After Yesterday

After Yesterday
After Yesterday 36



Happy reading!


***


.


Rupanya orang tidak bisa berbohong pada orang yang dicintainya. Meski isi kepala dan hatinya selaras, mulut berkata lain.


Lea menundukkan kepala di dada bidang pria yang kini mendekapnya. Air matanya luruh tanpa permisi, membasahi sebagian dari kain berlapis milik Hunter.


"Tidak apa. Semuanya baik-baik saja," ujar Hunter menenangkan. Dia mengelus punggung Lea yang bergetar.


Lama keduanya berdiri di depan pintu dalam situasi seperti itu. Lea menangis tanpa suara, sementara Hunter yang diam mendekap. Membiarkan emosi Lea sirna bersama dengan air matanya.


Beberapa waktu berlalu. Tangis Lea kini telah reda. Dia mengusap air matanya, tapi tidak berani mengangkat kepala. Dia malah menyusupkan wajahnya di dada Hunter, berharap dengan begitu wajah kusutnya tak tampak di mata pria itu.


"Sudah baikan?" tanya Hunter setelah dirasanya Lea tidak lagi menangis. "Masuk dan ganti bajumu. Kau bau alkohol." Hunter melonggarkan pelukannya, bermaksud membiarkan Lea masuk.


Lea menggeleng kecil. Dia malah memeluk Hunter makin erat dari sebelumnya. "Maaf ...," lirihnya pelan. Sangat pelan hingga suara itu terbang di udara. Untungnya, Hunter berhasil menangkap irama sendu yang berlapis penyesalan itu.


"Katakan saja kalau kau butuh tumpangan ke dokter," sahut Hunter seketika. Lea terdiam, tidak memberi reaksi persetujuan ataupun penolakan. Lidahnya kelu, sampai-sampai dia merinding sendiri oleh aura gelap yang tiba-tiba menyelimuti punggungnya. Dia takut menerima kenyataan atau mungkin takut ada yang berubah dari tatapan khawatir pemilik tubuh atletis ini.


"Maaf karena aku selalu menunjukkan sisi terburukku padamu, padahal aku ingin sekali saja menampilkan sisi terbaikku." Lea melepaskan pelukannya dan memandang mata cemerlang yang juga membalas tatapannya. "Pernahkah kau merasa ilfeel karenanya?"


"Never." Hunter menyahut cepat. "Aku senang karena kau menunjukkan sisimu yang ini. Aku tidak ingin menjadi orang konyol yang hanya tahu sisi manismu saja, karena siapa pun dirimu, kau tetaplah Mara yang ku kenal. Seburuk-buruknya sisi burukmu, aku akan menjadi yang terburuk jika tidak mampu mencintai dirimu apa adanya."


Hunter berujar mantap. Matanya memandang lekat manik cokelat yang terpana itu. "Aku mencintaimu tanpa peduli apa itu sisi baik dan sisi burukmu. Aku mencintaimu karena kau adalah kau."


Sekali lagi, Lea tertegun. Dia tidak mengira Hunter akan mengatakan cintanya sekali lagi meski sudah tahu dirinya bermalam dengan pria lain. Lea yakin, Hunter mengetahui hal itu, namun Lea tidak bisa menebak isi pikiran Hunter. Pria itu tidak tertebak.


Lea dalam dilema. Pantaskah dia menerima cinta tulus Hunter sementara dirinya ternoda oleh lelaki lain? Sanggupkah dia menerima kebaikan Hunter setelah apa yang terjadi semalam?


Lea bingung sekaligus malu. Entah apa yang akan terjadi jika saja hal semalam bisa terelakkan. Apakah dia akan mengutarakan isi hatinya dengan bangga? Atau tersenyum paksa seperti yang sudah-sudah? Yang pasti, tidak akan secanggung ini 'kan?


"Kenapa bengong?" Suara Hunter menghentikan segala aktifitas otak Lea. Dia mengerjap sadar, lalu menunduk malu. "Kau aneh. Kenapa selalu menyatakan cintamu setiap kali aku dilanda kekecewaan?"


