1001 For 1 First Love

1001 For 1 First Love
Pusara Berkisah



Keesokan harinya mereka bersiap dengan pakaian serba hitam. Mata Rai terlihat sangat sembab. Dia memilih memakai kacamata berwarna gelap untuk menutupi matanya yang bengkak. Sebenarnya tubuhnya sangat lemah ketika bangun tidur. Ia berharap kemarin adalah sebuah mimpi buruk dan ia sedang berada di kamarnya. Ia berharap ia tidak pernah ke Surabaya jika harus mengetahui kenyataan pahit itu.


 


“Sepulang dari pemakaman, kita langsung menuju bandara untuk balik ke Jakarta. Gue udah minta mbak Ros booking tiket buat kita hari ini juga,” ujar Rai dalam mobil.


Semua mengangguk menurut walaupun sedikit heran mereka akan kembali secepat itu. Setelah proses pemakaman selesai, dan semua pelayat pergi satu persatu, tinggal mereka berempat saja di pemakaman.


Rai memegang nisan Tegar. Dia berjanji takkan menangis ketika di pemakaman.


Benar saja, dengan sekuat hati dan dada yang terasa sesak, Rai mampu menahan airmatanya. Itu adalah siksaan yang sangat pahit dibandingkan dengan seribu cambukan ketika seseorang ingin menangis sekeras-kerasnya, yang keluar hanya dengusan napas berat. Menandakan gemuruh dalam dada yang belum tuntas diluapkan.


Rai menaruh stoples kaca berisi bangau kertas dekat nisan Tegar dan mengambil salah satu yang berwarna emas menyolok untuk dirinya. Dia tak banyak bicara disana. Hanya berbisik dalam hati, semoga kakak bisa lebih tenang dan bahagia disana. Tetap jagalah memoriku demi kakak, agar Rai bisa terus mengingat kenangan kita.


Rai berjanji akan menjadi lebih baik dan lebih kuat dari siapapun juga. Kesembilan ratus sembilan puluh sembilan bangau kertas ini akan mengantarkanmu pergi ke awan. Menyampaikan pagiku dengan senyuman.


Setelah itu dia beranjak pergi mengajak ketiga teman-temannya untuk kembali ke mobil.


“Raisya..” teriak tante Rieke berlari-lari kecil. Rai dan kawan-kawan akan masuk mobil.


 


“Ada apa tante?” tanya Rai.


“Ini milik Tegar. Sebelum meninggal, dia menitipkan ini sama tante. Tante rasa sebaiknya kamu berhak tahu tentang semuanya,” ujar tante Rieke menyerahkan sebuah buku agenda bersampul coklat tua yang nampak lusuh.


“Terima kasih tante,” ucap Rai.


 


“Disitu kamu akan tahu segalanya tentang Tegar. Maafkan tante yang pernah berpikiran buruk tentang kamu. tante kasihan dengan Tegar yang selalu mengirim surat ke Jakarta tapi kamu tidak pernah membalasnya. Tante pikir kamu sudah lupa dengan Tegar. Dia selalu semangat untuk menulis surat, dan selalu berharap ada tukang pos yang mengantarkan surat padanya. Meskipun tante sudah melarang, Tegar tetap saja mengirim surat-surat itu. Dia bilang, pasti kamu punya alasan kenapa tidak membalasnya. Tante percaya dengan keyakinan hati Tegar. Setelah mendengar penjelasan kamu, tante jadi paham,” cerita tante Rieke.


“Sayangnya kak Tegar belum sempat mendengar penjelasan Rai. dia belum mengetahui dengan pasti alasan Rai tak membalas surat-suratnya,” kata Rai merenung.


Tante Rieke tersenyum lalu berkata, “Tenang saja Rai. Sedikitpun Tegar tidak pernah menyalahkan kamu karena tidak membalas suratnya. Tegar yakin kamu punya alasan yang kuat. Ternyata keyakinan Tegar benar. Sesuatu buruk yang menimpa kamu begitu menyedihkan. Bahkan tanpa kamu menjelaskan, dia akan mengerti.”


