3 Months Girlfriend

3 Months Girlfriend
Chapter 33: Bertengkar



Elle akhirnya memutuskan untuk menemui Bren sepulang sekolah. Dan untung saja Bren mau menemuinya. Dia menunggu Bren di dekat gudang belakang sekolah.


Elle pikir mereka perlu bicara. Setidaknya Elle harus mendengarkan cerita dari sisi Bren. Tidak adil rasanya jika Elle hanya mendengarkan cerita dari sisi Sharon. Bisa saja bukan, kalau ternyata yang terjadi di kantin hanya kesalah pahama semata?


Kedua tangan Elle meremas tali ransel yang tersampir di bahunya. Ia melirik jam tangannya. Baru dua menit, tapi mengapa rasanya sudah lama sekali. Bren tidak juga muncul.


Tuk....


Tuk....


Tuk....


Elle mulai menghentakkan kaki gelisah. Apa Bren tidak mau menemuinya karena marah? Elle mmengigit bibir bawahnya. Ia merunduk menatap ke arah kedua sepatunya. Otaknya tidak berhenti memikirkan kemungkinan-kemungkinan terburuk.


Bahkan hingga sampai kepada kemungkinan bahwa Bren membencinya. Pikiran Elle melayang membayangkan Bren yang menatapnya penuh kebencian.


Lamunan Elle buyar saat matanya menangkap sepatu pria di depan sepatunya. Ia mendesah lega dan segera mengangkat pandangannya. Menatap Bren yang baru tiba di hadapannya.


"Kupikir kau tidak mau lagi berbicara padaku," sindir Bren sinis. Sebelum Elle sempat membuka mulutnya hanya untuk sekedar basa-basi terlebih dahulu.


"Um.... Aku hanya ingin bertanya. Tentang kejadian tadi. Mungkin saja aku salah melihat situasi. Mestinya aku mendengarkan cerita dari sisimu—"


"Well, untung saja kau sadar diri."


Mulut Elle menganga karena tak percaya dengan kalimat-kalimat sindiran yang sejak tadi dilontarkan Bren. Akan tetapi, ia segera menguasai diri.


"Tenang, Elle. Kau harus menguasai diri." Elle menarik napasnya panjang kemudian menghembuskannya kembali. Dia tidak boleh terbawa emosi agar pikirannya tetap jernih.


Elle kembali mengangkat pandangannya. Menatap ke arah Bren yang sekarang sudah melipat kedua tangannya di depan dada.


"Jadi, maukah kau menceritakan padaku tentang apa yang sebenarnya terjadi tadi?" tanya Elle penuh harap.


"Oke.... Singkat saja. Temanmu yang pembohong dan munafik itu menganggu temanku. Dia menghina Sara—"


"Kurasa Sharon tidak seperti itu," gumam Elle pelan.


"Kau hanya tidak mengenalnya. Dia jelas-jelas menghinamu dari belakang, kemarin saat di pesta Sara."


Elle menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Sharon tidak mungkin menghinanya. Gadis itu sangat manis dan baik padanya. "Sharon tidak mungkin menghinaku. Dia selalu baik padaku. Dan kurasa aku tidak pernah melakukan suatu hal yang membuatnya kesal hingga memberikan alasan untuknya membicarakanku dari belakang. Lagipula dari yang kutahu, kalian menyiramnya dengan milkshake dan mendorongnya hingga terjatuh,"


Tawa Bren pecah. Tawa penuh ejekkan. "Really, Elle? Berhentilah bersikap naif. Suatu saat dia akan berbalik membelakangimu dan menusukmu. Dia bisa saja membuat seribu satu alasan untuk membencimu meski kau hanya diam seperti batu tanpa bertindak apapun."


"Seperti apa yang kalian lakukan dulu padaku?" tanya Elle lemah sembari menunduk.


Raut wajah Bren berubah. Ia tahu apa yang dimaksud Elle. Dan entah mengapa ia menjadi merasa bersalah sekarang. Bren baru saja membuka mulutnya hendak menjelaskan. Namun Elle sudah mengangkat wajahnya dengan tatapan kecewa.


"Kalian mempermalukanku di depan para murid hanya karena aku memberimu kado valentine! Apa aku bersalah pada saat itu hingga menyebabkanku harus diejek dan ditendang hingga terjatuh? Tidak! Setelah kupikir lagi, aku tidak bersalah sama sekali. Kau benar. Oranga hanya mencari alasan untuk membenci. Walau yang dibenci sebenarnya tidak melakukan kesalahan apapun."


