3 Months Girlfriend

3 Months Girlfriend
Chapter 29: The One Who Sara Hate



Sara sangat suka berpesta. Ia menyukai hiruk pikuk keramaian saat pesta. Begitu pula teman-temannya. Tak pernah satupun di antara Tyler, Joe, Bren bahkan Adam yang pernah absen di pesta yang ia selenggarakan.


Namun, hari ini sungguh menyebalkan. Bren tidak juga hadir. Padahal tidak ada yang pernah telat datang ke pestannya apalagi sampai absen tanpa kabar seperti ini. Mereka berlima sudah berteman lama. Dan ini pertama kalinya Bren belum datang padahal pesta sudah berlangsung cukup lama.


 Mood Sara menjadi buruk. Pasti ini semua gara-gara Si Rambut Merah. Gadis itu selalu sukses membuatnya kesal. Gara-gara dia, Bren menjadi lebih jarang berkumpul dengan mereka. Padahal Sara sudah merasa senang saat beberapa waktu belakangan Bren sudah tak lagi nongkrong dengan gadis itu. Dia pikir mereka sudah putus.


 Nampaknya Sara terlalu cepat mengambil kesimpulan. Karena setelah Tyler mengejek Bren prihal hubungannya dan Elle. Bren langsung menemui gadis itu kembali.


Huft…. Sara tahu hubungan Bren dan Si Rambut Merah hanya sebatas taruhan.  Tapi, apa benar hubungan mereka hanya sebatas itu? Apa Bren benar-benar seingin itu memenangkan taruhan dengan Joe dan Tyler?


Bren tadi mengatakan padanya kalau ia hanya datang menemui Si Rambut Merah untuk menyapa saja. Lalu dia akan langsung ke rumah Sara untuk berpesta. Tapi, lihat sekarang! Sampai jam segini pun Bren juga belum hadir.


Sekarang sudah larut malam. Biasanya Sara akan mengakhiri pesta saat menginjak pukul satu malam. Hal itu karena ia harus bersekolah besok. Sara sebenarnya tidak peduli dengan sekolahnya. Namun, ia membutuhkan nilai-nilai sekolahnya untuk memperoleh beasiswa di Juiliard.


Sudah jam 11 malam. Bren tidak juga hadir. Sara kesal. Ia membuka ponsel di tangannya dan segera menghubungi Bren. Sara menutup satu telinganya yang tidak tertutupi ponsel dengan tangan. “Hei! Kau tidak jadi ke sini? Kami semua sudah berkumpul. Kau lama sekali. Kau bilang tadi, urusanmu tidak akan lama,” teriak Sara begitu Bren mengangkat panggilannya. Ia harus melawan suara musik yang nyaring agar Bren dapat mendengar apa yang ia katakan.


“Aku akan segera pergi ke sana. Jangan bubar sebelum aku datang,” sahut bren sebelum memutuskan panggilan secara sepihak.  


Sara berdecih kesal sembari melihat layar ponselnya. Bisa-bisanya Bren memutu panggilan telepon mereka secara sepihak! Dia berjalan menuju meja yang berjajar gelas plastik berwarna merah. Kemudian mengambil salah satunya dan meminum minuman keras di dalamnya dengan sekali tegak.


Sara meremas gelas yang sudah kosong tersebut dan membantingnya ke lantai. Punggung tangannya ia gunakan untuk mengelap bibirnya yang basah dengan punggug tangannya. Sara tahu menyediakan minuman keras di pesta merupakan tindakan ilegal. Namun, ia sudah berusia 18 tahun. Ia pikir ia sudah cukup dewasa.


Lagi pula, ayahnya terlalu sibuk sehingga tidak ada waktu untuk mengurusnya. Tidak ada orang yang akan melarangnya untuk meminum minuman keras sebanyak apapun. Bahkan hingga ia teler sekali pun.


Hanya saja, Sara cukup sadar diri untuk tidak teler karena biar bagaimana juga, ia tidak bisa datang ke sekolah dengan kondisi pengar.


“Kau kenapa?” tanya Adam yang tiba-tiba muncul di samping Sara. Adam menyandarkan tubuhnya di meja.


“Nothing.”


“Pasti karena Bren,” tebak Adam.


“Apa sejelas itu?”


Adam mengedikkan bahunya. “Yang lain mungkin tidak sadar. Namun, aku menyadarinya. Kau tahu sendiri aku suka mengamati.”


