
Happy reading!
***
.
Kabar diseretnya Bryan Knight ke kantor kejaksaan setelah terbukti membunuh temannya sendiri, disaat itu pula kembali merebak isu tentang perusahaannya yang bergerak di bidang penelitian dan farmasi ilegal.
Penculikan, pembunuhan yang sering terjadi, serta menghilangnya wanita muda serta anak-anak secara misterius, menambah sanksi tuduhan terhadap Bryan.
Penelitian dan pengembangan obat perusahaannya yang menggunakan manusia sebagai objek uji coba berakibat fatal terhadap hukuman yang akan diterima.
Melihat berita yang disiarkan itu, dada Lea bergemuruh. Saat dirinya menyiapkan taktik pembunuhan terhadap Leon, Lea menyiapkan bukti kejahatan yang mengarah pada Bryan. Memang Lea menargetkan Bryan, tetapi berita malam ini cukup mengejutkan. Dia tidak berniat menyiarkan.
"Jullian atau Hunter?" terka Lea pada dua pria yang setahunya mengawasi dia. Karena di antara keduanya yang lebih tahu informasi tentang targetnya.
Lea tidak melarikan pandangan dari benda pipih yang sedari tadi dia tunggu kabar akan seseorang. Sesekali dia menghentakkan kaki tidak sabar. Sunyinya hotel yang kekurangan penghuni ini membuat Lea makin tidak sabaran.
Kenzie yang ikut mengantarkan jasad Leon ke rumah sakit belum juga memberinya kabar. "Semoga saja dia tidak pingsan nanti," gumamnya bermonolog, karena kematian Leon sungguh tidak nyata. Dan sebagai dokter gigi, Kenzie tidak pernah diperhadapkan dengan jasad dan orang mati.
Dalam kegelisahan itu, pintu kamar Lea diketuk. Dia tersentak kaget, namun cepat-cepat mengintip siapa pelaku yang ada di luar.
Di luar dugaan, yang dikiranya Hunter malah seseorang yang menyebalkan. "Mungkinkah dia pelakunya?" tebaknya berdecak sebal seraya membuka pintu. Wajah datarnya menyapa sang kakak, tersangka utama.
"Surprise-nya menyenangkan?" Jullian yang datang dengan bibir yang lebar dan mata tersenyum segera memeluk adik satu-satunya itu yang direspon tidak suka oleh Lea.
"Kau hampir membuatku jantungan, Kak. Aku tidak berniat sampai sebegitunya," sungut Lea.
"Aku hanya mempermudah interogasimu. Lagipula, apa yang bisa ditutupi jika seseorang sudah terkait pasal pembunuhan?" Jullian membela diri. Dia melepaskan pelukan dari Lea dan duduk berpangku kaki. "Selanjutnya, dia?" Tanya Jullian setelah melemparkan sebuah panah di rolet yang terdapat gambar muka seorang bermanik hitam legam.
"Bukan urusanmu! Urus saja kekasih jalaangmu itu," ketus Lea yang masih cemas menunggu kabar di ponselnya. Dia tidak menyadari perubahan air muka Jullian. "Kenapa kau ke sini?"
"Ah, aku hampir melupakannya. Kenzie menunggumu di lantai bawah, dia tidak kuat naik ke sini."
Mata Lea melebar. Setelah hampir setengah hari dia mencemaskan temannya itu, justru Kenzie sudah di hotel. "Hanya satu lantai ke sini, kenapa tidak kuat?" Lea mengerucut. "Siapa yang membawanya pulang?"
"Aku menemukannya terkapar di jalan," sahut Jullian asal membuat Lea meraih tangannya dan menyeretnya keluar. "Dia di kamarmu?"
Anggukan Jullian menjawab pertanyaan Lea dengan lift yang menuju ke bawah. Dengan tergesa-gesa, Lea menekan kode pintu yang didiami kakaknya, namun tangannya tertahan sesuatu.
"Dia sedang mencari udara segar di atap," tutur Jullian yang membuat kekesalan Lea timbul. "Kenapa kau ikut turun kalau tujuan utamanya ke atap? Dan tadi kau jawab santai kalau dia di kamarmu?"
"Bodoh." Jullian mengacak rambut adiknya, gemas dan sayang diwaktu yang bersamaan. Meski sudah sebesar itu, Jullian tidak segan-segan menciumi puncak kepala Lea saat dia ingin. Bahkan ada yang mengira mereka sepasang kekasih di tempat umum karena ekspresi Lea yang sering bersungut kesal.
***
"Cheersss ...!!!"
Denting gelas minuman hanyut diterpa angin malam yang mulai dingin. Meski musim panas, tetapi udara malam cukup menusuk kulit.
Terpaan udara dingin itu menyentuh wajah Lea. Rambut panjangnya sesekali menampar wajah Hunter yang duduk di sampingnya. Tidak hanya Kenzie yang berada di atap, tapi Hunter juga. Rupanya Jullian mempermainkannya saat turun lift untuk memberinya kejutan ini. Katanya untuk merayakan keberhasilannya menangkap penjahat.
Atap hotel itu dihiasi lampu warna-warni, diberi sentuhan yang benar-benar mewujudkan mimpi Lea untuk bersantai sore hari di tepi pantai. Meski bukan pantai dan sore hari, suasananya hampir mirip. Dari tempat itu, Lea bisa melihat hamparan laut biru -yang sekarang terlihat gelap dengan sedikit kilatan oleh pantulan cahaya bintang- yang tadi siang dia dan Hunter bermain bersama.
