3 Months Girlfriend

3 Months Girlfriend
Chapter 12: Calon Pacar Elle



Bren tidak tahu apa yang ia lakukan hingga bisa terjebak di mobil orang yang tidak ia kenal. Hari ini ia seharusnya mengajak Elle pergi dan menembaknya seperti yang sudah ia rencanakan sebelumnya. Namun, Jackson dan cowok yang sekarang sedang mengemudi di depannya, mengacaukan segalanya.


Teman-temannya sudah mulai mengejeknya karena belum juga berhasil mengajak Elle berkencan. Padahal kesepakatan di antara mereka sudah terjadi hampir sebulan. Musim sudah berganti dan Bren belum juga berpacaran dengan Elle. Tyler mengancam akan membatalkan kesepakatan dan mendekati Elle jika Bren tak juga berhasil berpacaran dengan Elle.


Elle tampak asik mengobrol dengan cowok yang baru saja Bren ketahui bernama Ander. Bren tidak pernah melihat senyum Elle yang selebar itu sebelumnya. Apa hubungan Ander dengan Elle sebenarnya? Bren merasakan hubungan spesial di antara keduanya.


“Ngomong-ngomong, Ander. Dari mana kau mendapatkan nomorku? Dan alamat sekolahku? Dan bagaimana kau mengetahui bahwa aku tidak membawa mobil hari ini?” Elle membrondong Ander dengan pertanyaan-pertanyaan yang sejak tadi bersarang di otaknya.


Ander tertawa lembut sebelum menanggapi pertanyaan Elle. “Dari Yellena. Semua informasi aku dapatkan dari Yellena. Yellena dan Miguel berkencan. Kau tidak tahu?”


Elle nampak terkejut. “Serius, Ader? Aku baru tahu.”


Bren menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh dua orang di depannya. Dan itu membuatnya sangat kesal. Ia tidak pernah menduga bahwasannya seorang Bren Hudson harus terjebak di dalam mobil orang asing dan diabaikan seperti ini.


“Kalian benar hanya berteman? Jika orang lain yang tidak tahu melihat kalian berdua bersama, mungkin mereka akan berpikir bahwa kalian berkencan,” komentar Bren sinis.


“Ya. Kalian terlihat sangat akrab. Apa kalian sudah lama berteman?” Jackson yang sejak tadi hanya memperhatikan interaksi antara Elle dan Ander pun langsung melontarkan pertanyaan setelah Bren berbicara. Ia penasaran dengan hubungan di antara keduanya. Karena Jackson tidak pernah melihat Elle yang seterbuka ini kepada orang lain. Tidak juga padanya. Jadi, ia penasaran sespesial apa hubungan Elle dengan Ander.


“Kami berteman saat aku masih tinggal di Afrika selama tujuh tahun,” jelas Elle.


“Kalian yakin hanya berteman?” tanya Bren berusaha terdengar seacuh mungkin. Ia membuang pandangannya ke arah luar jendela.


“Sejujurnya… kami pernah berkencan,” ungkap Ander.


Kalimat yang dilontarkan Ander membuat Bren mengalihkan padangannya dari jendela, dan menoleh cepat ke arah Elle dan Ander secara bergantian. Ander adalah ancaman. Ancaman yang jauh lebih nyata dari pada Jackson.


“Tapi, kami hanya berkencan selama beberapa bulan,” imbuh Ander.


“Kita hanya berkencan selama sebulan, Ander. Tidak sampai beberapa bulan. Jangan melebih-lebihkan,” protes Elle.


“Kalian yakin sudah tidak ada perasaan lagi satu sama lain? Yang kulihat kalian nampak seperti ingin kembali berkencan lagi,” komentar Bren sambil menegakkan punggungnya, dan menatap penuh selidik.


Elle mengibaskan tangan di depan wajah. “Tidak mungkin. Aku dan Ander sudah seperti saudara.”


Tanpa Bren sadari, senyum di bibirnya mengembang. Elle tidak menyukai Ander sebagai pria.  Itu merupakan hal bagus untuk Bren. Tapi, bagaimana dengan Ander? Apa dia mempunyai perasaan khusus kepada Elle sebagai seorang gadis? Bren harus bertanya agar ia bisa tahu posisinya.


“Aku harus menurunkan kalian di mana? Atau kalian ingin ikut bersama Elle ke pesta rumah baruku?” tanya Ander. Membuat pertanyaan yang sudah berada di ujung lidah Bren, urung Bren utarakan.


