3 Months Girlfriend

3 Months Girlfriend
Chapter 15: I Got Her



“Maksudku? Seperti yang kukatakan. Aku memang berniat menjadi pacarmu.” Bren menatap serius ke arah Elle. “Jadi, Elle. Maukah kau berkencan denganku?”


Mata Elle membulat seketika. “A-apa?” katanya gugup.


Apa Elle tidak salah dengar? Seorang Bren Hudson mengajaknya berkencan?! Ya, Tuhan! Sepertinya ia sedang bermimpi sekarang.


"Mari berkencan, Ellena Clark," ulang Bren menegaskan.


Elle mengedipkan matanya beberapa kali. Ia tidak sedang bermimpi! Ini nyata! Bren benar-benar mengajaknya berkencan. Bukan sekedar hayalan Elle semata.


Siapa yang akan menolak berkencan dengan Bren Hudson? Elle rasa orang itu tidak waras. Siapapun ingin Brekencan dengan Bren. Mana mungkin Elle menolak Bren.


Elle menganggukkan kepalanya setuju. Anggukkanya pelan karena malu. Pipinya bersemu. Hal itu membuat Bren menjadi gemas. Ia mendekatkan wajahnya ke arah Elle.


Tentu saja, Elle dengan refleks memejamkan mata. Melihat Elle yang memejamkan mata, membuat Bren berniat untuk menggoda Elle. Ia kembali menjauhkan wajahnya dari wajah Elle.


"Kau kenapa memejamkan mata?" tanya Bren.


Hal itu membuat Elle malu! Benar-benar malu. Mengapa ia memejamkan mata? Apa baru saja ia berharap bahwa Bren akan menciumnya?


"Kau benar-benar memalukan, Ellena Clark!" rutuk Elle dalam hati.


Elle tidak yakin apakah masih bisa menatap wajah Bren setelah ini. Elle melepas sabuk pengamannya dan segera menarik gagang pintu. Ia ingin pergi, berlari dan bersembunyi saking malunya.


Namun, Bren segera menahan tangannya dan menarik tubuh Elle mendekat. Sebelum Elle menyadari apa yang terjadi, Bren sudah lebih dulu menempelkan bibirnya di atas bibir Elle.


Elle membeku seketika. Kupu-kupu terasa berterbangan di dalam perutnya. Perlahan ia ikut memejamkan matanya.


Bren menjauhkan bibirnya dari bibir Elle. Akan tetapi, dahi mereka masih menempel.


Elle tak mampu menatap mata Bren. Jadi, ia menunduk ke bawah. Pipinya sudah bersemu kembali. Elle mengigit bibir bawahnya. Ia berusaha menahan senyumnya agar tidak terlihat bodoh.


Namun, Bren menarik bibir bawah Elle denga ibu jarinya. "Jangan menahan senyummu. Aku suka melihatmu tersenyum."


Deg!


Elle tidak dapat menahan respon tubuhnya untuk tidak tersenyum. Ia rasa ia terlihat seperti orang idiot sekarang. Tapi, siapa peduli? Bren menyukai senyumnya!


Tiba-tiba suara ponsel Bren yang bergetar mengintrupsi keduanya.


"Aku harus pergi berlatih, Tyler sudah menghubungiku sejak tadi," kata Bren dengan raut wajah menyesal.


Elle menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa. Pergilah," kata Elle sambil tersenyum tulus. "Aku akan masuk ke—"


Belum sempat Elle menyelesaikan kalimatnya, Bren sudah menarik wajah Elle mendekat dan mengecup bibirnya singkat. "Aku akan menghubungimu nanti."


Elle tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum. Sebelum keluar dari mobil Bren, ia berkata, "Baiklah. Sampai jumpa."



Elle berlari masuk ke kamarnya dan melompat-lompat senang. Jantungnya bahkan masih berdebar. Bukan debaran yang menyebalkan. Tapi, getaran yang entah mengapa terasa menyenangkan.


Tubuh Elle terhempas di atas kasur. Ia menatap langit-langit kamarnya. Senyuman konyol tidak juga hilang dari wajahnya.


Tangan Elle memegangi bibirnya yang baru saja bersentuhan dengan bibir Bren. Semua terasa nyata. Rasanya masih membekas hingga sekarang. Ia melamun seperti orang bodoh mengingat kejadian tadi.


Siapa yang tidak akan merasa senang di sini? Dia baru saja berkencan! Dengan Bren! Orang-orang tidak akan percaya ini!


