After Yesterday

After Yesterday
After Yesterday 10



Happy reading!


***


.


Lea menghembuskan napas lega setelah keluar tanpa kendala dari gudang anggur. Kakinya yang lemas masih bergetar hebat, tanah yang diinjak layaknya kapas, empuk dan kenyal, membawa tubuhnya terjerumus masuk ke dalam.


Betapa pun Lea berpura-pura kuat, tetap saja nyalinya hanya seujung kuku bila berhadapan dengan William. Lelaki yang seperti iblis berwajah malaikat.


Lea berjalan lebih cepat dengan menyeret kakinya, berulang kali menoleh gelisah, berharap apapun tidak terjadi malam ini. Sampai di ujung jalan setapak itu, Lea tertunduk lesu sambil membuang napas tidak beraturan.


"Aku baik-baik saja," gumamnya menguatkan diri.


Saat Lea mengangkat pandangannya, dia melebarkan mata kaget melihat seorang pria berdiri tegap disertai senyuman lebar. Lea menetralkan napasnya dan kembali memasang tampang datar. Dia mengacuhkan pria itu dan berjalan lurus.


"Apa kau wanitanya William?"


Lea meremang. Dia merasakan sesuatu yang berbahaya dari suara pria berjas cokelat itu. Masih mengabaikan, Lea terus berjalan sampai tangannya dicekal paksa.


"Ternyata kau lumayan juga. Aku bertanya-tanya kenapa dia bisa menculikmu malam itu dan menjadikanmu budak sekss dan sekarang aku telah menemukan jawabannya."


Tanpa berbalik, Lea menepis tangan Bryan, "Bajiingan!"


Pada saat itu juga tangan Bryan merengkuh tubuh Lea, membawa wanita itu untuk menggapai kulitnya, memberi sentuhan yang hanya bisa dimaknai oleh Bryan. Keadaan Lea sekarang bagai domba yang baru saja lolos dari kandang serigala lalu masuk ke kandang singa. Nyawanya terancam.


"Lepaskan aku, Brengsekk!" Lea menggigit tangan Bryan, berusaha keras untuk lepas dari cengkeraman pria itu.


Malangnya, tenaga Bryan masih lebih besar meski posturnya sedikit kurus dan tidak sebanding dengan William.


Air mata ketakutan meluncur begitu saja dari mata cokelat Lea, dia berusaha mendorong dan memukul pria itu meski tahu sia-sia. Tangannya yang memegang keranjang minuman refleks terangkat dan memukul kepala Bryan.


"Akhh! B*tch!" Bryan mengerang kesakitan dan memegang kepalanya.


Kesempatan itu tidak disiakan Lea, dia berlari dan membuka sepatu yang menyulitkannya berjalan. Sampai di lorong yang banyak orang berlalu-lalang, Lea menyangga tubuhnya di dinding, menahan kaki yang gemetar.


"Selalu saja seperti ini," gumamnya seraya menghapus air mata.


Sepasang mata hitam menatap tajam dari kegelapan, siap membelah apapun yang ada di dekatnya.


***


"Apa yang ingin kau lakukan? Apa jangan-jangan ...?" Kenzie mengerut alis sembari tersenyum miring. Dia memberikan barang yang diminta Lea beberapa hari yang lalu.


"Mungkin ini terlihat rendahan, tapi cara kilat bisa mendapatkan hasil yang lumayan," ujar Lea. Senyum di bibirnya terbit, memunculkan lesung yang sangat manis di kedua belah pipi. Lea jarang tersenyum, tapi pada Kenzie dia bebas menunjukkan ekspresinya.


Lea langsung menyambungkan flashdisk itu ke laptopnya dan melihat hasil rekaman cctv yang dimintanya.


Kenzie berdecak, "Lihat cara bicaramu! Kau pasti sedang memikirkan hal kotor."


"Tidak ada hal baik yang tidak diperoleh dari hal kotor, aku melakukan apapun yang aku anggap penting."


"Apa kau akan menjalankan rencanamu malam ini?" tanya Kenzie dengan mulut yang tidak henti mengunyah kentang goreng.


Lea tampak berpikir sejenak lalu mengangguk perlahan, tidak yakin. "Jika aku diberi kesempatan, maka harus malam ini."


"Ck, berjuanglah, semoga pangeranmu bisa membantu."


"Pangeran?" Lea mencebik tidak suka. Dia melempari Kenzie dengan bantal. "Dia iblis berwajah malaikat."


Kenzie tergelak lalu balas melempar Lea dengan potongan kentang miliknya. "Kau mengakui ketampanannya, suatu hari kau akan terjebak dalam pesonanya. Stuck!"


"Kalau pun harus terjadi, aku tidak akan buta dan menutup mata pada apa yang pernah terjadi."


