3 Months Girlfriend

3 Months Girlfriend
Chapter 6: Resmi Berteman



“Ya. Kau belum menjawab pertanyaanku kemarin. Tentang apakah kau mau berteman denganku atau tidak,” kata Bren sambil tersenyum lebar. Ia sangat percaya diri bahwasannya Elle akan dengan senang hati langsung mau berteman dengannya. Mengingat kemarin Elle bisa dengan mudah memaafkannya. Bren sangat yakin Elle masih menyimpan perasaan untuknya.


“Aku tidak tahu,” gumam Elle.


Bren mengangkat satu alisnya. “Tidak tahu?”


“Ya. Aku masih merasa bingung. Haruskah aku berteman denganmu atau tidak. Haruskah aku percaya padamu atau tidak.”


“Percaya? Padahal kemarin kau sudah dengan mudah memaafkanku.”


“Mempercayaimu dan memaafkanmu adalah dua hal yang berbeda.” Elle menatap lurus ke depan. Ke arah lintasan lari tanpa sedikit pun menoleh ke arah Bren. Ia mengigit roti lapis di tangannya, yang belum juga ia habiskan sejak tadi.


“Mengapa kau memilih makan di luar ruangan yang dingin padahal di dalam jauh lebih hangat?” tanya Bren sambil terus memperhatikan Elle dari samping.


Angin musim dingin menerbangkan sebagian helaian rambut Elle yang mencuat keluar dari syal di leher gadis itu. Pipi Elle sudah agak memerah. Mungkin karena suhu udara yang dingin. Walau di bulan Februari ini suhu udara sudah tidak sedingin bulan Desember dan Januari. Karena sudah hampir memasuki musim semi. Salju-salju juga sudah mulai menipis sehingga rerumputan hijau sudah mulai banyak terlihat.


Elle menelan sisa-sisa roti di mulut dan kembali menegak air mineral. Ia menatap ke arah sisa roti di tangannya. “Aku hanya tidak suka makan siang dengan orang-orang yang memperhatikanku. Aku hanya ingin ketenangan.”


Tengkuk Bren tidak terasa gatal, tapi entah mengapa ia menggosoknya. “Jadi, katakan padaku. Apa yang harus kulakukan agar kita bisa berteman?” Bren berusaha mengalihkan pembicaraan.


Elle memutar kepalanya untuk melihat ke arah Bren. “Katakan dahulu dengan jujur. Mengapa kau secara tiba-tiba ingin berteman denganku?” tanyanya penasaran.


Bren melihat sisa-sisa remahan roti di sekitar bibir Elle. Melihat betapa berantakkannya Elle hanya karena memakan roti, membuat Bren melebarkan senyumnya. Tangan Bren terulur untuk membersihkan remahan tersebut di sekitar bibir Elle.


“Tidak ada alasan khusus. Aku hanya ingin mengenalmu lebih baik,” jawab Bren dengan mata yang masih terfokus ke arah bibir Elle yang sedang ia bersihkan.


Elle diam mematung. Sentuhan tangan Bren berhasil membuat jantung Elle berdebar. Bahkan hingga saat Bren sudah menjauhkan tangannya, Elle masih juga bertahan pada keterpakuannya. Bekas sentuhan Bren masih terasa di kulitnya.


Hingga akhirnya suara Bren menyadarkan Elle, “Jadi, apa kamu akan mengijinkanku menegenalmu lebih dalam?” tanya Bren dengan suara yang menurut Elle sangat… sangat lembut.


Elle mengalihkan tatapannya dari Bren. Matanya meliar kemana-mana. “Oh… iya… itu....” Elle bergumam tak jelas.


“Apa sih yang kau bicarakan, Bodoh!” rutuk Elle dalam hati. Ia menggunakan tangannya yang bebas untuk memukul-mukul pelan kepalanya. Mengutuki kebodohannya karena merasa terlihat bodoh di hadapan Bren.


“Clark?”


Elle menoleh cepat ke arah Bren. “Kenapa kau…” Elle berpikir sejenak. Apa sebenarnya yang ingin ia tanyakan tadi? Kalimat pertanyaan yang ada di kepalanya mendadak hilang. Ia lupa apa yag sebenarnya ingin ditanyakannya.


“Bisakah kau berhenti bersikap seperti orang bodoh, Ellena Clark?! Ayolah… apa yang tadi ingin kau tanyakan? Mengapa kau tiba-tiba melupakan apa yang baru saja berada di kepalamu.”


Bren tersenyum simpul melihat Elle yang terlihat salah tingkah di hadapannya. Dugaannya pasti benar. Gadis ini pasti masih menyukainya.


“Mengapa kau ingin mengenalku?” kata Elle cepat. Ia akhirnya ingat apa yang ingin ia tanyakan pada Bren.


