
“Di mana Sara?” tanya Tyler kepada teman-temannya sambil mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kantin.
Joe menatap Tyler sangsi. “Kau tidak ingat apa yang terjadi semalam?”
“Tentu saja aku ingat! Kita berpesta semalam di rumah Sara seperti biasa.”
Bren melemparkan kentang ke arah Tyler. “Bukan itu, Bodoh!”
“Apa kita melakukan hal lain selain berpesta?” tanya Tyler lagi dengan wajah tanpa dosa.
Joe membuang napasnya keras. “Ya Tuhan! Mengapa aku mempunyai teman sebodoh ini!” rutuknya kesal.
Adam akhirnya mengangkat pandangannya dari ponsel. Meskipun sejak tadi sibuk bermain ponsel, Adam tetap menyimak obrolan teman-temannya. “Kau membuat Sara marah dan dia mengusir kita semalam.”
“Aku?” Tyler menunjuk dirinya sendiri. Kemudian terkekeh. “Aku tidak mungkin membuat Sara marah. Di antara kalian semua akulah yang paling dekat dengan Sara.” Tyler melambaikan tangan di depan wajah. “Jangan bercanda.”
Siapa saja tahu bahwasannya Adam merupakan makhluk yang paling jarang sekali bercanda. Jadi, selain Tyler tidak ada seorangpun yang menanggap perkataan Adam adalah sebuah lelucon. Adam jelas tidak bercanda jadi dia tidak sama sekali tertawa. Sedangkan wajah Bren dan Joe juga sama datarnya dengan wajah Adam.
Tyler menghentikan tawanya saat ia melihat satu-persatu temannya tidak ada yang tertawa. “Jadi, aku benar-benar membuatnya marah, ya?”
Joe menganggukkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan Tyler. Adam kembali sibuk dengan ponselnya. Dia terlalu malas menanggapi Tyler.
“Kau membuatnya sangat-sangat marah,” ujar Bren berlebihan.
“Apa yang kulakukan semalam hingga membuatnya marah?”
“Kau bersikap brengsek,” cibir Joe.
“Ceritakan secara detail. Aku sama sekali tidak ingat apa yang terjadi semalam. Aku akan meminta maaf kepadanya. Apa kalian tahu di mana Sara sekarang?” Tyler terlihat panik. Karena ia tahu kalau Sara sangat menyeramkan jika sedang marah. Ia sudah berteman lama dengan Sara dan sangat mengenal gadis itu.
Bren mengangkat bahunya cuek. “Kurasa dia tidak masuk hari ini. Aku belum ada melihatnya seharian—“
“Untuk apa kau meminta maaf padanya? Kau hanya mengatakan kebenaran pada si pemarah itu semalam.” Sharon tiba-tiba muncul dan mengambil tempat duduk di antara Tyler dan Joe. Tepat di hadapan Adam dan Bren.
Bren memutar kedua bola matanya saat melihat kehadiran tak diundang Sharon.
“Si Pemarah?” tanya Tyler. “Kau menyebut Sara pemarah?”
Sharon menggedikkan bahunya. “Siapa lagi kalau bukan dia?” katanya acuh sambil mengambil kentang goreng Bren tanpa izin.
“Ada hal yang harus kutegaskan padamu, Girl. Pertama, kau tidak mengenal Sara seperti kami mengenalnya. Jadi, berhentilah sok tahu. Kedua. Jika kau sekali lagi mengambil kentangku tanpa izin, maka aku akan memotong tanganmu. Biar kutegaskan. Kita tidak sedekat itu hingga aku rela berbagi makanan denganmu.” Bren menatap sinis ke arah Sharon. Gadis ini semakin lama dibiarkan semakin menjadi-jadi.
“Pergilah, Sharon. Kau cantik dan aku suka nongkrong denganmu. Tapi, urusan kami bukanlah urusanmu,” timpal Tyler. Ia tidak suka ada orang lain yang menjelek-jelekkan teman dekatnya.
Sharon menekuk wajahnya. Ia kesal. Mengapa jadi ia yang dipojokkan? Padahal niatnya adalah mendekati mereka. “Aku tidak menjelek-jelekkan teman kalian. Aku hanya memberi kalian pencerahan bahwasannya kalian bergaul dengan teman yang salah. Sara itu pemarah dan tukang bully. Kalian harusnya bergaul denganku saja. Jika alasan kalian berteman dengannya karena dia adalah satu-satunya keyboardist yang kalian miliki, maka aku bisa menggantikannya. Aku cukup handal bermain keyboard. Sejak kecil aku selalu ingin memainkan alat musik di depan banyak orang dan bergabung dalam sebuah band.”
Adam jarang tertawa lepas. Akan tetapi, penjelasan panjang lebar Sharon berhasil membuat Adam tertawa nyaring dan jelas sekali mengejek. “Kau pikir kau bisa menggantikan Sara? Apa kau sehebat itu?”
