
Kelopak bunga berwarna merah muda dan ungu, berjatuhan ketika angin berhembus. Untung saja hari ini Elle mencepol rambutnya ke atas. Jadi, angin tidak akan membuat tatanan rambutnya berantakan.
Para pengunjung Rochester Lilac Festival sangat ramai. Karena festival ini hanya digelar setahun sekali saat musim semi. Kebanyakan yang hadir adalah sepasang kekasih. Mulai dari remaja hingga dewasa. Namun, tidak sedikit juga sekelompok keluarga yang datang bersama.
Elle menatap iri ke arah para pasangan yang bergandengan tangan. Ia menatap tangannya sendiri yang kosong. Tidak ada yang menggenggamnya. Elle melilik ke arah Yellena. Alih-alih datang bersama pacarnya, Elle justru malah datang ke sini dengan kakaknya yang menyebalkan.
Helaan napas Elle mengudara. Ia kembali melihat-lihat sekitar. Kelopak bunga berwarna merah muda jatuh ke rambut Elle. Elle tidak tahu nama pohon bunga di atas kepalanya ini. Sakura mungkin?
Kelopak bunga di telapak tangan Elle terbang bergabung bersama kelopak bunga lainnya saat angin berhembus.
"Bukankah itu Bren?" pertanyaan Yellena sukses membuat Elle menoleh cepat.
"Ayo ke sana." Tunjuk Yellena sembari menarik tangan Elle.
Elle mengikuti langkah kaki Yellena hingga mereka berdua tiba di depan sebuah panggung dengan Bren yang berada di atasnya. Bukan hanya Bren. Tapi, juga rekan satu timnya. Direction!
Bren terlihat menikmati penampilannya.
...🎶 🎶...
.......
.......
.......
...Sometimes I just wonder,...
...was it just a lie?...
...If what we had was real, how could you be fine?...
...'cause I'm not fine at all....
...I remember the day you told me you were leaving....
...I remember the make-up running down your face¹....
.......
.......
.......
...🎶 🎶...
Pandangan Bren bersibobrok dengan milik Elle. Tatapan mereka terkunci sejenak. Bagi Elle rasanya sangat lama. Dunia seakan berhenti di sekitarnya. Elle mengalihkan tatapannya dari Bren.
"Aku bertanya-tanya, mengapa kalian belum berkencan," bisik Yellena di telinga Elle.
Dengan ragu Elle bertanya pada Yellena, "Menurutmu, apa dia benar menyukaiku?"
Yellena mengangkat kedua bahunya. "Yang kulihat seperti itu. Temanmu yang satu lagi... siapa namanya? Jackson? Kurasa dia juga menyukaimu."
"Aku dan Jackson tidak saling menyukai seperti itu, Yellena. Kami hanya berteman," tegas Elle.
"Kamu mungkin tidak menyukainya seperti itu. Tapi, Jackson menyukaimu dengan cara yang berbeda."
Benarkah apa yang dikatakan Yellena bahwa Jackson menyukainya? Pasalnya tidak hanya Yellena yang mengatakan hal tersebut. Bren pun pernah mengatakan hal serupa. Elle menggelengka kepalanya kuat-kuat. Mereka hanya berteman.
Direction sudah selesai tampil. Seusai turun dari panggung, beberapa penonton menghampiri mereka, dan mengajak berfoto. Elle masih dapat melihat Bren tersenyum di depan kamera dengan beberapa gadis, dan berdiri terlalu dekat. Ini sungguh kekanak-kanakkan, tapi ia cemburu! Dia saja sebagai pacar Bren, belum pernah berfoto bersama!
Bren bisa sedekat itu dengan para gadis lain. Mengapa tidak dengannya? Elle mengambil ponselnya, dia mulai mengetik.
^^^Ellena Clark:^^^
^^^Apa aku dicampakan?^^^
Jemari Elle berhenti di udara. Ia menghembuskan napas pelan. Ini sungguh kekanakkan. Elle tidak seharusnya mengirim pesan seperti ini.