“Terima kasih tante.”


“Sering-sering jenguk tante ya. Tante sendirian sekarang. Kamu sudah seperti anak tante,” ujar tante Rieke sambil membetulkan jilbab hitamnya. Rai mengangguk. Kemudian dia masuk ke dalam mobil.


***


Dalam mobil Rai membuka agenda bersampul coklat tua itu secara perlahan.


*Surabaya, 2 Maret 2013


Semakin lama tubuku semakin melemah saja. Kanker yang menggerogoti ini semakin membuatku tak berdaya.


Ya Allah...berikan aku kekuatan sampai aku bisa bertemu dengan orang yang sangat ingin kutemui. Aku pasti telah membuatnya kecewa dengan tidak mengiriminya surat lagi, karena aku harus menjalani kemoterapi. Aku tak sanggup menulis surat dengan mangatakan kebohongan bahwa aku baik-baik saja. Lebih baik kuakhiri saja surat tersebut.


Tapi, dengan tidak mengiriminya surat aku semakin merindukannya. Bagaimana kabar gadis itu? aku yakin dia tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Dia, Raisya Arganita.


Tak sedikitpun lupa akan nama indah maupun wajahnya. My Love at the first sight n my first love forever. Ketika dia datang dengan wajah polosnya bertanya aku sedang bermain apa, saat itu aku yang masih berusia delapan tahun langsung malu-malu mati kutu dihadapannya. Aku tidak bisa menyembunyikan perasaan untuk tak mengagumi kecantikannya.


Wajah putihnya bersinar bagaikan permata. Senyumnya manis dan seindah bintang. Mungkin saat itu hanyalah sekedar kekaguman atau cinta monyet, tapi entah mengapa bahkan meskipun aku pindah ke Surabaya berpisah jauh oleh ruang dan waktu darinya, tak pernah mendapat kabar lagi selama sembilan tahun, tak ada seorang perempuan lain yang mampu memalingkan diriku selain dengan Rai.


Apa mungkin aku tidak normal? Tidak. Aku masih normal tentu saja. Hanya, aku terlalu mencintai dan menyayangi Rai bahkan sampai detik ini. Cinta yang tak pernah pupus semenjak usia delapan tahun. Meski aku hanya mengenalnya selama satu tahun saja.


Mama bilang bahwa aku hanya menyayangi dia sekedar sebagai kakak dan adik atau sahabat. Tidak. Ini bukan perasaan sayang sebagai seorang saudara. Ini adalah sebuah perasaan terpendam sesungguhnya.


Tapi, kenapa Rai tak pernah membalas surat-suratku? Apakah mungkin dia sudah lupa dengan sahabat kecilnya? Aku tak tahu. Mungkin saja dia sudah menemukan orang-orang yang lebih baik dari aku. Yang bisa menyayangi dia dan selalu berada didekatnya ketika dia membutuhkan. Andaikan saja aku orang yang sehat tanpa kanker ini, pasti di usiaku yang kedua puluh lima nanti aku akan melamar dia.


Akh, impianku terlalu tinggi, hidup sampai usia 25 tahun? Sedangkan sampai 20 tahun saja aku tak tahu apakah masih sanggup bertahan. Tapi aku sangat ingin melindunginya. Dia gadis yang tak berdaya dan selalu terlihat kuat padahal lemah. Aku ingin dia bisa menjadi lebih kuat meski tanpa diriku disisinya.


Bukankah cinta tak harus memiliki ?hanya dengan mencintainya saja seolah aku sudah memiliki seluruh dunia. Bukankah cinta butuh pengorbanan? Hanya dengan berkorban seperti ini saja yang sanggup aku bayarkan demi cinta itu. Tapi.. Apakah mungkin....Rai juga punya perasaan yang sama denganku?


