After Yesterday

After Yesterday
After Yesterday 38



Happy reading!


***


.


Lengan kokoh itu dilingkari jemari lentik yang berayun manja. Sesekali kepala bersurai hitam menempel di sana.


"Aku merinduimu selama sebulan ini. Kenapa tiba-tiba datang di sini?"


Jullian memindahkan letak kacamata hitamnya ke depan kaos, dan tangannya beralih memeluk pundak perempuan di sampingnya. "Aku penasaran dengan tempat kerjamu. Bisa mengajakku berkeliling besok?"


Natalie tersenyum cerah. Dia mengangguk cepat. "Aku akan berusaha meski aku tidak terlalu akrab dengan kota Brasil. Aku jarang berwisata karena pekerjaanku."


Jullian mengangguk paham. Senyum remeh terulas di bibirnya saat melihat sebuah rumah kecil di depan mata. "Apa kau tidak merasa kurang dengan fasilitas di sini?"


"Kau akan menambahkannya?" Natalie berujar cepat. Dia berharap banyak dan menempelkan kepala dengan manja di lengan William. "Tidak perlu, aku tidak butuh lebih dari ini." Dia berpura-pura.


"Oh, begitu rupanya. Padahal aku ingin memberikanmu sebuah apartemen di kawasan elit." Jullian menyeringai kecil karena tampaknya Natalie dibodohi dengan mudahnya.


"Hei, itu menghabiskan banyak uang. Simpan saja uangmu!" serunya berusaha baik-baik saja. Namun, dalam hati dia mengutuk mulutnya yang langsung menolak tadi tanpa tahu arah pembicaraan Jullian.


"Benar juga, butuh uang yang banyak untuk pembuatan dekorasi pesta kita."


"Pesta kita? Maksudnya?" Natalie bertanya penuh penasaran. Maniknya pasti berbinar-binar karena Jullian tidak melihatnya dengan jelas. Malam tanpa bintang membuat Jullian tidak melihat ekspresi bodoh perempuan itu.


"Aku keceplosan. Maaf, padahal aku bermaksud untuk memberimu kejutan."


"Kejutan?"


Jullian mengangguk seraya memutar tubuh Natalie agar menghadapnya. "Bersediakah kau menjadi pasangan yang akan memasang cincin di jari manisku pada malam pertunangan antara Jullian Haggins dan Natalie De Souza?"


Tanpa diduga oleh Jullian, perempuan itu bersorak senang. Dia berhambur ke pelukan Jullian dan mengangguk hebat. "Aku menunggumu mengatakan ini, J. Tentu saja aku bersedia."


"Kenapa kau tidak bilang kalau kau menunggu? Aku bisa lebih cepat mengatakannya dan tidak perlu takut oleh pikiran andai kau menolakku."


Tawa renyah yang penuh makna menyertai langkah Jullian memasuki area perumahan kecil yang didiami Natalie di sana. Dia menyukai kebodohan perempuan berambut hitam ini.


***


"Hei, hei, aku minta maaf oke? Don't be mad!" Hunter berusaha menyamai langkahnya dengan Lea yang masuk ke dalam rumah.


Tempat minimalis yang disewa Lea berada di pinggir kota, jauh dari keramaian. Hanya Hunter dan Jullian yang tahu tempat ini, bahkan Kenzie tidak diberitahunya. Karena Lea tahu, temannya yang satu ini kurang bisa menutup mulut. Untung saja sampai sekarang dia tidak membocorkan identitas Lea sebagai seorang jaksa juga adik dari Jullian.


"Pergilah! Aku butuh ketenangan!" tolak Lea dengan tegas. Dia tidak peduli dengan Hunter yang terus membuntuti masuk.


"Aku hanya sebentar, tidak akan mengganggu," sahut Hunter sementara Lea sudah menghilang di balik pintu. Suara kamar yang ditutup kasar membuat Hunter mau tidak mau menutup mata. "Benar-benar marah."


Hunter tidak menyerah. Berkat kepiawaiannya, Hunter membuatkan beberapa hidangan untuk malam ini. Alasannya terus berada di tempat ini hanya untuk memastikan. Bahwa Harry tidak nekad mengikutinya sampai daerah ini. Setahu Hunter, seseorang yang punya obsesi tinggi dan dikendalikan oleh perbuatan nekad mampu melakukan apa saja.


Dia mengetuk pintu kamar Lea. Beberapa kali dia melakukannya tapi tidak ada pergerakan dari benda persegi panjang itu.


"Aku ketiduran."


Rambut kusut dengan pakaian kantor menyambut Hunter. Rupanya Lea tertidur tanpa mengganti pakaian.


"Aku membuatkan makan malam, makan dulu sebelum tidur."


