
Inilah mengapa Elle membutuhkan teman perempuan. Elle benar-benar tidak beruntung hari ini! Bagaimana tidak? Dia sudah terjebak di dalam toilet selama 3 jam lamanya. Ini semua karena menstruasi yang datang lebih awal dari pada biasanya. Dan sialnya Elle tidak membawa persediaan pembalut maupun baju ganti hari ini.
Elle harusnya sudah tahu hal ini akan terjadi semenjak jerawat muncul di wajahnya kemarin! Elle mendesah kesal. Apa yang harus ia lakukan? Elle sudah bertanya kepada beberapa gadis yang masuk ke toilet. Namun, tidak satu pun dari mereka yang membawa pembalut.
Jangan tanya soal baju ganti. Pembalut saja mereka tidak punya atau tidak ingin memberi. Apalagi baju ganti. Belum ada satu gadis pun yang mau meminjamkan baju ganti untuk Elle.
Elle mengacak rambutnya frustasi. Haruskah ia menghubungi Yellena? Tapi masalahnya adalah Yellena mempunyai kebiasaan tidak memegang ponsel saat berkerja.
Akan tetapi, lebih baik ia mencoba lebih dulu bukan? Elle mengambil ponsel di saku celananya dan segera menghubungi Yellena.
Dering pertama.
Dering kedua.
Dering ketiga.
Yellena tidak juga mengangkat panggilan Elle. Elle membuang napasnya kesal. Ia sudah menduga hal ini. Apa yang bisa ia harapkan dari Yellena?
Drrt....
Ponsel Elle bergetar. Apa itu Yellena? Ternyata kakaknya masih bisa diandalkan. Elle buru-buru melihat layar ponsel. Bukannya nama Yellena yang terpampang di layar, namun nama Bren.
Elle menatap layar ponselnya. Haruskah Elle meminta bantuan Bren? Bren pasti mau membantunya! Tapi, Bren adalah seorang pria! Elle menggelengkan kepalanya. Akan terlalu memalukan jika ia meminta tolong Bren.
Meski begitu, Bren tetap pacarnya, 'kan? Jadi seharusnya tidak masalah jika Elle meminta tolong hal yang memalukan pada Bren.
Karena terlalu lama berpikir, panggilan Bren mati dengan sendirinya. Namun, tidak lama setelah itu, nama Bren kembali muncul di layar ponsel Elle. Jika, Elle tidak menjawab panggilan telepon dari Bren tersebut, maka Bren akan terus menghubungi Elle sampai dia mengangkatnya.
Elle menekan tombol hijau di layar ponselnya.
"Halo," gumam Elle setengah berbisik.
"Kau bilang ingin memberikan sesuatu padaku. Jam istirahat sudah mau berakhir—"
"Aku sedang berada di toilet—"
"Toilet?"
Elle menganggukkan kepala walaupun Bren tidak dapat melihatnya. "Ya. Sesuatu terjadi padaku dan menyebabkanku belum bisa keluar dari toilet hingga sekarang."
"Kau baik-baik saja? Apa yang terjadi padamu hingga terjebak di dalam toilet? Kau butuh bantuanku?"
"Ya. Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir." Mulanya Elle ingin berterus terang. Tapi, ia terlalu malu untuk mengatakan yang sebenarnya terjadi dengan jujur.
"Elle," terdengar suara teriakkan Jackson dari luar pintu. Bagaimana bisa Jackson menerobos masuk ke toilet wanita?
"Apa kau ada di dalam?" tanya Jackson ragu.
"Ya. Aku di dalam—"
"Syukurlah. Apa kau baik-baik saja? Kau meninggalkan kelas secara tiba-tiba dan juga tidak kembali. Aku hanya khawatir jika saja ada sesuatu terjadi padamu," terang Jackson terdengar khawatir.
"Apa itu Rivera?" Pertanyaan Bren membuat Elle tersadar bahwasannya ia masih terhubung dengan Bren dalam panggilan telepon.
"Aku akan menghubungimu lagi nanti," kata Elle cepat sebelum akhirnya memutuskan sambungan secara sepihak tanpa persetujuan Bren.
Tidak juga mendapatkan jawaban dari Elle, Jackson kembali memanggil Elle. "Elle."
Haruskah Elle meminta pertolongan Jackson saja? Ia dan Jackson sudah berteman lama. Jadi, Elle rasa meminta pertolongan Jackson tidak akan terlalu memalukan.
Elle membuang napasnya pelan. Tidak. Biar bagaimana pun Jackson tetap seorang pria. Meminta Jackson membelikan pembalut tetap hal yang memalukan.
"Elle. Kau mendengarku? Apa kau baik-baik saja? Apa sesuatu hal buruk terjadi padamu. Aku—" Jackson sekali lagi memastikan.