Tyler, Joe dan Bren ikut tertawa. Tyler bahkan sampai memegangi perutnya. “Kau lucu sekali, Girl. Bergabunglah dengan drum band sekolah. Kurasa itu lebih cocok denganmu.”
“Mungkin kau harusnya bergabung dengan grup lawak saja. Karena kau sangat menggelikan,” sahut Bren disela tawanya.
Sharon marah. Rahangya mengeras dan wajahnya sudah merah padam sekarang. Tidak terima diejek dan dipermalukan, Sharon bangkit dari duduknya. Ia menggebrak meja hingga atensi seluruh anak di kantin tertuju padanya.
Guyuran dingin milkshake jatuh di kepala Sharon. Mengalir di wajah dan tetesan dari ujung rambut membasahi bajunya. Sharon memutar tubuhnya. Menatap nyalang ke arah orang yang dengan kurang ajarnya sengaja menumpahkan milkshake ke tubuhnya.
“Ups…. Kupikir selokkan,” kata Sara dengan ekspresi kaget di buat-buat. Telapak tangannya menutupi mulut. Bersikap seperti sedang terkejut.
“Kau—“ ujar Sharon tertahan. Tanpa banyak bicara, ia mengangkat tangannya dan hendak melayangkan tamparan ke arah Sara.
Namun seseorang menahan tangannya. Sharon menoleh. Dan mendapati Bren sudah berdiri di sampingnya dan mencengkram erat pergelangan tangannya. Dengan marah Sharon berusaha melepaskan cekalan Bren.
“Lepaskan!” geramnya.
Bren tidak menanggapi Sharon. Ia tetap menahan tangan gadis itu.
Byurr….
Segelas minuman bersoda dituangkan oleh Tyler ke kepala Sharon. “Aku bukannya tidak sengaja. Tapi kau memang tampak seperti selokkan.”
Seketika tawa Joe, Bren, dan Sara pecah. Sebagai tanggapan dari celetukkan Tyler.
“Pergilah, Bitc*. Sebelum kami memperlakukanmu lebih buruk dari ini,” bisik Bren sebelum menghempaskan tangan Sharon dengan kasar.
Sharon hendak membalas mereka. Ia mengambil minuman soda di atas meja. Namun, sudut matanya menangkap Elle yang nampaknya baru memasuki kantin. Sudut bibir Sharon terangkat Ia punya rencana lain. Diletakkannya gelas minuman soda kembali ke atas meja.
Sharon tiba-tiba terjatuh dan menangis sejadi-jadinya. Kemudian ia berusaha bangkit dengan tertatih. Adegan yang dibuat oleh Sharon berhasil menarik perhatian Elle. Ia menatap nanar ke arah Sharon yang sudah sangat berantakkan.
Sharon segera menghampiri Elle dan memluk gadis itu. Ia menangis seengukkan dengan Elle yang menatap tajam ke arah Bren dan teman-temannya.
“Apa yang terjadi?” bisik Elle berusaha menenangkan.
“A-aku t-tidak ta-hu apa ya-ng t-ter-ja-di. Mereka hanya merisakku. Aku tidak tahu apa kesalahanku,” cerita Sharon dengan terbata-bata.
Elle tidak terima ini. Hal ini sudah pernah terjadi padanya dulu saat ia menyatakan cinta pada Bren. Jadi, dengan begitu saja Elle langsung mempercayai cerita Sharon.
Bren dan teman-temannya yang masih dapat mendengar apa yang diungkapkan Sharon pada Elle, menatap tak percaya pada Sharon.
Sara berjalan melewati Elle, dan menepuk pundak Elle. “Aku kasihan padamu. Karena mempunyai teman bermuka dua sepertinya,” gumamnya pelan sebelum beranjak pergi meninggalkan kantin.
Joe, Adam dan Tyler pergi mengikuti Sara. Akan tetapi, Bren masih tinggal. Ia menatap Elle penuh dengan iba. Sedangkan Elle manatapnya dengan penuh kemarahan.
“Berhentilah bergaaaul dengannya, Elle. Dia bermuka dua,” saran Bren. Namun, saran tulus Bren disalah artikan oleh Elle. Ia menganggap Bren suka mendiskriminasi orang lain. Elle membenci itu. Menurutnya Bren sangat tidak dewasa dan kejam.
Dengan tatapan penuh amarah Elle berkata, “Kau yang seharusnya berhenti berbicara padaku, Bren. Aku sama sekali tidak suka bergaul dengan Pembuli.”
Elle tidak menunggu respon Bren. Ia tidak ingin mendengar sepatah kata pun dari Bren. Meski itu sebuah alasan atau pembelaan. Menurutnya tidak ada pembenaran dalam tindakan pembulian.
Elle segera menuntun Sharon yang masih terisak untuk keluar dari kantin. Tanpa Elle sadari Sharon tersenyum sinis. Misinya berhasil.