3 Months Girlfriend

3 Months Girlfriend
Chapter 20: Make Up



Elle mengusap kasar air matanya. “Kalau kau masih mau bermain-main dengan gadis lain, kurasa kita memang benar-benar harus putus.”


Putus? Bren membeku sejenak sesaat setelah Elle melontarkan kata tersebut. Ia tidak bisa putus dengan Elle sekarang! Jika ia mereka putus maka Bren akan kalah taruhan dengan Tyler dan Joe.


Tidak! Bren tidak akan membiarkan hal itu terjadi!


Bren memejamkan matanya dan menarik napas panjang. Baiklah. Ia akan menurunkan egonya dan meminta maaf kepada Elle.


Bren menarik pergelangan tangan Elle dan menenggelamkan Elle ke dalam pelukkannya. “Maafkan aku. Berhentilah menangis,” gumamnya di atas kepala Elle.


Dengan susah payah Elle melepaskan pelukkan Bren. Jejak air mata masih terlihat jelas di wajah Elle. “Apa jika aku memaafkanmu maka kau akan berhenti bermain-main dengan gadis lain?”


“Aku tidak mengerti gadis lain mana yang kau maksud.”


“Kau bertukar nomor kepada gadis lain!” todong Elle.


“Kapan?” tanya Bren berusaha menggali ingatannya.


Elle semakin mendengus kasar. Apa Bren sudah terlalu banyak bertukar nomor dengan gadis lain sampai ia tidak tahu gadis mana yang Elle maksudkan?


“Kau tidak ingat? Di hari ketika kau mengajakku pergi ke kedai es krim. Di hari itu seorang gadis di kelasku berjingkat senang karena baru saja bertukar nomor denganmu!”


“Oh…. Gadis itu….” Bren mengibaskan tangan di depan wajah. “Tyler yang memberikan nomorku padanya. Kau tenang saja. Aku sudah membokir nomornya dari ponseluku. Dia terlalu berisik,” terangnya santai.


“Lalu…. Di ulang tahun Sara….” Elle tidak dapat meneruskan kalimatnya.


“Tenang saja, apapun yang kau pikirkan tidak terjadi saat itu.”


“Aku jelas melihatmu hendak berciuman dengannya.”


“Kami tidak berciuman. Aku mengusirnya menjauh. Dia membosankan.”


“Apa jika aku sudah membosankan bagimu maka kau juga akan mengusirku menjauh?” tanya Elle dengan tatapan yang sulit diartikan. Banyak emosi yang tergambarkan di kedua bola mata Elle. Membuat Bren sulit mengetahui mana yang sebenarnya sedang dirasakan Elle.


Bren menggelengkan kepalanya tegas untuk meyakinkan Elle. “Tidak. Kenapa kau berpikir demikian, Sweetheart?”


“Kemarilah.” Bren kembali mendekap Elle. “Aku tidak akan meninggalkanmu. Jadi, berjanjilah untuk tidak meninggalkanku juga.”


“Tapi, aku tidak bisa bersamamu. Jika kau masih dekat dengan gadis lain. Rasanya terlalu sakit,” lirih Elle.


“Aku tidak akan bermain-main dengan gadis lain lagi. Aku berjanji padamu.” Biarlah untuk sementara Bren akan meninggalkan kebiasaannya untuk bermain-main dengan gadis lain selain Elle.


Masih di dalam pelukkan Bren, Elle mendongakkan kepalanya untuk menatap mata Bren. Mencari-cari ketulusan di sana. Bren terlihat tulus dan bersungguh-sungguh. Jadi, Elle menganggukkan kepalanya. “Aku memaafkanmu,” kata Elle sambil meneggelamkan kembali wajahnya ke dada Bren.


Bren mendesah lega. Senyuman tersugging di wajahnya. Untung saja ia berhasil memenangkan hati Elle. Ia harus lebih berhati-hati mulai sekarang.


"Ngomong-ngomong Elle, bagaimana kau bisa hadir di pesta ulang tahun Sara?" tanya Bren penasaran.


Elle menaikkan satu alisnya. Bukankah Bren sendiri yang memintanya datang? "Kau yang memintaku datang. Sara memberikanku kartu undangan dan menyampaikan pesan darimu. Lalu kau juga mengirimiku pesan melalui ponsel. Kau lupa?"


Bren tertawa canggung. "Tentu saja aku ingat. Aku hanya merasa sedikit bingung sekarang. Ngomong-ngomong, bolehkah aku melihat isi chat kita kemarin?"


Raut wajah Elle terlihat semakin bingung. Bren buru-buru mengatakan, "Aku hanya ingin memastikan sesuatu," katanya ambigu. Namun, Elle tetap memberikan ponselnya kepada Bren meski otaknya masih bertanya-tanya.


Bren memeriksa pesan mereka cepat dan melihat jamnya. Benar dugaan Bren. Waktu Elle menerima pesan itu adalah waktu di mana Sara meminjam ponselnya. Sudah pasti kehadiran Elle di pesta kemarin adalah ulah Sara. Agar Elle dapat melihat ketika Bren bermain-main dengan gadis lain.


"Apa ada masalah?" Pertanyaan Elle membuyarkan lamunan Bren.


Bren tersenyum simpul dan menggelengkan kepala. "Tidak ada."



Setelah resmi berbaikkan, Elle dan Bren berjalan bersama menikmati festival musim semi yang sangat ramai ini. Elle tidak lagi mengingat Yellena. Karena sekarang pikiran Elle benar-benar dipenuhi dengan Bren seorang.


