
Pukul lima sore, Rai sampai di rumah setelah mengantar Vania pulang, rumah masih sepi seperti biasa, baik secara fisik maupun auranya. Hanya terdengar suara dapur dari bik Inah yang memasak untuk makan malam.
Penghuni yang selalu setia terhadap rumah itu adalah bik Inah. Tidak pernah sekalipun meninggalkan rumah. Bahkan ketika musim mudik lebaran, ia memilih menjaga rumah majikannya. Ketika terdapat kasus pelik, bunda seringkali menginap di kantor atau kasus yang ditangani berada di luar kota atau luar negri, bisa sampai berminggu-minggu.
Raisya? Mengisi kebosanan dan kesendirian dalam rumah sepi itu, ia memilih menginap di rumah Vania, hingga keluarga Vania sangat dekat dengan Rai.
“Bunda belum datang bik?” Rai celingukan di dapur.
“Eh non. Iya non. Nyonya mungkin pulang pas makan malam.” Rai manggut-manggut sambil mencomot jamur krispi yang masih hangat.
“Eh bik, kemarin bunda buang album-album foto dimana?” Rai teringat sesuatu dan menanyakan dengan mulut penuh jamur krispi.
“Emm...gak tahu non. Bibik gak tahu apa-apa.” bik Inah tampak salah tingkah. Rai mengerutkan kening curiga. Bik Inah berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Ah ayam kremesnya udah siap. Gak mau nyicip juga non?” Rai tak tertarik, dia memalingkan muka dan pergi tanpa sepatah katapun.
Dia menjadi sebal pada bik Inah yang seolah berkomplot dengan bunda dan papa.
***
Dua wanita sedang mengobrol sambil menikmati secangkir teh hijau atau biasa disebut dengan ocha yang baru dibawakan oleh suami empunya rumah dari Jepang.
Mereka asyik merangkai bunga-bunga Peony dengan krisan berbagai warna. Kedua wanita itu sedang mempraktekkan kelas merangkai bunga pagi tadi. Mereka membiarkan anak-anaknya yang sama sibuknya bermain-main berdua di halaman belakang rumah nomor 12/A Mediterania.
“Rai, kamu harus bisa bikin 1000 bangau kertas ya. Maka keinginanmu akan terkabul,” ujar anak laki-laki yang membuat bangau kertas.
“Oh ya? aku bisa minta apapun kak?”
“Iya. Asal kamu mau membuatnya sampai seribu. Kan tiap seekor bangau kertas adalah satu impian, dan kalau seribu impian dalam seribu bangau kertas maka impian-impian itu akan terwujud.” Tegar meyakinkan mitos tentang seribu bangau kertas dengan mata berbinar.
“Kok bisa kak?”
“Karena ke seribu bangau kertas itu suatu saat akan terbang ke atas awan dan menyampaikan impian-impian kamu ke Tuhan supaya dikabulkan.”
Rai terbelalak kagum dan takjub. Ia tersenyum lebar. Itu artinya, dia punya seribu impian yang ingin dilakukannya bersama dengan Tegar.
“Tapi kak, Rai gak bisa buat sendiri. Buat satu aja susah.” Rai menunduk sedih, ia melipat-lipat kertas yang mulai kusut. Matanya menggenang.
“Sini aku ajarin lagi.” Tegar mengambil selembar kertas lagi. Dengan sabar menginstruksi langkah-langkah membuat bangau kertas satu persatu. Diiringi gelak tawa dari keduanya, tanpa sadar Rai dewasa menyunggingkan senyum diantara tidur nyenyaknya.
***
Pagi hari yang dingin nan sejuk, tak seperti biasanya Rai bangun dengan tubuh yang begitu segar dan suasana hati yang sama menyenangkannya dengan kicauan burung-burung gereja dikala itu.
Padahal, biasanya ia harus bangun dengan tubuh ngos-ngosan dan banjir keringat serta nyeri pada kepalanya. Ia menduga sedang mengidap vertigo, akan tetapi Rai sendiri malas memeriksakan diri ke dokter dan hanya meminum obat sakit kepala dari Apotik. Akan tetapi, kali ini efek dari sebuah mimpi yang berbeda, meski lakon dalam mimpi tersebut sama ternyata mempengaruhi awal harinya.
Dia mencoba menelusuri jejak mimpinya, semakin diingat tiba-tiba kepalanya terasa kembali pening. Rai melihat jam dinding. Pukul 06.00. Waktu baginya untuk bersiap-siap berangkat ke sekolah.
“Sayang...” sapa Zac ketika Rai turun dari mobilnya.
