
Bren tidak tahu apa yang ia lakukan di sini. Terjebak di dalam lemari pakaian wanita merupakan hal yang tidak keren sama sekali. Dia mengintip di celah kecil lemari Elle. Terlihat Elle dan Yellena yang sedang berdebat. Bren menghembuskan napas pelan. Berapa lama ia harus bersembunyi? Lemari ini terlalu kecil untuknya yang berbadan jangkung. Baju yang bergantungan di dalam lemari membuatnya semakin kekurangan ruang baik untuk bernapas maupun bergerak.
Dapat Bren lihat Elle nampak sudah mulai kesal. Gadis itu berkacak pinggang di depan Yellena. "Kau ke sini hanya untuk menanyakan itu? Jika ia, pergi saja. Aku sedang ingin beristirahat," usirnya.
Yellena mengabaikan usiran tegas Elle. Ia malah berjalan memasuki kamar Elle. "Aku mau mengambil jaketku yang kau pinjam beberapa hari lalu," katanya sambil berjalan mendekat ke arah lemari pakaian Elle. Tempat Bren sekarang bersembunyi seperti kucing.
Mata Bren membola. Ia menutupi mulutnya dengan dengan telapak tangan dan menahan napasnya. Ia mundur selangkah hingga punggungnya menyentuh dinding belakang lemari.
Gawat! Yellena semakin mendekat! Jika Bren ketahuan bersembunyi di dalam sini, maka harga dirinya akan turun. Ini benar-benar memalukan.
Sial! Apa yang harus ia lakukan? Ini semua gara-gara Tyler. Jika Tyler tidak menuduhnya putus dengan Elle karena sudah lama tidak bersama, maka ia tidak mungkin menyusup ke kamar Elle. Dan sekarang dengan konyolnya bersembunyi di dalam lemari pakaian.
Bren berusaha berpikir cepat. Namun, otaknya semakin kosong seiring langkah kaki Yellena yang semakin mendekat.
"Jangan panik, Bren! Jangan panik! Berpikirlah!" gumamnya dalam hati.
"Aku membuangnya!" Terdengar teriakan Elle dari luar lemari. Suara langkah kaki Yellena seketika terhenti.
"Apa?" Yellena balas berteriak, "kau membuangnya? Kau tahu itu jaket kesayanganku!"
"Maafkan aku. Kemarin sepulang sekolah aku tidak sengaja membuatnya robek karena terjatuh. Jadi untuk menyembunyikan kesalahanku, aku membuangnya. Maafkan aku, Yellena. Aku akan menggantinya." Elle memohon.
"Baiklah. Aku akan memafkanmu. Akan tetapi, sebagai gantinya aku juga harus membuang satu baju berhargamu agar kita impas," sahut Yellena. Langkah kaki Yellena kembali berderap mendekat ke arah lemari pakaian Elle.
Bren dapat melihat dari balik lemari baahwasannya Elle berlari menghadang Yellena. Gadis itu melebarkan kedua tangannya. Mencegah Yellena mendekat ke arah tempat persembunyian Bren. Wajah Yellena nampak semakin kesal saat Elle menghalanginya.
"Aku akan menggantinya. Kumohon...."
"Minggir! Aku tidak akan puas sebelum aku melakukan hal yang sama terhadap pakaianmu!"
Yellena mendorong Elle ke samping agar tidak menghalangi jalannya. Bersamaan dengan itu, Elle berteriak sanat kencang, "Mom! Mom! Mom! Yellena mau membuang baju-bajuku!"
Yellena mendengus kesal. Ia menatap sengit ke arah Elle. "Berhentilah melapor, Bocah!" geramnya kesal. Ia kemudian kembali mendekat ke arah lemari yang tinggal selangkah lagi dari jangkauannya.
Bren kembali menahan napas. Berharap dengan ia menahan napas maka Yellena tidak akan mengetahui bahwa ada orang di dalam lemari ini. Saat tangan Yellena menyentuh gagang pintu, Elle menarik pundak Yellena sambil berteriak kembali, "Mom! Tolong aku! Yellena berusaha membuang bajuku! Mom! Tol—"
"Berhentilah bertengkar. Yellena! Dewasalah sedikit dan berhenti mengganggu adikmu!" Terdengar suara wanita paruh baya yang Bren pikir adalah ibu Elle dan Yellena.
"Dia lebih dulu membuang bajuku," adu Yellena bersamman dengan suara langkah kaki yang menjauh dari arah lemari.
Bren kembali mendekat ke arah celah lemari agar bisa melihat lebih jelas keadaan di luar. Elle terlihat ikut mendekat ke arah kakak dan ibunya ke dekat pintu kamar. "Aku sudah meminta maaf kepada Yellena, Mom. Aku tidak sengaja merusaknya dan akhirnya dengan terpaksa aku harus membuang jaket tersebut," kata Elle dengan suara yang terdengar sangat menyesal. Namun, Bren tahu, itu hanya akting yang dibuat-buat untuk memenangkan hati ibunya.
