
Elle dan Bren sepakat bahwa mereka akan menyembunyikan hubungan mereka dari orang-orang di sekolah. Bren yang menyarankan hal tersebut, dan Elle menyetujuinya.
Alasan Elle menyetujui saran Bren tersebut adalah karena ia ingin Jackson tidak mengetahui hubungan mereka. Karena Elle tidak ingin membuat Jackson khawatir. Jika berteman dengan Bren saja sudah membuat Jackson khawatir, apalagi jika sampai Jackson tahu ia berpacaran dengan Bren?
Berpacaran dengan cowok paling populer di sekolah mungkin terdengar keren. Tapi, tidak bagi Elle. Dan hubungan diam-diam mereka membuat semuanya semakin terasa menjengkelkan bagi Elle.
Semua orang tahu Bren populer dan tampan. Setiap gadis ingin mendapatkan Bren. Setiap harinya sudah pasti banyak yang mendekati Bren.
Ingin sekali Elle meneriakkan bahwa Bren adalah miliknya, kepada cewek-cewek yang berusaha mendekati Bren. Elle merasa kesal. Namun, tidak bisa berbuat apapun.
Hari-hari Elle di sekolah terjadi seperti biasa. Bren terlihat jauh dan tak tergapai. Padahal status mereka sudah berpacaran beberapa hari.
"Kalian tahu, tidak? Aku baru saja bertukar nomor dengan, Bren!" pekik seorang gadis dengan begitu antusias saat memasuki ruang kelas.
Elle yang mulanya sedang melamun sambil menopangkan dagu di atas meja, segera mengangkat pandangannya. Cewek itu begitu girang hingga berjingkat-jingkat di depan temannya. Elle memasang telinga untuk mendengarkan pembicaraan mereka.
"Aku akan segera mengajaknya berkencan!" Gadis itu mengumumkan kepada teman-temannya.
Elle mengepalkan tangannya.
Buk!
Tanpa sadar Elle memukul meja karena kesal. Apa? Bagaimana bisa Bren memberikan nomor ponselnya kepada gadis lain padahal ia berkencan dengan Elle.
"Kenapa dia?" tanya seorang cowok kepada temannya.
Elle mengedarkan pandangannya. Ternyata sekarang seluruh perhatian murid-murid di kelas sudah tertuju padanya. Mereka menatap Elle dengan tatapan aneh dan bertanya.
Elle segera menenggelamkan wajah di antara kedua tangannya yang terlipat di atas meja. Ia benar-benar malu sekarang!
Elle dan Bren berjanji untuk pulang sekolah bersama. Karena itu Elle sengaja tidak membawa mobilnya hari ini. Untung saja Yellena mau mengantarkannya ke sekolah. Meski Elle harus rela mendengarkan omelan Yellena sepanjang jalan.
Dengan penuh semangat Elle segera membereskan barang-barangnya begitu kelas berakhir. Lorong sekolah dipenuhi oleh para murid yang baru saja keluar dari kelas begitu bel berbunyi.
Seperti takdir. Elle langsung dapat menemukan Bren di tengah kerumunan. Elle tersenyum dan hendak melambai ke arah Bren agar Bren dapat mengetahui keberadaannya.
Namun, seorang gadis menghadang langkah Bren. Mereka berbincang singkat. Elle tidak dapat mendengarnya. Lalu, gadis tersebut dengan santainya menggandeng lengan Bren. Dan mereka berjalan bersama.
Elle benar-benar kesal. Ia mengurungkan niat untuk menemui Bren dan segera pergi menuju lokernya. Ia akan pulang sendiri saja hari ini! Tidak ada salahnya pulang dengan bus. Persetan dengan Bren!
"Elle!" terdengar suara Bren memanggil Elle ketika Elle sedang dalam perjalanan menuju bus sekolah.
Elle dengan sengaja tidak mau menolehkan kepalanya dan terus berjalan lurus. "Jangan hiraukan dia Elle!" Elle mengulang-ulang kalimat tersebut di kepalanya.
Namun, tiba-tiba Bren berlari melewati Elle dan menghadang langkah Elle. "Kita berjanji untuk pulang bersama. Kenapa kau tidak menungguku?"
Elle mendengus. "Aku ingin pulang sendiri!"
"Kau terlihat marah akan sesuatu. Apa kau marah padaku?" komentar Bren sambil mengamati wajah Elle. Kedua tangannya memegang bahu Elle.
Elle tidak percaya bahwa ia sedang berpacaran dengan cowok sebodoh dan setidak peka ini. Elle memang sedang marah! Bagaimana bisa ia masih bertanya sesuatu yang sudah sangat jelas terlihat.
Elle memicingkan matanya. "Apa kau melakukan sesuatu hingga membuatku perlu marah kepadamu?"
Bren menggelengkan kepalanya dengan sangat yakin. "Kurasa tidak."
"Oh...." Bren mendekatkan bibirnya ke sisi telinga Elle dan berbisik, "Apa kau sedang datang bulan?"
"Tidak!" bentak Elle sambil menepis kedua tangan Bren di pundaknya.
