
Bren sedang menyandarkan punggungnya di sandaran sofa sambil menatap kerumunan orang-orang yang berpesta, saat Sharon menghampirinya. Gadis yang tadi baru saja dibicarakan oleh Elle. Apa Sara mengundangnya? Setahu Bren, Sara tidak terlalu menyukai Sharon sama seperti dia tidak menyukai Elle.
“Hai,” sapa Sharon sambil tersenyum manis.
Tanpa bertanya Sharon segera duduk di samping Bren. Nyaris tidak ada jarak di antara keduanya.. Bren bahkan dapat menyium aroma parfum Sharon yang menyengat. Bren tidak meyukai aroma seperti ini. Baginya aroma parfum manis seperti milik Elle jauh lebih enak dihirup.
Bren menggeleng-gelengkan kepalanya. Kenapa ia malah memikirkan Elle si gadis naif itu? Yang Bren inginkan sekarang adalah bersenang-senang dengan teman-temannya. Bukan memikirkan pacar palsunya tersebut.
“Hei. Kau tak apa?” tanya Sharon sambil menyentuh bahu Bren.
Bren menarik bahunya hingga tangan Sharon terlepas. “Pergilah. Aku sedang tidak ingin mengobrol denganmu.”
Menurut Bren, Sharon sangatlah menganggu. Gadis ini terlalu sok akrab padanya. Padahal Bren sama sekali tak mengenalnya, dan tak tertarik sama sekali untuk mengenalnya.
Pernah beberapa kali Sharon menyapanya di sekolah dan mengajak Bren mengobrol. Bren sebenarnya sadar bahwa Sharon berusaha mendekatinya. Namun, Bren terlalu tidak peduli untuk menanggapi gadis tidak penting ini.
Sharon merengut. Dia terlihat kesal atas usiran Bren. “Aku hanya ingin dekat denganmu. Apa tidak boleh?”
“Tidak,” sahut Bren pendek.
Sebenarnya, bisa saja Bren bermain-main dengan Sharon. Hanya saja Bren tidak mau mengambil resiko putus dengan Elle, karena sepengetahuan Bren beberapa waktu belakangan Elle sering nongkrong dengan Sharon.
Sharon semakin mendekatkan diri ke arah Bren. Ia menyibakkan rambut panjangnya ke belakang. Gaun berleher rendah yang ia kenakan menyebabkan belahan dadanya nampak terlihat jelas. “Tidakkah kau ingin bermain-main denganku sebentar? Kau terlihat bosan. Kita bisa bersenang-senang,” tawar Sharon.
Bren hanya melirik ke arah Sharon tanpa minat. Dia baru saja hendak mengusir Sharon, saat Tyler datang menghampiri mereka. “Hei, Cantik. Aku mencarimu sejak tadi.”
Sharon menyungingkan senyuman manis menggoda ke arah Tyler yang sekarang sudah duduk di sebelahnya. “Aku sedang berusaha mengajak ngobrol temanmu. Tapi, dia sepertinya sedang tidak ingin diganggu. Padahal aku hanya berusaha bersikap ramah,” adu Sharon kepada Tyler dengan nada manja.
Tyler mencolek dagu Sharon. “Dia sudah mempunyai pawang, Sayang. Dan kurasa dia sedang dalam suasana hati yang baik sekarang. Jadi, lebih baik kau bermain denganku saja.” tyler mengedipakan satu matanya.
Bren memutar bola matanya. Tyler dan godaannya pada para gadis terkadang bisa membuatnya jijik. Sebelum dekat dan berpacaran dengan Elle, Bren juga suka bermain-main dengan para gadis. Hanya saja jika kau melihat teman dekatmu menggoda seorang gadis, itu adalah kasus yang sama sekali berbeda dengan kau menggoda seorang gadis.
Sharon menyilangkan kaki jenjangnya dan mengubah posisi duduknya sedikit menyerong ke arah Tyler. “Pawang?’ tanyanya dengan dahi berkerut sempurna.
Tyler terkekeh kecil. “Maksudku pacar.”
Bibir Sharon membentuk huruf “O” tanpa suara. Ia kemudian menoleh ke arah Bren. “Jadi, kau sudah punya pacar? Aku tidak pernah melihatmu berkencan dengan seorang gadis pun. Siapa yang kau kencani sekarang?” tanyanya penuh minat.