Telapak tangan Bren terasa hangat di genggamannya. Biarpun ini bukan kali pertama Bren mengenggam tangannya, namun efek getaran ketika mereka bergandengan masih ada hingga sekarang. Elle masih merasakan adanya kupu-kupu berterbangan di perutnya.


Elle merasakan telapak tangannya mulai berkeringat karena terlalu lama bergandengan tangan. Elle fikir Bren merasakan perasaan yang sama dengannya. Karena sekarang Bren sudah melepaskan tangannya dari Elle. Elle merasa tangannya terasa kosong seketika.  Bren berpindah tempat ke sisi lain Elle. Ia menarik telapak tangan Elle yang bebas dan mengenggamnya.


Bren benar-benar tidak melepaskan gengaman tangan mereka bahkan ketika dia membeli es krim untuk mereka berdua. Elle juga tidak berniat melepaskan tangannya dari Bren. Elle takut jika ia melepaskan gengaman tangan Bren sekarang, maka ia tidak akan bisa mengenggam tangan Bren lagi.


“Benarkah?” tanya Bren. “Ayo berfoto kalau gitu.”


Elle mengangkat wajahnya. Kedua matanya berbinar. Ia segera mengambil ponsel di tote bag-nya.


Mereka berfoto bersisian dengan pipi yang saling menempel. Elle tersenyum senang melihat hasil foto di ponselnya.


“Sekali lagi,” pinta Bren.


Dengan senang hati Elle menganggukkan kepala dengan sangat bersemangat. Ia segera mengarahkan kamera depan ponselnya ke arah dirinya dan Bren.


“Biar aku yang memotret kali ini,” kata Bren sambil mengambil ponsel di tangan Elle.


Tangan Elle yang bebas membentuk tanda “V” di sisi wajahnya. Elle tersenyum lebar. Ia sudah siap untuk berfoto. Namun….


Cup.


Kedua mata Elle membulat seketika. Senyumannya hilang karena terkejut. Bagaimana ia tidak terkejut? Bren secara tiba-tiba mencium pipinya tepat saat kamera memotret mereka berdua.


Bren terkekeh melihat raut wajah Elle yang terkejut. Pipi gadis itu sudah kembali bersemu. Bren merangkulkan tangannya di bahu Elle, dan mengajaknya kembali berjalan walaupun tubuh Elle masih kaku karena terkejut. Bren mengembalikan ponsel Elle.


“Secara pribadi, aku suka gambar yang paling terakhir kita ambil.”


“A-aku­—“


“Elle! Aku mencarimu ke mana-mana dan ternyata kau malah sibuk berpacaran!”


Yellena sudah berdiri di depan Elle dan Bren dengan berkacak pinggang. Bren buru-buru melepaskan rangkulannya di bahu Elle.


“Dari mana kau tahu kalu kita berpacaran?” bisik Elle.


“Tentu saja aku tahu!” Yellena menoleh ke arah Bren dan mengarahkan jari telunjuknya ke arah cowok itu. “Mana mungkin dia berani menciummu jika kalian tidak berpacaran!” Suara nyaring Yellena membuat beberapa orang yang berada di sekitar mereka menolehkan kepala.


Sadar menjadi pusat perhatian, Elle segera mendekat ke arah Yellena. “Bisakah kau memelankan suaramu, Yellena? Kau membuatku malu. Kami tidak benar-benar berciuman. Bren hanya mencium pipiku,” geramnya dengan nada suara rendah. Kakaknya ini benar-benar bermulut besar!


Bukan Yellena namanya jika tidak mengabaikan kekesalan Elle. Mata Yellena memicing menatap ke arah Bren. Ia sepenuhnya tidak menghiraukan keberadaan Elle sekarang. “Kau! Apa kau serius degan Elle?”


Elle memutar kedua bola matanya. Sejak kapan Yellena peduli dengan kehidupan percintaannya?


“Tentu saja,” jawab Bren yakin tanpa keraguan sedikit pun.


Yellena menganggukkan kepalanya. “Baiklah. Kalau kau benar-benar serius dengan Elle, maka kau harus mengantarkannya pulang. Ingat! Jangan sampai terlalu larut malam,” ujarnya sebelum berbalik pergi.


Elle terperangah. Ia sebenarnya sudah menduga ini. Yellena tidak mungkin secara tiba-tiba menjadi perhatian. Ia hanya tidak ingin membawa pulang Elle. Makanya ia meminta Bren yang mengantarkannya! Benar-benar menyebalkan!


Persetan dengan Yellena! Ia akan berkencan dengan Bren sampai larut malam hari ini!


"Abaikan saja Yellena! Ayo berkencan sampai larut malam!"


Bren terkekeh. "Dengan senang hati, Sweetheart."



Tyler bersiul pelan ketika seorang gadis cantik lewat. Ia dan teman-temannya sedang nongkrong di kantin saat jam istirahat berlangsung. Joe tersenyum miring dan ikut bersiul. Bren sibuk menatap ponselnya. Adam seperti biasa tidak tertarik dengan keributan yang sudah terjadi di kantin. Sedangkan Sara sibuk mengamati penampilan anak baru yang sekarang sudah menjadi pusat perhatian ini.


“She’s so damn hot!” bisik Tyler ke arah Bren.


Bren mengabaikan Tyler. Ia menepuk pelan pundak temannya itu. “Aku harus pergi Sampai jumpa saat latihan nanti,” katanya sambil berlalu pergi.


Anak baru yang mulanya hendak mendekat ke arah Tyler dan teman-temannya, seketika menghentikan langkah. Ia menatap ke arah kepergian Bren, dan segera pergi meninggalkan kantin.