
[Malam hari sebelumnya]
"Teman-teman! Aku sudah tahu siapa si picik Sharon!" teriak Sara lantang saat memasuki kafe tempat teman-temannya berkumpul.
Tak peduli dengan banyaknya mata yang beralih padanya, Sara tetap berjalan dengan percaya dirinya menghampiri teman-temannya yang berada di meja yang terletak di depan panggung kecil kafe.
"Siapa?" Tyler yang sedang menyesap cola, mencondongkan tubuhnya ke arah Sara yang baru saja duduk.
Joe menghentikan kegiatannya mengelap stick drum miliknya dan ikut antusias menunggu jawaban Sara. Bren ikut menunggu jawaban Sara walau ia tidak terlalu peduli. Sementara Adam, sibuk dengan ponselnya dan terlihat tidak tertarik sama sekali dengan informasi yang dibawa oleh Sara.
"Kalian ingat gadis gendut penguntit yang terobsesi dengan Bren di bangku SMP?" Sara memulai ceritanya dengan menggebu-gebu.
Tyler, Joe dan Bren mengangguk sambil menunggu kelanjutan cerita Sara. Sementara Adam, seheboh apapun teman-temannya, tetap tak mengusik dunianya sama sekali.
Sara memukul meja dengan telapak tangannya. Bagai telah menemukan jackpot di siang bolong. "Dia adalah gadis itu! Anne Hamilton!"
Joe mengibaskan satu tangannya di depan wajah. "Jangan mengada-ngada. Wajahnya saja tidak mirip."
"Dia operasi plastik dan diet ketat!" Sara menegaskan. Sambil mengeluarkan foto-foto di dalam tasnya. "Orang tuanya adalah seorang senator. Hal seperti merubah identitas sangat mudah baginya."
"Kau mencari tahu semua ini?" tanya Tyler sambil melihat-lihat foto Sharon sebelum operasi dan diet ketat beserta foto-foto setelahnya. Lalu, beralih ke foto saat Sharon masih bersekolah di sekolah lamanya. "Kau sama seramnya dengan Hamilton."
Sara menggedikkan bahu acuh. "Dia mengusikku. Jadi, aku perlu tahu siapa dia hingga berani mengusikku."
"Apa kau menyewa agen mata-mata atau semacamnya?" tanya Joe.
Sara melempar satu kentang ke arah Joe. "Jangan bodoh! Aku hanya meminta tolong kepada sekertaris ayahku. Bagaimana aku tahu, dia adalah Anne Hamilton, lihat saja foto saat penerimaan siswa baru di sekolah lamanya. Namanya masih Anne Hamilton, dengan wajah yang sudah menjadi cantik secara drastis."
Bren ingat. Dulu saat masa SMP memang ada gadis yang terobsesi dengannya. Sering mengikutinya ke manapun sampai ke tahap tidak wajar. Foto-foto Bren memenuhi loker gadis tersebut. Foto yang diambil secara diam-diam saat menguntit Bren.
"Apa itu artinya dia pindah ke sekolah kita karenaku?" tanya Bren sangsi.
"Kalau dilihat dari kejadian belakangan ini, sepertinya memang iya. Selain itu pasti dia juga sangat membenci Sara. Makanya ia berusaha menyingkirkan Sara dari kelompok kita. Juga, sepertinya ia memanfaatkan Clark sebagai jembatan untuk mendekati Bren dan kita. Oh ya, untuk menyingkirkan Clark, dia yang menulis artikel tentang hubungan Bren dan Clark," komentar Adam tanpa diminta.
"Wah, kau ternyata tahu banyak, ya?" sindir Tyler. Namun, tak ditanggapi oleh Adam.
Bren terpaku. Perasaan buruk tentang Sharon Hamilton yang mendekati Elle, membuatnya terganggu. Ia harus memperingatkan Elle.
Dengan hati-hati Elle mengobati ujung bibir Bren yang terluka.
"Kau harus berhenti berteman dengan Sharon Hamilton," ucap Bren dengan nada tak terbantahkan.
Elle mengerutkan dahi tidak mengerti. "Kenapa aku harus berhenti berteman dengannya? Dia temanku, dan kurasa kau tidak punya hak untuk—"
"Dia yang menulis artikel tentang kita di blog sekolah."
"Bagaimana kau bisa sangat yakin, kalau dia yang menulis?"
Bren menggedikkan bahunya. "Yakin saja." Kemudian Bren menatap semakin serius ke arah Elle. "Dia akan menusukmu dari belakang, Elle. Jangan terlalu mudah percaya dengan orang—"
Suara langkah kaki memasuki ruang kesehatan membuat Bren dan Elle bungkam seketika. Elle menarik tirai untuk menutupi mereka berdua.