"Aku baik-baik saja, Jackson," potong Elle cepat.
"Apa yang kau lakukan di toilet wanita, dasar cabul!" terdengar teriakan seorang gadis dari balik pintu.
"Aku hanya—" Jackson terdengar seperti berusaha mencari alasan. Namun, gadis itu kembali memotong perkataan Jackson.
"Keluar!"
Elle mengintip dari balik pintu. Jackson sudah pergi. Ia sekarang sendirian. Siapa yang bisa ia mintai pertolongan sekarang?
Tiba-tiba seorang gadis pirang muncul di depan wajah Elle. Hal itu membuat Elle tersentak kaget hingga membuatnya mundur beberapa langkah. Gadis tersebut membuka pintu lebih lebar.
"Apa yang kau lakukan di toilet dengan teman priamu?"
Elle melambaikan tangannya dengan cepat. "Aku tidak melakukan apapun. Aku hanya butuh bantuan."
Gadis pirang itu mengangkat satu alisnya. "Bantuan?"
"Apa kau punya pembalut dan baju ganti?" tanya Elle dengan penuh harap. Semoga saja gadis asing ini mau membantunya.
Gadis tersebut diam sejenak lalu tersenyum lebar. "Tentu saja aku punya. Tunggu sebentar. Aku akan segera kembali."
Selepas kepergian gadis tersebut Elle segera melemparkan pantanya ke atas kloset yang tertutup. "Thanks God," desahnya lega.
Si Gadis Pirang benar-benar bergerak sangat cepat. Karena sekarang dia sudah kembali ke toilet dengan pembalut dan tas kertas berisi pakaian ganti.
Elle segera membersihkan dirinya cepat. Ketika ia membuka pintu toilet ternyata Si Gadis Pirang masih menunggunya di luar.
"Bagaimana? Apa pakaianku muat untukmu?"
Elle tidak pernah memakai mini dress sebelumnya. Dan ini terasa sangat tidak nyaman. Tapi, Elle bersyukur karena setidaknya ia tidak harus berkeliling sekolah dengan bercak darah di pantatnya.
Elle melebarkan senyumnya. "Terima kasih. Aku akan segera mengembalikannya setelah kucuci," katanya dengan sangat menyesal.
Si Gadis Pirang melambaikan tangan di depan wajah. "Tidak perlu khawatir. Kau bisa memakainya."
"Sekali lagi terima kasih. Ngomong-ngomong aku belum pernah melihatmu sebelumnya."
"Tentu saja. Aku murid baru, Elle."
"Kau tau namaku?" Elle terkejut karena ternyata gadis asing ini mengetahui namanya.
Gadis itu juga terlihat terkejut samar. Namun segera mengendalikan situasi. "Ah... aku tahu dari temanmu tadi. Dia memanggilmu dengan cukup nyaring."
Elle menganggukkan kepalanya kecil. "Siapa namamu?"
"Sharon Hamilton. Kurasa kita bisa berteman. Aku menyukaimu," kata Sharon terlihat jujur.
Elle diam sejenak. Tidak ada yang pernah mengajaknya berteman sebelumnya kecuali Jackson. Elle bukannya seorang penyendiri. Hanya saja ia tidak mempunyai banyak teman dekat. Elle kenal beberapa anak di sekolah. Akan tetapi, mereka hanya berteman secara formal. Tidak benar-benar berteman.
Sharon menatap tangannya yang masih menggantung di udara. "Kau tidak mau berteman denganku? Aku murid baru. Dan aku membutuhkan teman. Jika kau tidak mau berteman denganku, aku akan merasa sendirian di tempat asing ini."
Elle tidak mengerti. Gadis di hadapannya ini cantik. Pasti banyak yang mau berteman dengannya. Mengapa harus Elle? Elle bingung, namun tetap tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya karena ia merasa bersalah dengan Sharon. Karena gadis ini dengan senang hati meminjamkannya baju dan memberinya pembalut.
Elle menjabat tangan Sharon. "Baiklah. Mari berteman—"
"Elle," terdengar suara Bren memanggil Elle. Elle segera buru-buru keluar dan menghampiri Bren.
"Apa yang kau lakukan dengan Jackson di toilet?" tanya Bren tiba-tiba dengan mata memicing. "Dan lihat pakaianmu! Mengapa kau menggunakan baju sependek ini?"
Bren terlihat tidak senang. Rahangnya mengeras. Ia menatap Elle dengan tatapan menusuk. Hal itu tentu saja membuat Elle bergidik.
"Jangan marah. Aku akan menjelaskan semuanya," ujar Elle sambil berbisik. Ia sungguh merasa tidak enak karena Sharon masih berada di dalam toilet.
"Jelaskan!" kata Bren dengan nada rendah dan menuntut.