"Agar kau sadar, tidak ada orang yang sempurna di dunia ini. Semuanya setara. Sama-sama berharga dan sama-sama buruknya." Hunter menjawab dengan yakin lagi. "Kau merasa terpuruk sendirian oleh pemikiranmu yang menganggap diri sendiri tidak berharga, sementara di mataku kau layak dan sangat berharga. Kenapa kau selalu menyakiti diri sendiri dengan khayalan-khayalan negatif?"


Mata Lea memanas. Tidak disangka hanya dengan kalimat sederhana penuh makna itu, hatinya pulih. Seolah beban berat yang menimpanya terhapus. Bulir bening itu kembali meluruh, namun memiliki arti berbeda. Lea menangis haru.


Dalam dekapan Hunter, Lea menyuarakan isi hatinya lewat tangisan. Memeluk erat tubuh Hunter yang ternyata sangat atletis. "Padahal aku tidak ingin menangis di hadapan pria yang aku sukai, tapi air mataku terus keluar ...," gumam Lea yang didengar oleh Hunter.


"A-apa ...?" tanyanya tidak percaya.


***


Sudah sebulan sejak kejadian menangis di depan kamar hotel itu. Meski canggung, Lea berusaha baik-baik saja di depan Hunter. Pria itu juga paham dan tidak mengungkit perihal yang sangat memalukan bagi Lea.


Karena hal itu pula, Hunter tidak lagi merasa rendah diri atau menganggap dirinya tidak berarti di mata Lea. Kini, pria itu tidak ragu-ragu lagi untuk melakukan skinship dengan Lea.


Kasus yang menyeret nama Bryan masih saja membaur dengan cerita lain. Pria yang dulunya dikenal Lea sebagai ladiesman itu kini dipenjara dengan tuduhan pembunuhan dan penyelenggaraan penelitian ilegal. Sementara William, Lea tidak ingin mendengar kabar tentangnya.


Lea bukan jaksa yang menangani kasus Bryan sehingga dia tidak perlu menghadiri persidangan, karena sebuah kasus anak yang hilang juga menarik minatnya untuk bersungguh-sungguh.


"Sudah mendapat titik terang?" Suara bariton seorang pria yang selalu menunggunya di depan pintu membuat Lea tersentak. Meski terbiasa, rupanya Lea masih saja sering kaget jika Hunter bersuara tiba-tiba seperti ini.


"Ah! Kau selalu mengagetkanku. Kenapa muncul tiba-tiba?" Lea mengerucut. Tangannya langsung menggandeng tangan Hunter untuk keluar dari area kantor yang pengap. "Belum ada jejak yang ditemukan."


"Aku sudah dari tadi di sini. Kau saja yang tidak memerhatikan lingkungan sekitar. Aku jadi ragu, apa kau mendapat lisensi detektifmu dengan cara ilegal?"


Lea mendelik sebal. Tidak terima dengan penafsiran Hunter yang mengada-ada. Karena lisensi detektif didapatinya dengan kerja keras dan butuh banyak usaha. "Kau membuatnya terdengar konyol."


Keduanya terlihat sangat romantis, walau sebenarnya tidak seperti itu. Karena hal kecil seperti memakaian helm pada kekasih yang menurut orang lain romantis, bagi Lea itu hanya seperti alasan orang yang malas. Buktinya dia memasang sendiri alat pelindung kepala itu tanpa bantuan Hunter.


Hunter tersenyum tipis. Dirinya yang berniat melakukan hal romantis seketika senyap oleh perbuatan Lea. Karena gemas, Hunter mendekatkan bibirnya ke pipi Lea.


CUP!


Bukannya mengenai pipi, Lea memutar kepalanya sehingga bibir keduanya saling mengecup. Hunter tersentak, dia merasa aneh dan tidak percaya dengan yang baru saja terjadi. Hal seperti ini sama sekali belum pernah terjadi sebelumnya. Dia hanya berani menyium pipi Lea, bukan bibirnya.