"Ooooooo ..., si kecil mulai aktif ya," ledek Kenzie, namun dia seketika meremang melihat aura Lea yang kelam.


Lea menatap tajam layar laptop yang menampilkan bagian yang menjadi saat terkelam dalam hidupnya. Dihina, disiksa dan disakiti secara fisik dan batin. Seolah dia hanyalah barang yang seenaknya dipermainkan.


Tangannya mengepal erat disertai gertakan gigi yang menambah suasana menjadi dingin. "Apapun itu, aku harus membalasnya."


Malam yang gelap datang dengan cepat, menjemput Lea yang tampak cantik dengan balutan dress selutut. Tubuh mungilnya terlihat sangat indah dipadukan dengan pipi berlesung yang menambah kadar kecantikan.


Seutas senyum terbit, menggambarkan suasana hatinya yang terkadang tidak bisa ditebak. Penampilan yang elegan tepat menggambarkan siapa diri Lea yang sebenarnya, bukan wanita yang terlihat biasa saja.


Lea menguatkan tekad, menarik napas dalam lalu menghembuskannya. Perlahan, dia memberanikan diri mengetuk pintu yang tertutup rapat, yang di dalamnya terdapat iblis berwujud manusia.


Menunggu, Lea merasa jantungnya makin berdetak kencang, seperti hendak meloncat keluar. Beberapa waktu, tidak ada sahutan dari dalam. Membuat Lea makin mendesak, mengetuk pintu itu.


Sebentar saja, Lea merasa sukmanya terjun bebas ke dasar jurang. Dia terlonjak kaget sampai terjungkal ke belakang.


Bukan William yang membuka pintu sesuai perkiraannya, melainkan seorang perempuan berambut sebahu, parasnya cantik dan elegan. Perempuan itu memandangnya sinis dengan dagu terangkat tinggi, sambil bersedekap lalu berujar kasar.


"Siapa kau? Apa kau pelac*r yang ingin menggoda William?" Lalu pandangan mata perempuan itu menilik penampilan Lea yang memang sedikit terbuka. Pantas perempuan itu memanggilnya tidak sopan.


"Siapa Nath?"


William menyeringai ketika melihat Lea berdiri di depan pintu, lalu dia menarik perempuan yang dipanggilnya Nath ke belakang punggung. "Pulanglah, Mom pasti menunggu kepulanganmu. Aku harus menyapa tamu istimewaku ini."


Sembari tersenyum miring, William mempersilahkan Lea masuk. Matanya tidak lepas dari tubuh Lea dan meneguk ludah kasar ketika melihat belahan dada Lea yang tampak jelas dari balik gaun itu.


"Kau menyimpan pelac*r di tempat ini? William, apa kau gila?" Natalie menyentak kasar tangan William ketika sang kakak merangkulnya agar keluar dari ruangan itu.


"Dia mainanku," bisik William. "Kau tahu aku paling benci wanita jalaang. Pulanglah!"


"Pulang? Dan kau akan bermain dengan jalaang itu?"


"Natalie!"


Natalie terbungkam seketika. Dia keluar dengan bibir mengerucut dan kaki dihentak kasar. "Semua laki-laki adalah iblis!"


Tanpa peduli pada umpatan sang adik, William mengecup pipi Natalie lalu tersenyum dan melambaikan tangan. "Aku akan mengunjungimu nanti!"


William lalu berbalik dan mendapati Lea yang duduk santai di sofa, tidak ada aura ketakutan seperti biasa yang ditunjukkan wanita itu. Namun sebaliknya, Lea seperti kaum bangsawan yang menjaga etika bahkan dari cara duduk dan berbicara.


William mengubah ekspresinya secepat mungkin dan duduk bersebelahan dengan Lea.


"Domba tidak berani masuk ke liang serigala, tapi kau sebaliknya. Apa yang kau inginkan, Jalaang?"


Tanpa berbicara apapun, Lea memberikan sebuah flashdisk pada William membuat lelaki itu mengerutkan kening tidak paham.


"Apa ini catatan kejahatanku? Dan kau menginginkan uang?"


William kemudian mengambil laptop dan membuka file yanh ada di sana. Bibirnya tersenyum iblis setelah melihat isi flashdisk itu lalu beralih menatap Lea.


"Uangku tidak mau aku habiskan dengan cara seperti ini. Mau melaporkanku ke polisi?"


William mencodongkan tubuh ke arah Lea dan seringai mengejek dia lontarkan pada Lea.


"Aku bisa beralibi lebih bagus. Tapi, aku tidak akan mengecewakanmu, Jalaang."


Kemudian William mengambil selembar kertas kosong dari meja kerjanya dan menyodorkan pada Lea setelah menuliskan sebuah kalimat.


"Jadilah jalaangku!"


.


***