3 Months Girlfriend

3 Months Girlfriend
Chapter 36: Kejutan



Tyler mengobati luka cakaran di wajah Sara. Sementara sang pemilik wajah mengompres matanya yang lebam.


"Kau harusnya tidak usah mencari gara-gara jika tidak pandai berkelahi," ucap Adam sambil menukar kompres dari tangan Sara dengan kompres baru.


Sara kembali mengompres matanya tanpa menoleh ke arah Adam yang sekarang sudah kembali duduk di ujung panggung tempat mereka latihan. "Siapa bilang aku tidak pandai berkelahi? Jika kalian perhatikan, pasti kalian bisa menilai siapa yang paling banyak mendapat luka," ujar Sara yang egonya tidak ingin kalah.


"Apa Elle baik-baik saja?" tanya Bren yang berusaha mengatur suaranya agar terdengar tak acuh.


Sara beranjak berdiri sebelum Tyler menyelesaikan pekerjaannya. Meletakkan kompres dengan asal di atas meja, dan berpura-pura tidak mendengar pertanyaan Bren.


"Hei! Aku belum selesai mengobatimu, tahu!" protes Tyler.


Sara mengabaikan teriakan Tyler. "Ayo, nongkrong. Aku yang traktir. Kudengar ada cafe baru di Queens," ucapnya spontan.


"Kita tidak jadi latihan?" Walau bertanya seperti itu, Joe tetap membereskan tasnya.


"Sara harus beristirahat. Kau tidak lihat dia sedang babak belur?" ejek Tyler.


Sara menatap Tyler dengan mata menyipit karena kesal. "Kecuali kau, Tyler. Aku tidak akan mentraktirmu."


"Ayolah, Sayang. Jangan begitu." Tyler mengedipkan satu matanya sambil merangkul bahu Sara. Yang langsung ditepis dengan kasar oleh sang pemilik bahu.


"Anyway, Bren. Apa kau sudah selesai meminjam piringan hitamku?"


Bren menepuk dahinya. "Ah, ya. Aku sudah selesai. Kau bisa mengambilnya di kamarku. Aku ingin mengembalikannya tadi, tapi lupa."


Sara segera beranjak pergi ke kamar Bren.


Mata Sara langsung mengenali barang miliknya di atas meja Bren. Di pinggir meja, sebuah kotak berwarna coklat yang tutupnya sudah agak terbuka.


Saat Sara mengambil piringan hitam miliknya. Siku tangannya tidak sengaja menyenggol kotak tersebut hingga terjatuh dan membuat isinya berhamburan di lantai.


Sara segera meletakkan kembali piringan hitam miliknya ke atas meja, dan segera berjongkok untuk membereskan kekacauan yang ia buat. Sara mendengus kesal.


Sara membalik kardus tersebut terlebih dahulu sebelum memasukkan pernak-pernik yang berhamburan. Terdapat gelang yang terbuat dari manik-manik penuh warna. Dilihat dari ukurannya sepertinya itu milik anak kecil.


Sepertinya barang-barang tersebut adalalah barang masa kecil Bren. Mata Sara terpaku pada selembar foto masa kecil Bren. Di sampingnya tampak seorang gadis seusianya dengan rambut berwarna merah yang diikat dua. Sara merasa tidak asing dengan wajah gadis tersebut.


Di dalam foto, wajah Bren dan gadis tersebut tampak belepotan dengan krim kue. Mereka tertawa lebar. Tangan Bren tersampir di bahu Si Gadis yang merangkul pinggangnya.


Sara membalik lembar foto di tangannya dan membaca pesan yang tertulis di baliknya. Tulisannya nampak acak-acakan khas anak kecil. Namun, bukan hal itu yang membuat mata Sara melebar, tapi isi surat tersebut.


Happy birthday, Bren! Aku menyayangimu.


...-Dari Elle sahabat terbaikmu....


"Sara! Kau lama sekali. Kami sudah menunggumu—" Lembar foto di tangan Sara jatuh ke lantai dan terbalik tertelungkup.


"Aku keluar sekarang!" Sara membalas teriakkan Bren dengan panik. Ia hendak membereskan isi kotak di lantai, tapi ia sudah tidak punya waktu. Jadi dia segera mengambil piringan hitam milknya, memasukkannya ke dalam tas, dan berlari keluar menyusul teman-temannya.



Elle harus meminta maaf pada Bren. Ia menyesal karena sudah menuduh Bren yang tidak-tidak. Jadi, Elle mengirim pesan ke Bren untuk mengajaknya bertemu.


Ellena Clark:


Bren, aku ingin berbicara denganmu. Bisakah kita bertemu?


Elle mengigiti ujung ibu jarinya karena resah menunggu balasan pesan dari Bren. Apa Bren masih mau bertemu dengannya? Apa Bren akan memaafkannya?


