After Yesterday

After Yesterday
After Yesterday 26



Happy reading!


.


***


William.


Ada yang salah. Ada yang tidak beres. Aku secepat kilat membuka pintu waktu menyadari lampu di apartemen ini tidak menyala. Tidak biasanya Lea membiarkan tempat ini gelap.


"Lea!" Aku berteriak, harap-harap cemas, semoga apa yang aku pikirkan tidak benar. Aku takut. "Apa yang kau lakukan? Kenapa gelap?"


Aku menyalakan lampu dan menjejalahi seluruh ruangan. Mencari wanita yang selalu memberiku kesempatan berada di apartemen ini. Lea yang selalu dingin tetapi aku jatuh cinta padanya. Ah, sebut saja, dia wanitaku. Meski hanya aku yang mencintainya. Mungkin.


Aku melepaskan dasi dan jasku, melemparnya asal karena rasa cemas berlebihan. Berlari ke kamar memastikan keberadaan wanitaku.


"Lea?" Aku memanggilnya dengan lembut. Ya, kurasa. Karena aku merasakan perubahanku sejak beberapa hari ini. Malam ini, aku berniat mengajaknya makan malam romantis. Ah, membayangkannya saja jantungnya berdebar kuat.


Sayangnya, debaran jantungku ini pertanda buruk. Aku tidak menemukan dia dimana pun. Lemari pakaiannya kosong dan kopernya tidak ada di tempat.


Detik itu juga, kakiku lemas. Sendiku merosot dan aku jatuh tak berdaya. Aku tahu situasi seperti ini. Aku mengerti. Cintaku telah pergi. Wanitaku telah pergi, membawa seluruh harapan. Makan malam yang aku rencanakan sudah gagal. Haruskah aku mengatakan selamat jalan cintaku?


Retak.


Hancur.


Tak berdaya.


Aku memukul dadaku yang terasa sangat sesak. Menyesal. Tentu saja. Aku memperlakukan dia seperti binatang, memukulnya, menyiksanya. Aku bejat, aku menyadarinya.


Awalnya, aku ingin mengikat dia sebagai peliharaan. Itu awalnya. Lalu rencana berubah. Aku jatuh cinta lagi. Lebih dalam dari sebelumnya. Meski hanya seringai kecil, bibir seksi itu membuatku jatuh. Aku ingin melihat senyum tulus di bibirnya ketika aku membuatnya jatuh cinta juga padaku.


Tidak.


Tidak ada lagi rencana seperti itu.


Dia pergi.


Seperti ada tenaga yang kuat mendorongku, aku menguatkan sendi kaki yang semula lemas. Menuruni lift dan memohon pada petugas keamanan di gedung itu memutar kembali kamera pengawas di depan pintuku.


Sungguh. Aku meneteskan air mata. Walau Lea tetap berekspresi seperti biasa, aku bisa merasakan kepedihan di hatinya. Lihat saja, tangannya gemetar saat dia memungut kembali benda-benda miliknya yang berpencar keluar dari koper.


Aku kembali melemparkan ponsel yang berisi rekaman cctv itu sampai hancur berantakan. Rasanya aku dicampakkan sebelum benar-benar mengatakan bahwa aku mencintainya dengan seluruh nyawaku.


Aku kembali mengingat. Dulu Mommy juga memperlakukan Kelly seperti ini. Hanya saja waktu itu aku tidak marah karena paginya aku melihat Kelly bersama kekasihnya, yang sekarang menjadi suaminya.


Tapi sekarang, aku tidak bisa diam saja. Aku memghabiskan malam pertamaku dengan Lea. Yah, itu benar. Mungkin banyak yang berpikir aku sedikit berlebihan, tetapi aku masih menganut aliran no sex before married. Sebut saja, itu dulu. Tapi bersama Lea, aku dirasuki iblis. Dan sekarang iblis itu kembali berkuasa atas diriku.


Aku menancap gas ke tempat yang haram aku injaki. Ya, semua orang tahu aku membenci tempat ini. Karena terlalu emosi, aku langsung menabrak pagar rumah mewah yang ada di depanku ini. Aku tidak peduli dengan bagian depan mobilku yang rusak. Itu tidak seberapa dibandingkan dengan apa yang aku rasakan.


"Harapanku terwujud. Kau akhirnya menjengukku, Son!"


Pria tua yang paling aku benci sejagat raya mendekat, namun aku buru-buru menepis tangannya dan menerobos masuk di mana aku melihat punggung Mommy dari jauh.


"Eh, William sejak----" Dia tersenyum lebar ketika melihatku berjalan ke arahnya tetapi aku langsung mencengkeram rahangnya sehingga dia menutup mulutnya.


"Kenapa kau mencampuri urusanku?!! Dia tidak mengganggumu, bukan?!" Aku menahan tanganku agar tidak mencekik lehernya. "Kau melakukannya lagi dan lagi!"


"William, apa yang terjadi? Lepaskan tanganmu dari ibumu!" Scott berusaha melepaskan cengkeramanku.


"Diam kau, Brengsekk! Orang mati tidak berhak berbicara!"


"Oh, kau menjadi seperti ini karena wanita itu? Aku menduganya. Dia tidak baik untukmu, William. Lihat saja sekarang, kau menjadi anak durhaka yang ingin membunuh ibunya sendiri!"


Mommy tertawa sinis saat aku melepaskan tanganku.


"Kau alasannya! Kau yang membuatku seperti ini! Waktu kau mengusir Kelly, aku sangat bodoh memercayaimu. Tapi sekarang tidak lagi. Silahkan mencegah sesukamu, karena aku bukan bocah yang bisa kau kendalikan!"


Aku sudah enggan memanggilnya Mommy seperti biasa. Aku membenci situasi seperti ini. Aku dibodohi oleh ibu kandungku sendiri. Tanpa perlu bertanya, aku sudah tahu motifnya mengusir Kelly. Tidak akan kubiarkan Lea menerima hal yang sama.


Begitu yang aku pikirkan. Kemarin. Saat aku jungkir balik mencarinya. Tetapi apa yang aku lihat sekarang? Orang-orangku memberikan puluhan lembar foto yang menunjukkan dia bersama seorang pria.


.


***