"Kau sejak tadi terus membela Sara." Elle membuang mukanya ke samping. Ia tidak sanggup menatap ke arah Bren. Bren terus saja membela Sara. Orang yang sinis dan sudah membulinya. Apa perkataan Sharon benar adanya? Bahwa Bren dan Sara berkencan?


"Tentu saja! Dia temanku!"


"Apa kau menyukai Sara?"


"Pertanyaan macam apa itu? Aku tentu saja menyukai Sara—"


"Kau pasti sangat menyukainya sampai-sampai terus membelanya sejak tadi." Sakit. Entah mengapa apa yang Elle dengar dari bibir Bren baru saja membuat hatinya terasa perih. Ia tidak sanggup mendengar kelanjutan kalimat Bren makanya ia memotong perkataan cowok itu.


"Karena dia tidak bersalah! Dan aku tidak membela orang yang bersalah! Kau menyebalkan sekali. Aku lelah berbicara denganmu. Sara orang penting untukku dan tentu saja aku akan terus membelanya."


"Apa Sara lebih penting daripada aku?"


Bren belum sempat menjawab pertanyaan Elle. Saat terdengar suara orang berbicara mendekat ke arah mereka. Bren segera buru-buru menarik Elle ke dalam gudang. Dan segera mengunci gudang tersebut dari dalam.


Elle baru saja hendak protes karena tiba-tiba di dorong ke dalam gudang. Ia hampir terjatuh karena tersandung gagang pel. Namun, Bren telapak tangan Bren menutup mulutnya. Cowok itu meletakkan jari telunjuk di bibir.


Setelah Elle tenang, Bren melepaskan telapak tangannya dengan canggung. Terdengar sayup-sayup obrolan diluar gudang.


Bren berbisik, "Itu Sally dan Jordan. Mereka berdua tukang gosip paling mematikan di sekolah! Jika mereka melihat kita diam-diam bertemu seperti ini, mereka akan membuat—"


"Aku mengerti," potong Elle balas berbisik.


Apa yang mereka lakukan di sekolah pada jam pulang sekolah seperti ini? Elle lelah menunggu mereka yang tak kunjung pergi. Matanya mulai mengantuk karena sejak tadi Bren hanya mendiamkannya. Mereka berdua benar-benar saling membisu.


Dalam posisi duduk di atas lantai gudang yang dingin, tanpa sadar Elle jatuh tertidur dengan posisi tangan memeluk kedua lutut. Dia menjatuhkan dahinya ke atas lutut.


Bren menoleh ke arah Elle. Leher gadis itu akan terasa sakit jika dibiarkan tidur dalam posisi seperti itu. Jadi, dengan hati-hati Bren mengambil kepala Elle dan menyandarkannya di bahunya.


Orang-orang di luar gudang sudah pergi. Namun Bren enggan membangunkan Elle. Rasanya tidak tega menganggu Elle yang nampak sangat pulas.


Bren menyingkirkan helaian rambut Elle yang menutupi wajah polosnya. Elle terlihat sangat tenang jika terlelap seperti ini.


Kedua mata Elle yang terbuka perlahan membuat lamunan Bren buyar seketika. Cowok itu segera bangkit berdiri. Membuat Elle nyaris saja terjatuh ke lantai. Karena tubuhnya sebagian masih bersandar pada Bren.


Bren melihat jam tangannya. "Ayo pulang. Sudah hampir malam. Orang tuamu pasti mencarimu," kata Bren datar dan terdengar acuh.


Elle menatap ke arah Bren yang memunggunginya. Cowok itu terlihat kesal padanya. Apa terperangkap di dalam gudang berdua dengannya sungguh seburuk itu? Apa Bren setidak suka itu padanya.


Mereka berdua sudah keluar dari gudang dan sedang berjalan menuju parkiran sekolah. Elle menahan langkahnya agar tetap lambat, supaya posisinya tetap di belakang Bren. Ia tidak mau berjalan bersisian dengan Bren.


Aura dingin di antara mereka berdua sungguh menganggu Elle. Perasaan tidak nyaman menguasainya. Ditambah pemikiran-pemikiran tentang hubungan Sara dan Bren.


Elle ingat, Bren belum menjawab pertanyaannya. Tentang siapa yang lebih penting antara dirinya dan Sara. Akan tetapi, dilihat dari sikap Bren sekarang, nampaknya Sara lebih penting bagi Bren daripada dirinya.