
“Elle!” Jackson memegangi lengan Elle. “Maafkan aku.”
“Untuk?” tanya Elle yang merasa bingung karena Jackson tiba-tiba meminta maaf padanya.
Jackson mengangkat kedua bahunya. “Untuk segalanya. Kurasa kau marah padaku karena kejadian di kantin tadi.”
“Oh… aku yang seharusnya meminta maaf karena sudah membentakmu tadi. Kau tahu? Aku tidak bermaksud begitu. Aku tadi hanya sempat merasa kesal karena kalian tidak membiarkanku berbicara,” jelas Elle panjang lebar.
“Elle, apa kita baik-baik saja?” Jackson memegang bahu Elle dan menatap lurus ke arah mata Elle yang berwarna biru.
“Tentu saja,” Elle menganggukkan kepala yakin. Ia memang tidak marah dengan siapapun, dan merasa sedang tidak memiliki masalah dengan siapapun.
Jackson mendesah lega. Ia menyandarkan punggungnya ke loker yang entah siapa pemiliknya. “Aku hanya khawatir karena kau bergaul dengan Hudson.”
Kekehan lembut terlepas dari bibir Elle. Ia mengibaskan tangan di depan wajah. “Tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Aku dan dia hanya berteman. Kurasa dia tidak seburuk itu.”
Jackson mengusap wajahnya frustasi. “Tidakkah kau ingat perlakuannya padamu beberapa waktu lalu. Dia mempermalukanmu, Elle. Di depan semua orang. Ia membuatmu terlihat seperti sampah di hadapan semua orang, lalu keesokkan harinya meminta maaf dan mengajakmu berteman? Tidakkah kau merasa bahwa ini aneh?”
Gelengan kepala Elle semakin membuat Jackson frustasi. Bagaimana mungkin gadis di hadapannya ini bisa dengan sangat mudahnya percaya dengan orang yang sudah menyakitinya?
“Ayolah Elle…. Tidakkah kau merasa kalau dia hanya mempermainkanmu?”
“Semua orang bisa berubah, Jackson. Dan setiap orang berhak mendapat pengampunan.”
“Tapi, tidak dengan Hudson, Elle!”
Sekarang Elle yang berganti memegangi lengan Jackson. Ia berusaha menangkan Jackson. “Aku tahu apa yang kau khawatirkan. Tapi, seperti yang kubilang sebelumnya, dia tidak sejahat itu. Beberapa hari ini aku tidak mendapatkan gangguan apapun darinya. Jadi, jangan khawatir.”
“Kau yakin tidak menyimpan harapan tertentu padanya?”
“Harapan?”
Jackson berusaha bersikap seacuh mungkin ketika membicarakan tentang perasaan Elle untuk Bren. Ia tidak ingin Elle mengetahui perasaannya. Karena Jackson tidak mau persahabatannya dengan Elle menjadi terasa canggung karena perasaan sukanya tersampaikan kepada Elle. Begini saja sudah cukup bagi Jackson. Ia tidak ingin serakah.
“Mungkin saja kau menaruh harapan agar dia membalas perasaanmu jika kalian berteman.”
“Apa yang kau bicarakan? Sejak awal aku menyatakan perasaanku kepada Bren. Aku tidak pernah menaruh harapan bahwa Bren akan membalas perasaanku,” jelas Elle panjang lebar.
Elle melirik jam di pergelangan tangannya kemudian hendak pergi meninggalkan Jackson. Karena entah bagaimana, membicarakan perasaannya terhadap Bren kepada orang lain, itu membuat Elle merasa tak nyaman.
Lagi-lagi Jackson menahan tangan Elle. “Elle. Kau harus tahu. Dia brengsek. Aku hanya takut dia menyakitimu dan mempermainkan hatimu. Itu saja. Makanya aku tidak senang kau bergaul dengannya.”
Elle memberikan senyum menenangkan kepada Jackson. “Kau tidak perlu khawatir.” Elle meletakkan telapak tangannya di atas dada. “Hatiku adalah milikku. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitinya.”
Hembusan napas kasar keluar dari bibir Jackson saat ia mengadahkan kepala. “Pastikan kau menghubungiku jika ia bersikap buruk kepadamu.”
Sepanjang kelas berlangsung, Elle memikirkan apa yang dikatakan oleh Jackson tadi. Bagaimana jika semua perkataan Jackson benar adanya? Bagaimana jika benar Bren hanya mempermainkannya?
