3 Months Girlfriend

3 Months Girlfriend
Chapter 25: Rasa Penasaran Sharon



"Kami memang hanya berteman. Bren tadi kebetulan lewat saat aku sudah hampir pingsan karena nyeri haid."


Bren merasa terganggu dengan kalimat penjelasan yang dilontarkan oleh Elle. Mereka memang setuju untuk merahasiakan hubungan mereka dari teman-teman sekolahnya. Tapi, entah mengapa ia merasa terganggu.


Bren tidak mengetahui penyebabnya! Ia hanya tidak suka saja.


***


Sharon melangkahkan kaki mendekat ke arah Bren. Ia tersenyum lebar sambil menjulurkan tangannya. "Hai. Aku Sharon. Terima kasih sudah menolong temanku."


Bren tidak menyambut uluran tangan Sharon, dan hanya menatapnya tanpa minat. Ia mendengus lalu melirik tajam Elle dari sudut matanya.


"Aku baru tahu kalau ternyata dia punya teman," kata Bren sambil menelengkan sedikit kepalanya ke arah Elle.


Sharon megedikkan bahunya. "Wajar kalau kau tidak tahu. Kami baru saja—"


Tanpa peduli dengan kalimat yang terlontar dari bibir Sharon, Bren berjalan melewati tubuh gadis itu. Sharon sempat melirik tajam ke arah Bren sebelum akhirnya ekspesinya kembali menjadi ramah saat tatapan matanya bertemu dengan Elle.


"Kau baik-baik saja?" tanya Sharon dengan mimik wajah khawatir.


Elle mengulaskan senyum tulus dan mengangguk. "Aku baik-baik saja."


Sharon mengerutkan dahinya. "Sungguh?" tanyanya dengan suara yang tidak terdengar yakin.


Elle sekali lagi menganggukkan kepala. Ia memang sudah baik-baik saja. Elle pikir, dia sudah bisa pulang sekarang.


Tak berapa lama kemudian, Dokter wanita yang tadi memeriksa Elle, datang. Ia menghampiri Elle sambil tersenyum lebar.


"Pacarmu memintaku untuk memeriksamu dengan hati-hati, dan memastikan bahwa kau baik-baik saja. Manisnya anak muda zaman sekarang. Aku jadi berharap bisa kembali ke masa muda." Elle hanya bisa meringis canggung menanggapi celotehan dokter tersebut.


"Pacar?" tanya Sharon penasaran.


"Ah—itu—"


"Dia sudah pulang. Sayang sekali kau tidak melihatnya, Girl. Gadis beruntung ini mendapatkan cowok yang sangat tampan dan perhatian."


Sharon mendesah kecewa. "Lain kali kau harus mengenalkan padaku pacarmu, Elle. Aku benar-benar penasaran."


Elle tidak tahu harus menanggapi ocehan Sharon selain dengan senyum canggungnya.


"Kau sudah bisa pulang, Girl. Semua administrasi sudah dibayar dan diurus oleh pacarmu," terang Dokter sesaat setelah memastikan keadaan Elle yang sudah sehat kembali.


Sharon melipat kedua tangannya di depan dada. "Hm... aku sungguh penasaran dengan pacarmu, Elle." Dia menoleh ke arah Dokter. "Siapa nama pacarnya, Dok?"


Sang Dokter baru saja hendak membuka suara saat Elle berteriak nyaring, "Dokter! Perutku sakit lagi!" Elle memegangi perutnya sambil merunduk di atas tempat tidur.


Dokter tersebut dengan panik segera menghampiri Elle, dan ingin segera memeriksa Elle. Namun saat Sang Dokter baru saja sampai di hadapan Elle, Elle segera menegakkan tubuhnya kembali.


"Ah... perutku sudah tidak sakit lagi, Dok." Elle menggosok tengkuknya yang tidak gatal. Ia meringis penuh penyesalan ke arah Dokter dan Sharon secara bergantian.