"A-apa ... apa-apaan?" Hunter terbata-bata, sementara Lea hanya terkekeh mengejek. "Kau berdebar?" tanya Lea iseng.


Tawa Lea makin menggema kala Hunter tidak menyahut. Dia menikmati dunia yang miliknya sendiri karena kekakuan Hunter. Saking lucunya, Lea hampir terjungkal dari sadel yang didudukinya. "Aku memberimu lampu hijau," lanjut Lea kemudian yang mendapat serangan kecupan oleh Hunter.


"Jangan bercanda kalau kau tidak bisa menahan seranganku." Hunter masih tidak percaya dan tidak peduli dengan kejujuran Lea, karena baginya Lea tidak mudah menyetujui apapun yang berkaitan dengan hubungan asmara.


"Kau tidak percaya padaku, ya?"


"Untuk yang ini, iya. Aku tidak percaya pendengaranku sendiri."


Karena Lea tidak kunjung menjelaskan maksudnya, Hunter perlahan melajukan motornya membelah kegelapan. Dia memilih diam daripada mendapat penjelasan dari Lea. Karena bisa saja perempuan itu bercanda dan Hunter tidak mau mendapat angin.


Pinggangnya dipeluk oleh Lea dan sepertinya Hunter merasakan sesuatu yang berdetak di punggungnya. Dia tersenyum kecil, tidak berani menyimpulkan apa arti debaran itu.


"Apa kau takut malam ini? Jantungmu sangat berdebar." Hunter sepertinya tidak tahan lagi. Dia penasaran. Lea tidak biasa berdebar seperti ini saat bersamanya.


"Bodoh," celetuk Lea. "Aku berdebar karena gugup. Jangan menanyakan sesuatu yang bisa kau jawab sendiri."


Hunter menepikan motornya di bawah lampu jalan. Dia menoleh untuk memandang wajah Lea yang berjarak beberapa inci darinya. Tampak di matanya bahwa Lea benar-benar gugup. "Aku tidak punya pertanyaan, jadi aku tidak bisa menemukan jawabannya. Tanyalah, maka aku akan menjawab."


Lea menelan ludah kasar. Sekarang dia benar-benar gugup. Apalagi wajah tampan Hunter sangat dekat. Tangannya yang memeluk pria itu dikendurkannya, namun Hunter menahan. "Begini saja, jangan lepaskan," ujarnya sambil tersenyum.


Lea semakin terpana. Wajah pria itu benar-benar memesona. Ditambah senyum tulus yang membius hatinya, Lea tanpa sadar mendekatkan wajah ke sana. Dia mendaratkan bibirnya di bibir yang terlihat menggairahkan milik Hunter. Mengecupnya sekilas dan berbisik, "Apa aku boleh egois dengan memiliki cintamu?"


Dalam keheningan malam serta cahaya kemerah-merahan lampu jalan, manik secerah bintang itu mengerjap pelan. "Kau sudah melakukannya sejak dulu. Kau mengambil hatiku tanpa ijin," sahut Hunter setelah menyadari dirinya terpaku pada senyum Lea. Dia tersenyum, sedikit malu karena ditatap intens oleh Lea.


"Ini nyata 'kan? Kau tidak bercanda? Ku mohon, jangan buat aku salah paham sendiri."


"Apa aku pernah bercanda soal ini?" ujar Lea saat tahu Hunter tidak memercayainya. "Aku bilang tidak saat aku tidak mau dan aku juga pernah memukulmu karena kau memaksa."


Hunter tertawa lagi. Dia mencubit tangannya sendiri untuk memastikan bahwa ini nyata. Sakit.


"I'm yours, Mara."


"Yeah, you're mine."


.


***


......***Gimana nih? Aku suka Hunter juga. Padahal sebenarnya aku cinta William. Endingnya harus diapakan? ......


......Lea >< Hunter......


...atau...


......Lea >< William???......


......Komen ya***^_^......