Tapi, ia sungguh merasa kekanakkan sekarang. Mengapa hanya ia yang gelisah dan merasa cemburu sedangkan Bren terlihat biasa saja? Apa hubungan mereka ini sungguh nyata?
"Elle! Ayo kita ke sana!" ajakkan Yellena membuat Elle yang sedang melamun jadi tersentak. Secara refleks ibu jarinya menekan tombol kirim.
Mata Elle membulat seketika. Ia tidak seharusnya mengirim pesan itu!
Elle mendengus kasar. Ia melotot ke arah Yellena. Kakaknya ini benar-benar....
Ah... Elle sampai kehabisan kata-kata. Ia menggeram dan segera berjalan melewati Yellena dengan kaki yang dihentakkan dengan keras.
Yellena hanya menggedikkan bahu dan menatap kepergian Elle dengan tidak peduli. "Dasar, Pemarah," gumannya sambil mengeleng-gelengkan kepala.
Sudahlah. Biarkan saja Yellena. Toh, Yellena jauh lebih tua dari pada Elle. Kakaknya itu pasti bisa mencari jalan pulang sendiri.
Tunggu! Ngomong-ngomong soal pulang, seharsnya yang cemas sekarang adalah Elle! Dia tidak membawa mobilnya sendiri karena ia pergi dengan Yellena tadi. Elle menepuk dahinya. Dia benar-benar bodoh!
Elle mangangkat bahunya acuh. Biarlah. Yellena pasti tidak akan meninggalkannya. Elle akan melaporkan Yellena pada ibu mereka jika Yellena meninggalkan Elle. Elle pun memutuskan untuk menikmati festival ini sendirian.
Elle dapat melihat seorang anak perempuan yang di gendong di atas bahu ayahnya. Sementara ayahnya memegangi kedua kaki putrinya yang menjuntai hingga ke melewati dadanya. Anak perempuan itu melakukan tos dengan seorang yang menggunakan kostum katak berwarna hijau. Mereka tertawa hangat.
Pemandangan yang sungguh membuat Elle iri. Ia kehilangan ayahnya sejak kecil. Kenangan dengan ayahnya sangat minim. Elle mengalihkan pandangannya, dan berjalan ke tempat lain.
Elle melewati berbagai kedai makanan yang terbuat dari mobil box. Orang-orang ramai mengantri hingga membuat barisan panjang.
Di sisi jalan terlihat seorang wanita yang bermain biola. Alunannya sangat indah hingga membuat Elle terhipnotis dan ikut menonton penampilan gadis itu bersama segelintir orang lainnya.
Tiba-tiba perut Elle berbunyi. Ia memegangi perutnya. Elle memutuskan untuk membeli hot dog di salah satu kedai.
Saat Elle sedang menikmati hot dog di salah satu meja, seorang cowok menghampiri Elle dengan salah satu tangan yang memegangi hot dog. "Boleh aku bergabung di sini? Semua meja sudah penuh."
Dengan mulut yang masih terisi penuh, Elle mengedarkan pandangan. Semua meja memang sudah terisi penuh. Jadi, Elle mengangguk.
Cowok dengan rambut pirang tersebut segera menarik kursi dan duduk di hadapan Elle. Ia segera melahap hot dog miliknya sendiri.
"K-kau da-tang s-sen-diri?" tanya cowok itu masih dengan mulut yang terisi penuh.
Elle tidak berniat memeperpanjang obrolan jadi dia hanya menganggukkan kepala. Berharap cowok di hadapannya ini mengerti bahwa ia tidak ingin berbicara dengan orang asing sekarang.
Namun, nampaknya cowok ini adalah tipikal cowok yang tidak peka. Ia menepuk tangannya sekali, dan berkata dengan sangat bersemangat hingga makanan di dalam mulutnya muncrat kemana-mana. "Kurasa ini takdir! Aku baru saja diputuskan oleh pacarku, dan pergi kemari sendirian. Dan sekarang aku bertemu denganmu di sini!"