Zac juga baru saja tiba. Rai tersenyum semangat. Moodnya semakin membaik setelah tak ada mimpi aneh itu ditambah dengan kekasih hati yang dihadapannya.
Tubuh Zac yang ideal dan berotot membuatnya nampak gagah, kulitnya putih tapi tak sepucat Rai, bibirnya tipis dan hidungnya mancung. Hanya saja rambut Zac sedikit agak keriting.
“Baru datang?” Rai bertanya basa-basi. Zac mengangguk singkat. Mereka berjalan berdua menuju kelas sambil bergandengan tangan mesra.
“Duh ceile... pagi-pagi udah bau-bau pengantin baru nih,” goda Vania di depan pintu kelas sambil berkipas menebar pesona di pagi hari.
“Wah kok lo tau sih kita just married?” sahut Zac balik bercanda.
“Secara gue kan pawang nikah.” Ketiganya tertawa terbahak-bahak.
Tak berapa lama kemudian datang sesosok cowok tinggi kurus, berkulit coklat, berkacamata dengan rambut acak-acakan dan wajah manis seperti gula jawa menghampiri mereka.
“Hai...” sapa cowok tersebut pada Rai dan Zac. Mereka mengangguk sambil tersenyum membalas menyapa. Sedangkan Vania segera melangkah masuk ke dalam kelas dengan salah tingkah.
“Eh tunggu Van!” teriak cowok itu. Vania menghentikan langkahnya dengan meringis menutup mata kesal. Dia berbalik dan berusaha tersenyum.
“Emm.. ada apa ya kak?”
“Malam ini ada acara gak?” tanya cowok yang akrab dipanggil Sam.
“Emm.. gimana ya kak. Eh kayaknya ada kok, gue mau keluar ngerjain tugas sama Rai. Iya kan Rai?” Vania mengedipkan mata memberi tanda. Rai mengelak.
“Eh enggak kok kak. Kita kan lagi bebas tugas. Gue mau jalan sama Zac. Jadinya dijamin Vania bakalan free malam ini. Selain acara sama gue, dia gak bakalan kemana-mana kok. Iyakan, Van?” Rai tersenyum licik. Zac juga tertawa kecil melihat salah tingkah Vania.
“Kalau gitu entar malam gue main ke rumah lo ya Van, boleh kan?” Sam to the point.
“Eh..emm.. i-ya...tapi.....” Vania merasa kikuk.
“Aku balik dulu ya, barengan ma dia,” pamit Zac pada Rai. Kemudian dia berlari menyusul Sam yang kelasnya searah dengan kelas Zac.
***
“Resek banget sih lo.” Vania mendengus kesal pada Rai. Dia duduk dibangku sambil melipat kedua tangannya. Rai senyum-senyum sendiri sedari tadi.
“Ya ampun non. Lagi ada pangeran cakep mau menyunting putri Vania Veronica kok gak mau sih?” goda Rai.
“Ah, resek lo. Gue udah berusaha mati-matian ngejauhi tuh cowok. Eh, elo malah membuka peluang buat dia.” Vania cemberut.
“Eh, kalau gak gini kapan lagi elo bakalan punya cowok? Hello... cewek beken seantero sekolah dan populer masih ngejomblo hari gini?” Rai duduk disebelahnya.
“Justru karna gue cewek beken dan populer jadinya harus punya cowok yg lebih beken dan populer. Ya kan gue perlu selektif memilih seseorang. Impian gue cowok yang ganteng, putih, tinggi, badannya kotak-kotak, pinter, kaya, baik hati, setia, beriman...bla..bla..bla..” Vania bercurhat panjang lebar hingga Rai langsung menutup telinga tak mau mendengar lagi.
“Itu, kak Sam hampir memenuhi kriteria lo. Dia cakep, tinggi, pinter. Mantan ketua Osis, sapa yang gak kenal Sam? Yah walaupun gak sekaya Daniel Radcliffe, seenggaknya dia punya lahan banyak tuh sawah sama empangnya dimana-mana. Elo gak bakalan kehabisan sembako sama ikan, habisnya dia juragan beras,” sahut Rai saat Vania sudah berhenti berbicara tentang kkriteria cowoknya.
“Eh enak aja lo. Gak mau ah. Gue ogah ma cowok item apalagi bau empang.”
“Elo milih yang perfect, gak ada orang seperti itu. Cinta tuh harus terima apa adanya dari hati ke hati, bukan elo adanya apa. Ah terlalu pilih-pilih.”
“Yee...biarin semua orang punya hak bermimpi tinggi.” Vania melengos.
Rai hanya menggelengkan kepala.
