
Happy reading!
.
***
Beberapa saat yang lalu ...
Wanita berparas cantik yang dibalut gaun seksi serta ditutupi syal bulu dengan pemerah bibir berwarna cerah mengampiri Lea. Berbisik tanpa peduli Lea sedang menuangkan minuman untuk pelanggan. "Antarkan sebotol wiski ke ruangan Tuan William, aku sedang melayani pelanggan VIP. Dia menunggu dalam waktu satu menit."
Ruby langsung berbalik, berlalu pergi, bergelayut manja pada seorang lelaki bertubuh gempal. Sekali lagi tidak memedulikan kesibukan Lea.
Saat itu juga, Lea langsung menegang. Tangannya mulai gemetar, menuangkan anggur ke dalam gelas pelanggan sembari melarikan pandangannya ke segala arah. Jantungnya berpacu cepat, seperti balon yang dipompa udara terlalu banyak. Siap pecah.
Dia memiliki firasat buruk. Kejadian semalam masih teringat jelas, bahkan terasa baru terjadi beberapa detik yang lalu. Semalam, matanya tidak sengaja menangkap tulisan di depan pintu tempat kejadian, yang tidak lain adalah ruangan bos besar kasino ini.
Bergegas Lea mengambil sebotol wiski dari lemari penyimpanan dan menapaki anak tangga. Tiap dia mengangkat kaki, jantungnya seakan dipukul beton ribuan kilo. Cemas juga takut. Tidak tahu, apakah Lea akan kembali berhadapan dengan iblis yang menyerangnya semalam.
Seraya menghembuskan napas kasar, Lea memberanikan diri mengetuk pintu, membuka pelan ruangan berpintu gelap itu setelah mendapat izin dari pemilik.
Ketakutan itu benar-benar terjadi. Kaki Lea seakan terlepas dari sendi setelah melihat siapa yang berada di ruangan itu. Dia mematung di belakang pintu, tidak bisa sekadar memindahkan kakinya dari sana.
Seorang lelaki iblis yang sangat ditakutinya. Lelaki yang baru saja mengembalikannya pada kisah kelam lima tahun silam. Lelaki itu berada di sini, di ruangan Tuan William. Lea tidak bodoh, otaknya langsung menebak kalau lelaki yang tidak dikenalinya semalam tidak lain ialah bosnya sendiri. Pemilik kasino ini.
Tangan Lea yang memegang baki itu gemetar bersamaan dengan matanya yang berubah ekspresi. Wajah Lea datar meski seluruh tubuhnya bereaksi sesuai apa yang dirasakan.
Apalagi ketika seringai iblis tercetak di wajah William, lelaki itu bergerak maju, mendekat padanya dan memegang dagu Lea yang lancip. Setiap kalimat yang terucap dari bibir lelaki itu penuh kebencian, umpatan dan makian. Mata hitamnya bagai angin beliung yang merobohkan menara. Tak terlihat namun sangat berbahaya.
Kejadian tidak mengenakkan terjadi begitu saja. Jari Lea berdarah ketika dia berusaha memungut pecahan beling di lantai. Sakit dan perih. Tapi bukan pada jarinya, melainkan kalimat lelaki itu yang kembali memakinya kasar.
"Aku mau kau merasakan sakit sampai ingin mati, tapi aku tidak akan membiarkanmu mati dengan mudah, Jalaang. Aku akan membunuhmu perlahan di tanganku."
Lea bergeming. Dia menerima antiseptik yang diberikan William dan membalut lukanya sendiri. Bukan hal baru lagi baginya melakukan hal seperti ini sendiri. Tidak bisa memang, tapi keadaan memaksanya.
Selepas membalut lukanya, Lea berdiri dan hendak pergi. Namun, tangannya dicekal dan dipaksa duduk oleh William.
"Jalaang," desis lelaki itu. "Apa kau tidak akan mengatakan apapun setelah aku menolongmu?!"
Wajah datar itu terangkat, balas memandang William yang sedang menatapnya sinis dan penuh aura membunuh. Lalu Lea beralih pada jarinya yang tadi dia perban sendiri.
Tanpa mengucapkan apa yang diinginkan William, Lea segera berdiri, memperbaiki dressnya dan menjauh. Sampai di pintu, dia terhenti. Menoleh lagi dan mendapati William menyeringai sinis.
"Kau tidak akan bisa keluar tanpa akses dariku, Jalaang! Ruanganku tidak mudah dimasuki sampah sepertimu."
Duduk berpangku kaki seraya menyandarkan kepala di sofa, William menatap intens tubuh mungil dan pendek yang mematung di pintu. Tinggi Lea mungkin sebatas perut William. Tidak ada yang indah, tapi William bisa terpikat pada wanita yang dipanggilnya sampah itu. Entah iblis apa yang sedang merasuki otaknya.
Lama dalam posisi seperti itu, dalam sedetik saja William sudah berada di belakang Lea. Wanita itu tersentak tatkala tangan William memegang dagunya, dengan gerakan cepat sudah melumaat habis bibirnya.
