
"Jangan marah. Aku akan menjelaskan semuanya," ujar Elle sambil berbisik. Ia sungguh merasa tidak enak karena Sharon masih berada di dalam toilet.
"Jelaskan!" kata Bren dengan nada rendah dan menuntut.
Elle mendekatkan dirinya ke arah Bren sembari melirik awas ke arah pintu masuk toilet. "Pelankan suaramu. Ada orang lain di sini."
Bren hanya menaikkan satu alisnya. Ia menatap lurus ke arah Elle. Menunggu penjelasan.
Elle mendesah pelan. Dia sebenarnya malu untuk mengatakan hal ini kepada Bren. Namun, jika ia tidak mengatakan yang sebenarnya kepada Bren, maka akan tercipta kesalah pahaman dan mereka akan kembali bertengkar. Padahal mereka baru saja berbaikkan. Ia memejamkan mata sejenak, kemudian berbisik, "Aku mendapatkan haid pertamaku hari ini secara tidak terduga. Pakaianku kotor jadi, aku terpaksa meminjam baju salah satu murid perempuan yang baru saja aku temui hari ini."
"Dan Jackson?"
Pertanyaan Bren membuat Elle memutar kedua bola matanya. "Jackson tidak melakukan apapun."
"Aku mendengar suaranya ketika kau di toilet tadi."
"Jackson hanya memeriksa keadaanku. Dan dia pergi saat cewek yang meminjamkan baju ini mengusirnya," terang Elle.
"Baiklah aku percaya padamu."
"Tentu saja kau harus percaya padaku. Karena aku mengatakan yang sebenarnya." Elle merasa kesal. Menurut Elle, Bren terlalu paranoid. Padahal sudah sangat jelas kalau ia dan Jackson hanya berteman.
Bren menatap Elle dari atas ke bawah dengan tatapan menilai. Sejujurnya, gaun pendek di atas lutut ini sangat menganggunya. Ditambah tatapan Bren terhadapnya sangatlah mengintimidasi.
Dengan kedua tangannya, Elle berusaha menutupi tubuhnya yang terbuka. "K-kenapa?" tanyanya gugup karena Bren sejak tadi hanya memandanginya.
"Jangan menggunakan pakaian ini!" Bren sambil menunjuk baju yang melekat di tubuh Elle tersebut.
"Lalu, jika aku tidak memakai baju ini, apa aku harus bertelanjang saja? Bajuku kotor, Bren! Aku tidak punya pilihan lain selain baju ini."
"Kau sangat jelek menggunakan baju ini. Jadi, kembalilah masuk ke dalam toilet. Aku akan segera kembali membawakanmu baju yang lebih layak."
Pernyataan Bren membuat Elle menyentakkan tangannya dan melengos pergi memasuki toilet tanpa mengatakan sepatah kata pun. Tanpa sengaja Elle membanting pintu toilet hingga berbunyi nyaring.
Hal itu membuat Elle sendiri terkejut akibat ulahnya sendiri. Tidak hanya Elle, Sharon yang sedang menggunakan lip cream di bibirnya juga tersentak kaget. Hal itu membuat lip cream yang seharusnya ditorehkan di atas bibir, mencoreng pipi Sharon.
Elle meringis. Ia benar-benar tidak berniat membanting pintu hingga senyaring itu. Elle bergegas mengambil tisu yang tergantung di dinding samping wastafel dan menyodorkannya kepada Sharon dengan wajah penuh penyesalan.
"Maaf," gumam Elle pelan.
Saron segera mengambil tisu pemberian Elle dan segera membersihkan pipinya. "Kau sepertinya sedang merasa kesal atas sesuatu," tebak Sharon tanpa menoleh ke arah Elle, ia memilih menatap dirinya dan Elle melalui kaca.
Elle melambaikan tangannya canggung. "Tidak. Aku hanya tidak sengaja membanting pintu tadi karena buru-buru masuk."
Bohong. Elle berbohong. Ia sebenarnya memang sangat kesal kepada Bren karena Bren mengatakan dirinya jelek.
Sekarang Elle dengan bodohnya malah tertawa canggung. Hal yang membuat Elle akan terlihat semakin konyol. Elle melambaikan tangannya cepat. Yang malah justru membuat dirinya terlihat panik. "Sungguh. Tidak ada yang terjadi padaku. Aku benar-benar tidak sengaja tadi. Maaf karena membuatmu terkejut."
Sharon menggedikkan bahunya acuh dan kembali membersihkan wajah. "Tidak masalah," katanya cuek.
