3 Months Girlfriend

3 Months Girlfriend
Chapter 34: Jackson Tahu



Elle tidak tahu mengapa semua orang menatap ke arahnya sekarang. Tatapan mereka bervariasi. Mulai dari mengasihani, menilai, menghakimi hingga tatapan iri secara terang-terangan dilontarkan kepada Elle. Elle menundukkan kepalanya. Ia sungguh tidak suka menjadi pusat perhatian seperti ini.


"Elle!" Panggilan Jackson membuat Elle mnghentikan langkah.


Jackson menarik Elle ke tempat yang jauh lebih sepi. Ia menyeret Elle ke aula sekolah yang kosong. Mereka berdua berdiri di tangga yang menjorok ke bawah yang terletak diantara kursi-kursi yang menghadap ke tengah ruangan.


Jackson merogoh saku celana dan mengeluarkan ponsel. Dia menunjukkan layar ponselnya tersebut kepada Elle.


Elle merebut ponsel di tangan Jackson begitu ia melihat artikel yang tersebar di halaman blog sekolah tersebut. Terdapat fotonya bersama Bren dan artikel yang menyataka bahwa dirinya dan Bren menjalani hubungan. Dalam artikel tersbut juga tertulis bahwa ia merasa cemburu karena Bren menghianatinya dengan Sara. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah, penulis artikel tersebut adalah Ellena Clark!


"Aku tidak pernah menulis ini," cicit Elle yang merasa seperti disambar petir.


Jackson menghembuskan napas lega. "Sudah kuduga. Kau tak mungkin berpacaran dengan Hudson."


"Em.... Jackson.... Sebenarnya aku memang berpacaran dengan Bren. Namun, bukan aku yang menulis artikel ini," terang Elle dengan ragu. Lagi pula, apalagi yang harus ia sembunyikan? Semua orang sudah terlanjur mengetahui hubungannya dengan Bren.


Akan tetapi, yang menjadi masalah adalah ia sama sekali tidak pernah menulis artikel tersebut. Pantas saja hari ini ia menjadi pusat perhatian. Hal yang sangat membuatnya tidak nyaman sampai sekarang.


Pertanyaannya sekarang adalah, siapa yang menulis artikel tersebut dan mengatas namakan dirinya? Elle merasa seperti gadis gila yang haus akan perhatian karena artikel tersebut. Dia memang cemburu dengan hubungan Bren dan Sara, tapi ia tidak segila pengakuan itu, hingga menerbitkan artikel tentangnya sendiri.


"Kau serius?" tanya Jackson yang baru saja pulih dari keterpakuannya.


Elle menganggukkan kepalanya pelan. Kedua matanya sama sekali tidak menunjukkan kebohongan di sana. Hal tersebut membuat Jackson terkesiap. Ia sudah cukup dikejutkan dengan artikel yang awalnya ia pikir hanya berisi kebohongan semata. Namun, pengakuan Elle benar-benar membuat dirinya hancur.


Bagaimana mungkin gadis polos dan imut yang ia sukai sejak dulu ternyata berpacaran dengan orang yang paling ia benci. Elle terlalu polos untuk Bren yang kurang ajar. Jackson sangat yakin sekali kalau Bren hanya mempermainkan Elle.


"Elle. Kau harus putus dengannya," kata Jackson tegas.


Dahi Elle berkerut. Ia bingung dengan sikap Jackson yang tiba-tiba terasa dingin. Jackson tampak kesal dan marah entah karena apa Elle tidak tahu. "Kenapa?" tanyanya. Elle pikir Jackson akan mendukungnya karena Jackson adalah sahabatnya dan Elle pikir adalah orang yang paling mengerti dirinya.


"Karena kau terlalu baik untuknya! Dan dia tidak pantas untukmu! Aku yang seharusnya bersamamu!" Jackson ingin meneriakkan kalimat tersebut kepada Elle. Namun, bibirnya akhirnya hanya melontarkan kalimat, "Karena dia hanya mempermainkanmu," katanya dengan nada membujuk yang sungguh-sungguh. Dahi Jackson berkerut. Kedua alisnya terangkat. Ekspresi wajahnya syarat akan permohonan.


"Aku yakin dia tidak mempermainkanku. Bren tidak sejahat yang kau kira," bela Elle. Walau di dalam benaknya terbesit sedikit ketidak yakinan atas pernyataan yang ia buat sendiri.


"Dia jahat Elle! Sejahat yang kukira! Kau hanya sedang tidak melihatnya saja! Karena kau sedang jatuh cinta!" Bentak Jackson tanpa sadar kehilangan kendali.


