3 Months Girlfriend

3 Months Girlfriend
Chapter 37: Akibat Sekotak Kenangan



"Elle di kamarmu," sapa Dean begitu Bren melewati ruang tamu. Bren mengabaikan ayahnya yang sibuk menyesap kopi tanpa menatap ke arahnya.


Bren bergegas pergi menuju kamar tidur. Ia tidak sabar untuk bertemu dengan Elle, dan memastikan gadis itu dalam keadaan baik-baik saja.


Namun, saat ia baru saja membuka pintu kamarnya. Sebuah pemandangan mengejutkannya. Mengalahkan rasa khawatirnya terhadap Elle.


Kotak coklat berisi rahasinya, tertelungkup tidak jauh dari tempat Elle berdiri. Dengan isi yang sudah berceceran ke mana-mana.


Bren panik. Merasa kesal seketika. Rasanya seperti ditelanjang* dan diintip secara tiba-tiba. Tidak ada yang boleh melihat isi kotak tersebut. Terutama Elle!


"Siapa bilang kau berhak masuk ke kamarku?" bentak Bren emosi. Elle tidak seharusnya berada di sini dan membuka rahasianya seperti itu.


Mendengar suara Bren yang lantang membuat punggung Elle tersentak. Kemudian ia memutar tubuhnya cepat, menghadap ke arah Bren.


"Bren—"


"Keluar!" bentak Bren sambil menunjuk ke arah pintu.


Elle terlihat sangat terkejut. Jadi ia hanya bisa bergeming di tempatnya berdiri sekarang.


Bren semakin tidak sabar. Jadi, ia menekankan setiap kata-kata yang terlontar dari mulutnya. "KELUAR. SEKARANG. JUGA!"


Seakan tersadar dari sesuatu, Elle segera berjalan keluar menuju pintu keluar. Saat ia berdiri di samping Bren yang sama sekali tidak mau menatapnya, Elle sekali lagi bergumam lirih, "Bren—"


Bren tetap tidak mau menoleh ke arah Elle. Dia menatap lurus ke depan. Ke arah isi kotak coklat yang terhambur di lantai. "Pergi saja. Sekarang. Aku tidak ingin melihatmu."


Elle tidak mengerti mengapa Bren marah padanya. Ia tidak melakukan apapun. Lagi pula, ayah Bren yang menyuruhnya menunggu Bren di kamar cowok itu.


"Hi, Girl. Kau sudah mau pulang?" tanya Dean heran, saat Elle melewati ruang tamu.


Elle menganggukkan kepalanya sambil menunduk dalam-dalam. "Ya. Kurasa Bren ingin aku pergi. Terima kasih. Selamat malam." Elle berusaha berbicara seminim mungkin. Karena ia rasa, air matanya akan jatuh jika ia semakin banyak berbicara.



Elle membenci dirinya sendiri yang mudah sekali menangis. Ia menghapus air mata di wajahnya dengan punggung tangan.


"Berhentilah mengalir, Air Mata Bodoh!" rutuknya sambil terus berjalan.


Karena tidak membawa mobil sendiri hari ini, Elle akhirnya pergi ke rumah Bren menggunakan taksi. Elle benar-benar sial hari ini. Bertengkar dengan Bren. Mobilnya rusak. Lalu, sekarang? Ia kesulitan mencari taksi.


Elle terlalu malu untuk menghubungi Yellena sekarang. Kakaknya itu pasti akan mengejeknya, ketika melihat kondisinya sekarang.


Suara klakson mobil mengejutkan Elle. Saat Elle menolehkan kepala ke arah sumber suara, tampak wajah Dean yang menyembul keluar dari balik kaca mobil yang terbuka.


"Masuklah, Elle. Aku akan mengantarkanmu," ajaknya ramah.


Elle mulanya ingin menolak tawaran Dean. Namun, ia merasa tidak enak hati. Karena Dean sudah rela menyusul untuk mengantarkannya.


Elle akhirnya masuk ke dalam mobil Dean. Dan mobil pun melaju membelah kota New York.


"Apapun yang Bren lakukan padamu, aku tidak akan memintamu untuk memaafkannya. Tapi, satu hal yang perlu kau ketahui. Bren menyayangimu."


Elle melongo menengar penyataan Dean yang secara tiba-tiba. Rasa sedihnya hilang. Berganti dengan rasa bingung.


