
“Itu dia, bukan?” Elle terkejut saat mendapati Ander sudah berdiri menunggunya di luar toilet dengan tangan yang terlipat di depa dada. Ia menatap penuh selidik ke arah Elle.
Elle mengangkat satu alisnya. Ia tidak mengerti apa yang sedang Ander coba bicarakan. “Bren Hudson. Cowok yang dulu sering kau ceritakan padaku. Anak laki-laki yang kau bilang adalah penyelamatmu. Ayolah, Elle… aku sampai hafal semua ceritamu tentang dia, saking seringnya kau membicarakannya.”
Elle menganggukkan kepalanya malu-malu. “Mm-mm.”
Ander menjentikkan jari. “Sudah kuduga.”
“Tapi, Ander… jangan bicarakan tentang semua yang pernah kuceritakan padamu, kepadanya,” pinta Elle.
Kerutan di dahi Ander terbentuk. Ia tidak mengerti mengapa Elle meminta hal tersebut. Padahal ia baru saja ingin mengajak berbicara Bren tentang hal itu agar ia bisa lebih akrab dengan cowok yang disukai oleh sahabatnya ini. “Mengapa?”
“Karena dia tidak mengingatku sama sekali.”
“Bagaimana bisa?”
[Di tahun pertama SMA]
Elle senang karena ia kembali lagi ke negara tempat kelahirannya. Amerika Serikat. Meski sekarang ia tinggal di New York, tempat yang jauh dari Carolina Selatan–tempat paling penuh kenangan bagi Elle.
Ibu Elle seorang peneliti, sehingga bukan hal sulit bagi ibunya untuk menyekolahkan Elle ke sekolah elit seperti sekolahnya sekarang. Hanya saja, Elle belum terbiasa dengan lingkungan barunya ini.
Elle bingung harus dari mana memulai mencari teman. Rata-rata anak di sekolah ini sudah saling mengenal dan berteman sejak SMP bahkan SD. Sedangkan Elle baru pertama kali tinggal di New York dan jelas saja tidak mengenal siapapun.
Helaan napas keluar dari bibir Elle. Tahun pertama SMA harusnya menjadi momen menyenangkan karena ia akan mendapat teman baru. Tapi, melihat keadaannya sekarang sepertinya Elle akan kesulitan mendapatkan teman.
“Bren Hudson!” Teriakan seorang gadis membuat Elle menolehkan kepalanya cepat. Karena nama tersebut adalah nama yang tidak asing bagi Elle. Nama orang yang paling ingin Elle temui ketika kembali ke Amerika.
Akan tetapi, mungkin saja Bren Hudson di sekolahnya ini, bukanlah Bren Hudson yang ia kenal. Secara Bren yang ia kenal setahu Elle tinggal di Carolina Selatan bersama ibunya. Sangat jauh dari kota New York.
Ya! Tentu saja. Itu sudah pasti bukan Bren yang ia kenal. Kebetulan yang sangat tidak mungkin terjadi. Elle berusaha bersikap realistis, karena kebetulan seperti itu hanya akan terjadi dalam novel atau pun film.
Elle baru saja hendak pergi menuju kelas pertamanya. Namun, keramaian di depan lorong menarik perhatiannya. Tanpa sadar, ia berjalan menuju kerumunan para siswa.
“Tyler, I love you!” Seorang gadis berteriak lebih nyaring dari pada gumaman-gumaman yang memenuhi kerumunan. Cowok yang Elle pikir bernama Tyler mengedip ke arah gadis tersebut. Seketika teriakan histeris saling bersahutan.
“Sara! Kau juga bersekolah di sini? Aku tidak menduga kalau aku akan satu sekolah dengan Sara Turner!” pekik seorang cowok dengan bangganya.
Awalnya Elle tidak ingin peduli dengan kelompok anak populer yang baru saja lewat tersebut. Tapi, seorang dalam kelompok tersebut membuat Elle membeku seketika.
Cowok berbadan tinggi dengan rambut berwarna coklat. Elle tidak melihat warna mata cowok tersebut karena cowok itu sekarang sudah memunggunginya. Tapi, Elle tahu dia memiliki mata berwarna coklat. Senada dengan warna rambutnya.
Elle menepuk pipinya beberapa kali. Apa ia sedang bermimpi? Bagaimana mungkin kebetulan seperti ini tercipta. Cowok yang baru saja lewat tadi adalah Bren Hudson! Anak laki-laki yang selama tujuh tahun belakangan memenuhi memorinya dan sangat ia rindukan!
