
Halaman sekolah sudah sepi. Nyaris sudah tidak ada murid yang berlalu-lalang. Elle berjalan menghampiri mobilnya. Namun, Bren menghentikan Elle.
“Tidak… tidak. Kau ikut denganku saja.” Bren menarik tangan Elle agar gadis itu mengikutnya.
Elle menautkan kedua alisnya. Menatap bingung ke arah Bren yang berjalan di depannya, namun masih mencengkram pergelangan tangan Elle. “Mobilku?”
“Tinggalkan saja di sini. Kita akan mengambilnya nanti.” Bren melepaskan cengkramannya pada Elle setelah mereka sudah mencapai mobilnya. Bren pun segera memutari mobilnya dan masuk ke belakang kemudi, disusul Elle yang segera masuk ke kursi penumpang yang berada tepat di samping Bren.
Bren melajukan mobilnya hingga mereka bebas dari pemandangan gedung-gedung pecakar langit kota New York. Di tengah padatnya kota New York, wilayah ini sangat kotras dengan pemandangan yang biasa Elle jumpai.
Hamparan warna hijau rerumputan yang dipangkas rapi sunguh memanjakan mata. Pepohonan di sekitar menambah nilai plus keindahan kawasan ini. Salju yang biasa menemani musim dingin sudah nyaris hilang karna sebentar lagi akan memasuki musim semi.
“Apa kita akan ke rumahmu?” tanya Elle tanpa menoleh ke arah Bren. Karena perhatiannya sedang tertuju ke arah pemandangan di luar jendela.
Bren menganggukkan kepalanya walaupun Elle tidak melihat ke arahnya, “Ya,” katanya singkat.
Elle menoleh cepat ke arah Bren. “Kau tinggal di Hamptons?” serunya tak percaya.
“Apa ada yang aneh, dari aku yang tinggal di sini?”
Elle menggelengkan kepalanya dan kembali menatap antusias ke luar jendela. “Tidak. Hanya saja kudengar Beyonce tinggal di kawasan ini.”
“Apa kau berharap bertemu Beyonce di sini? Aku saja tidak pernah berjumpa dengannya.”
“Tidak. Aku hanya merasa takjub karena kau memiliki rumah di wilayah ini.”
“Ralat. Bukan rumahku. Tapi, rumah ayahku.”
Elle tak lagi menanggapi Bren karena sekarang atensinya sudah sepenuhnya tertuju ke arah luar jendela. Bren menurunkan kaca jendela mobilnya. Membuat wajah Elle diterpa angin secara langsung. Rambut Elle yang tak diikat, berterbangan. Gadis itu memejamkan matanya menikmati hembusan angin segar sambil tersenyum. Bren melirik ke arah Elle, dan senyuman Elle menular padanya.
Sebelum memasuki rumah Bren, mereka melewati jajaran rapi pepohonan di pinggir jalan masuk yang menurut Elle sangat panjang. Mungkin sekitar setengah kilometer. Hingga akhirnya mereka tiba di depan rumah mewah bernuansa putih.
Bren memarkirkan mobilnya di garasi rumah dan segera mengajak Elle masuk ke dalam. Besarnya rumah Bren membuat bibir Elle membentuk kata “Wow” tanpa suara. Bren membawa Elle melewati berbagai ruangan. Kesan rumah besar ini adalah dingin dan sepi. Jika dianalogikan sebagai manusia, menurut Elle rumah ini seperti seseorang yang glamor dan memiliki segalanya namun ia berusaha menyembunyikan rasa sepinya.
Tanpa Elle sadari, mereka akhirnya tiba di studio pribadi milik Bren. Elle belum pernah masuk ke studio musik sebelumnya. Dan ini benar-benar luar biasa. Akan tatapi, keberanian dan antusiasme Elle menciut seketika saat ia melihat teman-teman Bren sudah ada di dalam studio, dan sekarang sedang memperhatikannya dengan intens.
“Teman-teman, kenalkan ini Ellena Clark,” Bren memperkenalkan Elle kepada teman-temannya.
Sara menatap Elle dengan tatapan mematikan dan kedua tangan terlipat di dada. Adam sepenuhnya mengabaikan Elle dan sibuk dengan gitarnya. Sementara Tyler dan seorang cowok yang tidak Elle kenal menatapnya penuh minat.
“Hai,” sapa Elle canggung sambil mengangkat satu telapak tangannya dengan gerakkan kaku.
