
Elle terpaksa harus makan siang di kantin karena Jackson memaksanya. Jackson bilang, ada yang ia ingin bicarakan dengan Elle. Elle mengedarkan pandangan sambil membawa nampan yang sudah terisi penuh dengan makan siangnya.
Sebenarnya ia sudah tidak terlalu menjadi pusat perhatian, semenjak ia tidak lagi terlihat bersama dengan Bren beberapa waktu belakangan. Elle pikir orang-orang sudah mulai melupakan kejadian memalukan di halaman sekolah saat itu.
Saat mata Elle berhasil menemukan Jackson yang melambai ke arahnya, Elle segera bergegas menghampiri cowok itu. Elle meletakkan nampannya di atas meja dan duduk bersebrangan dengan Jackson yang sepertinya belum menyentuh makananya.
Jackson meletakkan susu kotak di hadapan Elle. “Untukmu. Kau harus banyak-banyak minum susu agar cepat tinggi.”
Elle mengambil susu kotak pemberian Jackson. Rasa vanila. Ia tidak begitu menyukai susu rasa vanila. Meski begitu Elle tetap tersenyum tulus. “Terima kasih, Jackson.” Ia meletakkan kembali susu kotak pemberian Jackson di atas meja.
“Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Elle sambil mengambil cheese burger di atas nampan dan membuka bungkusannya.
“Kita makan dulu saja,” ucap Jackson lalu mengigit burger miliknya.
Tak jauh dari tempat Elle dan Jackson duduk, tampak Bren yang sejak tadi mengamati mereka. Bren beranjak dari duduknya.
“Kau mau ke mana?” tanya Sara sambil mengerutkan dahi.
“Bercengkrama dengan gadisku,” ucap Bren sambil menyeringai. Joe dan Tyler tertawa senang mendengar perkataan Bren. Sementara Adam, seperti biasa dia tidak ingin ikut campur. Sedangkan Sara, wajahnya sudah kusut saat mendengar Bren menyebut Elle sebagai “gadisku”.
Bren berjalan melewati meja sekelompok cowok yang sedang menghabiskan makan siang tanpa saling berbicara. Mereka adalah kelompok yang disebut Loser di sekolah. Mata Bren menangkap susu coklat yang belum terbuka di atas meja. Ia kemudian menghentikan langkahnya dan mengambil susu tersebut. “Untukku. Kau bisa membeli yang lain nanti.”
Bren meletakkan uang di atas meja, sebelum cowok berkaca mata tebal—pemilik susu tersebut, membuka mulutnya untuk protes. Cowok itu kembali menutup mulutnya yang sudah hampir terbuka saat melihat yang mengambil susu kotaknya adalah Bren Hudson. Ia tidak mau mencari masalah dengan Bren. Jadi, ia mengambil saja uang pemberian Bren di atas meja.
Elle dan Jackson sedang sibuk menikmati makan siang mereka saat sebuah tangan mengambil susu kotak Elle yang tadi diberikan oleh Jackson. Elle mendongakkan wajahnya untuk melihat orang yang sudah dengan lancang mengambil susu kotaknya tersebut.
Bren tersenyum lebar saat Elle menatap ke arahnya. Kemudian ia segera mengambil duduk di samping Elle dan meletakkan susu kotak rasa coklat di samping nampan Elle.
Elle baru saja hendak protes karena susu kotak rasa vanila yang sekarang ada di tangan Bren, merupakan pemberian dari Jackson. Ia ingin mengambilnya kembali karena ingin menghargai Jackson. Namun, Bren sudah lebih dulu meminum susu tersebut tanpa persetujuan Elle.
“Itu milikku,” gumam Elle pelan. Matanya menatap lurus ke arah Bren, yang dengan wajah tanpa dosa sedang meminum susu yang awalnya adalah milik Elle.
“Kau minum ini saja,” ucap Bren sambil menunjuk susu coklat pemberiannya.
“Kurasa kau harus belajar sopan santun, agar tidak mengambil barang orang lain tanpa izin, Huston!” geram Jackson yang sangat kesal melihat Bren yang bertingkah seenaknya kepada Elle.
Elle dapat merasakan pandangan teman-teman Bren kepadanya. Karena tanpa Elle sadari, ternyata ia mengambil tempat duduk yang menghadap langsung ke meja tempat Bren dan teman-temannya biasa berkumpul saat jam istirahat.
Sara menatapnya sengit. Hingga Elle merasa tubuhnya bisa berlubang akibat tatapan dari Sara. Dan satu cowok yang baru Elle ketahui bernama Adam, sekarang menatapnya dengan tatapan datar. Elle menegak ludahnya dan menundukkan pandangan berusaha menghindari tatapan teman-teman Bren.