Sara menganggukkan kepalanya. Walau terkesan cuek dan tidak banyak bicara, Adam sangat perhatian sebagai teman. Hanya saja ekspresinya jarang sekali ia tampakkan.


“Bagaimana dengan pacarmu kemarin? Kau tidak membawanya kemari?” Sara berusaha mengalihkan pembicaraan.


Adam menyesap minuman di tangannya. “Kami sudah putus. Dia membosankan,” komentar Adam pendek.


Sara terkekeh. “Kau selalu begitu. Semua gadis kau bilang membosankan. Aku tidak tahu tipe seperti apa­—”


Senyum Sara tanpa sadar mengembang. Ia senang karena Bren akhirnya datang. Dengan langkah cepat membelah kerumunan, ia segera berjalan menuju ke tempat pusat perhatian. Namun, melihat orang yang berdiri di pintu masuk, membuat senyum Sara hilang seketika.


Sharon berjalan memasuki rumah Sara yang dijadikan tempat pesta. Siapa yang mengundang gadis menyebalkan itu? Astaga! Sara benar-benar membenci anak baru itu! Cewek yang menurut Sara sangat hobi mencari perhatian di mana-mana. Kebencian Sara terhadap Sharon bertambah saat Sara mengetahui bahwa Sharon bergaul dengan Si Rambut Merah.


Sara melangkahkan kakinya lebar-lebar mendekat ke arah Sharon. Dia menunjukan ekspresi wajah paling tidak bersahabat yang ia punya. Kedua tangan Sara terlipat di dada. Matanya menatap tajam ke arah Sharon.


Sharon membalas tatapan sinis sara dengan tersenyum manis. Senyum yang menurut Sara sangatlah palsu. Melihat senyuman menjijikan Sharon, membuat Sara membuang awajahnya ke samping dan mendengus kasar.


“Pergilah. Sebelum aku mengusirmu. Tidak ada yang mengundangmu ke sini—”


“Hei… aku tidak menduga kalau kau akan hadir.” Tyler berdiri di samping Sara dan tersenyum lebar ke arah Sharon.


Sara menatap tak percaya ke arah Tyler. “Kau mengundangnya?”


Tyler menganggukkan kepala dengan ekspresi tak berdosanya. “Ya. Aku mengundangnya. Buakankah  biasanya kita bebas mengundang siapa saja?”


“Ya! Tapi tidak dengan dia!” bentak Sara sambil menunjuk ke arah Sharon.


Sara kesal. Benar-benar kesal. Pesta yang harusnya menyenangkan menjadi menyebalkan kali ini. Ia berjalan meninggalkan Tyler. Jika ia berlama-lama melihat wajah Sharon, Sara rasa kesalnya tak akan lagi bisa dibendung.


Sara menaiki tangga. Ia masuk ke kamar dan mengunci pintunya rapat. Kehadiran Sharon membuat Mood-nya semakin memburuk. Sara membaringkan tubuhnya di atas kasur. Ia memilih untuk menyendiri.


Sudah cukup lama Sara berdiam diri di kamar dan hanya bermain sosial media. Terdapat pemberitahuan pesan masuk dari Bren.


Bren Hudson:


Kau di mana? Aku sudah datang sejak tadi.


Mood Sara membaik seketika. Dia dengan riang segera berlari menuruni tangga untuk menghampiri Bren. Semua temannya sudah berkumpul. Pesta pasti akan terasa lengkap sekarang. Tidak ada satu pun yang boleh absen lagi.


Sara mencari teman-temannya. Ternyata mereka semua sudah berkumpul di atas sofa tempat mereka biasanya nongkrong jika Sara menyelenggarakan pesta. Sara berhasil menangkap kehadiran Bren. Wajah Bren terlihat kusut. Dan wajah sara ikut kusut saat matanya menangkap Sharon yang ikut nongkrong bersama teman-temannya.


Gadis itu dengan sok akrabnya berusaha mencari perhatian teman-temannya dengan terus berceloteh riang. Sara mengepalkan tinjunya. Ia tidak suka ini. Dia tidak suka siaapapun yang dengan seenaknya masuk ke dalam lingkaran pertemanannya. Ditambah jika orang itu adalah Sharon.


Sara bersumpah akan memngusir Sharon bagaimanapun caranya!