Elle mengerutkan dahinya dan memundurkan kepalanya agar tidak terkena cipratan makanan dari mulut cowok tersebut.
"Memangnya kenapa kalau mereka bertemu di sini? Dasar cowok aneh!" Elle hanya bisa membatin tanpa mengungkapkannya langsung.
Seperti bisa membaca pikiran Elle, cowok itu kembali berkata, "Kita bisa berpacaran! Ini ide bagus, bukan? Kau pasti setuju kalau ini—"
"Uhuk... uhuk...." Elle tersedak san terbatuk. Ia memukul-mukul dadanya. Cowok ini benar-benar sinting!
Elle segera menegak habis minuman soda miliknya tanpa menggunakan sedotan dan langsung dari gelasnya. Elle meletakkan gelas plastiknya dengan kasar di atas meja dan menegaskan, "Aku—"
Belum saja Elle menyelesaikan kalimat seseorang menarik pergelangan tangannya hingga ia membuatnya berdiri. Elle menolehkan kepalanya ke arah pemilik tangan tersebut. Bren! Bren yang menariknya sekarang!
Bren menatap tajam ke arah cowok di hadapan Elle. Cowok asing tersebut ikut beranjak berdiri. Ia berusaha melepaskan tangan Bren dari pergelangan tangan Elle. "Hei, Dude! Kau tidak bisa sekasar itu dengan wanita!" tegurnya.
Bren segera menyembunyikan Elle ke belakangnya. "Dia pacarku! Ada masalah?" tanya Bren tajam.
"Dia bilang, dia sendiri."
Bren memutar kepalanya ke arah Elle. "Kau bilang padanya kalau kau sendiri?" Bren menuntut jawaban.
"Aku bilang padanya kalau aku datang ke sini sendirian, aku tidak pernah mengatakan bahwa aku—"
"Well, dia pacarku! Jadi, jangan coba-coba mendekatinya!" ancam Bren sebelum berjalan menjauh sembari menarik Elle bersamanya.
Saat cowok tadi sudah lepas dari pandangan mereka, Elle menarik tangannya hingga terlepas dari Bren. Tanpa bicara sepatah kata pun, ia segera pergi ke arah yang berlawanan dengan Bren.
"Kau mau mencari pacar baru, ya? Makanya mencoba mencari alasan untuk putus denganku?"
Pertanyaan Bren membuat Elle menghentikan langkahnya. Ia memutar tubuhnya dan berjalan kembali ke arah Bren dengan dahi yang berkerut. "Aoa maksudmu?" tanyanya tak mengerti.
Bren mengangkat bahunya. "Pesan yang kau kirim. Kau pasti sengaja membuatku menjadi orang yang bersalah agar kau bisa putus denganku. Agar kau bisa dengan mudahnya dekat dengan para cowok sialan itu!"
"Aku tidak pernah meminta putus, Bren! Aku juga tidak pernah mencoba mencari-cari alasan agar kita putus," elak Elle.
Bren tersenyum sinis. "Kau mengatakan tidak ingin putus denganku. Tapi, kau sendiri selalu dekat dengan para cowok—"
"Mengapa kau terus mengatakan bahwa aku dekat dengan para cowok? Kau yang selalu dekat dengan para cewek, dan membuatku merasa tidak berharga! Kupikir kau yang ingin kita putus!" teriak Elle emosi. Dadanya naik turun. Air mata yang tidak ia inginkan, mengalir melewati pipinya yang memerah.
Elle mengusap kasar air matanya. "Kalau kau mau bermain-main dengan gadis lain, kurasa kita memang benar-benar harus putus."
.
.
.
.
.
Note: 1. lirik lagu yang ditulis berasal dari lagu milik 5SOS dengan judul Amnesia.