Bren terkekeh kecil. “Duduklah. Aku akan membawakanmu minum,” ucapnya sambil membimbing Elle untuk duduk di atas sofa yang terletak di pojok ruangan.
Bren menatap ke arah tangan Elle dan tersenyum kecil. Tangannya kemudian terulur untuk melepaskan tangan Elle dari kaosnya. Seketika raut wajah Elle berubah menjadi kecewa. “Aku tidak akan lama, sweet heart. Kau mau minum apa? Jus? Kopi? Susu?”
“Apa saja.”
Elle menatap satu persatu teman Bren seperginya cowok itu. Pandangan menusuk Sara akhirnya berakhir saat ia mengatakan ingin pergi mengambil minum.
“Hai, Cantik. Kenalkan, aku Tyler,” kata Tyler sambil duduk di samping Elle dan mengambil tangan Elle, lalu mencium punggung tangan Elle. Hal itu membuat mata Elle membulat seketika.
“Aku tahu,” gumam Elle, nyaris tak terdengar.
“Apa warna rambutmu ini asli?” Elle menoleh dan mendapati cowok pirang yang tidak ia kenal sudah duduk di sampingnya. Cowok itu menggenggam rambut Elle dan memperhatikannya dengan seksama.
Elle tersenyum canggung. “Ya.”
“Aku Joe, ngomong-ngomong. Kurasa kau juga sudah tahu. Kita sudah beberapa kali mengambil kelas yang sama,” kata cowok pirang itu sambil melepaskan rambut Elle dan tersenyum lebar.
Sesungguhnya Elle tidak tahu siapa Joe. Tapi, agar tidak menyakiti Joe, Elle memilih berbohong. “Ah... ya. Kurasa aku tahu.”
Elle sudah mulai tidak nyaman. Jadi, dia beranjak dari duduknya. “Aku harus ke toilet. Di mana letak toilet?”
Secara tidak terduga Adam yang sejak tadi sibuk dengan gitar dan sepenuhnya mengabaikan Elle, tiba-tiba beranjak dari duduknya. “Aku akan mengantarmu ke sana.”
Elle menganggukkan kepalanya dan segera mengekor di belakang Adam.
Sepanjang perjalanan Adam tak berbicara sama sekali. Begitu pula Elle. Ini lebih baik karena setidaknya Elle tidak perlu memulai obrolan atau menanggapi obrolan yang pastinya akan terasa canggung.
Mereka tiba di toilet. Tapi Adam tidak juga beranjak dari ambang pintu dan malah memperhatikan Elle dengan tatapan datar. Kedua tangan Adam terlipat di dada, punggungnya bersandar di kusen pintu. Hal itu tentu saja membuat Elle merasa tak nyaman dan mulai berpikir yang tidak-tidak.
“A-apa ada yang ingin kau lakukan? Aku harus menggunakan toilet. Tapi, jika kau ingin memakainya lebih dulu, kau bisa memakainya. Aku akan keluar jika kau mau memakai toilet ini sekarang,” kata Elle takut-takut.
Adam menjauhkan punggungngnya dari kusen pintu, dan menurunkan kedua tangannya dari dada lalu memasukkannya ke saku celana. Ia menatap Elle masih dengan tatapan tak terbaca, tapi cukup mengintimidasi Elle. Adam tidak melakukan apapun sejak tadi selain menatap Elle. Membuat Elle ragu, haruskah ia bersikap waspada atau tidak.
Adam membuang napasnya kasar. “Aku tidak peduli soal hubunganmu dan Bren. Tapi, kuharap kau menjauhinya. Jangan terlibat dengan kami. Kau sama sekali tidak cocok bergaul dengan kami,” ujarnya dengan nada suara datar tanpa emosi di dalamnya.
Kemudian Adam segera pergi meninggalkan Elle yang masih berusaha mencerna kata-katanya.
Elle menelan ludahnya dua kali. Baiklah. Ia belum melakukan apapun, tapi ia rasa ia sudah mendapatkan musuh sekarang. Elle menutup pintu sebelum berjalan kembali ke arah wastafel. Ia menyalakan keran dan segera membasuh wajahnya.
Elle balas menatap pantulan dirinya di cermin. Ia kemudian mendesah lelah. Elle tidak suka berada di tempat di mana ia tidak disukai. Elle ingin pulang saja.