Lea berusaha memberontak, mendorong berkali-kali dada William, tapi usaha Lea sia-sia ketika William menarik tengkuknya dan menempelkan tubuhnya ke tubuh lelaki itu.
"Sekali pun kau ingin lari, aku akan menemukanmu sampai ke lubang semut." William menggigit bibir bawah Lea sebelum melepaskan ciuman itu sehingga bibir wanita yang tinggi hanya sebatas dadanya itu berdarah.
"Aku memberimu pilihan. Aku memaksa atau kau menyerahkan dirimu," desis William, matanya memandang tajam dress yang menghalangi apa yang ada di dalam.
Lea bergeming. Berusaha menyilangkan tangan di dada, memeluk erat bagian atas tubuhnya yang menjadi pusat perhatian William. Wajahnya tanpa ekspresi, tapi air mata terus berderai.
Gairah di dalam dirinya tidak bisa ditahan, saat Lea masih bergeming dan tidak menanggapi, William merobek kain berlapis di badannya dan membawa Lea ke sofa.
"Bajiingan!" Satu kata penuh kesakitan berhasil keluar dari mulut Lea. Dia berulang kali memukul, menendang, dan menampar lelaki itu. Sekali lagi, tenaga dan postur tubuhnya bagai segelintir debu di mata William.
"Kau jalaang milikku! Jangan pernah berharap bisa keluar dari sini setelah membuatku marah!" Lalu William memerangkap tangan Lea di atas kepala, mencium dengan brutal bibir Lea yang sudah berdarah, dan melakukan apa yang diinginkannya.
Tanpa peduli pada tangis memilukan wanita di bawahnya, William terus menyentak kasar, memukul, mencengkeram, menambah luka baru di atas luka lama pada tubuh Lea. William ingin menuntaskan nafsunya yang seketika membara hanya dengan melihat bokong Lea. Wanita yang dari dulu menarik perhatiannya.
***
Jauh di seberang sana, tepatnya di kota San Diego. Sepasang mata seketika mendingin disertai kepalan tangan di atas meja, marah dan juga benci pada seseorang. Rahangnya mengetat, mengumpat lelaki yang dikabarkan telah menyakiti adik perempuannya.
"Saya melihat Nona Lea dibawa paksa dan dia keluar dengan luka di seluruh tubuh, Tuan."
Jullian Haggins, kakak kandung Lea yang selama ini terus memantau Lea dari kejauhan, pria berusia enam tahun lebih tua dari Lea.
Memutar otak untuk memberi hukuman pada pelaku kejahatan yang sudah masuk dalam black list-nya, sejenak bibir Jullian tersenyum tidak seperti biasa. Dia mengetuk-ngetuk meja, pertanda suasana hatinya seperti ombak di lautan. Kadang tenang dan terkadang berkecamuk.
"Aku tidak akan membantu Lea sekalipun dia tersakiti. Dia harus tahu apa itu tanggung jawab." Pria itu menghembuskan napas sebentar kemudian melanjutkan dengan mengetatkan rahang. "Beri peringatan padanya!" Berdiri dari kursi kebesarannya, Jullian mematikan sambungan telepon dan mengisyaratkan asistennya untuk mengikuti.
"Temani aku bermain biliar. Sudah lama sejak mengalahkan Tuan Romanov, aku tidak menyentuh tongkat kurus itu."
"Baik, Tuan."
***
Masih di tempat yang sama, di dalam ruangan yang menjadi neraka baru bagi Lea. Tubuh kecilnya ditendang, jatuh di lantai disertai bunyi keras.
"Ukhh ...."
"Keluar!" Sebuah titah yang langsung membangunkan tubuh lemah itu. Lea menguatkan sendi kakinya, merangkak mengambil sisa kain yang tadi dirobek William. Dia berusaha menggapai pintu meski seluruh tubuhnya remuk tak berbentuk. Bagai jeli yang diremas kasar, meleleh tanpa bentuk.
Di atas ranjang, William mendengkus. Meremas seprai yang kusut akibat kegiatan barusan. Setelah dari sofa, dia menarik rambut Lea, membanting wanita itu di ranjang. Mencekik, menampar, mempermainkan tubuh Lea sampai hasratnya terpenuhi.
"Fuckk! Aku benci jalaang!" William mengumpat dan melempar asbak yang berada di nakas. Wajah lelaki itu mengeras, entah apa yang sedang direncanakan olehnya. Surga atau neraka baru.
Lama dalam posisi tersebut, William bangun dan memakai kemejanya yang terlempar ke lantai. Dia lalu menelpon seseorang.
"Detektif Holland, tolong berikan aku informasi rinci tentang seseorang. Aku akan mengirimkannya melalui e-mail."
Kemudian dia mengirimkan gambar wanita berambut panjang, pemilik lesung pipi yang menjadi duri juga bunga dalam hatinya. Benci tapi suka. Suka melampiaskan hasrat.
.
***