Elle mengambil ponselnya dan segera menghubungi Ander. Ia perlu teman bicara sekarang!



Bren masuk ke dalam studio sambil bersiul senang.


"Ada apa dengan senyuman bodohmu itu?" sindir Sara saat melihat Bren masuk ke dalam studio dengan senyuman yang sangat lebar. Hingga Sara pikir temannya ini sudah seperti seorang idiot sekarang.


"Apa ada hal bagus yang baru saja terjadi?" tanya Tyler penasaran.


"Kalian lihat sendiri. Aku baru saja mendapat jack pot." Bren merogoh saku celananya san mengeluarkan sebuah kartu memori. Kemudian ia segera mengulurkan kartu tersebut kepada Tyler.


Tyler menerima kartu memori tersebut, namun satu alisnya terangkat bertanya. Begitu pula Sara dan Joe. Mereka juga menatap ke arah Bren penuh tanya. Berbeda dengan Adam yang memang selalu tidak peduli.


"Lihat saja. Itu kartu memori dari black box mobilku. Lihat rekaman paling akhir. Dan kalian akan mengerti."


Tyler segera memasukkan kartu memori tersebut ke dalam ponselnya. Sara dan Joe ikut mendekat ke arah Tyler. Mereka bertiga sekarang sedang menatap layar ponsel Tyler penuh minat.


Saat apa yang ingin ditunjukkan Bren terputar di ponsel Tyler, tawa Tyler dan Joe segera tergelak.


"Kau berhasil, Dude," seru Tyler bersemangat.


"Eww..." gumam Joe saat melihat adegan ketika bibir Elle dan Bren menempel. Namun, setelahnya ia kembali terkekeh senang dengan hiburan yang baru saja Bren berikan.


Tyler dan Joe tidak berhenti tertawa puas. Mereka mengangkat tangan untuk melakukan tos dengan Bren. Bren menampar telapak tangan Tyler dan Joe satu persatu.


"Luar biasa, Bren. Aku hampir mengira kalau kau benar-benar jatuh cinta dengan gadis ini," komentar Joe sambil menyeringai.


"Kau harusnya berhenti menyanyi saja dan menjadi aktor." Sambil terkekeh puas, Tyler mengeluarkan kartu memori dari ponsel dan mengembalikan memori tersebut kepada Bren.


Sementara itu, Sara yang sejak tadi diam mengepalkan tinjunya. "Serius, Bren? Kau benar-benar mengajaknya berkencan?" ucapnya tidak terima. Bagaimana bisa cowok yang sudah ia sukai sejak SMP ini, mengajak berkencan seorang gadis yang tidak ia sukai sama sekali.


Bren memang selalu dekat dengan para gadis. Tidak. Para gadis itu yang selalu menempel padanya. Akan tetapi, tidak satupun di antara mereka yang pernah Berkencan dengan Bren.


Bren mengibaskan tangan di depan wajah. "Kami hanya bermain-main Sara. Jangan terlalu serius."


Sara rasa wajahnya sudah memerah sekarang saking marahnya. "Bagaimana biasa aku tidak peduli? Dia hanya akan menganggu kita! Bagaimana jika band kita kau abaikan karena berkencan dengannya?" Sara sengaja menggunakan band mereka sebagai alasan.


"Tenang saja, itu tidak akan terjadi. Bren sudah profesional," sahut Tyler dengan raut wajah jenaka.


"Apa kita tidak jadi berlatih hari ini? Jika tidak. Aku akan pergi sekarang," sela Adam yang sejak tadi hanya diam dan sibuk dengan gitarnya.


Bren menggelengkan kepalanya. "Tidak. Karena hari ini suasana hatiku sedang baik. Jadi, mari kita berlatih hingga pagi," serunya dengan penuh semangat.


Sara memutar bola mata dan menghentakkan kakinya. Dengan kesal ia berjalan menuju ke arah keyboardnya. Ia menghempaskan pantatnya dengan sangat dramatis.


Sara benar-benar kesal sekarang! Bagaimana mungkin teman-temannya mendukung hubungan Bren dengan Si Rambut Merah sialan tersebut? Meski pun hanya bermain-main, tapi ini tetap mengganggunya.


Sara bertekat, ia akan berusaha membuat Si Rambut Merah tidak betah berkencan dengan Bren! Cewek itu harus menjauh dari mereka!