3 Months Girlfriend

3 Months Girlfriend
Chapter 23: Pakaian Kebesaran



Sharon menepuk tangannya sekali dan tersenyum lebar. Respon yang sama sekali tidak Elle duga. Elle ikut tersenyum canggung. Sepertinya Elle berhasil membuat Sharon percaya atas kebohongannya.


Akan tetapi, senyum Elle memudar saat Sharon mengatakan, “Bagus kalau begitu. Dia sangat tampan. Kurasa aku menyukainya. Karena kalian sepertinya dekat, maukah kau menjodohkannya denganku?”


Sekali lagi Elle tertawa dan malah terdengar sumbang. Ia mengibaskan tangannya sekali lalu kembali menghadap wastafel dan mencuci tangan tanpa sebab. “Kami tidak sedekat itu. Mana mungkin cewek sepertiku bisa dekat dengan Bren?”


Elle melihat Sharon dari sudut matanya. Cewek itu terlihat mengerutkan kening. “Kalian tidak dekat, tapi mengapa ia meminjamkan bajunya padamu?”


Elle mengigit dalam mulut bagian dalamnya. Otaknya tiba-tiba terasa kosong. Apa yang harus ia katakan pada Sharon? Seketika entah mengapa pertanyaan Sharon yang sederhana terasa sulit bagi Elle.


Sesungguhnya Elle ingin mengatakan, “Ya! Kami berkencan! Dia milikku!” Namun faktanya tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir Elle. Elle ingin mengklaim pada semua orang bahwa Bren adalah miliknya. Akan tetapi, ia tidak bisa.


“Elle?” Suara Sharon membuyarkan keterpakuan Elle.


Elle mengedipkan mata beberapa kali. “Y-ya?”


“Jadi, apakah kau dekat atau tidak dengan Bren?”


Elle menghadap Sharon sekarang. Namun, matanya meliar kemana-mana. “Ah, ya…. I-itu…. Kami tidak dekat. Tapi, dia pernah berutang budi padaku sekali, jadi dia mau membantuku sekarang.” Elle meringis. Apakah pernyataannya cukup masuk akal sekarang? Apakah Sharon akan percaya padanya kali ini? Elle sungguh sedang tidak ingin menjawab pertanyaan Sharon yang terasa seperti introgasi bagi Elle.


“Utang budi?”


“Dia pernah meminjam buku catatan kalkulusku,” terang Elle cepat tanpa berpikir panjang. Lagi-lagi alasan payah yang keluar dari mulutnya. Elle memejamkan matanya sejenak sembari merutuki dirinya sendiri berulang kali.


Lagi-lagi tanpa diduga, Sharon membentuk huruf “O” sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Kupikir kalian dekat,” gumamnya.


Elle buru-buru menyerahkan tas kertas berisi baju Sharon. “Terima kasih. Tapi, aku akan menggunakan ini saja.”


Sharon mengambil tas kertas tersebut sambil berkata, “Mengapa kau tidak menggunakan ini saja? Kurasa pakaianku terlihat lebih baik di tubuhmu dari pada yang kau gunakan sekarang.”


Elle hanya tersenyum simpul mendengar pernyataan terus terang Sharon. Bagi Elle tidak ada yang lebih baik antara pakaian yang diberikan oleh Sharon maupun yang Bren beri. Pakaian Sharon terlalu minim sedangkan pakaian Bren terlalu besar.


Elle menggelengkan kepalanya pelan sambil memegang hoodie yang melekat ditubuhnya. “Aku memakai ini saja,” gumamnya. Elle tidak mau memakai pakaian Sharon bukan hanya karena dia merasa tidak nyaman menggunakan baju minim, tapi juga karena Bren mengatakan dirinya jelek saat menggunakan baju itu.


Dengusan kesal keluar dari bibir Elle. Apa ia memang sejelek itu saat menggunakan baju Sharon?


"Baiklah, kalau begitu. Ayo, pergi ke kelas bersama," ajak Sharon sembari mengandeng lengan Elle tanp persetujuan Elle.


Elle berjalan dengan setengah diseret. Sesungguhnya ia belum mau keluar dari toilet karena malu. Lagi pula, jam istirahat belum habis!


Tidak dapat menolak Sharon, Elle memilih untuk pasrah saja saat Sharon menyeretnya. Hingga akhirnya ia sampai di lorong kelas di mana semua murid berhambur, berkumpul.