Aku tak mau ketika dia datang melihatku penuh dengan rasa kasihan dan prihatin. Aku ingin dia melihatku sebagai “kakak”nya yang melindungi dia, menjaganya, kuat, sehat, dan seperti namaku, selalu terlihat Tegar.


Meskipun mungkin dia menganggapku sebatas ‘kakak’, meskipun aku mungkin tidak bisa melihatnya, menjaganya, menghiburnya lagi. Tak apalah kalau dia menganggapku sebatas ‘kakak’, apa yang aku harapkan lebih darinya ?


Tapi aku tetap memendam rasa ini hingga nanti, hingga mungkin saja aku bisa menjaganya dari jauh. Yaitu, Menjaga hatinya. Meski aku tak bisa memilikinya, biarkan dia menjadi bidadari dalam hatiku. Biarkan dia tetap menjadi sahabat kecilku.


Biarkan dia menjadi cinta pertama, terakhir dan selamanya untukku. Seperti aku yang selalu mengajarkan membuat bangau kertas dan menuliskan impian-impian sebelum melipatnya. Kenapa harus bentuk bangau? Kenapa bukan yang lain? Aku belum mengatakan padanya bahwa bangau adalah lambang kesucian.


Dengan mitos membawa pesan berisi impian anak-anak kecil agar bisa sampai ke awan dan menyampaikannya kepada Tuhan. Bukan kesucian yang abstrak. Tapi sebuah kesucian yang membawa misi kehidupan.


Bangau adalah wujud ratu dari segala kecantikan. Ya, kecantikan Rai sama sucinya dengan perasaanku yang tulus terhadapnya. Bukankah bangau mampu terbang bebas dengan anggun? Ya, karena aku ingin Rai bisa merangkul dunia dan seisinya. Bersama dengan bintang-bintang pagi, Rai mampu melihat indahnya dunia yang telah tercipta dengan penuh cinta kasih.


Aku tak pernah bisa melupakan Rai sedetikpun, hingga terkadang aku frustasi sangat ingin bertemu dengannya. Aku sangat ingin melihat wajahnya yang sekarang. Wajah seorang remaja cantik luar biasa. Di Zaman modern ini, bahkan masih saja sulit menemukan jejakmu di media sosial. ada ribuan nama Raisya dan puluhan nama Raisya Arganita. Tak satupun aku menemukannya. Akhirnya, tanpa kusadari bahwa aku punya bakat melukis dan imajinasi tinggi seperti papaku dulu. Aku bisa membayangkan seperti apa wajahnya berusia sepuluh tahun, seperti apa wajahnya berusia tujuh belas tahun, meskipun aku tak pernah melihatnya lagi.


Imajinasiku bermain begitu saja, mama sangat heran wajah siapakah yang aku gambar ? sosok asing yang tak pernah kami lihat. Sosok yang bahkan bagaimana aku bisa membuat gambar yang begitu hidup, seolah pemilik wajah itu benar-benar ada. Aku sendiri heran, Tuhan memang adil.


Dia menyalurkan bakat seniku dari papa dan memberikan mukjizat kepadaku untuk menahan rasa rindu luar biasa itu. Dan, aku berharap dia lebih cantik dari gambar-gambar goresan tanganku. Aku rasa ini yang dinamakan sebuah cinta sejati.


 


Jika suatu saat dia melihatnya nanti, aku ingin pujian darinya atas hasil karyaku. Rai....mungkin aku hanya pungguk merindukan bulan. Tapi aku sangat yakin, suatu saat kita akan bertemu. Aku sangat yakin kamu sanggup menyelesaikan seribu bangau kertas itu, aku sangat yakin bahwa dia tak pernah lupa dengan masa kecil kami. Dari hati yang paling terdalam, hanya ada ukiran Raisya Arganita*.


Dibagian akhir terdapat tanda tangan dan nama terang Tegar Darmawan.


***


Jantung Rai terasa membuncah. Perutnya mual. Pertama, ia menyesal karena media sosialnya menggunakan nama alay dan minim info tentang identitasnya.


