
Hari demi hari kedai es krim langganan Bren dan Elle semakin ramai. Sebenarnya, kedai es krim ini sudah ramai sejak awal dibuka. Akan tetapi, setiap harinya entah mengapa menjadi semakin ramai. Hingga terkadang sampai sulit mendapatkan meja.
Seperti hari ini. Karena seluruh meja sudah penuh, akhirnya mereka memilih untuk membawa pulang pesanan mereka dan memakannya di taman yang berada tak jauh dari kedai es krim tersebut.
Soal baju kebesaran yang tadi diberikan Bren, Elle masih menggunakannya. Karena mereka belum sempat kembali ke rumah setelah pulang sekolah. Elle sudah memeksa Bren untuk mengantarnya pulang terlebih dahulu. Namun, Bren tak sedikitpun mengidahkan permintaan Elle.
Saat di taman, tentu saja Elle menjadi perhatian beberapa orang. Bahkan ada seorang anak kecil yang terang-terangan tertawa melihat penampilan Elle. Hal itu membuat Elle mengerucutkan bibirnya karena kesal. Menjadi pusat perhatian selalu sukses membuat Elle merasa tak nyaman.
Namun, Bren berulang kali mengatakan pada Elle kalau Elle menggemaskan. Itulah sebabnya semua orang memperhatikan dirinya. Alasan yang sama sekali tidak dapat Elle terima. Menggemaskan apanya? Memalukan, iya!
Di kedai es krim sudah cukup menyebalkan. Apalagi di taman! Jauh lebih menyebalkan. Karena lebih banyak anak-anak yang bermain di sana, ataupun hanya sekedar lewat dengan menggandeng tangan orang tua mereka. Para anak kecil tentu saja tidak bergosip, tapi mereka melihat Elle dengan tatapan heran yang tidak dapat disembunyikan.
Bren dan Elle duduk di atas ayunan sambil menikmati pemandangan di sekitar mereka. Sesekali Elle sedikit mendorong telapak kakinya ke tanah dan menyebabkan ayunan yang ia duduki berayun pelan.
Bunga bermekaran di tengah sejuknya hembusan angin musim gugur. Sungguh pemandangan yang manis, semanis es krim di tangan Elle. Namun, raut wajah Elle berbanding terbalik dengan es krim di gengamannya. Karena raut wajah Elle sekarang jauh dari kata manis, lebih tepatnya masam.
"Bahkan anak kecil saja mengejekku! Ini semua karena pakaian yang kau berikan!" keluh Elle sambil memasukkan es krim ke mulutya, ketika matanya menangkap seorang anak kecil yang tertawa setelah melihatnya.
Bren menyelipkan helaian rambut Elle ke belakang telinga. "Mereka tidak mengejekmu."
Elle menoleh dan menatap sengit ke arah Bren. "Mereka tertawa saat melihatku!"
"Itu karena kau menggemaskan, Sweetheart."
Elle mendengus. "Menggemaskan, my as*!"
Bren terkekeh lembut. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya. "Aku serius. Kau menggemaskan. Lagipula jika ada yang mengejekmu, kau tinggal mengabaikannya. Masalah selesai."
"Temanmu mengejekku tadi," gumam Elle sambil lalu.
"Lagi pula, tidak mudah mengabaikan orang yang mengejekmu. Kau mungkin berkata akan mengabaikannya. Tapi otakmu akan terus memikirkan ejekkan mereka." Elle melanjutkan dengan tatapan menerawang ke depan.
Bren menaikkan satu alisnya. "Siapa?"
"Apanya?" Elle bertanya balik dengan raut wajah bingung.
"Temanku yang mengejekmu?"
"Tentu saja Sara dan Tyler," ucap Elle masih berusaha terlihat acuh. "Tyler bahkan melilitkan slinger ke tubuhku. Katanya aku terlihat lebih—"
Bren mengibaskan tangannya sekali. Sambil tertawa kecil, ia berkata, "Sara dan Tyler hanya bercanda. Mereka gemar bercanda. Kau tidak perlu menanggapi mereka secara serius."
"Bukankah sesuatu dianggap bercanda jika kedua belah pihak tertawa? Aku tidak tertawa sama sekali. Hanya mereka yang tertawa!"
"Kalau begitu kau tinggal tertawa saja. Maka tindakan mereka akan menjadi bahan candaan."
Elle mengigit besar-besar cone es krim miliknya. Bren sudah pasti akan membela temannya! Percuma saja ia bercerita panjang lebar pada Bren.