Elle membalikkan tubuhnya dan hendak pergi dari tempat pemberhentian bus. Namun, ia menabrak tubuh seorang cowok yang tak lain adalah Bren. Hal itu karena Bren berdiri tepat di belakangnya dan ia sama sekali tidak menyadari itu sejak tadi karena rasa kesalnya.
"Kau mengikuti sejak tadi?" tanya Elle penuh selidik.
Bren mengangkat kedua bahunya acuh. "Kita berjanji untuk pulang bersama. Setidaknya aku harus menepati janji itu."
"Aku tidak ingin pulang denganmu!'
"Tapi, aku ingin."
Entah bagaimana, Bren yang jauh lebih keras kepala dari Elle akhirnya berhasil membujuk Elle untuk pulang bersama. Biarpun sepanjang perjalanan Elle terus menerus menekuk wajahnya.
Bren menghentikan mobilnya di depan sebuah kedai es krim. "Kita tidak pulang?" tanya Elle bingung.
"Kau bilang kemarin kau sedang ingin makan es krim. Aku mengajakmu pulang bersama karena ingin mengajakmu makan es krim di sini. Mereka mempunyai es krim rasa coklat yang luar biasa lezat," terang Bren panjang lebar.
Bren masih mengingat perkataan Elle di telepon beberapa hari yang lalu? Padahal saat itu Elle mengatakannya sambil lalu. Hati Elle menghangat karena Bren mengingat detail kecil pembicaraan mereka.
Seketika Elle melupakan kekesalannya pada Bren. Dan mengikuti Bren masuk ke dalam kedai tersebut. Saat Bren membuka pintu, lonceng kecil yang tergantung di atasnya berbunyi.
Pelayan di balik meja tersenyum dan mereka pun segera memesan es krim yang mereka inginkan.
Bren dan Elle mengambil kursi di sudut ruangan. Tepat di samping tembok berbahan kaca yang menghadap langsung ke jalanan kota New York.
Pesanan mereka datang. Bren merekomendasikan untuk mereka memesan es krim coklat dengan topping almond.
Dengan bersemangat Elle melahap es krimnya. Bren tidak berbohong ketika mengatakan bahwa es krim ini lezat. Es krim ini benar-benar lezat! Elle sangat menyukainya.
Bren menopang dagunya menatap ke arah Elle yang begitu lahap. Ia melihat lelehan es krim di bibir Elle dan segera menghapusnya dengan ibu jarinya.
Elle mengangkat pandangannya. Bren memasukkan ibu jarinya ke dalam mulutnya sambil menatap Elle.
Hal itu jelas saja membuat Elle gugup. "K-kau tidak memakan milikmu?" tanyanya sambil menunjuk mangkuk es krim milik Bren yang masih utuh tak tersentuh dengan sendok es krim miliknya. Sementara milik Elle sudah nyaris kosong.
Bren menggelengkan kepalanya. "Untukmu saja." Bren mendorong mangkuk miliknya ke dekat Elle.
Mata Elle berbinar seketika. "Wah.... Terima kasih," katanya dengan sangat senang.
"Berhenti menatapku. Kau membuatku malu," gumam Elle saat merasa mata Bren yang tidak berhenti mengamatinya. Hal itu membuat Elle tidak berani mengangkat pandangannya karena gugup.
"Tidak mau. Pemandangan paling menarik di sini cuma kamu, Elle."
Elle semakin menundukkan kepalanya. Wajah Elle bersemu merah. Bren berhasil membuat jantungnya berdegub tak beraturan dengan cara yang menyenangkan. Di sini, sekarang, ia merasa seperti benar-benar berpacaran dengan Bren. Bren sungguh terasa nyata bagi Elle.
Elle sedang berada di depan lokernya, saat Sara menghampirinya dan memberinya sebuah surat undangan.
"Kau harus datang nanti malam. Bren ingin kau datang. Dia memintaku memberitahumu ini," kata Sara dengan nada cuek.
Elle membuka surat undangan tersebut. Ulang tahun Sara yang ke 18 tahun. Bren tidak pernah memberi tahunya soal ini.
"Bren tidak pernah memberri tahuku soal ini," gumam Elle sambil mengamati kartu undangan berwarna merah dengan garis pinggir berwarna emas.
Sara memutar kedua bola matanya. Kedua tangannya terlipat di dada. "Dia sedang sibuk! Kau harusnya mengerti Bren! Hal seperti ini ia tidak perlu memberi tahumu secara langsung," komentarnya sinis sebelum akhirnya beranjak pergi dari hadapan Elle.
Elle masih diam terpaku di tempatnya berdir. Haruskah Elle datang? Apa Elle harus bertanya kepada Bren lebih dulu soal ini? Tapi, Bren yang meminta Sara untuk mengundangnya. Itu artinya Bren ingin dia datang. Mengingat Sara yang tidak selalu sinis padanya sejak pertemuan pertama mereka, tidak mungkin rasanya Sara mau mengundang Elle secara sukarela.
Bel berbunyi. Elle memasukkan kartu undangan pemberian Sara ke dalam loker. Ia akan memutuskannya nanti saja.