Hal itu membuat Elle berjengit karena terkejut. Ia menatap ke arah Jackson karena tidak mengerti dengan kemarahan cowok itu.


Jackson membuang napasnya. Ia berusaha mengendalikan emosinya. Tidak tepat rasanya jika ia marah kepada Elle. Karena Elle lah yang sekarang menjadi korban. Tidak seharusnya Jackson menumpahkan emosinya kepada Elle.


Jackson menatap tak percaya ke arah Elle, lalu mengusap wajahnya frustasi. "Ayolah! Ini bukan saatnya menghawatirkan orang lain Elle!" geram Jackson dalam hati.


Jackson kembali menyentuh kedua pundak Elle dengan hati-hati. "Dengarkan aku, Elle. Kau harus percaya padaku karena aku adalah sahabatmu." Jackson menarik napasnya dalam-dalam. Kemudian menatap lurus ke arah kedua mata Elle. "Putuslah dengan Hudson. Dia tidak baik untukmu. Dia hanya mempermainkanmu. Aku yakin, semua kekacauan yang terjadi di sekolah adalah rencananya untuk menyakitimu."


"Well, nampaknya dugaanmu salah, Rivera! Kekacauan yang terjadi bukan ulahku. Dan jauhkan kedua tanganmu dari pacarku, sebelum aku mematahkannya!" Suara datar seorang cowok yang sangat Elle kenal muncul dari arah pintu.


Terlihat Bren yang bersadar di ambang pintu dengan wajah datar sedatar nada suaranya. Ia menatap tidak suka ke arah Jackson. Yang dibalas Jackson dengan sengit.


"Bukan aku yang menulis artikel itu." Elle membela diri tanpa diminta. Ia hanya ingin memberi tahu Bren, bahwa bukan dirinya lah yang menciptakan kekacauan ini. Elle tahu, bahwa Bren tidak suka hubungan mereka terekspos.


Elle melepas cengkraman Jackson di bahunya dengan otomatis. Membuat Bren tersenyum puas dan memberikan tatapan penuh kemenangan ke arah Jackson.


Jackson berusaha menutupi perasaan terluka di antara kedua matanya. Ia berusaha menahan tangan Elle. Tapi, urung.


Karena bagi Jackson, percuma mencegah Elle. Dia harusnya menghabisi saja Bren. Dan tidak perlu lagi menahan diri. Jackson yakin, Bren bukan tipikal cowok yang bisa diajak bicara dengan mulut.


Oleh sebab itu, Jackson menggunakan tinjunya. Ia menerjang ke arah Bren. Sebelum cowok itu sadar bahwa dirinya diserang.


Wajah Bren terlempar ke samping begitu Jackson memukulnya.


Terdengar suara pekikan tertahan dari Elle. Elle menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Dia tidak menyangka apa yang baru saja ia lihat.


"Kau seharusnya tidak bermain-main dengan, Elle! Dia tidak pantas menjadi bahan mainanmu!" geram Jackson yang sudah diliputi emosi.


Bren mengusap ujung bibirnya yang sedikit terluka akibat pukulan Jackson. Ia tersenyum sinis. Satu tangannya terkepal dan hendak membalas pukulan Jackson. Akan tetapi, Elle menahannya.


Bren berusaha melepaskan cengkraman tangan Elle. Namun, Elle menggelengkan kepalanya. "Aku tidak ingin semakin menjadi bahan pembicaraan. Jadi, bisakah kita pergi saja?" ucapnya memohon.


Bren menatap penuh kebencian ke arah Jackson. "Kau selamat karena Elle. Jika tidak, aku sudah menghabisimu!"


Jackson tidak menanggapi kemarahan Bren. Ia justru berusaha mencegah kepergian Elle. "Biar aku menyelesaikan urusanku sendiri, Jackson. Percayalah padaku," kata Elle sebelum dirinya pergi keluar aula sambil membawa Bren bersamanya.


Elle membawa Bren ke ruang kesehatan sekolah yang kosong. Hanya ada kasur-kasur berseprai putih yang berjajar rapi. Perawat penjaga tidak nampak batang hidungnya. Elle tidak ambil pusing. Ia mendudukkan Bren di atas kasur. Kemudian mengambil kotak P3K dan menutup tirai di sekitar mereka.


Dengan hati-hati Elle mengobati ujung bibir Bren yang terluka.


"Kau harus berhenti berteman dengan Sharon Hamilton," ucap Bren dengan nada tak terbantahkan.