Elle baru saja hendak berbalik pergi, saat Sharon membanting tisu di tangannya. Dia lalu memutar tubuh menghadap Elle dan berkacak pinggang. "Karena kita berteman. Kuharap suatu saat kau bisa lebih jujur padaku."
"T-teman?" ulang Elle dengan nada ragu.
Sharon menyentak kedua tangannya dari pinggang. "Kupikir kita sudah resmi berteman tadi," katanya dengan raut wajah terluka.
Elle buru-buru melambaikan tangan cepat. "Tidak... tidak, kita memang berteman. Aku hanya sedang merasa bingung tadi," jelasnya agar Sharon tidak salah paham. Ia sungguh akan merasa bersalah jika memang hal itu terjadi.
Sharon melebarkan senyumnya. "Baiklah. Karena kita sudah resmi berteman, jadi mari kita pergi ke kelas bersama." Sharon merangkul pundak Elle dan menuntunnya keluar toilet.
Tepat saat Sharon membuka pintu, tepat saat itu juga Bren muncul di hadapan Sharon dan Elle dengan membawa tas kertas di tangannya.
Elle pikir hanya dirinya lah yang terkejut. Karena Bren nampak terlihat biasa saja. Cowok itu menatap ke arah Elle tanpa ekspresi setelah melirik Sharon sekilas. Bren terlihat tidak peduli dengan kehadiran Sharon. Ia segera memberikan tas kertas di tangannya ke arah Elle dan pergi tanpa berkata sepatah kata pun.
Elle mengintip isi tas pemberian Bren. Ada dua kain yang terlihat seperti hoodie dan celana olahraga. Keduanya berwarna hitam. Dengan diam, Elle kembali masuk ke dalam toilet untuk berganti pakaian.
Setelah selesai berganti baju, Elle mematut dirinya sendiri di depan kaca. Ini jauh lebih buruk dari pakaian sebelumnya! Seluruh pakaian yang ia gunakan sangat kebesaran! Hoodie yang ia pakai bahkan panjangnya mencapai lutut Elle. Jangan tanya soal celana. Celana olahraga pemberian Bren sungguh sangat besar. Untung saja ada tali di pinggangnya yang dapat ditarik dan diikat hingga mencapai batas maksimal. Elle benar-benar tenggelam dalam tumpukkan kain!
Elle menggembungkan pipinya. Dia sungguh merasa kesal! Jika sebelumnya ia terlihat seperti gadis nakal, maka sekarang ia jauh terlihat seperti orang-orangan sawah. Tidak.... Tidak! Orang-orangan sawah bahkan tidak menggunakan baju hingga sekebesaran ini!
Tidak ada hal yang dapat menggambarkan betapa buruknya penampilan Elle sekarang. Pokoknya, ia merasa sangat mengerikan saat ini!
Elle mendengus, kemudian ia merunduk dan menggulung pipa celananya yang kepanjangan dengan susah payah. Setelah memastikan bahwa celananya tidak lagi menyapu lantai, Elle segera menggulung lengan tangannya sambil menggerutu.
"Apa kau berpacaran dengan cowok tadi?"
Suara Sharon membuat Elle menghentikan kegiatannya. Ia tidak menduga bahwasannya Sharon mengikutinya kembali ke dalam toilet.
Elle meneguk ludahnya dan menoleh ke arah Sharon yang terlihat sedang bersandar di pintu dengan kedua tangan terlipat di dada. Sharon menatap ke arah Elle dengan penuh selidik.
Elle menegak ludahnya dengan susah payah. Apa yang harus ia lakukan? Haruskah ia berbohong saja?
"T-tidak. Kami hanya berteman. Baju yang kau pinjamkan tadi terlalu kecil dan aku berinisiatif untuk meminjam baju kepadanya," Elle menjelaskan cepat nyaris tanpa berpikir.
Apa Sharon akan percaya dengan cerita karangannya? Elle tidak yakin karena Sharon terlihat sangat jeli.
Sharon menepuk tangannya sekali dan tersenyum lebar. Respon yang sama sekali tidak Elle duga. Elle ikut tersenyum canggung. Sepertinya Elle berhasil membuat Sharon percaya atas kebohongannya.
Akan tetapi, senyum Elle memudar saat Sharon mengatakan, "Bagus kalau begitu. Dia sangat tampan. Kurasa aku menyukainya. Karena kalian berdua sepertinya dekat, maukah kau menjodohkannya denganku?"