Lea mengusap wajahnya kasar. Dia memandang Hunter yang terus tersenyum ramah padanya. Pria itu tidak berubah. Dulu sering diperlakukan kasar olehnya, tetapi Hunter membalasnya dengan kebaikan berkali-kali lipat.


"Kenapa kau seperti ini padaku? Aku marah dan merasa bersalah di waktu yang bersamaan dan aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri."


"Wajar saja karena kau juga perlu mengeluarkan emosimu."


Hunter tidak berkata-kata. Dia hanya memandang netra cokelat yang sibuk menjelajahi isi meja.


"Kau sangat baik sampai-sampai aku merasa insecure, merasa bersalah karena aku tidak sebaik itu. Dan juga semakin menyadari bahwa aku tidak pantas untukmu."


"Aku memang seperti ini, tidak bisa berpura-pura menjadi orang lain." Hunter menghela napas sebentar dan berujar, "Kita saling melengkapi, Mara. Tidak ada yang namanya orang baik bertemu dengan orang baik dan sebaliknya, justru yang baik dipertemukan dengan yang buruk agar bisa menyetarakan dan menimbun kekurangan pasangan."


"Emmm, aku paham apa yang kau katakan, tapi ..., yah ... aku sedang tidak mood untuk berdebat. Terima kasih atas makanannya," ujar Lea memaksakan senyum.


Bukannya tidak menyadari kebaikan Hunter, sedari dulu Lea selalu menghindari Hunter karena takut akan hal ini. Hunter terlalu baik untuk ukurannya, sedangkan dirinya hanya karat yang dilapisi emas. Tidak ada nilai.


Untuk mencintai Hunter, Lea masih ragu. Walau dia telah memantapkan diri untuk memberi pernyataan suka pada pria itu, faktanya ada berbagai argumen di dalam kepala Lea.


"Kenapa kau tidak makan?" Lea berkedip kosong saat menyadari Hunter hanya memerhatikannya.


"Aku sudah makan. Aku memasaknya untukmu karena aku tahu kau tidak akan makan setelah pulang."


"Astaga, aku merepotkanmu lagi."


"Aku senang direpotkan olehmu."


"Sial!" Lea menggeram. "Apa kau tidak bisa sewajarnya saja? Aku merasa canggung ketika kau tersenyum bodoh seperti itu."


Hunter tertawa kecil. Dia mengacak rambut Lea yang duduk di seberang meja. "Akhirnya kau tidak marah lagi."


Lea terdiam sesaat. Dia menikmati sentuhan tangan Hunter di kepalanya. Dan secara naluriah, dia mengambil tangan Hunter dari sana dan menggenggamnya.


"Belakangan aku tidak bisa meredam emosiku. Kau terluka 'kan?"


"Aku merasa tenang waktu kau tersenyum, jadi, sering-seringlah tersenyum untukku." Hunter tersenyum, memberi penanda bahwa dia baik-baik saja. "Aku mengerti orang yang stress oleh pekerjaan akan selalu marah-marah."


Lea tertegun kemudian bertanya dengan sorot mata yang serius. "Kalau aku menangis?"


"Aku berdarah."


"Kalau aku marah?"


"Berarti itu salahku."


"Apa yang akan kau lakukan kalau cintaku untukmu tidak sebesar cintamu untukku?"


Hunter malah tersenyum. Membuat hati Lea terenyuh. "Aku akan berusaha lebih keras lagi untuk membuatmu jatuh cinta."


"Bagaimana kalau aku berbalik mencintai orang lain?"


Kali ini Hunter diam sedikit lebih lama kemudian memberi jawaban. "Aku akan mencintaimu sekali lagi. Selebihnya, aku percayakan padamu."


Kekehan Lea terdengar, dia mencium punggung tangan Hunter dan menatap netra bercahaya itu. "Apa kau tidak akan meyakinkanku untuk jatuh cinta sekali lagi padamu?"


"Kalau dipikir-pikir, kau cukup mesum juga. Kau mencium tanganku tiba-tiba. Apa kau tidak memikirkan jantungku yang setengah meledak ini?"


"Jawab dulu pertanyaannya, jangan mengalihkanku." Lea mendesak. "Lagipula kita pacaran, tidak ada batasan untuk skinship.


Hunter menghela jengah. Dia berpindah tempat ke samping Lea. "Aku tetap akan meyakinkanmu, tapi kalau hatimu tidak bisa melembut lagi, maka aku hanya bisa mendoakan kebahagiaanmu."


"Ya, aku juga berharap kau bisa memayungiku jika saja aku terjebak dalam hujan dan memelukmu yang kedinginan oleh hujan adalah kewajibanku."


.


***