
Semenjak kejadian Sara yang dengan sengaja membuat kaki Elle terluka, Bren tidak lagi mengajak Elle untuk nongkrong bersama teman-temannya. Bren bilang, kalau Sara memang selalu mengacau jika ada orang baru masuk ke lingkaran pertemanan mereka. Karena Sara tidak suka ada orang asing menganggu latihan mereka.
Bren tidak meminta maaf atas kejadian itu. Karena memang bukan salah Bren hingga membuat kaki Elle terluka. Akan tetapi, Elle juga tidak mendapatkan permintaan maaf dari Sara. Tidak. Jika diingat lagi, kemarin Sara sempat mengatakan kata "Maaf". Hanya saja tidak tulus sama sekali. Malah terkesan seperti mengejek. Sejak itu Elle dapat merasakan bahwa Sara semakin sinis kepadanya. Meskipun semenjak kejadian tersebut Elle tidak lagi pernah berinteraksi langsung dengan Sara.
Namun biar begitu, hubungan Bren dan Elle hari demi hari semakin dekat. Setidaknya itulah yang dirasakan Elle. Walau ketika di sekolah terkadang Elle masih merasakan adanya jarak antara dirinya dengan Bren.
Hal itu wajar saja terjadi. Bren adalah cowok paling populer di sekolah. Sedangkan dia hanya seseorang yang nyaris tidak terlihat keberadaaannya.
Elle dan Bren sering mengobrol lewat telepon hingga larut malam. Sampai-sampai Elle sering bangun kesiangan belakangan.
Seperti hari ini. Jam beker di atas nakas sudah berdering sejak tadi. Tapi, Elle tidak juga beranjak dari kaurnya. Jika bukan karena Yellena yang menarik kaki Elle hingga jatuh dari atas kasur, maka mungkin Elle belum bangun hingga sekarang.
“Bangun, Tukang Tidur!” ucap Yellena sambil berkacak pinggang.
“Bisakah kau membangunkanku dengan lebih manusiawi?” gerutu Elle yang masih kesal karena Yellena berhasil membuat tubuhnya sakit karena berbenturan dengan lantai yang dingin.
Rambut Elle yang tidak terikat, mencuat ke mana-mana. Matanya sudah terbuka sempurna walau rasa kantuk masih menempel.
“Kau saja tidur seperti koala. Bagaimana bisa aku membangunkanmu seperti manusia?” ucap Yellena sebelum ia keluar dari kamar Elle. ”Cepatlah mandi! Sarapan sudah siap!” teriaknya dari ujung pintu kamar Elle.
Elle bangkit dari lantai. Ia berjalan menuju nakas untuk mengecek sudah pukul berapa sekarang, hingga membuat Yellena rela membuat kehebohan di pagi hari. Mata Elle membulat saat melihat angka yang tertera di jam beker digitalnya. Ia segera berlari menuju kamar mandi, dan bergegas bersiap-siap agar tidak terlambat.
Akan tetapi, masalah selalu muncul di saat yang tidak tepat. Elle sudah cukup lama menghambur segala penjuru rumah, untuk mencari kunci mobilnya. Tapi, entah mengapa di situasi genting seperti ini kunci mobil tersebut malah semakin sulit dicari. Elle menjambak rambutnya frustasi. Di mana ia meletakkan kunci mobil sialan itu?
Elle tidak bisa menumpang pergi dengan ibunya. Karena ibunya sudah lebih dulu pergi berkerja. Ini karena ia terlambat bangun!
Terdengar deru mobil di halaman depan rumah. Suara mobil Yellena. Benar juga! Masih ada Yellena. Mengapa opsi pergi ke sekolah dengan menumpang mobil Yellena tidak terlintas dipikirannya sejak tadi?
Elle segera berari keluar rumah dan masuk ke dalam mobil Yellena sebelum mobil tersebut sempat dilajukan.
“Keluar! Aku akan terlambat berkerja jika harus mengantarmu,” usir Yellena sambil membuka pintu mobil di samping Elle.
“Sekali ini saja. Aku sudah terlambat dan tidak dapat menemukan kunci mobilku. Kumohon.” Elle menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Berusaha meminta belas kasihan kepada Yellena.
Yellena memutar bola matanya dan mendengus. Ia menyerah. Tanpa banyak bicara segera Yellena mengantarkan Elle, agar ia tidak terlambat juga pergi berkerja. Sebenarnya apa yang dilakukan adiknya, hingga sering bangun terlambat akhir-akhir ini? Padahal tidak biasanya Elle bangun kesiangan jika bukan di hari libur.
“Kau tidak membawa mobil hari ini, Elle? Aku bisa mengantarmu pulang. Hari ini aku senggang,” tawar Jackson saat kelas hari ini sudah berakhir.
Elle mendesah lega. Setidaknya ia tidak perlu menghubungi Yellena untuk menjemputnya atau pun naik bus untuk pulang. Tawaran Jackson benar-benar membantu. “Terima kasih Jackson—“
“Terima kasih Jackson atas tawarannya. Tapi, Elle akan pulang denganku hari ini.” Bren tiba-tiba muncul di antara Elle dan Jackson.
