
Bren hanya dapat melihat punggung Elle yang menjauh. Dia ingin mencegah kepergian Elle, namun urung.
Bren membuang napasnya kasar. Persetan dengan kemarahan Elle. Persetan dengan taruhan. Ia sudah tidak peduli lagi mau memang atau kalah taruhan.
Sara lebih penting daripada taruhan bodohnya dengan Tyler dan Joe. Maksudnya, biar bagaimanapun Sara adalah teman Bren. Dia tidak suka ada orang lain yang menghina temannya. Apalagi pertemanannya dan Sara tidaklah sebentar.
Sepenting itu arti Sara bagi Bren.
Bren berbalik pergi meninggalkan kantin. Dia segera menyusul teman-temannya.
Sharon sudah berhenti menangis. Elle mambawanya ke toilet dan membantu Sharon membersihkan diri.
Elle membantu Sharon mencuci rambutnya di wastafel. Lalu mengeringkannya dengan pengering tangan.
Tentu saja tindakan mereka berdua sukses menarik perhatian beberapa cewek yang pergi ke toilet. Tapi, Elle tidak peduli itu. Yang terpenting sekarang adalah Sharon. Bukan perasaan tidak nyamannya diperhatikan oleh orang lain.
Ketika Sharon sedang berganti pakaian dan Elle menunggu di luar wc, entah bagaimana pikiran Elle tiba-tiba melayang. Bren lagi-lagi memenuhi pikirannya.
Bagaimana jika Bren punya alasan merisak Sharon? Bagaimana jika ternyata Bren tidak bersalah? Mereka bilang Sharon bermuka dua. Apa benar?
Elle menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
"Sadarlah Elle! Ini bukan waktunya meragukan temanmu! Jelas-jelas Sharon yang ditindas. Bisa-bisanya kau masih meragukannya!" Elle merutuki dirinya sendiri dalam hati.
Tapi, bukankah harusnya ia mendengarkan penjelasan Bren lebih dulu? Bagaimana jika ada cerita yang luput dari pengelihatan Elle?
Sekali lagi Elle menggelengkan kepalanya kuat. Satu tangannya yang terkepal lalu memukul pelan kepalanya berulang kali.
"Elle? Kau kenapa?" Elle tersentak kaget saat mendengar suara Sharon. Sharon ternyata sudah selesai berganti pakaian.
Elle menggelengkan kepalanya cepat dan tersenyum. "Tidak apa-apa." Kemudian raut wajahnya kembali cemas. "Bagaimana denganmu? Apa kau baik-baik saja?"
Belum sempat Sharon menjawab pertanyaan Elle, Elle kembali berkata, "Tidak. Lupakan pertanyaanku. Tentu saja kau tidak baik-baik saja."
Elle kemudian mendekat ke arah Sharon dan memeluk gadis itu. Ia menepuk-nepuk pelan punggung Sharon.
"Aku tahu sekarang kau sedang tidak baik-baik saja. Tapi, aku yakin kau pasti akan baik-baik saja nanti. Saat semua sudah mulai terlupakan dan terganti dengan memori yang lebih baik," ucap Elle panjang lebar. Berusaha keras menghibur Sharon walaupun sebenarnya ia sendiri tidak tahu bagaimana cara menghibur orang lain. Makanya Elle merasa kalimat yang keluar dari mulutnya aneh dan tidak jelas.
Sementara itu, yang dihibur malah memutar kedua bola matanya. Elle tidak melihat itu karena mereka dalam posisi berpelukkan jadi wajah mereka tidak saling berhadapan.
Sharon menguraikan pelukkan mereka. "Terima kasih, Elle. Karena sudah mau menghiburku. Tapi, kurasa aku sudah baik-baik saja," kata Sharon sambil tersenyum cerah.
"Secepat itu?" batin Elle.
Elle membalas senyuman Sharon. "Bagus kalau begitu." Elle menepuk-nepuk bahu Sharon.
"Ngomong-ngomong, Elle."
"Ya?"
"Kelihatannya kau cukup sering berhubungan dengan Bren dan teman-temannya—"
Elle buru-buru melambaikan tangannya cepat. "Tidak. Aku tidak sering berhubungan dengan mereka ataupun terlibat dengan mereka. Jadi, kau tenang saja. Aku akan selalu berpihak padamu."
"Aku tidak memintamu berpihak padaku," kata Sharon sambil lalu.
"Eh?" Elle tidak mendengar jelas apa yang Sharon katakan.
Sharon mengibaskan tangan di depan wajah. "Lupakan saja." Sharon mengemasi baju kotornya.
Elle melirik takut-takut ke arah Sharon yang membelakanginya. Haruskah ia menanyakan kejadia lengkap tadi kepada Sharon?
