
Happy reading!
***
.
Untuk memuluskan semua rencana yang sudah diatur olehnya, Lea tidak lagi menunjukkan raut tanpa ekspresinya pada William. Dia sering tersenyum, memberi perhatian yang sering dianggap tidak masuk akal oleh William. Termasuk olehnya sendiri. Senyum pada orang lain jarang Lea lakukan selain pada Kenzie dan pelanggan di bar. Sehingga memandang wajah tersenyumnya di cermin sedikit menakutkan bagi Lea. Tidak terbiasa.
Peristiwa hancurnya ponsel itu membuka mata Lea. Keinginan balas dendamnya tidak boleh tercium oleh William. Gawat jika lelaki itu marah lagi. Lebih menakutkan dari buasnya William di ranjang.
"Aku memilihkan dasi yang terkesan cerdas dan modern." Lea memasangkan dasi bercorak putih dan abu, dipadukan dengan jas berwarna senada. Kebiasaan paginya untuk memberi kesan baik pada William.
"Terima kasih." William melihat pantulan dirinya di cermin dan melirik Lea dari sana. "Bolehkah aku bertanya, apa tujuanmu melakukan ini?"
Lea tertegun. Adakalanya William bersikap baik dengan menunjukkan perhatian padanya, tanpa berkata kasar. Mengucapkan terima kasih jika Lea memberikan apa yang dia butuhkan. Kadang pula William mengecup keningnya secara tiba-tiba. Lebih dari itu, sisi iblisnya tidak pernah semenakutkan sekarang.
"Karena kau membayarku."
"Hanya itu?"
Lea mengangguk. "Hanya itu."
William terkekeh. Manik hitamnya kelam, tidak tertulis apapun di sana. Menyulitkan Lea menebak apa yang ada di pikiran lelaki itu.
"Aku harap kau tidak mengkhianatiku," ucap William dengan sudut mata melirik ke sebuah arah. Dia tidak memberikan akses pada Lea untuk mengikuti arah lirikannya karena bibirnya segera berlabuh di kening Lea.
"Sekalipun diikat dengan rantai emas, burung yang terikat tetap bukanlah unggas yang bebas. Pahami perkataanku!"
Lea menegang. Ucapan William sarat akan makna. Namun, demi memuluskan misi yang sudah hampir tercapai, Lea berpura-pura santai. Tersenyum manis dan memperbaiki letak dasi William.
"Katakan apa tujuanmu memeras uangku! Apa karena lelaki itu?"
William kembali mengungkit masalah yang belum pernah dia temukan jawabannya sampai sekarang. Dua hari yang lalu, dia marah dan melampiaskan kemarahan pada Lea tanpa mendengar apapun dari wanita itu.
Melihat Lea yang diam saja, William memegang dagu Lea dan memaksa wanita itu menatap wajahnya.
"Kau mengharapkannya kembali padamu setelah tidur denganku?"
William terkekeh miris. Dia melepaskan kasar dagu Lea saat manik cokelat itu mulai berair. Setelah sekian lama bersama dengan Lea di apartemennya, William menyadari satu kelemahannya. Yakni air mata Lea.
"Aku akan melepaskanmu setelah aku puas. Jadi, puaskan aku seperti aku memuaskanmu dengan uang."
Setelah mengatakan itu, William pergi dengan raut tak tertebak. Lea menghela napas lega, setidaknya pagi ini William sedikit berbeda, tidak membentak dan kasar padanya.
Sementara jauh di seberang, Jullian yang terus memantau perkembangan sang adik menghela napas panjang, menilai Lea sangat bodoh telah memilih membuat neraka untuk diri sendiri.
"Kosongkan jadwalku hari ini, Theo. Buat jadwal temu dengan dokter itu. Aku tidak bisa diam saja saat dia melewati batas."
Tangan pria itu mengepal, mata beningnya seketika mengilat penuh amarah, dingin dan sulit dihangatkan. Berita tentang adik perempuan William yang ikut menyiksa Lea terendus oleh Jullian. Jika Lea sombong dan tidak tersentuh, maka Jullian ramah dan mudah tersentuh. Dan satu kesamaan kakak beradik itu, kejam dan tidak berperasaan.
Jullian merapikan jas, melangkah keluar yang diikuti oleh Theodore. "Siapkan jet! Aku ingin mengejutkannya dengan kedatanganku!"
"Tapi, Tuan, Anda memiliki jadwal pertemuan dengan orang Prancis siang ini." Theodore menyela meski tahu jawaban Jullian. Jullian menggerakkan jari telunjuknya lalu bergerak seolah menarik ristleting di mulut.
"Aku bisa kehilangan uang, tapi tidak dengan adikku. Dia berlian yang sangat berharga. Walau dia bersinar dalam kegelapan dan tidak akan pecah meski dihancurkan berkali-kali, tetap saja harus dijaga baik-baik. Aku tidak boleh kehilangan dia. Hanya dia satu-satunya yang aku miliki sekarang."
"Saya mengerti, Tuan."
"Dan berikan pelajaran pada lelaki bernama Bryan itu!"
***
Kepulan asap rokok memenuhi ruangan tanpa udara itu. Sudah beberapa batang rokok telah habis, tapi tangan William tidak henti menyalakan pemantik. Kebiasaannya saat memiliki banyak pikiran, dia melampiaskan pada benda bernikotin itu.