Ibu Elle nampak membuang napas lelah. "Yellena kembalilah ke kamarmu atau pulang ke apartemenmu. Berhenti menganggu adikmu. Dia harus bersekolah besok pagi."
"Tapi, Mom. Jaketku—"
"Kau bisa membeli jaket baru. Kau sudah berkerja. Sedangkan adikmu masih bersekolah. Kau harusnya bisa lebih pengertian."
"Mom! Apa aku ini anak kandungmu? Aku sudah curiga sejak lama jika ternyata aku hanya anak angkat." Yellena menatap ibunya kesal sambil melipat kedua tangannya di dada.
Yellena menggosok-gosok bahunya. "Kurasa kau memang ibu tiriku!" teriaknya.
"Terserah apa katamu, Yellena. Yang penting jangan menganggu adikmu. Ini sudah terlalu larut malam. Aku tidak ingin ada keributan di rumahku, atau aku akan mengsirmu." Suara teriakkan balasan dari ibu Elle dan Yellena terdengar semakin mengecil.
Yellena menatap sinis ke arah Elle yang segera membanting pintu di depan wajahnya. Sebelum membating pintu, Elle menjulurkan lidah mengejek ke arah Yellena.
Seusai menutup pintu, Elle menempelkan telinganya ke daun pintu tersebut. Karena Bren rasa sekarang sudah aman, maka ia keluar dan berjalan perlahan mendekat ke arah Elle. Kemudian ia berbisik di telinga Elle, "apa yang kau dengarkan?"
Elle berjingkat kaget dan memutar tubuhnya cepat. Hingga membuatnya kehilangan keseimbangan dan tersandung ke belakang hingga punggungnya menabrak daun pintu yang tertutup. "Apa yang kau lakukan? Yellena bisa saja masih berada di depan kamarku," bisiknya.
"Apa dia masih di depan?" tanya Bren yang seketika ikut merasa was-was.
Elle menggelengkan kepalanya. "Tidak. Kurasa dia sudah pergi,"katanya masih dengan berbisik.
"Lalu, mengapa kau masih berbisik sampai sekarang?" Bren juga masih ikut berbisik.
"Hanya berjaga-jaga. Yellena adalah mahluk yang paling tidak bisa diprediksi."
Tawa Bren pecah. Entah mengapa ia merasa terhibur dengan perkelahian antara Elle dan Yellena.
Elle mengerutkan dahinya. "Mengapa kau tertawa?" Suaranya sekarang sudah kembali normal.
"Tidak ada. Hanya saja melihatmu bertengkar dengan Yellena sungguh menghiburku. Mungkin karena aku tidak punya saudara sama sekali. Jadi, tidak ada yang mengajakku bertengkar."
Elle mengembbungkan pipinya. Hidungnya berkerut. "Dia menyebalkan. Kau bisa mengadopsinya sebagai saudaramu. Gratis. Aku tidak membutuhkannya."
"Benarkah? Tapi, kurasa aku lebih ingin mengadopsimu dari pada kakakmu." Bren menyelipkan rambut Elle ke belakang telinga. Ia mendekatkan wajahnya ke teinga Elle. Dari jarak sedekat ini Bren dapat mencium wangi strawberry dari rambut Elle. Bau manis yang sangat cocok untuk Elle yang imut. "Karena Yellena sudah pergi, bukankah artinya kita sudah bebas sekarang?"
"Be-bas?" Elle tergagap. Wajahnya sudah memerah sempurna.
Melihat reaksi Elle membuat tawa lembut Bren lepas. "Apa yang kau pikirkan, Sayang?"
"A-aku tidak memikirkan apapun!" Elle mendorong dada Bren agar menjauh darinya. Ia kemudian berjalan melewati Bren. Menjaga jarak dari cowok itu.
Bren memutar tubuhnya dan hendak menghampiri Elle. Namun, langkah kakinya terhenti saat ia merasakan ponsel di saku celananya bergetar. Nama Sara tertera di sana. Bren segera mengangkatnya.
"Hei! Kau tidak jadi ke sini? Kami semua sudah berkumpul. Kau lama sekali. Kau bilang tadi, urusanmu tidak akan lama." Dari seberang telepon suara Sara terdengar dengan latar belakang musik yang nyaring. Bren memang hari ini berencana berpesta dengan teman-temannya di rumah Sara seperti biasanya.
"Aku akan segera pergi ke sana. Tunggu aku. Jangan bubar sebelum aku datang," ucap Bren. Ia segera mematikan ponselnya.
"Siapa?" tanya Elle yang sejak tadi mengamati Bren.
"Hanya seorang teman. Aku harus pergi sekarang," jawabnya setelah mengecup sekilas bibir Elle. Bren segera pergi melalui jendela kamar Elle. Seperti saat ia masuk tadi.
Hembusan napas Elle mengudara. Ia menutup jendelanya rapat setelah kepergian Bren. Kira-kira, apa yang dilakukan cowok itu dengan teman-temannya selarut ini? Elle bahkan belum sempat mengcapkan sampai jumpa, tapi Bren sudah lebih dulu pergi.