
Elle duduk di atas kasur sambil memandangi kartu undangan di tangannya. Haruskah ia datang? Jika Bren ingin memintanya datang ke pesta ulang tahun Sara, bukannya seharusnya ia berbicara langsung sendiri kepada Elle. Entah mengapa, perasaan Elle tidak enak soal ini.
Tadi, di sekolah Elle hendak bertanya pada Bren, tapi ia tidak berhasil menemukan Bren hingga pulang sekolah. Apa cowok itu sedang membolos hari ini?
Elle membaringkan tubuh hingga membuat kedua kakinya menggantung di pinggir tempat tidur. Pemandangan langit-langit di atasnya terhalang dengan layar ponsel yang ia pegang. Haruskah ia menghubungi Bren?
Baru saja Elle hendak mengirim pesan pada Bren, Bren lebih dulu mengiriminya pesan.
Bren Hudson:
Elle, bisakah kau hadir di acara ulang tahun, Sara? Aku tadi meminta Sara untuk memberikanmu kartu undangan. Apakah dia sudah melakukannya?
^^^Ellena Clark:^^^
^^^Aku baru saja hendak menghubungimu untuk masalah itu. Apakah tidak apa-apa aku hadir di sana? Sara nampak tidak menyukaiku. Jadi aku khawatir.^^^
Bren Hudson:
Tidak perlu khawatir, Elle. Ada aku di sana. Pokoknya aku menunggumu. Aku harus pergi sekarang. Ada banyak hal yang harus kulakukan. Jangan menghubungiku lagi. Kita bertemu dan berbicara lagi saat di pesta Sara. Bye. I Love You.
Elle mengernyit. Bren tidak pernah membumbuhkan kata "I Love You" di akhir percakapan mereka. Tapi, ia tetap tidak bisa mencegah senyum yang mengembang di wajahnya. Baiklah. Ia akan hadir ke pesta Sara malam ini, karena ia ingin bertemu Bren. Karena entah mengapa ia sudah merindukan cowok itu.
Alamat rumah Sara terpampang di kartu undangan dengan sangat lengkap. Jadi, Elle tidak kesulitan untuk menemukan rumah Sara.
Sesampainya di rumah Sara, ia terkejut. Ini bukan pesta yang ada di bayangan Elle. Lampu kerlap-kerlip, musik yang nyaring dan minuman keras. Minuman keras? Dari mana mereka bisa mendapatkan minuman keras? Mereka masih pelajar. Seharusnya akan sulit membeli dan mendapatkan minuman keras sebanyak ini.
Sepertinya Elle datang tepat di puncak acara. Karena sekarang semua orang sudah mengangkat gelas mereka. Lalu berteriak, "Happy birthday, Sara!"
Elle membelah kerumunan. Orang-orang menatapnya karena ia datang sendiri.
"Siapa dia?" Elle dapat mendengar seorang gadis berbisik kepada temannya.
Tidak ada satu pun wajah yang Elle kenal di sini. Elle harus segera menemukan Bren. Satu-satunya orang yang Elle kenal dan dapat Elle ajak bicara.
Elle meremas ujung roknya karena gugup. Ia merasa tidak nyaman berada di tempat di mana tidak ada seorang pun yang ia kenal. Ia merasa di perhatikan.
Elle terus mencari Bren, dan mengabaikan sekitarnya. Yang perlu ia lakukan sekarang hanya mencari Bren.
Hingga akhirnya Elle menemukan apa yang ia cari. Namun matanya membola saat ia melihat seorang gadis menghampiri Bren dan duduk di pangkuan Bren. Cowok itu tidak menolak!
Gadis pirang di pangkuan Bren mendekatkan wajah ke arah Bren. Elle membuang wajahnya. Matanya sudah memanas. Ia tidak sanggup melihat kelanjutan dari kejadian yang akan terjadi setelahnya.
Tanpa pikir panjang, Elle segera pergi dari pesta Sara. Di pintu keluar ia sempat bertabrakkan dengan Tyler. Namun, Elle tidak peduli. Ia ingin pulang saja. Ini sangat menyakitkan.
Air mata Elle tidak juga berhenti mengalir bahkan saat ia sedang mengemudi. Tangannya berusaha menghapus lelehan air mata di pipinya, tapi hal itu justru membuat air matanya mengalir semakin deras. Elle mengijak gas dengan kuat. Dia ingin segera sampai ke rumah.
Elle berhenti saat lampu lalu lintas berubah menjadi merah. Ia menenggelamkan wajahnya di stir mobil dan mulai melepaskan isak tangisnya.
Suara klakson mobil membuat Elle mengangkat kepalanya. Lampu lalu lintas sudah berubah menjadi hijau. Beberapa mobil yang melewati mobilnya, mengomel karena Elle tidak juga melajukan mobilnya.