"Kau marah?"
Elle mengedikkan bahunya. "Untuk apa aku marah?"
"Hanya memastikan saja. Siapa tahu kau marah akan sesuatu."
"Aku tidak—" perkataan Elle terputus ketika keram terasa di perutnya. Cone es krim di tangannya terjatuh ke tanah. Ia segera turun dari ayunan dan bersimpuh di atas tanah sembari memegangi perutnya.
"Elle! Apa yang terjadi? Apa kau baik-baik saja?" Bren terlihat panik saat memeriksa keadaan Elle.
"Aku akan membawamu ke rumah sakit. Bertahanlah," katanya sambil mengangkat Elle dengan ala bridal style, dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Tanpa pikir panjang Bren segera membawa Elle ke rumah sakit terdekat. Elle dilarikan ke ruang IGD¹.
"Sepertinya dia keracunan es krim! Dia tadi makan es krim yang kami beli, sebelum ia tiba-tiba sakit perut," jelas Bren dengan kalimat rancu.
Dokter dan perawat menganggukkan kepala dan segera memeriksa keadaan Elle.
Bren menyugar rambutnya ke belakang. "Bagaimana keadaannya, Dok?" tanyanya tidak sabar.
Setelah selesai memeriksa Elle dan berbicara singkat dengan perawat. Dokter wanita yang memeriksa Elle, tersenyum ke arah Bren.
"Pacarmu baik-baik saja, Nak. Kau tidak perlu khawatir. Dia tidak keracunan maknan. Dia hanya mengalami kram perut akibat menstruasi."
Hembusan napas lega Bren mengudara. Syukurlab Elle baik-baik saja. Jika tidak, maka Bren aka kebingungan bagaimana caranya menjelaskan segalanya kepada keluarga Elle.
Elle tertidur usai meminum obat pereda nyeri haid. Dan ia terbangun saat langit sudah gelap. Elle menoleh ke arah sebuah tangan yang mengenggam tangannya. Ternyata Bren masih menunggunya.
Senyuman merekah di bibir Elle. Tangan Bren terasa hangat dan Elle tidak ingin melepasnya. Bren tertidur dengan posisi duduk dan kepala yang bersandar di kasur tempat tidur Elle. Posisi tubuhnya sangat tidak nyaman, karena dia benar-benar merunduk.
Saat kepala Bren bergerak. Elle buru-buru memejamkan matanya. Ia tidak ingin tautan jemari mereka terlepas. Jika, Bren tahu bahwasannya Elle sudah terbangun, Elle takut Bren akan melepaskan tangannya dari Elle.
Bren memang terbangun. Dan Elle dalat merasakan itu. Karena sekarang, Elle merasakan kecupan yang cukup lama di punggung tangannya. Elle membuka matanya sedikit untuk mengintip raut wajah Bren karena dia amat sangat penasaran.
"Aku tahu kau sudah bangun," bisik Bren.
Hal tersebut jelas saja membuat Elle malu dan menyebabkan wajahnya merona. Akan tetapi, rona di wajah Elle di salah artikan oleh Bren.
Bren memegang pipi Elle dengan kedua tangannya hingga membuat bibir Elle mengerucut akibat mendapatkan tekanan dari kedua pipinya yang berkumpul di telapak tangan Bren.
"Aku akan segera kembali," kata Bren sambil membuka tirai dengan cepat.
Wajah Sharon terlihat saat tirai sudah terbuka sempurna. Bren tidak peduli dengan keberadaan Sharon. Akan tetapi, Elle peduli.
"Kupikir kalian hanya berteman, dan tidak sedekat itu?" kata Sharon sambil menatap bergantian ke arah Elle dan Bren.
Bren baru saja ingin mengatakan, "Bukan urusanmu!"
Akan tetapi, Elle lebih dulu berkata sambil melambaikan tangannya cepat, "Kami memang hanya berteman. Bren tadi kebetulan lewat saat aku sudah hampir pingsan karena nyeri haid."
Bren merasa terganggu dengan kalimat penjelasan yang dilontarkan oleh Elle. Mereka memang setuju untuk merahasiakan hubungan mereka dari teman-teman sekolahnya. Tapi, entah mengapa ia merasa terganggu.
Bren tidak mengetahui penyebabnya! Ia hanya tidak suka saja.
.
.
.
.
Note: 1. IGD= Instalasi Gawat Darurat