuk Bryan.


Inspektur Goliath terkejut. "Jak- eh, Detektif Alayra, apa maksudmu? Korban tidak memakan makanan hotel, bukankah itu artinya wanita ini bukan pelakunya?"


Lea tersenyum tipis. "Tidak memakan bukan berarti tidak bisa keracunan, Inspektur. Sebelum ke sini, kita sama-sama telah melihat rekaman cctv. Di lorong untuk memasuki kamar ini, korban yang sedang bersama Tuan Knight bertabrakan dengan wanita ini. Karena mayat korban tidak ada di sini, saya tidak bisa mengidentifikasi dengan jelas jenis racun apa yang membunuh korban. Bisa saja disuntik atau dihisap 'kan?"


Lea melanjutkan sebelum Bryan berteriak, karena mata penuh amarah pria itu sudah terpahat sempurna di wajahnya. "Tolong bawa kedua orang ini untuk diinterogasi lebih lanjut di kantor polisi!"


.


***


...Tetap tunggu kelanjutannya ya😊😘...