"Kau baik-baik saja Elle?" tanya Sharon yang tampak khawatir.


Elle menganggukkan kepalanya dengan kikuk.



Sharon memaksa Elle agar pulang dengannya. Padahal Bren sudah nenunggu Elle sejak tadi di lapangan parkir. Elle sudah berulang kali menolak Sharon namun, semakin kuat Elle menolak maka Sharon akan memaksa Elle semakin kuat juga. Elle sampai kehabisan alasan untuk menolak Sharon.


Alhasil mau tidak mau Elle terpaksa harus mengekori Sharon. Mereka berjalan menuju lapangan parkir yang terletak di luar gedung rumah sakit. Elle hendak menghubungi Bren untuk pulang saja karena ia memutuskan untuk pulang dengan Sharon.


Akan tetapi, tiap kali Elle hendak mengirim pesan kepada Bren, Saron selalu mengajaknya berbicara sehingga perhatian Elle teralihkan dari ponsel di tangannya. Hingga mereka tiba di lapangan parkir, Elle tidak juga jadi mengirim pesan kepada Bren.


"Bukankah itu mobil milik Bren?" tanya Sharon sambil memicing menatap ke arah mobil Bren. Hari sudah malam, sehingga pemandangan di luarruangan tidak terlihat jelas karena penerangan hanya berasal dari lampu jalanan. Apalagi jarak mobil Bren dengan tempat Elle dan Sharon berdiri sekarang cukuplah jauh.


Dalam hati Elle berkata, "Pergilah, Bren." 


Elle mengibaskan tangannya sekali. "Kurasa itu bukan mobil Bren. Untuk apa ia masih menunggu di sini?"


Elle buru-buru menghadang langkah Sharon dengan kedua tangan terentang bebas. "Ayo kita pulang saja,, Sharon." Kedua telapak tangan Elle saling menempel dan mengosok. "Please," imbuhnya memohon.


Sharon menelenkan kepalanya sedikit untuk menatap ke balik tubuh Elle, kemudian dia menganggukkan kepala. "Baiklah... ayo kita pulang saja. Tidak penting siapa pemilik mobil itu." Shron membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju ke arah mobil miliknya sediri.


Elle sedikit menolehkan kepala ke belakang utuk mengitip mobil Bren. Ia kemudian dengan cepat megirim pesan singkat kepada cowok tersebut.


Ellena Clark:


Pulanglah. Aku akan pulang dengan Sharon.


"Elle!" Suara panggilan Sharon dari dalam mobil membuat Elle mengangkat pandangannya dari ponsel dan memasukkan ponsel tersebut segera ke dalam tas. Dia lalu berlari-lari kecil menghampiri mobil Sharon.


"Aku akan menjemputmu besok," kata Sharon saat Elle sedang menarik sabuk pengaman.


Gerakkan tangan Elle berhenti seketika. "Hah?"


"Aku akan menjemputmu."


"Kenapa? Maksudmu kenapa kau akan menjemputku besok?"


Sharon melajukan mobilnya meninggakan lapangan parkir rumah sakit. "Kita 'kan teman. Bukankah teman biasanya pergi ke sekolah bersama? Aku bisa mengantarmu setiap hari."


"Ah... iya... tapi..." Elle diam sejenak.


"Tapi?"


"Tapi, aku hendak pergi ke sekolah dengan Bren besok," imbuh Elle dalam hati. Jika ia pergi ke sekolah dengan Sharon setiap hari maka ia tidak akan punya waktu untuk pergi ke sekolah bersama Bren.


Elle yang sadar bahwasannya Sharon menunggu jawabannya, segera menggelengkan kepala cepat. "Tidak. Lupakan saja. Aku hanya masih merasa pusing sekarang," kilahnya berbohong.



Keesokkan harinya dan hari-hari setelahnya, Sharon benar-benar menempel dengan Elle. Hingga Elle tidak punya waktu pergi ataupun hanya sekedar bertemu dengan Bren. Sharon selalu menjemput Elle pergi ke sekolah dan  mengantar Elle pulang sekolah.