Tentu saja Jackson berhasil dibuat kesal oleh Bren yang selalu muncul secara tiba-tiba dan menganggu kebersamaannya dengan Elle.
“Aku tidak pernah bilang mau pulang denganmu!” tukas Elle yang merasa kesal karena Bren lagi-lagi memotong kalimatnya.
Hal itu jelas membuat Jackson tertawa penuh kemenangan. “Kurasa dia tidak mau pulang denganmu, Dude,” katanya sambil menepuk-nepuk ringan pundak Bren.
Elle mendongakkan wajahnya menatap ke arah Bren. Jujur saja. Bren berhasil membuat jantung Elle berdebar tak karuan hanya dengan rangkulan di pundak seperti ini. Elle tidak tahu mengapa hal ini bisa terjadi.
Ya Tuhan! Jika Elle tidak segera menjauhkan diri dari Bren, Elle rasa jantungnya bisa meledak sekarang!
Elle melepaskan tangan Bren yang menggantung di bahunya dan melangkahkan kaki sedikit menjauh dari Bren.
“A-aku, akan pulang dengan Jackson saja,” kata Elle dengan gugup. Ia segera berjalan cepat untuk keluar dari gedung sekolah. Tanpa menunggu respon dari Jackson atau pun Bren. Elle berharap Bren dan Jackson tidak melihat pipinya yang sudah merona.
Jackson kembali tersenyum penuh kemenangan dan berlari-lari kecil menyusul Elle. Sedangkan Bren yang tidak mau kalah juga ikut menyusul Elle sampai mereka tiba di halaman depan sekolah.
“Tidak. Kau harus pulang denganku.” Bren menahan lengan Elle dan berkata penuh dengan penekanan dan perintah.
Jackson menarik paksa tangan Bren hingga cengkraman Bren lepas dari lengan Elle. “Dia tidak mau pulang denganmu. Kau harusnya tidak memaksanya,” geram Jackson.
Elle memejamkan matanya lelah. Ia segera pergi meninggalkan Jackson dan Bren yang masih sibuk berdebat tentang siapa yang lebih pantas mengantarkannya. Lebih baik Elle pulang dengan bus saja.
Baru beberapa langkah Elle pergi meninggalkan Bren dan Jackson, ponsel di sakunya berdering. Elle mengerutkan dahinya karena nomor tak dikenal yang terpampang di sana. Elle mengangkatnya karena penasaran.
“Hola,” sapa suara cowok di seberang telepon. Suara yang tidak asing di telinga Elle.
“An-der?” tanya Elle ragu.
“Kau sudah melupakanku rupanya, Little Girl?”
“Berhenti memanggilku Little Girl. Kau hanya lebih tua dua tahun dariku. Sebentar lagi aku juga akan berusia delapan belas tahun. Aku sudah hampir dewasa,” gerutu Elle. Ia sepenuhnya sudah melupakan Bren dan Jackson yang sejak tadi berdebat tentang mengantarkannya pulang. Elle benar-benar tenggelam dengan obrolannya bersama orang yang berada di seberang telepon.
“Ngomong-ngomong, aku tidak menelepon untuk mengobrol denganmu. Aku menghubungimu karena aku sudah berada di depan sekolahmu sekarang untuk menjemputmu.”
Elle mengedarkan pandangannya karena ia sekarang sudah berada di depan sekolah. Saat matanya menangkap sosok cowok berwajah Spanyol, senyum di wajah Elle segera melebar. Ia segera berlari menghampiri cowok tersebut.
“Ander!” pekiknya girang sambil melompat ke dalam pelukkan Ander. “Aku merindukanmu.”
Elle benar-benar senang bertemu dengan Ander. Ander Guzman adalah sahabatnya selama ia tinggal di Afrika. Meskipun berdarah Spanyol, tapi Ander lahir dan dibesarkan di Inggris. Sehingga ia memiliki aksen Inggris yang kental saat berbicara dalam bahasa Inggris.
“Aku juga merindukanmu. Ayo… aku akan mengantarmu pulang. Tapi sebelum itu kau harus ikut denganku,” ucap Ander sambil membawa Elle berjalan ke arah mobilnya.
Ander baru saja hendak menjalankan mobil saat seseorang membuka pintu belakang mobilnya.
“Bolehkah aku menumpang? Mobilku mogok.” Elle membulatkan matanya saat melihat Bren dengan seenaknya masuk ke dalam mobil Ander.
Sementara Ander menatap ke arah Bren dengan raut wajah bingung. Kebingungannya semakin bertambah saat seorang cowok dengan rambut hitam ikut masuk ke dalam mobilnya.
“Aku juga. Mobilku juga sedang rusak. Semua bannya tiba-tiba bocor," ucap Jackson dengan alasan tidak masuk akalnya, sembari duduk di samping Bren dengan nyaman.
Bren melotot ke arah Jackson yang mengikutinya. Ander masih tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Sementara Elle menatap kedua temannya dengan tatapan terpaku.
“Apa yang mereka lakukan, sih?!” sungut Elle yang masih terperangah dengan tindakan keduanya.