
Bren keluar dari ruangan pesta saat nama Tyler muncul di layar ponselnya.
“Bagaimana? Apa kau berhasil mengajaknya berkencan hari ini? Aku dan Joe benar-benar penasaran! Kami melihat kau meninggalkan mobilmu di sekolah. Ke mana kalian pergi?" tanya Tyler dengan begitu antusias.
Bren memutar bola matanya malas. “Tidak. Semua rencana yang kuceritakan pada kalian gagal total. Dan sekarang aku terjebak di pesta bodoh sialan ini. Macaron, cup cake, dan berbagai kue warna-warni lainnya benar-benar menjijikan. Terlalu banyak makanan manis yang bisa membuatku terkena diabetes hanya karena melihatnya saja,” keluhnya dengan raut wajah kesal.
Terdengar suara tawa nyaring di seberang telepon. “Serius, Bren? Apa yang kau lakukan hingga terjebak di dalam pesta payah seperti itu?” kali ini suara Joe yang berbicara.
“Aku juga tidak tahu apa yang kulakukan di sini. Yang jelas aku sudah benar-benar bosan. Bisakah kalian menjemputku? Aku akan mengirimkan alamatnya pada kalian.”
”Baiklah. Tunggu sebentar. Kami akan segera menyelamatkanmu. Tapi, jika kau berubah pikiran dan memilih bertahan di pesta itu—"
“Kutunggu. Jangan terlalu lama. Atau aku akan mati kebosanan di sini!” potong Bren cepat sebelum mematikan ponselnya tanpa menunggu sahutan dari Tyler.
Jackson menyesap minuman di tangannya sembari menatap ke arah Elle yang nampaknya baru saja selesai dari toilet. Elle nampak berbincang serius dengan Ander. Entah mengapa Jackson merasa tidak senang karena ada cowok lain yang ternyata lebih dekat dengan Elle ketimbang dirinya.
“Kalau kau menyukai Elle. Kau harus segera mengajaknya berkencan. Karena kurasa sainganmu cukup berat.” Jackson menoleh menatap ke arah Yellena yang pandangannya lurus menatap ke arah Bren yang baru saja melewati pintu masuk.
Jackson menggelengkan kepalanya pelan. “Hubungan kami tidak seperti itu. Kami hanya berteman,” sanggah Jackson.
“Benarkah? Yang kulihat kau nampak seperti menyukai Elle,” komentar Yellena sebelum beranjak pergi menghampiri pacarnya.
Apa sejelas itu perasaan Jackson terhadap Elle hingga Yellena menyadari perasaannya? Apa Elle juga sadar bahwasannya Jackson memiliki perasaan untuknya?
Jackson melihat Bren yang nampak berbicara dengan Ander dan Elle. Apa ia harus menyatakan perasaannya kepada Elle seperti saran Yellena? Karena jika Elle berkencan dengan Bren, Jackson takut Elle akan meninggalkannya dan tidak lagi bergaul dengannya.
Tapi, jika Jackson menyatakan perasaan kepada Elle dan ditolak, Jackson takut hubungan persahabatannya dengan Elle akan merenggang. Jackson takut mereka akan menjadi canggung.
Jackson menyukai Elle. Namun, ia ingin hubungannya dengan Elle selalu seperti ini. Tidak ada yang menganggu. Tidak ada orang lain di dalamnya. Tapi, apa itu mungkin terjadi? Pada akhirnya Elle pasti akan berkencan dengan siapapun itu.
Jika Elle berkencan dengan orang lain, apa Elle akan membuang Jackson?
Jackson menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Elle tidak mungkin melakukan hal itu padanya. Mereka sudah cukup lama berteman. Jackson adalah satu-satunya teman Elle di sekolah.
Akan tetapi, pacar dan teman adalah dua hal yang berbeda. Seseorang akan cenderung mengutamakan pacar dari pada teman. Jadi, haruskah Jackson mengajak Elle berkencan saja?
Jackson menegak minumannya hingga tandas. Ia benar-benar merasa bingung sekarang.
Elle ingin menanyakan kepada Bren maksud dari perkataanya yang menyatakan bahwa ia merupakan calon pacar Elle. Namun, hingga sekarang Elle masih belum juga menanyakan hal tersebut kepada Bren.
Tadi pagi secara tidak terduga Bren menjemput Elle untuk berangkat ke sekolah bersama. Elle terkejut, senang dan bersemangat di waktu bersamaan. Yellena bersiul menggoda Elle dari ambang pintu saat ia melihat Elle masuk ke mobil Bren.
