
Elle pikir ia dan Bren perlu bicara. Ia tidak dapat lagi menangis dan memendamnya sendiri. Elle mengajak Bren bertemu di dekat gudang sekolah. Karena di sana sangat sepi. Sangat jarang ada murid yang pergi ke sana.
Jemari Elle saling meremas karena gelisah. Apa yang harus ia katakan pada Bren ketika mereka bertemu nanti? Sesungguhnya Elle tidak tahu apa yang ingin ia katakan pada Bren.
Elle mengecek ponselnya. Cowok itu sudah membaca pesannya. Namun, mengapa tak juga datang kemari? Bren juga tidak membalas pesannya.
Mata Elle meliar ke mana-mana. Ia berjalan mondar-mandir. Lalu kembali mengecek ponselnya. Entah sudah kali ke berapa Elle memati nyalakan layar ponselnya demi memeriksa notifikasi masuk.
Sudah 30 menit. Bren tidak juga datang. Jam istirahat sudah hampir habis. Apa ini artinya Elle dicampakan?
Bren sudah membaca pesan Elle. Tapi, tidak membalasnya. Tidak ada kepastian dari Bren, entah dia mau datang atau tidak. Bukankah itu artinya Elle sudah diabaikan?
Elle mendesah lelah. Kedua bahunya merosot. Dengan tidak bersemangat ia segera kembali ke kelas begitu bel masuk kelas berbunyi.
Rochester Lilac Festival adalah acara yang sangat penting bagi Bren dan teman-temannya. Direction akan tampil di festival tersebut. Sehingga mereka berlatih dengan sangat giat demi bisa menampilkan penampilan terbaik di sana.
Siapa tahu dengan tampilnya Direction di festival tersebut, ada label rekaman yang mau melirik mereka. Karena Direction sampai sekarang masihlah band indi dan belum terikat dengan label rekaman manapun.
Bren dan teman-temannya memutuskan untuk membolos hari ini demi berlatih. Karena waktu mereka tampil sudah tinggal beberapa hari lagi.
Saat mereka beristirahat sebentar, Bren pergi ke dapur untuk mengambil air mineral.
Ponsel Bren yang diletakkan di atas meja, bergetar. Layarnya berkedip dan menampilkan satu pesan masuk. Nama Elle terpampang di sana.
Bren melirik ponselnya dari balik gelas di bibirnya. Ia menurunkan gelasnya dan segera membuka pesan dari Elle tersebebut.
Ellena Clark:
Bren, bisakah kita bertemu? Ada yang ingin aku bicarakan. Ini penting. Tentang kita. Aku tunggu di dekat gudang sekolah.
"Bren di mana kau menyimpan jus jeruk?" pertanyaan Joe membuat Bren yang mulanya ingin membalas pesan Elle, jadi urung.
Bren meletakkan ponselnya kembali ke atas meja dan menoleh ke arah Joe. "Di pintu bagian bawah. Kau tidak lihat? Padahal ada di depan matamu. Apa kau butuh kacamata Joe, agar pengelihtanmu bisa lebih jelas?" gerutunya.
Joe hanya meringis mendengar omelan Bren. Ia segera mengambil kotak jus di hadapannya, dan berjalan menghampiri Bren untuk menuangkan jus tersebut ke dalam gelas.
"Ayo latihan. Kita sudah beristirahat terlalu lama." Adam tiba-tiba muncul di ambang pintu.
Bren mengangguk dan segera mengikuti Adam pergi dari dapur. Posel di atas meja terlupakan. Begitu pula pesan Elle.
Akhir pekan terasa menyebalkan. Karena Elle belum juga mendapatkan kabar dari Bren. Ia menatap pesannya yang hanya dibaca oleh Bren tanpa dibalas.
Haruskah ia mengirim pesan lagi kepada Bren? Atau langsung telepon saja? Tapi, bagaimana jika ternyata Bren memang sudah tidak mau lagi berhubungan dengannya?
Terakhir kali Elle melihat Bren di pesta Sara dengan gadis lain yang jauh lebih seksi dari pada Elle. Apa itu artinya Bren sudah benar-benar beralih hati sekarang?