Ketika dia hendak memgambil lagi rokok untuk yang kesekian kalinya, seseorang menahan tangannya.
"Hentikan! Kau akan menjadikan rumahku tempat sampah!"
"Ada apa dengannya?"
"Ada apa?" Leon mendekatkan wajahnya pada William, menanti kalimat selanjutnya dari mulut William.
"Dia tidak pernah marah lagi padaku! Kenapa? Kenapa dia bersikap manis?"
William meremas sebatang rokok yang batal dibakar tadi, lalu membuangnya asal, menjadikan sampah rokok menggunung di bawah kakinya. Membuat Leon menelan ludah kasar. Jika suasana hati William tidak damai, Leon tidak berani bergerak dari tempat duduknya.
"Dia tiba-tiba saja berubah, tidak ada lagi penolakan seperti dulu. Apakah seorang jalaang benar-benar akan menjadi murahan jika berhadapan dengan uang?"
Leon memalingkan wajah hanya untuk sekadar tertawa tanpa suara. Meski terbilang otaknya hanya setengah William, tapi urusan wanita maka Leon tidak sebodoh itu.
"Mungkin saja dia menyukaimu," celetuk Leon saat William hendak melemparkan asbak. Dia segera menahan tangan William. "Kau benar-benar akan menghancurkan rumahku, Dude!"
William menoleh lalu terkekeh miris. Dia menggeleng pelan. "Tidak mungkin. Dia tidak mungkin menyukaiku. Dia menjulukiku iblis."
"Benar juga, kau memang iblis. Kau tidak lupa telah menyiksanya 'kan?" Leon manggut-manggut sembari berpikir keras. Perkara ini sulit dia prediksi. "Tapi, aku juga tidak salah menebak. Wanita gampang luluh jika kita memberinya sebuah kebaikan. Dia akan segera melupakan semua kejahatan yang pernah kita lakukan."
"Benarkah?" William berbinar sejenak, namun sebentar saja sudah meredup mengingat sesuatu yang dia temukan di atas lemarinya. "Dia berbeda. Dia sepertinya lebih keras daripada batu."
"Apa kau menyukainya?" Leon bertanya yang membuat suasana tiba-tiba sunyi. Senyumnya yang mengembang perlahan surut melihat perubahan air muka William.
"Jangan bilang aku benar, Dude." Leon tertawa pelan lalu menepuk pundak William. "Kalau kau yang lebih dulu mencintainya, maka kau berada dalam masalah besar."
Leon seketika heboh dengan pemikirannya sendiri membuat William mengerutkan kening penasaran. "Masalah besar seperti apa?"
"Kau akan kesulitan mendapat restu. Kau telah menyakiti anak orang!"
"Seperti itu ya ...."
Berpikir lagi, selama ini William belum mengenali Lea. Identitas wanita itu hanya sebatas nama dan alamat apartemen yang dulu ditinggalinya. Tidak ada lagi yang lain.
Masih dengan raut yang tidak berubah sedikit pun, William berdiri hendak meninggalkan rumah Leon. Tetapi dia mendadak kaku melihat Bryan berdiri tidak jauh dari sana.
"Aku pulang," ujarnya pelan pada Leon.
Pria bermata biru itu berdehem pelan dan menggeleng. "Aku tidak tahu ada masalah apa antara kalian, tapi sebaiknya selesaikan dulu. Aku akan berperan sebagai pembantu yang menyiapkan air minum untuk tamu rumah."
Leon lalu pergi dari sana. Bryan mendekat, menarik tangan William untuk duduk di sofa.
"Aku tidak ingin membicarakan apapun denganmu!" William kembali berdiri tanpa melihat mata Bryan. Rahangnya mengeras dan menyentak tangan Bryan yang berusaha meraih lengannya.
"Mohon maafkan aku, Dude. Aku buta dan tidak bisa melihat dengan baik. Aku mohon, jangan biarkan aku berdiri sendiri. Aku menyesal telah melakukannya pada wanita yang kau cintai. Aku mohon ...."
William masih bergeming, tanpa berbalik ataupun melirik sedikit pun pada Bryan yang sudah berlutut di lantai.
"Ku mohon, Dud ...." Bryan meraih tangan William lagi dan memberikan sebuah benda yang membuat William segera berbalik.
"Aku sudah bilang tidak akan mengambil mobilmu! Jual saja itu untuk menambah investasi."
Karena pada akhirnya, William tetaplah William yang tidak pernah membiarkan temannya kesusahan. Hatinya bersih untuk memaafkan kesalahan teman yang sudah dia anggap keluarga.
Bryan yang perusahaannya saat ini berada di ambang kehancuran dijadikannya prioritas, mengesampingkan perasaan pribadinya yang mungkin akan menyakiti Bryan juga Leon.
William yang dewasa kini kembali. Dia tetap merangkul temannya terlepas dari kesalahan yang mereka perbuat.
"Kau menidurinya setiap malam 'kan? Maka hamili dia kalau kau mencintainya! Itu satu-satunya cara agar kau bisa memilikinya."
Bryan memberi saran yang membuat William susah payah menelan ludah.
.
***