3 Months Girlfriend

3 Months Girlfriend
Chapter 38: Khawatir atau Penasaran



Elle benci saat dirinya sakit. Dia sebenarnya hendak pergi ke sekolah. Namun, kakaknya yang cerewet dan dan suka ikut campur tersebut memaksanya untuk tidak masuk sekolah. Padahal ia hanya terserang flu.


Terserang flu saat musim semi bukanlah hal yang biasa bagi Elle. Di musim dingin pun ia sangat jarang terkena flu. Sudahlah… Elle tidak mau memikirkan tentang hari kemarin lagi. Kemarin merupakan hari tersial yang pernah Elle alami.


Bukannya berbaikan dengan Bren, ia malah tambah bertengkar dengan cowok itu.


Elle membuang napasnya kasar sambil menatap kosong semangkuk sup di hadapannya.


“Apa supnya mati? Hingga kau meratapinya seperti itu sambil menghela napas keras-keras?” tanya Yellena sambil mengetuk-ngetukkan sendoknya di atas meja agar Elle tersadar dari lamunannya.


Elle melemparkan tatapan membunuh ke arah Yellena.


“Tak perlu menatapku seperti itu. Kau bisa mencoba membunuhku setelah kau sehat. Habiskan saja makananmu dan minum obat setelahnya,” ujar Yellena sambil menunduk untuk menyesap kuah sup yang mengepul dari sendok di tangannya.


“Biarkan aku pergi ke sekolah.”


“Kau sakit. Istirahat saja.”


“Aku hanya terkena flu. Bukan penyakit mematikan.”


Tangan Yellena yang menyendok sup di mangkuk, tehenti sejenak mendengar kalimat yang baru saha dilontarkan Elle. Raut wajahnya berubah seketika. Menjadi kaku dan kosong di saat bersamaan.


“Jangan bicara asal. Habiskan saja makananmu dan minum obat,” kata Yellena dingin. Elle tidak pernah mendengar Yellena seserius dan sedingin itu. Jadi, ia menuruti saja perkataan Yellena tanpa melawan sedikit pun.


***


Dari sepagian Bren tidak melihat Elle di sekolah. Kebetuan ia tidak ada mengambil kelas yang sama dengan Elle hari ini.


Bren awalnnya tidak ingin peduli. Namun, gosip yang dibawa Tyler membuatnya cukup khawatir.


“Kudengar Clark sakit hari ini. sakit apa dia hingga tidak masuk hari ini? Apa separah itu hingga tidak dapat pergi ke sekolah?”


“Apa tidak ada hal lain yang bisa dibicarakan? Aku bosan kalian terus membahas tentang Si Rambut Merah.”


Bren tidak lagi menyimak pembicaraan antara teman-temannya. Karena benaknya sekarang sedang bertanya-tanya apa yang terjadi dengan Elle. Apa cewek itu sakit karena ia membentaknya semalam?


Bren ingin menghubungi Elle langsung, tapi egonya menolak. Ia terlalu gengsi untuk mengubungi Elle lebih dulu. Satu-satunya orang yang bisa Bren tanya soal keadaan Elle sekarang hanyalah Jackson. Orang yang juga berniat membunuhnya karena sudah berpacaran dengan Elle.


Bren berusaha berpikir cepat tentang bagaimana ia bisa mengetahui keadaan Elle tanpa harus bertanya kepada Jackson atau menghubungi Elle langsung.


“Aku harus ke toilet,” pamit Sara.


Saat Sara pergi meninggalkan teman-temannya. Terlintas ide di benak Bren. Ia mempunyai teman-teman penggosip. Mengapa tak ia manfaatkan saja.


“Tyler, Joe, kalian pintar bergosip kan?”


“Kau kira aku presenter gosip?” sahut Tyler tidak terima.


“Bukan begitu, Dude,” elak Bren. “Aku butuh kau menari tahu sesuatu….”


Tyler dan Joe menatap ke arah Bren, menunggu Bren menyelesaikan kalimatnya. Namun, Bren hanya menatap bolak-balik antara Tyler dan Joe.


Seperti menimbang-nimbang haruskah ia sampaikan rasa penasarannya atau ia pendam sendiri?


Karena Bren khawatir teman-temannya akan mengejeknya jika tahu bahwa Bren penasaran dengan keadaan Elle.


Tidak. Tentu saja Bren tidak menghawatirkan Elle. Ia hanya penasaran saja.


“Dia ingin kalian mencari tahu tentang keadaan Clark,” tembak Adam tepat sasaran.