3 Months Girlfriend

3 Months Girlfriend
Chapter 27: Bren Si Penyusup



"Merindukanku?" tanya Bren sambil merentangkan kedua tangannya.


"Kau gila?" ucap Elle dengan nada suara rendah agar tidak seorang pun di dalam rumah yang dapat mendengarnya berbicara. "Apa yang kau lakukan di sini? Jika Mom mendapatimu di sini, ia akan membunuhku!"


"Woah.... Santai, Sweetheart. Tidak ada seorang pun yang akan mendapatiku di sini." Bren hendak memeluk Elle namun Elle melangkahkan kaki mundur untuk menghindari Bren.


Elle kemudian memenurunkan kedua tangan Bren yang terlentang dengan kedua tangannya. Kemudian dia memutar tubuh Bren hingga membelakanginya dan mendorong punggung cowok itu hingga mencapai balkon rumah. "Pergilah, sebelum siapapun melihatmu."


Bren memutar kedua bola matanya. "Ayolah.... Tidak akan ada yang melihatku." Bren memutar tubuhnya dan langsung mengurung Elle ke dalam dekapannya.


Elle berusaha melepaskan diri dari pelukkan Bren. Namun, Bren memeluknya terlalu kuat. Hingga rasanya Elle kesulitan bernapas. Elle menyerah. Ia berhenti melawan.


Mendapati Elle berhenti melawan, membuat Bren tersenyum puas. Dia meletakkan dagunya di pucuk kepala Elle.


"Kau tidak merindukanku?" tanya Bren.


Elle menganggukkan kepalanya tanpa mendongakkan wajahnya. "Sangat," gumannya. Suara Elle terendam tubuh Bren.


"Lalu, mengapa kau tidak mau bertemu denganku setelah pulang dari rumah sakit hingga sekarang?"


"Karena Sharon selalu mengajakku pergi bersamanya. Aku merasa tidak enak menolak gadis itu. Dia sudah terlalu baik padaku."


"Sharon? Anak baru itu, ya?"


Elle lagi-lagi menganggukkan kepalanya. Ia mengadahkan wajahnya untuk melihat ke arah Bren. "Kau mengenalnya?"


Bren menggelengkan kepala. "Tidak. Hanya saja aku sering mendengar orang-orang membicarakannya. Tyler, Joe dan Sara cukup sering membicarakan tentang dia."


"Kau tertarik padanya?"


Bren merenggangkan pelukkan mereka. Dahinya berkerut, ia menatap tepat ke arah manik mata Elle. "Mengapa kau bertanya begitu?"


"Yah.... Mungkin saja kau tertarik padanya." Elle membuang mukanya. Tak berani menatap ke arah Bren.


Bren megedikkan kedua bahunya. "Aku tidak tertarik padanya. Wajahnya pun aku tidak ingat seperti apa."


Elle menggembungkan pipinya. "Dia sangat cantik."


"Aku tidak tertarik."


"Sungguh? Tapi dia menyukaimu!" Elle buru-buru menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Ia memejamkan matanya . Merutuki dirinya sendiri yang baru saja membocorkan rahasia Sharon.


"Lalu?" tanya Bren yang terlihat masih belum mengerti maksud Elle.


"Lalu?" Elle melepaskan pelukkan Bren dan berjalan muncur selangkah. Menciptakan jarak di antara keduanya. "Ada seorang gadis cantik dan populer di sekolah yang menyukaimu. Apa kau tidak tertarik sama sekali? Itu tidak masuk akal!"


"Apa hanya karena seorang gadis cantik menyukaiku. Maka aku harus menyukainya kembali?" tanya Bren sambil mengangkat satu alisnya.


Elle menggelengkan kepalanya. "Tidak."


Bren menepuk tangannya sekali. "Baiklah kalau begitu. Masalah sudah selesai, bukan?"


"Belum."


"Belum?"


"Sharon sangat menyukaimu. Kami berteman. Tapi, dia belum tau kalau kita berhubungan. Jika dia tahu, maka ia akan kecewa. Bukankah itu sebuah masalah?" terang Elle dengan tempo cepat. "Aku tidak ingin membuat siapapun kecewa padaku," imbuhnya pelan.


"Aku tidak tahu siapa Sharon dan aku tidak peduli dia siapapun. Jadi, bisakah kita berhenti membicarakannya? Hmm?"


"Tapi—"


Drrttt....


Drrttt....


Ponsel Elle terus bergetar. Nama Ander terpampang jelas di layar ponselnya. Elle menolak panggilan telepon Ander. Namun cowok itu tidak berhenti menghubunginya. Hal itu membuat Elle mendengus kesal.


Sementara itu, Bren hanya memperhatikan Elle. Menunggu Elle selesai dengan urusan di ponselnya.


"Sebenarnya, siapa yang sejak tadi menghubungimu?" tanya Bren berusaha terdengar acuh.


"Ah.... Ini." Elle mengangkat ponselnya. "Ander. Sahabatku. Kau pernah bertemu dengannya, 'kan?"


"Kau menghubungiku?"