Kedua, bagaimana mungkin Tegar begitu menyayanginya lebih dari sekedar seorang kakak dan sahabat. Bagaimana mungkin Tegar begitu lama menantinya dan tak pernah berpaling darinya. Kedua tangan Rai gemetar. Lidahnya kembali kelu.


Dia seperti mendapat surat cinta tapi juga mendapatkan surat eksekusi mati baginya secara bersamaan.


Kemudian Rai membuka halaman berikutnya setelah isi curahan hati Tegar. Ada sebuah gambar dua anak kecil yang berusia sembilan tahun dan tujuh tahun sedang bermain ayunan, seperti dalam mimpi Rai.


Kemudian, gambar Rai berusia sepuluh tahun, yang terakhir adalah gambar wajah dirinya usia tujuh belas tahun. Rai bergidik ngeri, hati dan seluruh tubuhnya gemetar.


Bagaimana mungkin gambar-gambar itu mirip sekali dengan dirinya. Bagaimana mungkin Tegar bisa membayangkan wajahnya saat ini? Padahal Tegar sudah terlampau lama tak melihatnya. Rai sadar, bahwa mungkin perasaan terdalam Tegar yang mampu membuatnya menggambar wajah Rai dengan sangat sempurna.


Sebuah keajaiban dari CINTA. Sebuah keajaiban dari sayap-sayap bangau kertas yang mungkin selama ini telah dibuatnya.


Ada perasaan menyesal dalam diri Rai, bahwa Tegar belum mengetahui isi hatinya. Padahal Rai sendiri juga merasakan hal yang sama, meskipun sebentar.


Andaikata, Tegar tidak sakit dan meninggal, dan dia menemui Rai ke Jakarta, mungkin akan menjadi kisah yang lain. Andaikata, Rai tak pernah mengalami amnesia, mungkin mereka bisa bersama. Tegar tak pernah tahu seperti apa isi hati Rai sesungguhnya, begitu pula sebaliknya, hingga Rai mengetahui segalanya setelah semua terlambat.


Padahal seisi dunia mengerti akan perasaan dua insan yang tak pernah bisa bersatu tersebut. Takdir antara Rai dengan Tegar telah berakhir sepuluh tahun yang lalu.


Pada akhirnya kisah mereka hanyalah sebatas sahabat kecil dan kenangan kanak-kanak.


Rai teringat akan bangau kertas berwarna emas yang telah diambil dari seribu pasangannya tadi dalam saku mantelnya. Bangau kertas emas itu terlihat kusut oleh waktu. Ia penasaran dengan isi impian pada bangau kertas tersebut karena yang terakhir dibuat Tegar untuknya sebelum mereka berpisah.


Perlahan Rai membongkar lipatan bangau menjadi selembar kertas saja. Dada Rai sesak, tenggorokannya terasa mencekat. Dia tak mampu mengeluarkan suara dan juga airmata saking sedihnya. Tertulis sebuah impian sederhana dari anak laki-laki berusia sembilan tahun. Semoga Raisya selalu tersenyum bahagia.


Rai mendekap mulutnya dengan kedua tangan. Berusaha menahan tangis, hingga yang terdengar adalah sesenggukan yang sangat menyakitkan. Bahkan terlalu banyak Tegar memberikan perhatian untuknya sepanjang waktu itu.


Zac merapatkan diri kepada Rai. Tangannya mengelus lembut rambut Rai. Dia meminjamkan bahunya, agar Rai bisa menumpahkan segala emosi airmatanya.


Pada akhirnya takdirlah yang memupuskan cinta Rai dan Tegar. Dan meski takdir ini menyakiti hati kedua orang tersebut, cinta mereka tak pernah berakhir. Tegar menyimpan Rai dalam hatinya selama sebelas tahun. Sedangkan laki-laki itu membuat Rai menyimpan dirinya dalam hati gadis tujuh belas tahun itu hingga sisa hidupnya.