
Elle terpaku di depan pintu kamar Sharon. Ia tidak salah lihat. Gambar yang memenuhi kamar Sharon merupakan potret Bren. Pacar rahasianya. Mengapa Sharon menyimpan begitu banyak foto Bren?
Sentuhan Sharon di pergelangan tangan Elle membuat Elle seketika sadar dari lamunannya. "Ayo masuk. Mengapa kau hanya diam di depan pintu?"
"Oh... iya..." gumam Elle tak jelas sambil mengikuti Sharon masuk ke dalam kamar gadis itu.
Elle duduk di atas sofa berwarna merah muda yang sangat cocok untuk kamar Sharon yang sangat feminim. Tidak hanya Sofa, seluruh perabotan di kamar ini di dominasi dengan warna merah muda dan putih.
Elle masih tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari foto-foto Bren yang tergantung di dinding, poster besar gambar Bren yang di tempel di atas tempat tidur Sharon. Lalu, tidak lupa foto-foto yang berjajar rapi di atas meja belajar dan meja rias Sharon. Seluruhnya adalah foto Bren.
Beberapa kali Elle menegak ludahnya sendiri. Ia bahkan tidak memiliki foto Bren sebanyak ini. Elle menoleh ke arah Sharon yang baru saja duduk di sebelahnya sambil memangku sebuah bantal berbentuk strawbery.
"Kau pasti bingung mengapa aku memiliki foto Bren sebanyak ini. Itu karena aku sangat meyukainya! Aku sudah pernah bilang bukan saat kita baru pertama kali bertemu, kalau aku menyukai Bren. Makanya aku beberapa kali bertanya padamu apa kau dekat dengan Bren atau tidak. Namun, karena kau mengatakan bahwa kau tidak dekat dengan Bren, jadi aku memutuskan untuk mendekatinya sendiri," celoteh Sharon panjang lebar.
Sharon menyukai Bren? Ya, Tuhan! Bagaimana mungkin Elle menyadari hal itu? Untung saja tadi ia tidak jadi memberi tahu prihal hubungan rahasinya dengan Bren.
Elle tidak dapat membayangkan betapa sakit hatinya Sharon jika mengetahui bahwa Elle selama ini berpacaran dengan Bren. Dari kamar Sharon, Elle dapat mengetahui betapa Sharon menyukai Bren.
Jika Elle mengatakan dengan jujur prihal tentang hubungannya dengan Bren, Elle rasa Sharon akan marah padanya dan tak lagi mau bergaul dengannya. Elle baru saja memiliki teman perempuan, dan Elle tidak mau merusak segalanya.
"Sharon, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Elle hati-hati.
"Tanyakan saja. Apapun itu."
Elle sebenarnya ragu. Namun, ia tetap bertanya untuk mengurangi rasa penasarannya. "Apa kau sangat menyukai Bren?"
Sharon menganggukkan kepalanya pasti. "Tentu saja!" jawab Sharon bersemangat.
Sharon beranjak dari duduknya dan mengambil salah satu foto di atas nakas. Ia segera menyodorkan foto tersebut kepada Elle. "Ini foto favoritku! Dia tampan sekali bukan?"
Elle menatap foto Bren yang disodorkan Sharon. Di foto tersebut Bren tampak tersenyum cerah. Kaos lengan pendek berwarna hitam tampak membalut tubuhnya. Sebuah lengan merangkul bahunya. Tapi foto tersebut terpotong. Dan hanya gambar Bren di lembaran itu.
"Elle. Sebagai teman kau harus mendukung hubunganku dengan Bren," mohon Sharon sambil menangkup telapak tangan Elle yang bebas dengan kedua tangannya.
Lagi-lagi Elle menegak ludah. Ia tidak sanggup menjawab permohonan Sharon. Jika sudah begini, ia harus memilih antara persahabatan atau cinta.
Elle sudah pulang ke rumah. Perasaanya masih kacau. Merasa dilema tentang hubungannya dengan Bren. Elle tidak ingin melepaskan atau merelakan Bren. Namun, ia juga tidak ingin membuat Sharon yang sudah begitu baik padanya menjadi kecewa.