"Kudengar dia sedang bertengkar dengan Sara sekarang di toilet," balas gadis lainnya.
Elle buru-buru membuka ponselnya. Dan melihat foto-foto yang tersebar di halaman blog sekolah.
"Apa memang sudah menjadi kebiasaan kalian mempermalukan orang?" Elle menyipitkan matanya menahan geram. Ia sudah tidak peduli lagi dengan dua gadis yang tadi barusaha memasuki ruang kesehatan.
Bren memutar bola matanya. "Ayolah. Dia pantas mendapatkan perlakuan seperti itu."
Elle menatap Bren tercengang. Bisa-bisanya ia menyukai tukang buli seperti Bren. Elle rasa, ia sudah salah jika berharap Bren yang berada di hadapannya ini adalah Bren yang sama dengan Bren masa kecilnya.
Tentu saja semua orang bertumbuh dan berubah. Dan dengan bodohnya Elle berusaha menepis fakta tersebut.
"Persetan denganmu, Bren!" geram Elle sebelum ia meninggalkan Bren. Dia harus menolong Sharon dari Sara.
Elle mempercepat langkahnya. Membelah kerumunan para siswa yang sedang asik menonton pertunjukan antara Sara dan Sharon.
Keduanya terlihat sangat kacau. Namun, dengan rambut acak-acakan karena saling menjambak. Mata Sara lebam dengan bekas cakaran di lengan. Ujung bibir Sharon sedikit robek dan berdarah. Selain menjambak sudah pasti mereka saling memukul dan mencakar.
Apa tidak ada satupun yang ingin melerai perkelahian yang terjadi? Semua hanya sibuk menonton dan merekam kejadian yang berlangsung. Dunia sudah benar-benar gila! Elle tidak habis pikir. Mengapa suatu pertengkaran bisa dijadikan hiburan bagi orang lain?
Apa di sini hanya Elle yang sadar bahwa ia harus menghentikan perkelahian di hadapannya? Elle tidak punya waktu untuk memanggil guru, jadi ia akan mencoba melerai Sharon dan Sara. Sharon pasti mendengarkannya.
Setidaknya itulah yang ada di pikiran Elle sampai kalimat yang dilontarkan Sharon membuatnya menghentikan langkah dan terpaku bisu.
"Akui saja, kau senang bukan saat aku membuat postingan di blog sekolah untuk mempermalukan Elle?" tanya Sharon kepada Sara. Sharon berdiri membelakangi Elle sehingga ia tidak menyadari kehadiran Elle.
Ternyata Bren tidak salah. Memang Sharon yang memposting tentang hubungannya dan Bren. Yang Elle tidak mengerti adalah, mengapa Sharon melakukan hal itu? Elle pikir mereka berteman. Dan teman tidak seharusnya saling menusuk.
"Cih. Setidaknya aku tidak berpura-pura ingin berteman dengan Clark," decih Sara. Well, setidaknya Sara tidak menyembunyikan ketidaksukaannya terhadap Elle.
"Setidaknya aku tidak berpura-pura tidak menyukai Bren," balas Sharon sengit.
"Aku tidak mengerti. Mengapa kau ingin berpura-pura berteman denganku?" tanya Elle dengan tatapan kosong ke arah Sharon sembari maju selangkah.
Sharon memutar tubuhnya malas sambil menjulingkan matanya jengah. "Kau tidak berkaca? Siapa di sekolah ini yang mau berteman denganmu? Ternyata kau tidak hanya naif tapi juga bodoh."
"Aku sungguh menganggapmu sebagai teman," gumam Elle pelan.
Sharon tertawa nyaring mendengar pernyataan Elle. "Kalau bukan karena kau! Aku pasti sudah bersama Bren sekarang."
Sharon mendorong-dorong dada Elle dengan ujung jari telunjuknya. "Memangnya apa sih bagusnya kamu?"
Walaupun dorongan dari telunjuk Sharon tidak terlalu kuat. Akan tetapi, Elle tetap berjalan semakin mundur ke belakang hingga menabrak kerumunan para murid.
"Kalau kau tidak menghalangiku. Sudah pasti jauh lebih mudah aku mendekati Bren. Cukup mengenyahkan Si Jalan* Sara. Semua pasti—"
"Jaga mulutmu, Bitc*. Kau pikir kau siapa, sampai bisa menyingkirkanku?" Sara melayangkan sebuah tas ke belakang kepala Sharon hingga Sharon nyaris tersungkur ke lantai.
Sharon menoleh menatap nyalang ke arah Sara. Dan adu kekuatan antara Sara dan Sharon kembali terjadi.