3 Months Girlfriend

3 Months Girlfriend
Chapter 10: Membuat Elle Pergi



“Serius, Bren. Kau mengajak gadis itu kemari?” tanya Sara sambil berkacak pinggang di samping Bren yang sedang menuangkan jus jeruk ke dalam gelas.


“Apa ada masalah, Sara? Kurasa kehadiran Elle tidak akan menganggu siapapun. Kita bisa bersenang-senang.” Bren menutup kotak jus di tangannya, dan memasukkannya kembali ke dalam kulkas.


Sara memutar bola matanya jengah. “Kita harus berlatih, Bren! Cewek itu jelas akan menganggu!”


“Seingatku, kau yang menganggunya kemarin saat ia memberikanku hadiah. Jika aku tidak salah ingat kau juga menendang kakinya hingga dia terjatuh,” Bren mengingatkan Sara atas perbuatannya yang mana hal itu malah membuat Sara semakin geram.


“Kau membelanya?!” Sara menggertakkan gigi.


“Aku tidak membela siapapun, Sara. Aku hanya mengatakan apa yang pernah terjadi. Itu saja,” jawab Bren santai. Sepenuhnya mengabaikan Sara yang sudah tersulut emosi. Bren pergi meninggalkan Sara dengan membawa segelas jus jeruk di tangannya.


“Aku akan membuatnya pergi, jika kau menolak membawanya pergi dari sini!” teriak Sara penuh tekat.


“Terserah saja, Sara. Lakukan apa yang ingin kau lakukan.” Bren balas berteriak dengan acuh.



Setelah membasuh wajah, Elle diam sejenak di depan cermin. Menimbang-nimbang apakah ia harus kembali sekarang atau nanti saja. Setelah yakin untuk kembali,  Elle mengambil tisu dari kotak yang tertempel di dinding dan mengeringkan wajahnya. Kemudian ia membuang tisu yang sudah tak lagi berbentuk itu ke dalam tong sampah.


Elle sengaja memperlambat langkahnya menuju studio. Ia tidak ingin cepat-cepat berada di sana. Tapi, entah mengapa, tanpa terasa ia sudah sampai juga di depan pintu studio yang agak terbuka sebagian.


Haruskah ia masuk sekarang atau tidak? Elle dapat mendengar suara cowok yang mengobrol di dalam sana. Tapi, ia tidak mendengar suara Bren. Apa Bren sudah ada di sana? Apa cowok itu masih di dapur, untuk mengambilkannya minum?


Tangan Elle terulur untuk meraih gagang pintu. Namun, ia menarik tangannya kembali karena ragu. Ia tidak mau berada di dalam ruangan itu jika tidak ada Bren di dalamnya. Rasanya pasti akan canggung dan tidak nyaman. Apa lagi tadi, Adam sudah dengan terang-terangan menunjukkan ketidak sukaannya kepada Elle.


“Apa yang sedang kau lakukan, Sweet heart?” Suara bisikan Bren di telinga Elle, membuat Elle berjengit kaget. Hingga membuat Bren yang mulanya berdiri tepat di belakang Elle, harus memundurkan langkahnya, agar jus di tangannya tidak tumpah dan mengenai dirinya ataupun Elle.


“Woah…  easy, Girl."


“Maaf. Kau mengejutkanku!”


“Tidak apa-apa. Ayo kita masuk. Kau bisa menonton kami berlatih.” Bren segera membawa Elle masuk ke dalam. Dan mempersilahkannya duduk di atas sofa. Kemudian Bren mengalihkan jus jeruk di tangannya ke tangan Elle.


Elle memegangi gelas pemberian Bren dengan kedua tangannya. Ia menyesap jus jeruk di dalamnya dengan perlahan. Rasa dingin dari minuman tersebut merambat ke tenggorokkan Elle. Rasanya manis dan segar.


Dari balik gelas, Elle dapat melihat Bren dan teman-temannya nampak sibuk dengan peralatan mereka masing-masing. Menurut Elle yang tidak tahu menahu tentang musik,  Bren dan teman-temannya terlihat keren.


Akan tetapi, Elle merasa ada yang kurang. Di mana Sara? Apa Sara marah kepada Bren karena kehadirannya di sini? Karena sangat jelas tadi, saat Elle baru saja datang, Sara dengan terang-terangan menunjukkan sikap ketidak sukaannya kepada Elle. Dan Elle tidak bodoh untuk tidak menyadari itu.


Terdegar suara pintu terbuka dan tertutup kembali. Orang yang baru saja Elle pikirkan, muncul. Sara memegang minuman dengan wadah mug yang terbuat dari kaca. Dari kejauhan saja Elle bisa melihat kalau minuman yang dibawa Sara adalah minuman panas.