Bren memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, dan menganggukkan kepala. Ia mengedarkan padangannya ke sekitar kamar Elle yang belum ia perhatikan sejak ia masuk ke sini. "Kau pikir mengapa aku bisa menyelinap ke sini?"


Elle buru-buru mengecek ponselnya. Ternyata memang benar kalau Bren tadi berulang kali menghubunginya. "Maaf," katanya sambil meringis karena menyesal.


"Apa Ander lebih penting dari pada pacarmu ini?" Bren berjalan menuju meja belajar Elle dan melihat foto-foto yang Elle pajang di sana.


Elle mengikuti Bren dari belakang. "Bukan begitu. Aku harus meminta pendapatnya akan sesuatu."


"Apa kau tidak memiliki perasaan khusus padanya?" Bren menatap lurus ke arah foto masa kecil Elle yang duduk di atas pangkuan ayahnya.


Kedua tangan Elle melambai cepat. "Tentu saja tidak! Kami hanya berteman. Sungguh."


Elle mengikuti arah pandang Bren yang sejak tadi fokus ke foto masa kecilnya tanpa menanggapi elakkannya soal hubungannya dengan Ander. Apa Bren mulai mengingat dirinya, dan kenangan masa kecil mereka bersama?


"Bren," panggil Elle sambil menyentuh lengan Bren pelan.


Bren tersentak kaget. "Y-ya?"


"Mengapa kau menatap fotoku seserius itu?" tanya Elle penuh harap. Ia berharap Bren mengingatnya.


"Oh... ayahmu." Bren menunjuk foto ayah Elle. Lalu, ia diam sejenak. Nampak berpikir. Kemudian ia menyodorkan kedua jempolnya ke depan wajah Elle. "S-sangat keren."


"Hah?" Elle mengedipkan matanya beberapa kali. Dia tidak menduga Bren akan mengatakan hal tersebut.


"Ngomong-ngomong, bagaimana kau tahu kalau pria di foto itu adalah ayahku?" selidik Elle dengan mata menyipit.


Bren mengedikkan bahunya. "Hanya menebak. Tidak mungkin bukan, kau memajang fotomu bersama om-om yang tidak kau kenal?"


Elle menyambar fotonya dan menyodorkannya di depan wajah Bren. "Kau tidak merasa ada yang mengganjal setelah melihat foto ini?" tanyanya sedikit nyaring. Dia masih berusaha memastikan. Berharap Bren mengingat dirinya di masa kecil.


"Elle!" Terdengar suara teriakkan Yellena dan langkah kaki yang berjalan semakin mendekat ke arah kamar Elle.


Mendengar teriakkan Yellena membuat Elle kelabakkan. Foto di tangannya terjatuh di lantai hingga membuat kacanya pecah.


"Apa terjadi sesuatu?" tanya Yellena sambil menggedor pintu.


"Tidak. Tunggu sebentar. Berhenti menggedor. Aku akan segera membukakan pintu," teriak Elle sambil mendorong punggung Bren dengan panik. "Kau harus bersembunyi," bisiknya.


"Aku bisa keluar saja." Bren balas berbisik dan berjalan menuju jendela. Namun, sialnya kebetulan sekali Nyonya Winston—tetangga depan rumah Elle, sedang berada di luar rumah, dan mengobrol di samping sebuah mobil dengan seseorang yang Elle tidak tahu siapa. Ellen tidak peduli siapapun orang itu. Yang terpenting sekarang adalah menyembunyikan Bren.


Bren berjalan ke arah kasur dan menunjuk selimut tebal Elle. Elle menggeleng tegas. Kakakmya pasti akan langsung curiga.


"Bawah kolong?" tanya Elle tanpa suara.


Bren menyilankan tangan di depan dada. "Tidak akan muat," balasnya tanpa suara pula.


"Elle mengapa lama sekali," keluh Yellena dari balik pintu. "Kau menyembunyikan sesuatu ya? Kalau kau tidak juga membuka pintu ini aku akan—"


"Tunggu sebentar!"


Tanpa pikir panjang Elle menarik tangan Bren dan memasukkan Bren ke dalam lemari pakaian sebelum Bren dapat melontarkan protesnya.


Elle segera membuka pintu kamarnya sebelum Yellena menerobos masuk dengan kunci cadangan. Kakaknya yang menyebalkan itu selalu bisa melakukan hal tak terduga.


"Apa?" tanya Elle sambil mengangkat dagunya.


"Aku mendengarmu berbicara dengan orang lain di kamar." Yellena menatap Elle penuh selidik.


"Aku sedang menelepon Ander."


Yellena menggelengkan kepalanya. "Tidak.... Tidak.... Aku tidak mendengarmu mengobrol dengan telepon. Kau jelas mengobrol langsung dengan seseorang."


Elle berkacak pinggang. "Kau ke sini hanya untuk menanyakan itu? Jika iya, pergi saja. Aku sedang ingin beristirahat," usirnya dengan raut wajah kesal.


"Aku mau mengambil jaketku yang kau pinjam beberapa hari lalu," ujar Yellena sembari berjalan masuk ke kamar Elle, dan menghampiri lemari pakaian.


Elle menahan napasnya. Sial. Ia bisa ketahuan!