Helaan napas Elle mengudara bersamaan dengan tubuhnya yang terhempas di atas kasur empuk miliknya. Ia menatap langit-langit kamarnya dengan kedua tangan terlentang.
Tiba-tiba Elle teringat akan Ander! Sahabatnya yang paling setia. Elle segera bangkit dan menyambar ponsel di atas nakas. Kemudian tanpa pikir panjanv ia segera menghubungi Ander.
"Halo, Elle. Ada apa menghubungiku jam segini? Tidak seperti biasanya." Ander menjawab panggilan telepon Elle pada dering ke dua. Ander memang sahabat yang paling bisa diandalkan karena tidak pernah membuat Elle menunggu lama. Ia selalu sigap mengangkat telepon tiap kali Elle menghubunginya.
"Katakan."
"Begini.... Aku punya teman A. Dia mempunyai pacar bernama B. Lalu, Si A mempunyai teman bernama C. Bagaimana? Apa kau mengerti sampai di sini?"
"Teruskan," sahut Ander yang masih setia mendengarkan Elle.
Elle menarik napasnya panjang dan menghembuskannya perlahan. Sesungguhnya, ia belum pernaha bercerita kepada Ander mengenai hubungannya dengan Bren. Makanya ia memutuskan bercerita dengan membuat nama samaran.
"Si C tidak tahu bahwasannya Si A berpacaran dengan Si B. Dan baru-baru ini, Si A mengetahui fakta bahwa Si C sangat menyukai Si B. Si A tidak mungkin memutuskan pacarnya. Dan merelakan cintanya. Tapi, ia juga tidak ingin membuat Si C kecewa ketika mengetahui hubungan rahasia antara dirinya dengan Si B. Apa yang harus Si A lakukan?" Elle mengakhiri ceritanya cepat. Dia hanya tinggal menunggu saran dari Ander.
"Apa ini ceritamu?"
Elle tertohok dengan pertanyaan Ander. Ia buru-buru melambaikan satu tangannya cepat. "Tidak. Bukan. Mana mungkin. Jangan bercanda." Jika ia mengobrol dengan Ander secara langsung, mungkin Ander akan mengetahui bahwasannya ia berbohong.
"Kau hanya perlu mengatakan yang sebenarnya pada Si C."
"Sudah kubilang ini bukan ceritaku!" Elle memberengut dan menghempaskan pantatnya ke atas kasur.
Terdengar suara kekehan dari seberang telepon. "Baiklah. Katakan pada Si A bahwa harus ada yang dikorbankan dalam setiap cerita. Jika ia tidak ingin membuat kecewa temannya. Maka ia harus merelakan pacarnya. Dan begitu pun sebaliknya."
"Tidak bisakah—"
Kalimat Elle terputus saat matanya menangkap sebuah bayangan hitam dari balik gorden kamarnya. Jendela kamar Elle berbatasan langsung dengan balkon. Dan samar-samar ia melihat siluet laki-laki berdiri di sana. Apa itu pencuri?
"Elle."
"Ssstt...." Elle meletakkan jari telunjuknya di depan bibir. "Jangan matikan telepon," bisiknya.
Langkah kaki Elle yang mendekati balkon nyaris tidak terdengar. Karena ia berjalan sangat pelan dan hati-hati. Dia membawa sapu di tanganya yang kosong.
Elle tahu, ia harusnya berteriak atau memanggil kakaknya ataupun segera menelepon polisi. Bukan malah dengan sok berani berjalan menghampiri si penyusup misterius. Akan tetapi, entah mengapa dirinya merasa mengenal siluet sosok misterius tersebut.
Saat tangan Elle baru saja hendak menyentuh gorden. Gorden tersebut lebih dulu terbuka lebar dan menampilkan sosok yang beberapa hari ini ia rindukan.
Mata Elle membulat sempurna karena terkejut. Jantungnya berhenti berdetak untuk sepersekian detik.
Elle segera mematikan sambungan teleponnya dengan Ander. Agar Ander tidak mengetahui bahwa ia sekarang bersama pacarnya.
"Bren! Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Elle setengah berbisik.
Bren menyungingkan senyum menawannya. "Merindukanku?" tanya Bren sambil merentangkan kedua tangannya.