Akan tetapi, Bren harusnya memutuskannya dulu jika mau berhubungan dengan orang lain! Jika Bren sudah berpacaran dengan gadis lain sementara dia masih berpacaran dengan Elle, itu artinya Bren tidak menghargai Elle. Elle mengepalkan tangannya. Emosi membuncah di dadanya.
Elle mengubur tubuhnya di balik selimut. Mungkin tidur dapat membuatnya melupakan Bren untuk sesaat.
"Hei, Tukang Tidur! Bagun!" Yellena mengguncang tubuh Elle.
Elle mengambil bantalnya dan segera menutupi kepalanya. Berharap bantal dapat meredam suara Yellena.
Yellena semakin menjadi-jadi. Ia menarik selimut Elle menjauh dari Elle. Elle merasakan tubuhnya tiba-tiba terasa kosong. Dan itu sangat tidak nyaman.
Elle menurunkan bantal yang menutupi kepala dengan kasar. Ia beranjak duduk. Dan melotot ke arah Yellena. "Apa yang kau inginkan?! Ini akhir pekan, Yellena! Hari minggu!" bentaknya karena kesal.
"Ayo kita pergi ke Rochester Lilac Festival! Berhentilah mengurung diri."
Elle mencebik. "Pergi saja sana dengan pacarmu."
Yellena memutar kedua bola matanya. "Aku akan pergi dengannya kalau saja dia tidak sibuk. Tapi, meski begitu, aku akan tetap mengajakmu—"
"Aku tidak mau ikut!" tegas Elle. Ia kembali berbaring di atas kasur.
Yellena menarik tangan Elle hingga Elle kembali terduduk. "Tidak. Kau harus ikut!" Kali ini Yellena sudah berhasil membuat Elle bangkit dari kasur. Ia segera mendorong Elle ke kamar mandi. Elle tidam melawan lagi. Saudara perempuannya ini sangat keras kepala dan sulit sekali dibantah.
Ini luar biasa. Tampil di depan orang banyak merupakan hal paling mendebarkan sekaligus menyenangkan bagi Bren.
Saat gitar dan bas pertama kali dipetik. Drum yang dipukul. Tuts-tuts keyboard yang ditekan. Sorakan dan gumaman para penonton mulai terdengar. Di saat itulah Bren mulai bernyanyi dengan bebas.
Bren tersenyum. Ia sangat senang semua orang mendengarkan lagunya dan menikmatinya. Hal itu benar-benar membuat Bren bersemangat.
Penampilan Direction di festival ini dilakukan secara outdoor dan terbuka untuk umum. Orang-orang yang hadir dalam festival tersebut bisa dengan secara bebas menonton penampilan mereka.
Di bawah bunga-bunga yang bermekaran di musim semi, dan di tengah hembusan angin yang menyejukkan, Bren meniti satu persatu para penonton di hadapannya. Matanya terpaku saat berhasil menangkap seorang gadis berambut merah yang sangat ia kenal.
Dari kejauhan Bren dapat melihat dengan jelas bahwa Elle menatapnya dengan tatapan sulit dibaca. Tatapan mata mereka bertemu dan saling terkunci satu sama lain. Bren tidak mengalihkan tatapannya dari Elle karena ia penasaran dengan apa yang sedang Elle pikirkan.
Elle lebih dulu memutus tatapannya dari Bren. Ia mengalihkan pandangannya ke sekitar dan terlihat berbicara dengan Yellena. Sambil terus bernyanyi, Bren kembali memusatkan perhatiannya terhadap para penontonnya yang lain.
Saat Direction sudah selesai dengan penampilan mereka, orang-orang terutama para cewek mulai mengerubuni Bren dan kawan-kawan. Seketika perhatian Bren terfokus pada semua orang yang ada di sekitarnya. Ia menampilkan senyum terbaiknya saat seseorang mengajaknya berfoto.
Bren merasakan ponsel di kantong celana jinsnya bergetar. Namun, ia mengabaikan hal tersebut. Karena ia sedang sibuk dengan orang di sekitarnya.
Saat kerumunan yang mengelilingi Bren sudah mulai pergi, Bren segera merogoh saku celana dan langsung memeriksa ponselnya. Ada satu pesan dari Elle.
Ellena Clark:
Apa aku dicampakan?