“Aku ikut!” kata Bren dan Jackson serentak. Mereka saling menatap satu sama lain dengan sengit. Bren kesal karena Jackson sejak tadi mengikutinya. Jackson sendiri tidak tahu apa yang ia lakukan sekarang. Dirinya melakukan apa sesuatu yang sama sekali tidak seperti dirinya biasanya.



Bren melewati kue-kue yang berjajar rapi di atas meja tersebut. Berbagai macam kue itu membuat tumpukkan tinggi yang rapi dan cantik. Namun, secantik dan semenarik apapun kue-kue itu, Bren sama sekali tidak berniat menyentuhnya.


Dari kejauhan Bren dapat melihat Elle mengobrol dengan pasangan yang sangat jelas Bren tidak tahu mereka siapa. Tidak. Tidak seorang pun dalam pesta ini yang Bren ketahui namanya. Kecuali Elle, Jackson dan Ander.  


Ander tampak berdiri di samping Elle dan merangkul pinggang Elle dengan santai. Elle tampak tidak keberatan dengan hal itu. Ia asik menertawakan sesuatu yang Bren tidak tahu apa. Elle terlihat tertawa lebih lepas dari yang pernah Bren lihat sebelumnya.


Bren melihat Elle balas merangkul pinggang Ander. Mereka berdiri terlalu dekat bagi Bren.


Bren berjalan mendekati keduanya. Sesampainya di sana, Bren sudah mendapatkan Jackson yang datang lebih dulu menghampiri Elle. Kehadiran Jackson dan Bren membuat perempuan berambut hitam panjang yang Bren duga usianya masih di bawah 25 tahun, bertanya kepada Elle siapa Bren dan Jackson.


“Teman-teman, kenalkan. Ini Yellena. Kakak perempuanku.”


Ah… jadi perempuan ini adalah kakak perempuan Elle? Dan biar Bren tebak. Cowok yang berdiri di sampingnya sudah pasti adalah pacar dari kakak Elle. Ini kesempatan bagus untuk Bren berkenalan dengan kakak Elle.


Jackson nampak lebih dulu menjabat tangan Yellena. “Jackson Rivera. Teman Elle.”


Bren menampilkan senyumnya yang paling menawan sebelum memperkenalkan diri kepada Yellena. Ia mencium punggung tangan Yellena. Bersikap seperti seorang gentleman untuk menarik perhatian Yellena. 


“Bren Hudson. Calon pacar Elle.”


Tidak hanya Yellena yang terkejut. Ander dan Jackson terlihat sama terkejutnya dengan pernyataan Bren. Dan Elle tentu saja sekarang menjadi pihak yang paling terkejut di sini.


Elle mengedipkan matanya berulang kali. Apa maksud Bren mengatakan hal tersebut? Elle pikir selama ini Bren hanya menganggapnya seorang teman.


Yellena tertawa senang. “Well, jadi kau secara terbuka menyatakan bahwa kau akan mengencani adikku sebentar lagi?”


“Tentu saja. Tapi, sejujurnya aku belum menembaknya,” ungkap Bren dengan percaya diri.


“Jadi, Bren. Kapan kau akan mulai mengencani adikku?”


“Yellena!” geram Elle. Ia sudah sangat tersipu malu sekarang. Bagaimana bisa dua orang ini mengobrol tentang dirinya di depannya dengan begitu santai seperti ia sedang tidak berada di sana sekarang.


Bren mengangkat bahunya. “Mungkin aku akan menembaknya setelah pesta ini. Kau tau, banyak yang mendekati Elle akhir-akhir ini dan aku tidak ingin orang lain mendahuluiku.”


“Dan bagaimana kau bisa sangat yakin kalau Elle akan menerimamu?”


“Dia juga menyukaiku,” ujar Bren dengan penuh keyakinan. Elle membulatkan matanya karena terkejut.  Ia memang menyukai Bren. Tapi mendengar Bren mengatakan hal itu secara gamblang membuatnya merasa malu. Jadi, selama ini Bren mengetahui bahwa Elle menyukainya? Apa Elle bersikap sejelas itu hingga Bren langsung mengetahui bahwa Elle masih menyukainya?


“Aku sangat yakin itu….” Elle tidak lagi mendengar kelanjutan kalimat Bren karena ia sudah beranjak dari hadapan Bren dan Yellena. Jika ia bertahan sedikit lebih lama lagi rasanya wajahnya akan berubah menjadi kepiting rebus saking malunya.