Sesungguhnya Elle menyadari bahwa tingkah Bren terlalu mengganjal. Otak Elle seakan memberikan alarm tanda bahaya untuk tidak berurusan dengan Bren. Karena Elle juga tahu, ada kemungkinan Bren hanyan berniat mempermainkannya.
Bohong jika Elle mengatakan bahwa ia tidak berharap masih menemukan sosok Bren yang dulu ia kenal, ada di dalam Bren yang sekarang. Walaupun Bren yang sekarang adalah orang asing bagi Elle. Sosok yang tidak tersentuh dan tergapai.
Seperti biasa Elle menunggu ruang kelasnya hingga kosong barulah ia pergi keluar.
“Apa kau menyukai Jackson atau berniat berkencan dengannya?” Orang yang sejak tadi Elle pikirkan sudah berdiri di hadapannya. Di ambang pintu. Menghadang Elle dengan kedua tangan terlipat di dada.
Elle mendongakkan wajahnya untuk menatap ke arah Bren. “Aku tidak tahu menyukai seperti apa yang kau maksud. Tapi.... Ya. Tentu saja aku menyukai Jackson. Aku menyukainya sebagai seorang teman dan tidak berniat berkencan dengannya.”
“Apa kau tidak menyukainya secara romantis?”
“Tentu saja tidak. Kami hanya berteman.”
Bren menjentikkan jarinya dan tersenyum puas. “Bagus kalau begitu.”
Kerutan samar di dahi Elle tercipta setelah mendengar komentar Bren. ”Bagus apanya?”
Bahu Bren terangkat dan ia memiringkan kepalanya sedikit ke samping. “Kurasas dia menyukaimu.”
Elle tertawa mendengar perkataan Bren. “Jackson hanya seorang teman, Bren. Dia tidak mungkin menyukaiku secara romantis.”
“Kau tidak penah tahu apa yang para cowok pikirkan.”
Bren benar. Elle tidak pernah tahu apa yang para cowok pikirkan. Termasuk Bren. Seketika ia mengingat perkataan Jackson tadi siang.
Mata Elle memicing untuk meniti wajah Bren lamat-lamat. Berusaha mencari keburukkan di sana agar Elle punya alasan menjauh. Tapi, Elle tidak menemukan apapun. Bren tampak sempurna baginya. Rambut coklat gelap dengan bola mata berwarna senada, sangat cocok untuk wajah Bren yang tampan. Penampilan Bren memang acak-acakkan tapi ia tidak terlihat seperti orang jahat.
“Apa kau mempermainkanku?” tanya Elle secara tiba-tiba.
Bren terpaku untuk sepersekian detik. Kemudian suara tawa lembut keluar dari bibirnya. “Apa yang kau bicarakan, Sweet heart?”
Elle mendesah pelan. Ia tidak tahu apa yang baru saja ia bicarakan. Elle mengibaskan tangan di depan wajah sambil berkata, “Lupakan saja. Aku hanya bertanya asal.” Ia kemudian berjalan melewati Bren.
Bren segera mengekori Elle. “Apa kau khawatir aku mempermainkanmu karena sikapku yang aneh? Sebelumnya bersikap brengsek lalu secara tiba-tiba bersikap baik. Tenang saja, aku tidak sekurang kerjaan itu hingga rela menghabiskan waktu untuk mempermainkanmu,” terang Bren panjang lebar tanpa Elle minta.
Elle tertawa canggung karena merasa bersalah. Menurutnya ia sudah bersikap keterlaluan karena menuduh Bren yang tidak-tidak. “Tentu saja, kau tidak mungkin bersikap seperti itu.” Elle membuka pintu loker dan segera mengambil tasnya.
“Apa kita baik-baik saja sekarang?” tanya Bren
“Tentu saja,” jawab Elle penuh dengan keyakinan.
“Kalau begitu, apa kau sibuk hari ini?”
Elle menggelengkan kepalanya. Ia tidak memiliki kegiatan apapun yang ingin ia kerjakan hari ini. “Tidak. Kurasa aku hanya akan pulang ke rumah.”
Bren menepuk tangannya sekali. “Baiklah. Sudah diputuskan. Kau akan ikut denganku hari ini.”
“Ke mana?”
“Kau akan tahu nanti.” Bren mengedipkan mata.