Baru saja Elle menginjak gas secara perlahan, terdengar suara ledakkan dan sedikit guncangan pada mobilnya. Elle segera menepikan mobilnya.
Ponsel Elle berdering. Jackson kebetulan sekali meneleponnya. Dewi Keberuntungan sepertinya sedang berpihak kepada Elle kali ini. Mungkin karena tangisan Elle sangat menyedihkan, dan diperburuk dengan Elle yang tidak bisa membuka baut pada ban mobilnya, membuat Dewi Keberuntungan kasihan padanya.
Elle segera mengangkat panggilan telepon dari Jackson tersebut.
"Elle, kau baik-baik saja? Aku mendengar isak tangis di sana," tanya Jackson khawatir dari seberang telepon.
"B-ban... m-mobil-ku... bo-bocor... dan a-aku... ti-tidak bi-sa... meng-ganti-nya," jawab Elle dengan tersendat-sendat.
"Kirimkan aku lokasimu sekarang. Aku akan segera ke sana untuk membantumu mengganti ban mobilmu yang bocor."
Elle segera mengirim lokasinya kepada Jackson. Hingga tak beberapa lama kemudian Jackson datang menghampiri Elle yang sedang berjongkok di atas trotoar sambil menangis. Menatap ban mobilnya yang bocor.
"Elle," panggil Jackson lembut.
Elle mengangkat pandangannya dan segera berdiri. Jackson segera memeluk Elle.
"Aku tidak bisa mengganti ban mobilku," ucap Elle di tengah isak tangisnya. Suara Elle terendam karena wajah Elle yang tenggelam di dada Jackson.
Jackson mengusap pelan punggung Elle. "Tidak apa-apa. Aku akan menggantinya untukmu." Jackson berusaha menenangkan Elle.
Sara, Tyler, Joe dan Adam meninggalkan Bren sendiri. Dan ini benar-benar menyebalkan bagi Bren. Ia butuh teman bicara. Bren biasanya suka berpesta. Tapi, entah mengapa kali ini terasa membosankan. Mungkin karena teman-temannya tidak bermain dengannya sekarang.
Seorang gadis menghampiri Bren dan duduk di pangkuan Bren. Apa-apaan gadis ini? Apa dia pikir kaki Bren adalah kursi?
Gadis itu berusaha menggoda Bren. Bren hanya diam. Ia ingin tahu seberapa jauh gadis ini dapat bertindak. Gadis itu mendekatkan wajah ke arah Bren.
Bren menyunggingkan senyum miringnya. Lalu, mendorong gadis itu menjauh saat wajah mereka sudah terlalu dekat. "Membosankan," katanya sambil beranjak berdiri.
Percaya atau tidak. Biarpun Bren dekat dengan para gadis, tapi, Bren tidak pernah mencium salah satu di antaranya. Mungkin ini terdengar memalukan, dan Bren ingin menyimpan rahasia ini rapat-rapat. Karena teman-temannya pasti menertawakannya jika tahu bahwa Elle adalah ciuman pertama Bren.
Bren mendegus. Harus mencari salah satu temannya. Ia tersenyum senang saat melihat Tyler dari kejauhan.
"Aku melihat Elle," ujar Tyler begitu berhadapan denva Bren.
Bren mengernyitkan dahi. "Elle? Ellena Clark? Gadis yang kupacari sekarang?"
Tyler mengangguk sembari menegak minuman di gelas plastik berwarna merah di tangannya. "Dia pergi dengan menangis."
"Aku tidak memberitahunya soal pesta Sara," gumam Bren bingung. Bagaimana Elle bisa kemari, padahal ia tidak mengundang Elle sama sekali. Apa salah satu temannya mengundang Elle?
Tyler mengendikkan bahunya. "Kurasa kau harus mengejarnya jika tidak ingin kalah dalam taruhan. Sepertinya dia belum pergi terlalu jauh dengan keadaan seperti itu. Kau masih bisa menemukannya jika kau mengejarnya sekarang."
Bren segera keluar dari rumah Sara. Ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar bisa mengejar Elle. Bren berhasil menemukan Elle. Tyler benar, Elle belum berada terlalu jauh.
Namun, Elle tidak sendiri. Ia dengan seorang cowok yang Bren tahu betul bahwa itu adalah Jackson. Mereka berpelukkan di atas trotoar. Bren memukul stirnya. Sial! Untuk apa ia mengejar gadis itu jika ia hanya akan melihatnya sedang bermesraan dengan cowok lain.
Rahang Bren mengeras. Ia benar-benar merasa terganggu sekarang. Entah karena apa. Ia hanya ingin pergi menjauh dan tidak ingin berlama-lama di sini. Karena jika sedikit lebih lama saja, melihat pemandangan di hadapannya, Bren rasa ia bisa memukul wajah Jackson tanpa alasan.
Bren memutar stirnya. Ia akan kembali saja ke pesta Sara dan kembali bersenang-senang dengan temannya.