
Raisya memasuki sebuah ruangan sidang seorang diri. Dia memaksa masuk disela-sela penjagaan dari petugas. Beberapa orang duduk di bangku-bangku paling depan. Empat orang duduk dibagian tengah sama membelakanginya dengan orang-orang yang ada di bangku. Rai berjalan mendekati mereka, tanpa seorangpun yang tahu.
Seorang pria tambun membaca kertas di hadapannya yang sama sekali tidak dimengerti oleh Rai. Tak lama kemudian pria bapak-bapak tersebut mengetok palu sebanyak tiga kali. Semua orang yang hadir nampak lega. Namun, tidak dengan Rai.
“TIDAKK!!” jerit Raisya kecil.
Matanya penuh air, semua orang menoleh. Meskipun Raisya kecil tak paham maksud bercerai, dia tahu bahwa keputusan bapak-bapak itu akan mengubah kehidupan keluarganya.
Wajah bunda terlihat sedih dia hampir bangkit dari tempat duduknya dan akan menghampiri Rai. Namun, Rai sudah keluar menghambur pada bik Inah sambil menangis. Bik Inah memeluknya sambil berusaha menenangkan.
Seharian Rai tak mau bicara dengan kedua orang tuanya. Dia hanya terisak dan mengurung diri di kamar. Rai memegangi foto dalam pigora besar yang berisi foto keluarga. Sebentar lagi keluarganya akan berubah, semuanya akan berbeda. Rai merasa kedua orang tuanya tidak sayang kepadanya lagi. Kemudian Rai membanting pigora itu sehingga terdengar suara benda yang pecah. Rai tersedu-sedu.
Dia mengambil foto yang diselipkan diantara diary bergambar putri salju. Foto dirinya dan kak Tegar. Dia memeluk foto tersebut, akan tetapi rasa benci yang teramat sangat menyeruak tiba-tiba dalam benaknya. Dia benci dengan kepergian Tegar, dia benci Tegar tidak disisinya sekarang, dia benci setelah Tegar pergi, kedua orang tuanya juga akan meninggalkannya.
Dia benci Tegar berbohong dan tidak mengirim surat kepadanya. Rai juga membuang foto tersebut. Dia benci dengan orang-orang yang dulu disayanginya.
Bunda masih terus-terusan menggedor-gedor pintu. Rai tidak menghiraukan. Satu jam kemudian, bunda berhasil mendobrak kamar Rai dengan bantuan bik Inah dan tukang kebun. Mereka terkejut melihat kamar yang berubah menjadi kapal pecah. Rai meringkih menangis di dalam lemari dan bersembunyi.
Bunda menghampirinya perlahan. Bunda berjongkok sambil mengelus rambut Rai. Bunda seolah menahan sesuatu dalam tenggorokannya yang terasa mencekat.
“Rai...bunda dan papa sudah berpisah. Rai mau ikut siapa? Bunda atau papa?” kata sang bunda. Rai cemberut. Dia menahan airmatanya agar tidak jatuh. Dia ingin terlihat tegar dihadapan bunda.
“Rai gak mau ikut siapapun. Rai benci bunda. Rai benci papa. Rai benci kalian semua. Tidak ada yang sayang dengan Rai. semua meninggalkan Rai.”
Raisya kecil menangis terisak sambil berlari keluar rumah. Dia menuju jalan raya sambil terus mengusap matanya dengan lengan baju. Bunda mengejar dari belakang. Akan tetapi Rai tidak melihat ada sebuah mobil yang melaju kencang. Dan BRAKK!!.
***
Rai tersentak dalam tidur pulas komanya, jari telunjuk kanannya bergerak-gerak. Kedua bola matanya berkedut berusaha melakukan sesuatu. Jari-jari yang lain ikut bergerak. Siang itu bunda libur total dari pekerjaannya, dan dia hanya berada di rumah sakit untuk menunggu Rai sadar.
Ketika masuk kamar, melihat jari-jari tangan Rai yang mulai bergerak, wajah bunda bersinar bahagia. Dia segera lari keluar memanggil suster dan dokter yang lewat. Dokter dan seorang suster sudah berada disebelahnya. Bunda berada di depan.
Pandangan Rai terasa buram dan tidak jelas. Langit-langit yang dilihatnya terasa asing. Itu bukan kamarnya. Pikir Rai. Dan bau obat begitu menyengat. Setelah sedikit mengerjapkan mata, barulah Rai paham dengan situasi dan kondisinya.
Dokter memeriksa pupil dan detak jantungnya. Sedikit mengecek dan mengontrol. Tersenyum pada Rai, dan kemudian mengajak bunda untuk bicara. Vania dan Zac masuk buru-buru ketika bunda dan dokter akan keluar.
“Ya ampun Rai. Syukur banget, elo udah siuman. Tahu gak gue beberapa hari gak bisa tidur tenang mikirin dan nangisin elo,” seru Vania sambil memeluk serta menciumi pipi Rai.
Rai berusaha duduk. Dia masih sangat lemah dan sedikit pusing usai operasi. Dia menatap Vania sama haru dan kangennya dengan yang dirasakan sohibnya tersebut. Pandangannya beralih pada Zac, seseorang yang telah disakitinya, seseorang yang sangat dirindukannya, yang meskipun telah jadi mantan kekasihnya, akan tetapi Rai tak bisa membohongi nuraninya sendiri untuk senang dengan kehadiran Zac.
