1001 For 1 First Love

1001 For 1 First Love
Pelukan Terselubung



Rai mengaduk\-aduk makanan dengan gelisah. Bunda meliriknya dan tak berkomentar. Rai bingung harus memulai percakapan dari mana agar hubungannya dengan bunda kembali hangat. Rai terlihat tampak makin resah. Berkali\-kali dia berdecak.



“Kenapa? apa Rai gak suka dengan makanannya?” tanya bunda memecah kebisuan. Ia hanya punya kesempatan banyak mengobrol dengan putrinya di meja makan saja.



“Eh..enggak kok bun..Cuma..” bibir Rai bergetar grogi.



“Cuma apa ?”



“Rai...mau minta maaf atas kelakuan Rai akhir\-akhir ini,” ungkap Rai skeptis sambil menunduk dan memejamkan mata.


Ular angkuh dalam hatinya sedikit-demi sedikit mengkerut bersamaan dengannya meminta maaf. Bunda menatap dengan mata berbinar seolah tidak percaya. Bunda kira kemarahan Rai akan terus berlanjut lama. Bunda meletakkan sendoknya dan menyentuh punggung tangan Rai.


“Iya sayang. Selalu ada pintu maaf buat kamu dari bunda.” bunda berkata tulus.


Dia berharap Rai melupakan tentang masalah Tegar. Ada kelegaan dalam hati bunda, yang berharap bahwa Rai tak akan mengungkit lagi atau mencari tahu mengenai masa kecilnya. Rai tersenyum menatap wajah bunda yang semakin menua.


Tok. Tok. Tok. Rai kembali mengetuk pintu kamar bunda. Ada suara menyuruh masuk dari dalam. Bunda sedang membaca kasus kliennya. Rai masuk perlahan. Bunda menengok sebentar, tersenyum kemudian kembali menatap berkas\-berkasnya.



“Ada apa sayang?” tanya bunda, berharap Rai tidak menanyakan sesuatu tentang Tegar lagi.



“Bunda sibuk ya? Kasus apa lagi yang mesti bunda selesaikan?” Rai ikutan membaca.


“Maaf ya, besok ada sidang soalnya. Jadi, bunda harus bisa mempersiapkan semua dokumen untuk klien bunda,” kata bunda masih sibuk dengan berkas-berkas tersebut. Rai manggut-manggut.



“Tentu aja boleh. Tapi.. bunda sedang sibuk. Mungkin akan lembur mempersiapkan semua ini. Kamu tidur dulu aja.”


Rai melihat sekeliling, ranjang penuh dengan berkas penting. Dia tidak mungkin tidur disana saat itu juga.


“Ya udah. Malam lain aja ya bunda. Gak pa\-pa kok, Rai bisa tidur sendiri di kamar,” kata Rai.



“Maaf ya sayang.” Bunda tak enak hati. Rai mengangguk menenangkan. Sebenarnya, tidak hanya karena dia harus menggeledah kamar bunda sebagai motif utamanya.


Tapi, jauh dibalik itu dia memang sangat menginginkan tidur dengan bunda. Dia rindu sekali dengan aroma tubuh bunda dan terlelap dalam pelukannya akibat pertengkaran kecil diawal yang membuatnya gagal tidur dengan bunda.


***


Malam yang dinanti berikutnya tiba, Rai tidur dalam pelukan bunda yang hangat. Rai bisa mencium aroma parfum jasmine dari Paris kesukaan bunda. Wangi khas itu mengingatkan Rai saat mereka berlibur ke Paris. Lengan bunda terasa kokoh untuk melindungi dalam dekapan, belaiannya sungguh lembut. Sejenak Rai lupa bahwa dia ada di kamar bunda, juga untuk mencari surat-surat Tegar.


Tengah malam, Rai terbangun dari tidurnya setelah mengingat-ingat apa yang sedang dilupakannya. Rai melepas pelukan bunda dengan perlahan. Untungnya bunda tidak begitu suka dengan gelap. Jadi, meskipun ada lampu tidur, bunda tak memakainya. Tetap menyalakan lampu atap yang terang benderang.


Dengan langkah setenang mungkin Rai menuju lemari pakaian bunda. Dia mencari-cari dibawah tumpukan pakaian. Sepuluh menit kemudian dia menemukan beberapa lembar amplop yang dikirim dari Surabaya. Masih tertutup rapi.


Rupanya bunda tidak membaca surat tersebut dan hanya menumpuknya. Sekitar tiga puluh lembar surat dari Tegar. Rai mencari-cari mungkin ada yang lain. Saat menarik surat ke tiga puluh satu ada sebuah map yang terjatuh. Rai memungutnya. Map hijau itu terlihat polos. Penasaran Rai membuka map tersebut.


Tangan Rai bergetar ketika membaca isi dalam map tersebut adalah sebuah surat perceraian yang tertera disitu nama Arga Suherman, papanya. Dan Rai belum sempat membaca nama pihak kedua, sang bunda terbatuk keras mengagetkan. Dengan tergesa-gesa, Rai memasukkan map tersebut ke tempat semula. Setelah mengunci lemari, dia bergegas keluar kamar bunda dan berlari kecil menuju kamarnya.


Rai terengah-engah. Dia telah mendapatkan semua surat dari Tegar. Senyum puas menghiasi bibirnya. Akan tetapi, Rai begitu curiga dengan surat perceraian tersebut.


Memang sang bunda seorang pengacara dengan kebanyakan kasus perceraian. Tapi, kenapa ada nama papanya? Lagipula surat perceraian itu tersimpan di lemari baju bunda.


Biasanya semua dokumen dan surat-surat disimpan di ruang kerja bunda. Rai menggelengkan kepala berusaha mengacuhkan hal tersebut. Ia membuka amplop yang masih tertutup rapi dan mulai menguning.