Bren mengalihkan pandangannya dari Elle dan menatap sengit Jackson. “Elle lebih suka susu rasa coklat dari pada rasa vanila. Kau tidak tahu?” tanyanya dengan nada meremehkan.
Jackson menoleh ke arah Elle untuk mencari kebenaran dari perkataan Bren. Tatapan Jackson nampak mengintimidasi dan Elle sama sekali tidak suka dengan perasaan terintimidasi seperti sekarang.
Elle melirik ke arah Bren. Dari mana cowok ini tahu kalau Elle lebih menyukai susu rasa coklat? “Bukannya aku tidak suka susu rasa vanila—" Elle berusaha menjelaskan pada Jackson tapi Bren sudah lebih dulu memotongnya.
“Tapi, kau selalu menerima susu rasa vanila pemberianku. Kupikir kau menyukainya. Mengapa kau tidak pernah mengatakannya saja, Elle, kalau kau tidak menyukai susu rasa vanila,” Jackson menuntut penjelasan dari Elle.
Elle melambaikan kedua telapak tangannya di depan wajah dengan panik. Ia tidak ingin Jackson yang selama ini setia berteman dengannya menjadi salah paham. “Aku bukannya tidak menyukai susu rasa vanila, Jackson—”
“Tapi, Elle lebih menyukai rasa coklat. Makanya dia tetap meminum susu pemberianmu. Karena dia tidak membencinya. Hanya saja tidak terlalu menyukainya.” Bren lagi-lagi memotong perkataan Elle, dan menjelaskan hal yang seharusnya Elle jelaskan pada Jackson tanpa diminta.
“Ngomong-ngomong, Hudson. Mengapa kau sudah tidak memanggil Elle dengan nama belakangnya? Kurasa kalian tidak seakrab itu untuk saling memanggil nama depan.” Jackson memicigkan matanya penuh selidik.
Elle buru-buru membuka mulutnya. “Ah… itu—”
“Kami sudah resmi berteman sejak beberapa hari yang lalu. Kau tidak tahu?” jelas Bren dengan nada penuh rasa bangga.
Jackson menunjuk bergantian antara Elle dengan Bren. “Kalian berteman?” tanyanya sangsi.
“Ya, Jackson. Aku baru saja hendak memberi tahumu hari ini—”
“Berapa banyak hal yang tidak kau ceritakan padaku, Elle? Kupikir kita berteman.” Jackson merasa kecewa karena Elle tidak terbuka padanya.
“Aku—"
“Kurasa kau tidak sepenting itu untuk Elle. Makanya ia tidak menceritakan apapun padamu," komentar Bren sambil meletakkan kotak susu yang sudah kosong di atas meja.
BRAK!
Elle bangkit dari duduknya saat ia menggebrak meja. “Bisakah kalian berdua berhenti memotong pembicaraanku?” hardik Elle saking kesalnya. Bren dan Jackson terpaku menatap Elle yang tiba-tiba terlihat galak.
Namun, baru beberapa detik Elle menggebrak meja, dan membentak Bren serta Jackson, ia segera sadar dengan apa yang baru saja ia lakukan. Karena sekarang tatapan semua orang di kantin sudah tertuju ke arahnya.
Elle tidak tahu sejak kapan ia mulai menjadi pusat perhatian. Mungkin saja setelah ia menggebrak meja, atau bahkan ia sudah menjadi pusat perhatian sejak Bren duduk di mejanya. Elle tidak tahu pasti dan tidak penting untuk mencari tahu hal itu sekarang. Karena ia sudah sangat malu sekarang.
Elle memejamkan matanya sejenak. Ia harusnya bisa menjaga emosinya! Hal ini benar-benar menyebalkan!
“Maaf,” ujar Elle cepat. Entah ditujukan untuk siapa. Ia kemudian buru-buru meninggalkan kantin.
Jackson beranjak dari duduknya dan segera menyusul Elle. Sementara Bren, ia tidak peduli atas kepergian Elle. Bren ikut bangkit dari duduknya, namun bukan untuk pergi menyusul, Elle tapi untuk kembali ke meja yang berisi teman-temannya.
“Dia menggemaskan, kan?” tanya Bren dan segera duduk di samping Sara.
Sara memutar kedua bola matanya. “Menggemaskan, my as*!”
Tyler terkekeh. “Ya. Dia menggemaskan. Haruskah aku ikut mendekatinya?”
Bren melambaikan tangannya di depan wajah. “Tidak. Jangan. Biar aku saja. Kalau aku tidak berhasil mendapatkannya baru kau boleh maju,” kata Bren sambil menyeringai, kemudian memasukkan sepotong kentang ke mulutnya.