Elle meniti satu persatu wajah murid yang menatapnya. Ada yang langsung menyenggol temannya dan langsung berbisik sambil menahan tawa. Ada yang langsung tertawa lepas. Ada yang menatap Elle dari atas ke bawah dengan tatapan aneh. Dan berbagai respon lain yang membuat Elle malu.


"Lihatlah! Dia terlihat seperti orang eskimo!" seru seorang cowok sambil tertawa.


Dengan wajah ditekuk, Elle menghentakkan kakinya menuju loker. Ini semua gara-gara pacar sialannya yang memberikan baju ini padanya! Elle membuka pintu loker dan mengambil bukunya dengan kasar.


"Hei... hei... are you okay?" tanya Sahron sambil menahan pergelangan tangan Elle yang hendak berajak pergi dari depan loker setelah membanting pintunya.


"Maaf. Aku baik-baik—"


"Oh. My. God! Redhead, apa yang terjadi dengan pakaianmu? Apa kau baru saja kehabisan baju musim semi di rumah? Kau terlihat sangat buruk! Seperti memakai karung goni!" celoteh Sara saat mereka tanpa sengaja. Sara tertawa nyaring. Diikuti kedua temannya, Joe dan Tyler.


Tyler menghentikan seorang anak berkepang dua, yang sedang membawa slinger¹ bekas musim dingin kemarin. Sepertinya anak tersebut baru saja membersihkan aula yang dipakai untuk acara festival musim dingin lalu.


Tyler mengambil dua slinger dari tangan anak itu. Warna ungu dan warna merah. Ia kemudian melilitkan slinger tersebut di leher Elle. "Nah... sekarang kau terlihat semakin bagus."


Tawa Sara pecah. Begitu pula Tyler. Mereka tertawa begitu nyaring. Sehingga anak-anak di sekitar mereka menatap ke arah Elle dan kembali berbisik.


Sharon nampaknya geram. Ia maju selangkah mendekat ke arah Sara. "Pikirkan urusanmu sendiri, Bitc*!—" geram Sharon, namun Elle menahan tangan Sharon dan menggelengkan kepala. Ia tidak ingin masalah menjadi lebih runyam. Lebih baik dia mengalah saja.


Sharon mendengus, dan menatap sengit ke arah Sara. "Woah, teman baru, huh?" tanyanya Sara sambil melirik ke arah Sharon.


Tyler yang mulanya tidak sadar akan kehadiran Sharon, bersiul sembari menatap penampilan Sharon dari atas ke bawah. "Kau seharusnya bergaul denganku saja, Cantik," goda Tyler sambil memncolek dagu Sharon.


Sara memutar kedua bola matanya. "Ini bukan waktunya untuk mencari pacar baru, Tyler," katanya sinis.


Tyler terkekeh dan mengalihkan perhatiannya ke arah Sara. Ia kemudian merangkulkan tangannya di bahu Sara dan menuntun Sara pergi. "Jangan khawatir, Honey. Kau tetap nomor satu bagiku," ucapnya dan hanya ditanggapi dengan Sara yang kembali memutar bola matanya.


Elle menahan Sharon agar tidak mengejar kepergian Sara dan Tyler. Ejekkan dari Sara dan Tyler memang memalukan, karena mereka melakukannya di depan umum. Namun, bagi Elle, itu bukan apa-apa. Jika, ia tidak menanggapi Sara dan Tyler saat ini, Elle pikir masalah tidak akan semakin melebar ke mana-mana.


"Kenapa kau membiarkan mereka mengejekmu, Elle?!" geram Sharon.


Elle menggedikkan bahu sambil melepaskan slinger yang melilit lehernya. "Tidak ada alasan khusus. Aku hanya tidak mau membuat masalah kecil menjadi besar."


"Kecil?" Sharon menatap tak percaya ke arah Elle. "Ini masalah besar, Elle! Sara Turner sudah menjadi tukang buli sejak SD, dan membiarkannya membulimu hanya akan membuatnya semakin berkuasa!" pekiknya.


"Kau mengenal Sara?"


"Tentu! Aku pernah satu sekolah dengannya dan aku salah satu korbannya!"


.


.


.


.


.


.


Note: 1. Slinger ilustrasi