Membayangkan berada di laut, Lea tiba-tiba tersedak minuman yang mengalir di kerongkongannya. Kejadian yang terjadi siang tadi kembali terputar di memorinya. Kejadian saat Hunter ....
"Uhukkkk!!!"
"Are you OK?" tanya Hunter seraya menepuk punggungnya. Lea menepis pelan tangan Hunter dan menghindar dengan meneguk sebanyak-banyaknya alkohol. "Tidak apa-apa."
"Aku kuat kok," balasnya pelan. Kepalanya mulai pening dan rasanya semua wajah orang yang ada di sana bercabang. "Aku sudah lama tidak meminum air sebanyak ini." Lea bergumam dengan tangan yang terus menuangkan alkohol ke gelasnya.
Hunter hendak menahan, tetapi Jullian menolak. "Dia punya cara sendiri untuk melepas stress. Tidak apa-apa, besok akan baik-baik saja."
"Tapi ....." Hunter ragu.
"Dia akan baik-baik saja." Kenzie menambahkan setelah melirik Jullian yang hanya diam saja memerhatikan Lea. "Kami pernah minum lebih banyak dari ini, dia kuat."
Saat ketiganya berbincang-bincang sembari melihat bulan sabit yang kembali ke tempat peraduan, suara kaki yang terantuk kursi mengalihkan.
Jullian tertawa saat menyadari bahwa Lea yang menabrak kursi sementara Hunter dan Kenzie memandang iba. "Kau mau ke mana?" tanya Jullian setelah tawanya reda.
Lea hanya menunjuk turun. Dia menuju pintu yang mengarah ke lift. Melihat kekhawatiran di wajah Hunter, Jullian menyengir tanpa dosa. "Kau sangat mencintai si bodoh itu? Sepertinya kau akan menyerahkan nyawa jika seseorang meminta nyawamu demi dia."
"Aku tidak membantahnya karena aku mencintainya sampai ke tahap aku tidak bisa mengendalikan diri," jawab Hunter tanpa keraguan. Jullian termagu, namun buru-buru dia tersenyum.
"Semoga saja dia juga merasakan hal yang sama."
Kenzie dan Hunter selaras melirik pada Jullian setelah pria itu mengakhiri kalimatnya yang cukup ambigu.
"I hope so," gumam Hunter sesaat kemudian.
Sementara itu, di sisi lain kaki pendek yang mungil itu berjalan terseok-seok dengan mulut yang bergumam kecil. "Seharusnya kamarku sudah dekat. Aku butuh ke kamar kecil ...."
Bibirnya tersenyum cerah saat menemukan nomor kamar yang dituju.
Satu kali.
Dua kali.
Tiga kali.
Bunyi kamar yang gagal dibuka membuat senyum cerah yang tadi meredup. Lea kembali bersungut. "Kenapa tidak terbuka?" Kepalanya yang makin berat dan pandangan berkunang-kunang memaksanya memaki berkali-kali. Lea ingin segera tidur setelah menyelesaikan urusan kamar mandi. Tidak peduli dengan tiga orang yang masih menikmati alkohol sambil diterpa angin laut musim panas.
Kali keempat, dia menekan angka yang sama hingga akhirnya kamar itu terbuka. "Berhasil!" teriaknya senang. Dia menerobos masuk dan menabrak sesuatu yang keras, namun hangat.
"Kamar mandi lebih penting ...," gumamnya lagi segera bangkit dan berjalan sempoyongan ke kamar mandi, mengabaikan apa yang ditabraknya.
"Rasanya seperti mimpi ...." Suara bergetar milik seorang pemilik manik hitam tidak didengar lagi oleh seseorang yang telah menghilang di balik pintu. "Aku merindukanmu sampai menjadi gila .... Apa yang harus kulakukan sekarang?"
Tidak lama setelah itu, Lea yang telah mabuk kembali dari kamar mandi dengan wajah memerah dan tangan yang bergerak gelisah. Sesekali bibir mungilnya bergetar dan mengeluarkan erangan.
"Brengsekk itu mempermainkanku lagi," umpat Lea menyadari ada yang salah dengan dirinya. Dia merebahkan tubuh di kasur. Sesekali berguling dan bangun, begitu seterusnya sampai dia melihat sesosok lelaki yang memandangnya intens.
"Aku tidak memesan gigolo, kenapa kau di kamarku?" Tubuh Lea tidak terkendali. Dia bergetar hebat. Efek obat yang dia tahu seperti apa penawarnya. "Aku bukan wanita malam ...."
Saat sosok lelaki itu mendekat, bukannya menjauh, Lea justru mendekat dan menghirup aroma tubuh lelaki itu. "Sudah kukatakan, aku bukan jalaang, brengsekk!"
Tangan Lea yang bergerak memukul ditahan dengan santai oleh lelaki itu. "Kau butuh penawar, Sayang, dan akulah penawarnya," bisik lelaki itu. "Salahkan saja aku. Aku mengijinkanmu masuk dan mengambil keuntungan darimu, tapi jangan hentikan aku untuk memberimu penawarnya. Karena aku juga butuh lebih dari sekadar menjadi penawar yang hanya bekerja untuk malam ini."
"Sialan, akhh---!"
Malam panjang nan panas di musim panas pertama yang penuh dendam baru saja dimulai di dalam kamar yang salah dimasuki oleh wanita mabuk itu.
.
***