“Kau mengenalnya,” sahut Tyler sebelum Bren sempat mengatakan, “Bukan urusanmu. Pergi saja, Jala*g,”
“Aku?” Sharon menunjuk dirinya sendiri. “Mengenalnya?” Gadis itu menunjukkan ekspresi terkejut yang dibuat-buat.
“Kau tahu, Si Rambut Merah. Gadis yangg cukup dekat denganmu belakangan,” komentar Tyler santai sambil menyesap minumannya.
Bren mendengus. Dasar Tyler dan mulut embernya.
“Ah… Ellena Clark?”
Tyler menganggukkan kepala sebagai konfirmasi atas pertanyaan Sharon. “Kalian dekat, ‘kan? Aku bertanya-tanya mengapa cewek populer sepertimu mau bergaul dengannya.”
Sharon mengibaskan tangan di depan wajah sambil tertawa kecil. “Aku tidak benar-benar berteman dengannya. Dia gadis polos yang naif. Aku hanya merasa kasihan karena sepertinya ia tidak punya teman dekat satu pun di sekolah.”
“Dasar Muka Dua!” batin Bren saat mendengar celotehan Sharon. Padahal Bren ingat dengan jelas beberapa kali Sharon berusaha mendekatinya saat ia bersama Elle. Dan mengaku sebagai teman Elle.
“Sungguh? Dia memang sangat polos. Makanya aku dan Bren—“
“Tutup mulutmu, Tyler!” hardik Bren sebelum temannya yang nampak sudah mulai mabuk ini membongkar semua rahasia mereka.
“Jadi, kau benar-benar berpacaran dengannya? Padahal dia tidak cantik sama sekali,” cibir Sharon.
“Jika kau sudah bosan dengannya, kau bisa berpacaran denganku,” goda Sharon sambil menyentuh bahu Bren.
Bren melirik sinis ke arah Sharon. “Aku tidak tertarik. Jadi, kau bisa melepaskan tangan kotormu dari bahuku sekarang.”
“Kau kejam sekali, Dude,” sela Joe yang baru saja datang bersama Adam.
“Kau bisa berpacaran denganku saja, Cantik.” Joe mengedip menggoda ke arah Sharon.
“Woah… kau bisa mengantri, Joe. Aku lebih dulu mendekatinya,” ucap Tyler sambil memukul dada Joe pelan dengan telapak tangannya.
Joe terkekeh. “Dia yang seharusnya memutuskan, Tyler.”
Mereka pun akhirnya terlibat obrolan. Sharon terus mengoceh dengan gayanya yang menggoda. Dan tentu saja,Tyler dan Joe dengan senang hati meladeninya. Berbeda dengan Adam dan Bren yang sama sekali tidak berniat bergabung dengan pembicaraan mereka.
Adam memang selalu begitu. Ia tidak terlalu suka bergaul dan banyak berbicara dengan orang selain teman-temanya. Sedangkan Bren, memang tidak menyukai Sharon entah mengapa. Walau memang Bren akui Sharon cantik dan seksi. Tapi ia sama sekali tidak tertarik.
Padahal Sharon beberapa kali memancing agar Bren dan Adam mau bergabung ke obrolan mereka. Namun, dua cowok itu sama sekali tidak juga menanggapi pancingan Sharon.
Lama kelamaan Bren merasa risih juga. Karena dengan terang-terangan sharon berusaha menggodanya. Di mana Sara? Cewek itu yang menyelenggarakan pesta. Mengapa tidak terlihat batang hidungnya? Mungkin saja Sara bisa membantu Bren untuk mengusir Sharon karena setahu Bren Sara membenci gadis ini.
Bren mengambil ponselnya dan segera mengirimi Sara pesan.
Bren Hudson:
Kau di mana? Aku sudah datang sejak tadi.
Tak berapa lama kemudian, Sara datang. Wajahnya merah padam. Ia berdiri di hadapan Sharon dengan kedua tangan terlipat di dada.
“Kau tidak punya telinga, ya? Aku sudah mengusirmu. Tapi, kau masih belum pergi juga? Tidak ada yang mengundangmu di sini!” bentak Sara.
Bren memang mengharapkan Sara mengusir Sharon. Tapi, dia belum menagatakan apapun pada Sara. Dan gadis itu sudah lebih dulu mengusir Sharon tanpa ia minta. Itu bagus. Namun, aksi Sara jujur saja cukup membuat Bren terkejut.