Apa Dean Hudson sekarang sedang berusaha menghiburnya? Jika iya, maka ia akan nampak sangat menyedihkan.


Dean terkekeh melihat ekspresi wajah Elle. Dia lalu menambahkan. "Jangan salah paham. Aku tidak sedang membual atau berbohong untuk sekedar menghiburmu, Nak. Aku hanya mengatakan kebenarannya."


Elle menggelengkan kepalanya kuat. "Tidak. Dia tidak menyayangiku. Jika dia menyayangiku, maka seharusnya—"


Elle diam sejenak lalu menambahkan dalam hati. "Ia tidak melupakanku."


"Seharusnya?" Dean mengerutkan dahinya.


"Ada Sara. Kurasa Sara lebih penting daripada aku." Elle berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Ayolah, Nak. Sara hanya seorang sahabat."


"Aku bahkan bukan sahabatnya. Aku hanya orang asing," gumam Elle kecil.


Mereka sudah sampai di halaman rumah Elle saat Dean baru saja hendak membalas perkataan Elle. Elle segera turun dari mobil Dean dan mengucapkan terima kasih. Tanpa menunggu balasan dari Dean, Elle segera berlari menuju rumahnya.


Lampu teras rumah Elle masih padam. Ibu dan kakaknya nampaknya sedang tidak ada di rumah.


Baguslah. Dengan begitu ia bisa menangis di tengah kegelapan tanpa seorang pun dapat mendengarkan.



Bren membereskan barang-barangnya yang berserakan di lantai dengan raut wajah masam.


Sial! Apa Elle sudah melihat semuanya? Jika benar begitu, maka ia akan benar-benar malu.


Elle pasti menganggap dirinya sebagai pembohong. Gadis itu pasti merasa menang setelah mengetahui bahwa Bren masih mengingatnya.


Bren memegang potret dirinya dan Elle. Disana ia tersenyum lebar. Begitu pula dengan Elle. Foto ini diambil di hari ulang tahun Bren.


Jika, Bren tahu bahwasannya pada hari itu Elle akan meninggalkannya tanpa kata perpisahan, maka ia tidak akan tersenyum selebar itu.


Brengse*. Hari itu adalah hari ulang tahun terburuk dalam hidup Bren. Karena selain Elle yang tak lagi menemuinya keesokkan harinya, pada hari yang sama ibunya mengumumkan bahwa ibunya akan meninggalkannya demi keluarga barunya.


Sejak saat itu lah, Bren pindah ke New York untuk tinggal bersama ayah kandungnya yang lebih asing daripada alien.


Saat Bren bertemu kembali dengan Elle di tahun pertama masa SMA-nya, mulanya terbesit rasa senang di hati Bren. Namun, melihat Elle yang menyapanya seolah-olah tak terjadi apapun, membuat Bren kesal.


Bagaimana bisa Elle menyapanya dan tersenyum selebar itu? Raut wajah Elle terlihat senang saat melihatnya. Tapi, apakah itu benar-benar tulus? Jika Elle sesenang itu melihatnya, mengapa gadis itu harus meninggalkannya? Tanpa penjelasan apapun. Menghilang begitu saja. Dan dengan seenaknya kembali begitu saja. Masuk ke hidupnya kembali tanpa penyesalan atau rasa malu.


Bren memasukkan figura di tangannya ke dalam kardus dengan kasar. Disusul dengan barang-barang lainnya. Seperti gelang couple yang Elle berikan padanya saat kecil. Hingga surat yang Elle tulis untuknya baru-baru ini.


Ya, Tuhan! Bren merasa dirinya sudah gila karena menyimpan barang-barang pemberian Elle. Dia harusnya membuang semua ini. Barang-barang ini hanya membuatnya semakin tidak dapat melupakan masa lalu.


Bren beranjak berdiri dan membawa kardus coklat yang sudah ia simpan bertahun-tahun tersebut keluar kamar. Ia pergi ke belakang rumah dan meletakkan kardus tersebut di atas tempat sampah besar.


Besok pasti pembantu di rumahnya akan membereskan kardus tersebut.


Akan tetapi, baru beberapa langkah Bren memasuki rumah. Ia kembali lagi keluar. Kemudian mengambil lagi kardus yang mulanya hendak ia buang.


Entahlah. Ia masih tidak bisa membuang sekotak kenangan meski isinya penuh luka.