Dering ponsel membuyarkan lamunan Elle. Tanpa melihat layar ponsel, Elle segera mengangkat panggilan yang masuk.


"Halo, Elle. Pergilah ke rumahku. Aku sedang berada di luar sekarang. Tapi, aku akan segera pulang. Tunggulah di sana."


Mendengar suara Bren membuat Elle menghela napas lega. Elle tidak dapat mencegah senyum di wajahnya.


"Baiklah. Aku akan ke sana."



"Kau mau ke mana? Kita bahkan belum memesan apapun," ucap Sara dengan wajah terlipat.


"Dia punya pacar Sara. Tentu saja mau menemui pacar kesayangannya," ledek Tyler.


Mengabaikan protes dan ledekkan teman-temannya, Bren tetap pergi keluar dari cafe dan berjalan menuju parkiran.


Bren tidak ingin repot-repot mengirim pesan. Entah karena ia hanya ingin mendengarkan suara Elle, untuk memastikan bahwa Elle baik-baik saja, atau hanya karena ia tidak ingin repot mengetik pesan. Bren tidak tahu mana alasan yang mendukung tindakannya sekarang.


Baru sampai dering ke dua, Elle sudah mengangkat panggilan teleponnya.


"Halo, Elle. Pergilah ke rumahku. Aku sedang berada di luar sekarang. Tapi, aku akan segera pulang. Tunggulah di sana," kata Bren sambil membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya.


"Baiklah. Aku akan ke sana," jawab Elle dari seberang telepon.


Tanpa pikir panjang, Bren segera melajukan mobilnya.



Elle menekan bell rumah Bren dengan gugup. Apa Bren sudah sampai di rumah? Apa ia terlalu cepat datang? Bagaimana jika ternyata Bren tidak ada di rumah? Bagaimana jika Bren tidak jadi pulang dan memilih nonkrong dengan teman-temannya?


Akan tetapi, ketakutan Elle sungguh tak berarti. Karena ia mendengar suara gagang pintu dibuka.


Elle memutar tubuhnya cepat. Hingga ia hampir terjatuh karena terkejut. Bukan. Ia bukan terkejut karena Bren berada di hadapannya.


Hal yang membuatnya sangat terkejut adalah, Dean Hudson berdiri di hadapannya! Dean adalah penyanyi legendaris, dan yang sekarang lebih sering memproduseri atau menulis lagu.


Elle mengetahui Dean karena dulu ayahnya suka memutar lagu-lagu Dean di mobil. Suara Dean Hudson praktis mengisi memori masa kecil Elle.


Pokoknya Dean Hudson sungguh luar biasa terkenal karena kejeniusannya dalam bermusik. Bagaimana bisa Dean Hudson berada di sini?


"Kau pasti Ellena Clark?" tebak Dean dengan sangat ramah.


Tunggu! Bagaimana Dean tahu nama Elle?


"Perkenalkan aku Dean. Ayah Bren. Kau pasti mau bertemu dengan Bren. Kurasa ia pergi keluar tadi dengan teman-temannya. Kau bisa masuk dan menunggu di dalam."


Bagaimana Dean tahu nama Elle? Apa Bren menceritakan tetangnya kepada Dean?


Elle hanya mengangguk dan mengekor di belakang Dean. Ia merasa bingung harus bersikap bagaimana. Karena terlalu banyak informasi mengejutkan yang terjadi secara bersamaan saat ini.


"Kau tunggulah di kamar Bren. Aku akan menghubunginya—"


"Aku sudah menghubunginya tadi. Dia bilang akan segera pulang."


Dean menurunkan ponsel di telinganya. "Oh. Begitu. Baguslah kalau begitu. Kau bisa menunggu di kamar Bren."


Elle menganggukkan kepalanya kecil. "Terima kasih, Mr. Hudson."


Dean tertawa renyah. Membuat kerutan di sekitar matanya terlihat semakin dalam. "Panggil saja Dean."


"Ah, baiklah," gumam Elle lebih kepada dirinya sendiri.


Dean pergi. Sementara Elle masuk ke dalam kamar Bren.


Kamarnya luas. Di dominasi dengan warna abu-abu membuat nuansa ruangan tersebut terkesan elegan.


Namun, ada satu hal yang membuat ruangan tersebut terlihat kurang. Yaitu sebuah kotak coklat dengan barang-barang yang berceceran di sekitarnya.


Jadi, dengan niat membantu, Elle berjalan menuju kotak tersebut untuk mbereskan barang-barang yang terhambur di lantai.


Belum saja Elle berhasil mencapai kotak coklat itu , suara teriakan marah Bren dari ambang pintu mengejutkannya.


"Siapa bilang kau berhak masuk ke kamarku?! Pergi sekarang!"


Elle memutar badannya cepat. "Bren—"


"Keluar!" bentak Bren tak terbantahkan.