Meski Elle berulang kali mengatakan bahwa ia bisa pergi sendiri ke sekolah, Sharon tetap memaksa Elle untuk pergi bersamanya. Sharon bilang bahwa dirinya merasa kesepian jika tidak ada teman mengobrol di dalam mobil.


Elle tidak membenci Sharon. Ia bersyukur Sharon mau berteman dengannya. Karena sepanjang masa SMA-nya, ia memang belum pernah mempunyai teman perempuan sebelumnya. Hanya saja, terkadang Elle bertanya-tanya, mengapa cewek sepopuler Sharon mau bergaul dengannya.


Meskipun merupakan murid baru, Sharon langsung direkrut untuk menjadi tim cheers sekolah. Hal itu membuat Sharon menjadi cewek paling populer di sekolah menyaingi Sara. Sara yang sangat jelas tidak menyukai Elle, semakin ketara ketidak sukaannya setelah melihat kedekatan Elle dan Sharon.


Sharon mengatakan pada Elle bahwa gadis seperti Sara seharusnya diabaikan saja. Mungkin Sharon bisa mengabaikan orang yang tidak menyukai dirinya. Tapi, tidak dengan Elle. Elle tidak bisa mengabaikan orang-orang yang tidak suka dengannya. Meskipun Elle sudah berusaha mengabaikannya. Pikirannya secara refleks tidak pernah berhenti memikirkan orang-orang yang tidak menyukainya.


Sharon tidak lagi mengungkit hubungan Elle dengan Bren semenjak mereka pulang dari rumah sakit. Jadi, walaupun merindukan Bren karena sudah lama tidak saling bertemu, setidaknya tidak ada lagi orang di sekolah yang mencurigai hubungan mereka.


Karena meskipun Elle sudah berteman dekat dengan Sharon, ia masih belum bisa menceritakan hubungannya dengan Bren. Mungkin karena waktu yang belum pernah cocok saja.


"Sharon," panggil Elle. Sharon sedang mengantarkan Elle untuk pulang ke rumah. Entah mengapa Elle merasa ini adalah waktu yang tepat untuk ia menceritakan segalanya kepada Sharon.


"Ya?" gumam Sharon tanpa menoleh karena sedang fokus dengan jalanan padat di hadapannya.


"Ada yang ingin kuceritakan. Ini tentang hubunganku dengan Bre—"


"Elle. Aku ingin mengajakmu pergi ke rumahku hari ini. Kau tidak keberatan bukan main ke rumahku hari ini?" sela Sharon tiba-tiba.


Elle yang masih bingung karena Sharon tiba-tiba mengajak Elle pergi ke rumah gadis itu, hanya menganggukkan kepalanya setuju. Hal yang selalu Elle lakukan akhir-akhir ini. Mengiyakan ajakan Sharon.



Pagar rumah Sharon yang menjulang tinggi, terbuka otomatis saat mobil Sharon tiba di hadapannya. Mereka memasuki halaman rumah Sharon yang luar biasa luas. Elle tahu bahwasannya ayah Sharon adalah seorang senator. Tapi, ia tidak tahu bahwasannya seorang senator ternyata sekaya ini.


Setelah meletakkan mobil di depan pintu, Sharon memberikan kunci mobilnya kepada seorang pelayan laki-laki berpakaian hitam-putih. Pelayan tersebut pun segera membawa mobil Sharon utuk diparkirkan di garasi rumah.


Sharon membawa Elle masuk ke dalam rumahnya yang super duper megah dengan langit-langit yang menjulang tinggi di atas kepala Elle. Lampu gantung besar melayang di tengah langit-langit rumah. Pemandangan yang sungguh membuat Elle terkagum-kagum.


Akan tetapi, kekaguman Elle surut seketika saat ia memasuki kamar Sharon. Karena kamar Sharon dipenuhi dengan foto Bren.