Sara menghampiri Elle dan tersenyum lebar. Ia mengulurkan satu tangannya yang bebas ke arah Elle. “Kita belum berkenalan. Aku Sara Turner.”


Prank!


Belum sempat Elle menyelesaikan kalimatnya, Sara dengan sengaja menjatuhkan mug di tangannya. Hingga mengenai kaki Elle.


“Aww….” Elle dengan refleks mengangkat kakinya yang terkena cairan panas tersebut. Namun, karena tidak berhati-hati, telapak kakinya terkena pecahan kaca mug di lantai.


“Ups….” Sara menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Membentuk ekspresi pura-pura terkejut. “Maaf,” imbuhnya tanpa ketulusan sama sekali.


Bren yang mulanya sedang sibuk mengatur gitarnya, mengalihkan perhatiannya ke arah keributan yang berhasil Sara ciptakan. Bren memutar bola matanya sebelum meletakkan kembali gitarnya ke atas kursi. Tanpa banyak bicara ia segera keluar dari studio.


Elle meringis mendapati kakinya yang terasa perih dan terbakar. Ia ingin pergi ke toilet untuk membasuh kakinya. Namun, baru saja ia berdiri untuk bergegas keluar, Bren sudah kembali masuk ke dalam studio dengan membawa kotak P3K.


Tanpa banyak bicara, Bren kembali mendudukkan Elle di atas sofa dan mengobati kaki Elle. Elle menundukkan kepalanya dan berbisik di telinga Bren, “Bren, aku mau pulang,” pintanya dengan suara sepelan mungkin.


Bren menganggukkan kepala tanpa mendongak untuk menatap Elle, karena ia masih sibuk mengobati kaki Elle yang sudah berubah menjadi merah karena cairan panas. “Aku akan mengantarmu pulang setelah ini selesai.”


Sementara itu, di sisi lain, Adam yang sejak tadi tidak bersuara malah membereskan gitarnya dan memasukkannya ke dalam tas. Ia kemudian menyampirkan tas gitarnya tersebut di bahunya. “Kurasa kita tidak akan bisa latihan hari ini. Aku pergi dulu,” katanya dengan suara datar seperti biasa. Kemudian berjalan keluar dari studio tanpa menunggu respon dari teman-temannya yang lain.


Joe yang melihat kepergian Adam, bersiul kecil dan mengambil tasnya yang ia letakkan di lantai, di samping drum-nya. “Aku juga pergi kalau begitu.  Bye… sampai jumpa besok.”


Sara memutar bola matanya. “Apa kita tidak jadi berlatih hari ini? Kalian menyebalkan.”


“Kau yang membuat kita tidak jadi berlatih,” komentar Bren tanpa menoleh ke arah Sara. Ia baru saja selesai mengobati kaki Elle dan sedang membereskan kotak P3k-nya.


“Kau dari tadi menyalahkanku, Bren. Sudah kubilang untuk—” Belum sempat Sara menyelesaikan kalimatnya, Tyler lebih dulu menarik gadis itu untuk keluar dari studio. Karena Tyler tahu betul kalau Sara sudah marah maka gadis itu tidak akan berhenti mengomel bahkan sampai besok pagi.


“Lebih baik kita berpesta sekarang, Sayang,” bujuk Tyler sambil merangkul pundak Sara dan membawanya keluar dari rumah Bren. Walaupun Sara masih mendengus kesal, tapi ia tetap mengikuti Tyler keluar. Hanya Tyler yang dapat menjinakkan Sara ketika Sara sedang naik pitam.



Elle meminta Bren untuk menurunkannya di sekolah. Karena Elle ingin mengambil mobilnya yang tadi sengaja ia tinggal di sekolah. Bren tidak mendebat Elle dan menuruti permintaan Elle.


Kaki Elle tidak terluka terlalu parah. Jadi ia masih bisa mengendarai mobil. Hanya saja, sepertinya luka di kakinya akan membekas.


Setibanya di rumah, Elle mendapati Yellena yang sedang duduk di ruang tamu sambil membaca buku. “Kau tidak biasanya pulang terlambat,” komentar Yellena tanpa mengalihlan pandangannya dari buku.


“Seharusnya kau jual saja apartemenmu. Untuk apa kau mempunyai apartemen jika kau lebih sering berada di sini,” sinis Elle sebelum ia pergi menuju kamarnya. Ia sedang tidak dalam suasana hati ingin berdebat dengan Yellena.


Pikiran dan perasaannya sedang tidak baik. Ia terus menerus memikirkan perkataan Adam dan perlakuan Sara kepadanya. Apa ia memang setidak cocok itu bergaul dengan Bren? Elle menenggelamkan wajahnya ke tumpukkan bantal. Ia ingin tidur saja.