Bren mengedikkan bahunya. “Tidak ada alasan tertentu mengapa aku ingin mengenalmu. Terkadang ada beberapa hal tertentu di dalam hidup yang kurasa tidak membutuhkan alasan,” jawabnya santai. “Sekarang… bagaimana jika aku mambalikkan pertanyaan. Mengapa kau menyukaiku? Bahkan di dalam suratmu kemarin, kau mengatakan bahwa kau mencintaiku. Padahal kita tidak saling kenal. Bagaimana mungkin kau menyukai orang yang tidak kau kenal.”


Membahas hal itu membuat Elle kembali merasakan malu. Ia seharusnya tidak menuliskan surat bodoh itu kemarin. Tidak. Ia tidak seharusnya memberikan hadiah untuk Bren di hari valentine kemarin.


Sekarang tidak hanya pipi Elle yang memerah. Tapi, seluruh wajah hingga telinga, ikut memerah karena merasa malu. Ia menundukkan kepala menatap ke arah kedua kakinya yang terbalut sepatu. Elle punya alasan khusus mengapa ia menyukai Bren.


“Karena kau mirip seseorang yang kukenal,” gumam Elle pelan. “Tidak. Sebenarnya bukan mirip, tapi orang itu adalah kau. Hanya saja kau melupakanku,” imbuhnya dalam hati.


“Mirip? Dan di mana orang itu sekarang?”


Elle mengangkat kedua bahunya. “Tidak tahu. Lagi pula, mungkin dia sudah melupakanku—”


Elle buru-buru berdiri dari kursinya dan hendak beranjak pergi. Namun, Bren menghentikannya.


“Kau lagi-lagi pergi tanpa memberiku jawaban.”


“Aku akan memberimu jawaban nanti. Kita harus segera masuk ke dalam. Kelas akan segera dimulai. Aku tidak ingin terlambat.”


“Berikan aku ponselmu.”


“Ponselku?” tanya Elle ragu. Namun ia tetap memberikan ponselnya kepada Bren.


“Passwordnya?”


Elle mengambil ponselnya kembali dari tangan Bren dan bergegas memasukkan password di untuk membuka kunci di ponselnya. Kemudian ia menyerahkan kembali ponsel tersebut kepada Bren.


Bren segera menyimpan nomornya ke ponsel Elle. “Hubungi aku setelah kau memutuskan apakah akan berteman denganku atau tidak. Tapi, kuberi saran padamu untuk menerima saja tawaranku. Karena jika kau menolakku, maka aku akan terus memaksamu sampai kau mau berteman denganku.”



Hari ini Direction kembali berlatih. Mereka memainkan beberapa lagu yang baru saja Bren tulis.


“Bagaimana dengan lagu baruku?” tanya Bren kepada teman-temannya.


Sara menekan-nekan keyboardnya. Ia kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. “Tidak masalah. Aku menyukainya.”


“Aku setuju. Kurasa tidak ada masalah,” sahut Joe.


“Liriknya buruk. Aku merasa ada beberapa bagian yang mengganjal dan kurang pas.” Bren mulai mengeluh.


“Bisakah kita beristirahat hari ini?” tanya Tyler yang terlihat mulai lelah.


Adam menganggukkan kepalanya. “Ya. Kita hentikan saja latihan untuk hari ini. Aku juga harus pergi sekarang.” Adam melihat jam tangannya. Ia lalu membereskan gitarnya.


“Kencan dengan pacar baru, huh?” komentar Sara.


“Kau mau berkencan?” tanya Tyler penasaran. “Mengapa kau tidak memberi tahuku jika kau punya pacar baru?”


“Kau tidak tahu? Aku dan Sara sudah bertemu dengan pacarnya kemarin,” sahut Joe. “Ngomong-ngomong soal pacar, bagaimana perkembanganmu dengan Ellena Clark, Bren?” Joe mengalihkan pandangannya ke arah Bren yang sekarang sedang menunduk menatap layar ponsel.


“Kau tidak dengar pernyataan cowok yang melabraknya tadi siang di kantin? Dia baru saja mengajak cewek itu berteman. Dan kurasa ajakkan bertemannya pun belum diterima hingga sekarang,” ejek Tyler sambil ikut membereskan basnya.


Sara berjalan melewati teman-temannya untuk mengambil botol air minum di dalam tasnya. “Cewek mana yang mau berteman degan cowok yang sudah menolaknya? Kurasa gadis itu gila jika masih mau berteman dengan Bren,” ucapnya dengan nada suara yang sebisa mungkin ia buat terlihat tidak peduli.


Bren yang sejak tadi sibuk dengan layar ponsel, terkekeh mendengar komentar teman-temannya. Ia kemudian menunjukkan layar ponselnya kepada teman-temanya.


Ellena Clark:


Hai, Bren Hudson. Ini Ellena Clark.


Soal pertanyaanmu tadi di sekolah. Aku sudah memikirkannya. Kurasa tidak ada salahnya jika kita berteman. Maaf lama memberi tahumu. Bukannya aku tidak mau berteman denganmu. Hanya saja aku terlalu bingung karena kau tiba-tiba mengajakku berteman.Terima kasih karena sudah mau mengajakku berteman.


Bren tersenyum penuh kemenangan ke arah teman-temannya. “Siapa bilang dia tidak mau berteman denganku?”