Selera Vania tentang cowok cukup tinggi apalagi dia tergolong cewek tercantik dan populer di sekolah. Keluarganya bisa dibilang mapan, tapi tidak se-kaya Rai. Untuk itulah demi mengangkat harkat, martabat serta derajatnya, Vania mencari cowok-cowok kaya berkelas pengusaha terkenal seperti keluarga Bakrie dengan syarat-syarat tertentu.
Asal tahu saja dia bukan cewek murahan yang mau disuap uang ataupun matre dan sok. Walaupun pada akhirnya semua orang berpikiran seperti itu. Dia juga lebih perhitungan. Rumitlah sosok cowok idaman bagi Vania.
Sungguh aneh memang cewek secantik dan sepopuler Vania tak punya pacar alias betah menjomblo, sempat ada gosip beredar kalau Vania lesbian, habisnya dia selalu dengan Rai, atau Vania suka dengan yang bukan manusia, seperti diberita-berita ada orang yang mencintai dan mengaku menikah dengan menara eiffel, hantu dan sejenisnya.
Complicated memang urusan percintaan Vania. Bukan karena dia tak laku, tapi karena terlalu banyak yang ditolaknya. Saking selektifnya akhirnya sang cowok mengundurkan diri satu persatu.
Rai berulang kali mengingatkan sebagai sahabat yang baik, Vania hanya menganggap angin lalu saja.
Beberapa hari ini memang Sam dari kelas XII gencar-gencarnya mendekati Vania. Dia mantan Ketua OSIS di sekolah. Dia juga pemain basket. Banyak yang ngefans dengan Sam. Sedang Vania, mengenalnya saja tidak. Kalau bukan karena saat ini si Sam terus-terusan menemuinya, mungkin dia tak akan kenal meskipun Sam mantan ketua Osis. Vania terlalu sibuk mengurusi dirinya sendiri hingga ia tak kenal dengan kakak kelas terpopuler di sekolah.
***
***
“Oh ya gue mau cerita.” Rai teringat sesuatu. Vania menoleh, mimik mukanya telah berubah. Kini dia menyimak baik-baik.
“Semalam gue mimpi. Tapi nih mimpinya beda. Lebih nyenengin. Orangnya sih gue sama anak cowok yang sering muncul itu.”
“Bedanya dimana Rai?” Vania penasaran bercampur heran.
“Ya.. ceritanya beda tapi orangnya sama. Gimana ya.. aduh susah jelasinnya.”
“Elo ingat gak ma tuh mimpi?”
“Gue ingat. Tapi..gue susah ngejelasinnya. Aduh. Kok gue jadi \*\*\*\* gini ya Van?”
Bel berbunyi keras. Mereka menghentikan pembicaraan tersebut, karena Mr. Giant akan tepat waktu masuk kelas dan tak membiarkan seorangpun berbicara. Meskipun Mr. Giant menerangkan dengan suara keras, pikiran Rai tak fokus. Dia melamun dan memikirkan tentang mimpi-mimpinya selama ini. Mimpi semalam berbeda dengan mimpi sebelumnya.
Dia bisa menggambarkan dengan jelas kejadian mimpinya meskipun tidak ingat nama anak laki-laki yang bersamanya, akan tetapi mimpi yang satu ini dia ingat hanya saja ketika dia ingin bercerita pada Vania seolah ingatannya buyar. Ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa menjelaskan. Sulit sekali diungkapkan. Dia merasa bodoh di depan Vania tadi.
“Dan, soal di halaman 105 tidak bisa dikerjakan hanya dengan bengong saja.” tiba-tiba suara Mr. Giant menggelegar disamping Rai. Rai masih tak memperhatikan. Vania tampak gelisah dan menyikut Rai-menyadarkan lamunannya.
“Rai!! Maju ke depan dan kerjakan soal,” bentak Mr. Giant garang.
“Ah iya pak.” Rai tampak kaget dan dia kebingungan membuka halaman buku pelajarannya yang masih tertutup.
Vania menunjuk halaman yang harus dikerjakan pada buku fisika miliknya. Rai mengangguk kemudian dia maju ke depan untuk mengerjakan. Tak meleset sedikitpun jawaban Rai ternyata benar. Padahal soal tersebut tergolong sulit dan baru saja diterangkan.
Ah, dasar Rai memang si jenius, meskipun tak memperhatikan Mr. Giant yang menerangkan materi, dia sudah hafal isi buku pelajaran.
Mr. Giant berdehem, dia tak banyak berkomentar dan mempersilahkan Rai untuk duduk. Padahal dia sangat suka mengeksekusi siswa yang tak bisa mengerjakan soal di depan kelas. Akan tetapi, pagi itu korbannya dalam posisi aman.