Baiklah. Elle memutuskan untuk bertanya langsung kepada Sharon. Dengan begitu hatinya bisa lega karena sudah tahu kejadian tadi secara menyeluruh.
Entah bagaimana, hati kecil Elle hanya tidak mau meragukan Bren maupun Sharon.
"Sharon," panggil Elle yang sudah berhasil mengumpulkan keberanian diri.
"Bisakah kau menceritakan kejadian tadi secafa menyeluruh? Aku ingin tahu ceritanya. Jika kau tidak keberatan—"
"Aku keberatan." Sharon memutar tubuhnya cepat menghadap ke arah Elle dengan rahang yang mengeras. "Apa kau sekarang meragukanku? Padahal kau tadi baru saja bilang kalau kau akan selalu berpihak padaku."
"Bukan. Bukan begitu. Aku bukannya tidak percaya padamu. Aku hanya penasaran."
"Bagus kalau begitu. Simpan rasa penasaranmu. Satu hal yang harus kau ketahui tentang kejadian tadi adalah, mereka semua pembuli. Jangan dekat-dekat dengan mereka. Apalagi Sara dan Bren. Kurasa mereka berpacaran. Mereka sangat dekat dan sama-sama berwatak buruk."
Mendengar komentar Sharon membuat Elle terdiam seketika. Jika diperhatikan Bren dan Sara memang sangatlah dekat. Elle mengenal Bren dan tidak mengenal cowok itu di saat yang bersamaan.
Bisa jadi, sebenarnya Elle tidak mengenal sama sekali Bren. Bisa jadi selama ini dirinya hanya merasa mengenal baik Bren padahal nyatanya tidak.
Mereka berdua berpacaran. Tapi, di saat yang bersamaan juga merupakan dua orang asing.
Akan tetapi, Bren yang ia kenal saat masih kecil bukanlah orang yang seperti itu. Namun, waktu terus berjalan. Mereka sudah lama tidak berjumpa. Manusia bisa berubah bukan?
Elle jadi mengingat pristiwa ketika Bren dan teman-temannya mempermalukan Elle saat ia memberika coklat pada Bren di hari valentine. Benar. Bren sudah banyak berubah. Elle rasa, Bren yang sekarang bukanlah Bren masa kecilnya dulu.
"Elle." Sharon mengguncang pundak Elle. Membuat Elle tersadar dari lamunannya.
"Kau sering melamun," komentar Sharon.
Elle menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ah... iya. Kau sudah selesai? Kalau sudah. Kurasa kita harus pergi ke kelas sekarang. Jam istirahat sudah habis sejak tadi.
Elle duduk dengan Jackson di kelas terakhirnya. Sharon tidak ada di sana karena gadis itu tidak mengambil mata pelajaran sejarah.
"Kau ada di kantin saat teman barumu bertengkar dengan Hudson dan kawan-kawannya?" tanya Jackson sambil berbisik agar gurunya tak mendengar obrolan mereka.
Jackson sudah cukup jarang bertemu dengan Elle karena Elle lebih sering bergaul dengan Sharon belakangan ini. Jadi, tidak ada waktu bagi Jackson untuk mengajak Elle nongkrong dan berbagi cerita seperti biasa.
Elle menganggukkan kepala. "Memangnya ada apa?"
"Tidak. Hanya saja aku tidak suka kau bergaul baik dengan Hudson maupun dengan teman barumu itu. Siapa namanya?" Jackson menjentikkan jarinya seakan teringat sesuatu. "Ah... Sharon. Ya. Namanua Sharon. Orang-orang sering membicarakannya."
"Apa kau tahu cerita kejadian tadi secara menyeluruh?"
"Apa temanmu tidak cerita?"
Elle menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Apa Bren dan teman-temannya benar-benar membuli Sharon tanpa sebab secara tiba-tiba?"
Wajah Jackson tampak ragu. "Kurasa tidak. Karena dari yang aku tahu, Sharon yang menghampiri meja Bren lebih dulu. Mereka terlibat obrolan. Sebelum akhirnya Sharon menggebrak meja secara tiba-tiba sebelum akhirnya Sara datang dan menyiramnya dengan milkshake."
Elle diam sejenak. Dari cerita singkat Jackson membuat Elle menjadi sedikit meragukan Sharon. Elle tahu tindakan ini tidak benar. Namun, Sharon yang tidak mau bercerita soal kejadian sebenarnya pada Elle membuat kecurigaan muncul di hati jahat Elle.
Elle dilema. Jika Sharon tidak mau bercerita padanya, haruskah ia bertanya langsung saja kepada Bren? Elle benar-benar penasaran! Dia tidak tahu harus berpihak pada siapa.