Elle mencubit tangannya sendiri dengan sangat kuat. “Aww…” pekiknya tertahan. Elle meringis karena rasa sakit yang dengan bodohnya sengaja ia buat sendiri. Elle melihat bekas merah akibat cubitan di tangannya.
Meski masih tidak percaya bahwasannya ia melihat Bren, tapi Elle sangat yakin kalau ia tidak sedang bermimpi!
Untuk semakin meyakinkan dirinya, Elle mengikuti cowok yang ia pikir adalah Bren teman masa kecilnya. Tidak sulit menemukan Bren Hudson di sekolahnya karena cowok tersebut adalah cowok populer di angkatannya.
Elle mengikuti Bren mulai dari kantin saat jam makan siang. Saat itu cowok tersebut sedang asik mengobrol dengan teman-temannya. Saat mengamati wajah Bren, Elle sangat yakin bahwasannya dia adalah Bren yang ia kenal.
Elle memastikan lagi saat jam pulang sekolah sudah tiba. Elle bergegas mencari keberadaan Bren dan mengikuti cowok tersebut hingga lokernya. Elle mengintip dari balik deretan loker. Berulang kali memastikan bahwasannya ia tidak salah lihat.
Setelah seharian mengikuti Bren, Elle semakin menyakini bahwasanya itu memang Bren yang ia kenal. Bukan orang dengan nama yang sama maupun orang dengan wajah yang sama.
Bren kali ini sedang sendiri. Tidak dengan teman-temannya. Haruskah Elle menyapa Bren lebih dulu? Kalau Elle menyapa Bren lebih dulu, apa Bren akan mengingatnya? Mereka terakhir bertemu adalah sekitar 7 tahun yang lalu. Itu sudah terlalu lama dan mereka masih kecil. Mereka masih berusia 8 tahun saat itu. Sudah pasti banyak yang berubah di antara mereka. Meski Elle tidak pernah melupakan Bren.
Elle memberanikan dirinya untuk keluar dari tempat persembunyiannya. Ia berjalan mendekat ke arah Bren yang baru saja mengunci pintu lokernya.
“Bren Hudson,” panggil Elle takut-takut.
Bren yang memunggungi Elle tidak bergerak sebentar, sebelum akhirnya memutar tubuhnya perlahan. Ia menatap ke arah Elle dengan alis terangkat. “Ada apa?” tanyanya singkat.
“Kau mengingatku? Elle. Ellena Clark. Carolina Selatan,” terang Elle dengan cepat karena merasa gugup.
“Tidak. Aku tidak mengenalmu,” jawab Bren dengan tegas. Sangat tegas tanpa keraguan.
“Kau yakin? Kita berteman 7 tahun lalu. Di Carolina—"
“Tidak. Aku tidak mengenalmu sama sekali,” potong Bren cepat. Ia membuang napasnya kasar. “Ini menyebalkan sekali. Hari ini cukup banyak anak yang mengaku pernah dekat denganku hanya karena pernah berada di satu sekolah yang sama denganku. Aku cukup lelah hari ini, jadi jangan semakin membuat mood-ku buruk dengan cerita-cerita karanganmu.”
Deg!
Kalimat Bren sangat tajam. Sangat-sangat tajam hingga membuat Elle terdiam seketika dan membeku, terpaku dan membisu. Elle tidak menduga sama sekali bahwasannya ia akan mendapatkan balasan setajam itu dari Bren.
Elle mengedipkan matanya beberapa kali hingga ia berhasil menguasai dirinya. Wajar saja Bren tidak mengingatnya. Waktu 7 tahun bukanlah waktu yang sebentar.
Senyum lebar terulas di bibir Elle. Tidak apa-apa jika Bren tidak mengingatnya. Cukup Elle yang mengingat Bren dan kenangan mereka. Elle bisa terima itu. “Maaf. Aku tidak bermaksud menganggumu. Aku pikir kau adalah orang yang kukenal.”
“Bren kau lama sekali!” teriakan seorang gadis membuat Elle menoleh ke belakang. Seorang gadis terlihat menunggu Bren dengan raut wajah bosan.
Bren berjalan melewati Elle sambil melengos dan melirik sinis ke arah Elle. Kemudian cowok itu tak lagi menolehkan kepalanya sedikit pun ke arah Elle hingga ia benar-benar hilang di balik tembok bersama dengan teman perempuannya.
Elle benar-benar dilupakan.