“Kau juga tidak punya telinga, ya? Tyler yang mengundangku ke sini,” sahut Sharon tanpa memandang wajah Sara. Dia dengan santainya mengabaikan kehadiran Sara dengan memandangi kuku-kukunya yang terawat.
Tyler berdiri dan memegangi lengan Sara. Berusaha membujuk Sara seperti biasanya. “Santai saja, Girl. Kau tidak perlu—“
Sara menghempaskan tangan Tyler. “Tutup mulutmu, Tyler! Kau yang membawanya kemari. Jadi, kau juga yang harus membawanya pergi dari rumahku! Kau harusnya tidak perlu membawa kotoran ke rumahku, Tyler!”
Tyler yang sudah mabuk, tersinggung dengan perkataan Sara. Oleh sebab itu ia balas membentak. “Kau tidak perlu sekasar itu, Sara! Kau pikir pestamu ini keren? Kau hanya menghamburkan uang tanpa seorang pun peduli. Kau terlalu berusaha keras agar semua orang memperhatikan—“ Joe menutup mulut sebelum Tyler meneruskan kalimatnya dan membuat Sara semakin geram.
Namun, usaha Joe sudah sangat terlambat. Sara sudah benar-benar marah. Rahangnya mengeras. Ia menatap penuh kebencian ke arah Tyler. “Sara, kau tahu, Tyler sedang mabuk. Dia hanya berbicara asal. Jadi kau—“
Sara tak menanggapi usaha Joe menjelaskan. Ia menderapkan langkah menjauh dari teman-temannya. Dan dengn kasar ia mencabut kabel speaker. Musik nyaring yang memenuhi ruangan berhenti seketika. Sara berjalan menuju saklar lampu dan menekannya. Ruangan sekeketika menjadi terang benderang. Lalu, dia segera mematikan lampu disko.
Orang-orang yang sedang asik berpesta menghentikan aktifitasnya seketika dan menatap ke arah Sara penuh tanya.
“Pesta selesai. Silahkan pergi. Sebelum aku mengusir kalian,” bentak Sara emosi.
Orang-orang dalam ruangan pun segera pergi sambil berbisik-bisik membicarakan Sara. Namun, Sara tidak peduli. Ia terlalu marah sekarang.
Di satu sisi, teman-teman Sara tidak punya pilihan lain, selain ikut pergi. Karena, jika Sara sudah terlalu marah, tidak ada seorang pun yang dapat membujuknya. Ditambah, Tyler sedang mabuk sekarang. Satu-satunya orang yang biasanya mampu membujuk Sara.
“Aku akan membawa Tyler pulang,” pamit Joe sambil membawa Tyler yang nampaknya sudah benar-benar mabuk.
Selepas kepergian Joe, Sharon menghampiri Bren dan menggandeng tangan cowok itu. “Aku sepertinya agak mabuk. Maukah kau mengantarkanku?” tanya Sharon sambil menyandarkan kepalanya ke bahu Bren.
Bren melepaskan lengannya dari pelukkan Sharon dan mendorong kepala cewek itu menjauh darinya. “Aku tidak membawa orang asing ke dalam mobilku,” katanya lalu pergi meninggalkan Sharon.
Sharon mendengus kesal. Akan tetapi, ia segera menghampiri Adam. Pilihan terakhirnya. Sharon menampilkan senyum terbaiknya pada Adam. Namun, belum sempat ia membuka mulutnya untuk memohon diantarkan oleh Adam, Adam lebih dulu berkata, “Kau bisa naik taksi. Kurasa kau tidak semiskin itu hingga tidak mampu membayar taksi untuk pulang.” Adam sama sekali tak menoleh ke arah Sharon saat melontarkan kata-kata kejam itu.
Sharon menatap tak percaya ke arah kepergian Adam. Ia benar-benar kesal sekarang. Sara dan teman-temannya sungguh menyebalkan. Sharon mengepalkan tangannya menahan emosi. Bisa-bisanya tidak ada seorang pun yang mau mengantarkannya pulang. Harga dirinya terluka karena diabaikan.
Akan tetapi, Sharon tidak bisa menyerah sekarang. Dia perlu dekat dengan mereka agar bisa dekat dengan Bren.