1001 For 1 First Love

1001 For 1 First Love
Dibalik Mimpi?



Matahari bersinar terik. Cafe-cafe serta pusat jajanan begitu sesak akibat pengunjung yang kehausan dan berteduh dari sengatan matahari dikala istirahat jam kerja.


Bunyi klakson dan saling serobot jadi menu utama istirahat siang. Jakarta selalu padat, berisik dan menjenuhkan. Kapan Jakarta tidak padat? Mungkin masa mudik lebaran.


“Van, gue mau cerita ama lo,” akui Rai saat berada di cafe dekat bookstore. Vania membetulkan posisi duduknya untuk menyimak.


“Cerita apa?” Vania menanggapi dengan serius seolah Rai akan membuat pengakuan tindak kriminal.


Rai mengaduk-aduk jus apelnya. Ia ragu untuk bercerita dan bingung harus memulai darimana, namun tak ada yang bisa dipercaya selain Vania. Kegelisahannya mungkin terlihat sepele bagi orang lain, namun tidak untuknya.


Dihantui mimpi yang sangat membingungkan dan tidak pernah tuntas membuatnya selalu terjaga dalam keadaan kaget. Tidurnya tidak nyenyak. Bunga tidurnya terlalu mengusik pagi hingga menjelang tidur lagi.


“Akhir-akhir ini gue mimpi sama selama seminggu. Gak tau kenapa mimpi itu kayak kepotong ditengah jalan. Itulah yang bikin gue resah akhir-akhir ini.”


“Emang lo mimpi apa?” tanya Vania penuh minat.


“Mimpi itu tentang kejadian sepuluh-sebelas tahun yang lalu saat gue masih kecil.


Di halaman belakang rumah, gue sama anak cowok buat origami bentuk bangau itu loh. Saat gue buat yang ke seratus tiba-tiba anak laki-laki itu harus pergi. Gue nangis dan lari. Udah,” cerita Rai sambil membuka matanya.


Vania mengerutkan dahi. “Udah itu aja?” tanyanya agak kecewa. Rai mengangguk.


“Emang tuh anak laki-laki siapa?”


Rai menggeleng. “Gue gak tahu pasti, samar-samar. Saat dalam mimpi gue tahu betul siapa namanya, tapi saat gue bangun rasanya ngeblank. Gue gak ingat sehurufpun nama itu.”


“Sulit kalau mau nemuin.” Vania mengeleng dan berdecak pasrah.


“Nemuin apanya?” tanya Rai heran.


“Lho, kalau elo gak ingat namanya gimana lo bisa nemuin tuh orang supaya lo gak kebawa mimpi terus.”


“Siapa juga yang mau nemuin tuh orang?”


“Hmm….kebanyakan nonton mahabarata dan baca primbon lo,” ledek Rai sambil menggelengkan kepala.


“Eh tapi lo mikir gak sih, kenapa lo mimpi yang sama selama semimggu. Aneh gak? Mungkin aja ada sesuatu di balik mimpi itu. Atau elo dijampi-jampi sama orang. Lo gak mau dong keterusan mimpi kayak gitu, bisa ganggu jiwa juga. Coba deh dikorek siapa tuh anak dan apa maksud dari mimpi tersebut.”


Rai mengangkat sebelah alisnya.


Surprise dengan tanggapan Vania atas masalah sepele yang menimpanya. Ia tak menyangka jika Vania bisa menanggapi serius dan berpikir jauh seperti itu. Ia memang perfect. Celetuk Rai dalam hati seraya tersenyum.


Rai kembali memikirkan perkataan Vania, kemudian merenung sejenak, “Tapi gimana caranya gue bisa nyari identitas tuh anak?”


“Napa lo gak tanya aja sama nyokap lo. Tetangga lo atau bik Inah yang udah bertahun-tahun di rumah lo,” saran Vania tanpa mengalihkan pandangan dari setumpuk salad buah yang kini disantapnya dengan lahap.


“Gue malu, Van,” akui Rai sekali lagi. Vania tertawa mendengar ucapan Rai. “Napa mesti malu? Kayak lo mau ngaku dosa aja.”


“Bukan gitu, gue emang jarang curhat-curhat ke bunda atau keluarga lain selain elo. Jadi.. risih dan gak sreg aja.”


Vania meletakkan garpu. Ia menatap lekat-lekat sahabatnya. Kemudian memegang punggung tangan putih kepucatan milik Rai.


“Udahlah, lo kan bukan mau curhat. Mau tanya apa dulu elo punya teman kecil? Namanya siapa? Sekarang dimana? Udah gitu aja.”


Rai menggigit bibir bawah. Sorot matanya beralih menatap kosong ke arah lantai. Ia nampak menimbang-nimbang tentang saran sohibnya itu. Sebenarnya ia tidak perlu sampai bertindak sejauh itu seperti saran vania. Hanya sekedar mimpi.


Sekedar mimpi?


Tidak semua mimpi sekedar bunga tidur.


Terkadang mimpi merupakan pesan, isyarat atau pertanda. Dari mimpi seseorang bisa mendapatkan petunjuk ataupun sugesti.


Jadi, seseorang tidak boleh mengabaikan mimpi yang memang perlu untuk dipikirkan. Begitu kata Vania dengan nada yakin dan serius. Rania memicingkan mata, kedua sudut bibirnya tertarik dari sisinya masing-masing.


Kemudian ia menepuk jidat Vania sambil tertawa lebar dengan pembicaraan yang berubah menjadi tegang itu. Ia menganggap lelucon dan khayalan Vania terlalu berlebihan.