Meski begitu, sepanjang perjalanan ke sekolah Elle tidak juga bertanya maksud Bren kemarin. Semua pertanyaan sudah berkumpul di otak Elle. Tapi Elle selalu urung ketika mau bertanya. Ia ragu. Bagaimana jika pernyataan Bren kemarin hanya sebuah candaan?
Di sekolah saat jam makan siang Elle hendak menghampiri Bren dan bertanya. Namun, di kantin Bren tampk sibuk dengan teman-temannya dan para gadis.
Para gadis? Elle benar-benar kesal! Bagaimana bisa kemarin dia dengan santainya mengatakan pada Yellena kalau dia adalah calon pacar Elle, tapi hari ini dia sudah bersama para gadis lain? Dilihat dari pakaiannya, mereka adalah anggota cheers. Sekelompok cewek cantik dan populer.
Elle menatap dirinya sendiri dan menghela napasnya pelan. Kemudian seperti orang tidak waras, dia menertawakan dirinya sendiri hingga membuat sebagian anak yang berada di sekitarnya menatapnya aneh.
"Jangan bermimpi, Elle! Kau bodoh sekali hingga menganggp bahwa apa yang dikatakan Bren kemarin bukanlah sebuah candaan."
Elle pergi meninggalkan kantin. Nafsu makannya hilang seketika.
Elle marah. Entah marah pada siapa. Marah pada Bren yang dekat dengan gadis lain atau marah pada dirinya sendiri yang terlalu berharap. Elle tidak tahu pasti.
Kenapa juga ia harus marah pada Bren yang dekat dengan para gadis? Bren memang selalu di kelilingi para gadis cantik. Helaan napas keluar dari mulut Elle. Ia seharusnya tidak boleh berharap dengan sesuatu yang mustahil.
Sepulang sekolah Bren menunggu Elle untuk pulang bersama. Namun, Elle menolak dan mengatakan bahwa ia akan pulang dengan bus.
“Kau marah padaku?” tanya Bren yang sedang sibuk memperhatikan Elle yang sejak tadi berusaha keras menghindari tatapannya.
“Tidak. Aku tidak marah padamu,” kata Elle singkat tanpa menoleh ke arah Bren.
Elle memejamkan matanya sejenak. “Aku tidak marah padamu, Bren. Aku marah pada diriku sendiri karena mengharapkanmu! Bisakah kau membiarkamu sendirian hingga rasa cemburuku yang kekanakkan ini hilang?” Elle ingin meneriakkan kalimat itu. Tapi, ia urung dan malah mengulaskan senyum sebaik mungkin.
“Aku bisa pulang sendiri, Bren. Jadi, kau bisa pergi sekarang.”
“Kau mengusirku?” Bren terlihat gusar saat mendengar Elle mengusirnya.
“Tidak. Aku tidak mengusirmu—“
“Kalau gitu kau harus pulang denganku.” Bren menarik paksa pergelangan tangan Elle.
Elle tidak lagi berani membantah ataupun protes pada tindakan Bren. Karena wajah Bren sekarang terlihat tidak bisa dibantah. Elle menuruti Bren. Ia masuk ke dalam mobil Bren.
Sepanjang perjalanan mereka hanya diam. Bren tidak berbicara sepatah kata pun. Dan Elle terlalu takut untuk mengatakan sesuatu.
Hingga mereka sudah sampai di depan rumah Elle, mereka masih juga saling diam. Mesin mobil sudah dimatikan. Rasanya tidak nyaman seperti ini. Jadi, Elle dengan takut-takut bertanya pada Bren, “Kau marah padaku?”
Raut wajah Bren terlihat bingung. “Tidak.”
“Kau tidak mau berbicara denganku sejak tadi. Kupikir kau marah.”
“Kupikir kau yang sedang marah padaku dan tidak ingin berbicara denganku. Makanya aku hanya diam sejak tadi.”
“Aku tidak marah padamu. Hanya saja—"
“Hanya saja?” Bren menunggu kelanjutan kalimat Elle.
Elle mengulum bibirnya dan memejamkan mata. Baiklah! Tidak ada salahnya bertanya. Elle membuka matanya prlahan dan mulai bertanya dengan ragu. “Soal perkataanmu di pesta Ander kemarin. Soal kau yang mengaku pada Yellena kalau kau adalah calon pacarku. Apa maksud…." Elle menunduk dan membuang napasnya pelan. "Sudahlah… lupakan. Aku hanya bertanya asal. Lupakan apa yang baru saja—“
“Maksudku? Seperti yang kukatakan. Aku memang berniat menjadi pacarmu.” Bren menatap serius ke arah Elle. “Jadi, Elle. Maukah kau berkencan denganku?”
Mata Elle membulat seketika. “A-apa?” katanya gugup.