Zac tersenyum simpul nampak sangat lega dan bersyukur. Dia mendekati Rai menyalami dengan kaku, tapi rupanya Zac tak mampu menahan rasa khawatir dan rindunya, dia memeluk Rai dengan erat meski sesaat saja.
Rai agak terkejut namun ia diam saja dan membiarkan Zac melepas rindu terhadapnya.
“Wah, selamat udah siuman Rai,” kata Sam yang tiba-tiba masuk membawa buket bunga segar dan parcel buah dalam kondisi kewalahan. “Hei..kalian ini niatnya jenguk tapi lupa sama barangnya,” sindir Sam ditujukan pada Vania dan Zac. Vania tersipu malu, dia segera membantu Sam untuk membawakan buah tangan tersebut.
“Makasih ya,” ucap Rai saat Vania menaruh bunga\-bunga segar itu di vas besar sebelah ranjangnya.
“Gimana keadaan kamu sekarang?” tanya Zac basa\-basi. Rai nampak senang sekaligus sedih atas perhatian yang diberikan Zac.
“Udah lebih baik. Makasih mau datang kesini,” jawab Rai memberikan senyum lemah dan matanya terlihat sayup\-sayup.
Bunda masuk dengan wajah penuh warna karena Rai telah siuman. Entah kenapa suasana ruangan menjadi dingin dan lebih kaku ketika bunda datang. Rai memalingkan muka. Zac, Sam dan Vania merasa tidak nyaman berlama\-lama disitu. Mereka memutuskan untuk pamit pulang.
Bunda mendekati ranjang Rai dan duduk di kursi sebelahnya. Mata bunda berkaca-kaca, dia membelai lembut rambut putrinya. Rai masih tak mau memandang bunda, ada kekesalan, kemarahan, sakit hati dan kebencian saat ini dalam hatinya.
“Bunda sangat cemas dan setengah mati memikirkan keadaan kamu yang tiba\-tiba harus dioperasi,” cerita bunda, terdengar isak pendek disela\-sela napasnya. “Tapi bunda senang kini kamu sudah sadar dan bisa cepat pulang.” lanjut bunda. Rai tak berkomentar, dia terlalu lemah untuk banyak bicara terutama meledakkan amarahnya pada sang bunda saat ini.
“Rai...” tegur bunda.
***
Keesokan hari, dokter yang juga teman baik orang tuanya datang memeriksa. Pagi itu Rai sudah menunggu saat-saat bertemu dokter Suta. Syukurlah kondisinya segera membaik pasca operasi. Meski masih lemah, Rai ingin menyelesaikan sesuatu dengan dokter Suta. Ia harus terlihat baik-baik saja dan sehat agar bisa meyakinkan dokter Suta bahwa dirinya kuat untuk mendengar kejujuran dokter Suta.
“Gimana pagi kamu hari ini?” tanya dokter Suta, mengambil alih pekerjaan dokter Kahar sebagai dokter Raisya. Karena dokter Suta adalah dokter keluarga sekaligus dokter spesialis syaraf.
“Cukup baik om,” jawab Rai melemah. Setelah dokter Suta memeriksa, Rai langsung pada pokok permasalahan.
“Sepuluh tahun lalu....saya pernah kecelakaan ya om?” tanya Rai tiba\-tiba. Dokter Suta melotot saking terkejutnya mendengar pertanyaan itu.
“Sepuluh tahun yang lalu, kecelakaan itu dan..semua yang terjadi sebelum saya kecelakaan kenapa saya tidak ingat om? kenapa baru sekarang saya ingat semuanya?” kata Rai menerawang ke langit-langit.
Dokter Suta menelan ludah dan nampak kebingungan. Rai tahu bahwa dokter Suta pasti juga berusaha menyembunyikan peristiwa sepuluh tahun lalu sama seperti semua orang.
“Rai bukan anak tujuh tahun yang polos dan lugu, Dok. Tapi, Rai udah lelah dengan semua rahasia ini. Rai berhak tahu segalanya. Dan dokter adalah salah satu kunci semua itu.” lanjut Rai. Ketika mengucapkan kata\-kata dokter, seolah Rai sedang menekan atau seolah mengancam.
Ia juga merasakan kepalanya nyeri pada bekas operasi, namun Rai menyembunyikan hal tersebut. Ia tak ingin obrolan serius beratakan akibat kondisinya yang belum stabil.
Dokter Suta duduk dan memegangi tangan Rai. Baginya Rai sudah seperti anak kandung sendiri. Dokter Suta sangat menyayangi Rai lebih dari karena anak sahabatnya, sedangkan dokter Suta sendiri tidak mempunyai anak.
“Sepertinya ingatan kamu pulih kembali. Memang sudah saatnya kamu mengetahui segalanya. Akan tetapi, om minta kamu jangan menyalahkan siapapun. Baik bunda maupun papa. Salahkan om atas semua ini,” dokter Suta menggenggam erat tangan Rai dan melepaskannya.
Dia menyandarkan punggung. “Sepuluh tahun lalu, setelah perceraian kedua orang tua kamu, kamu mengalami kecelakaan dan trauma hebat di kepala sehingga membuat amnesia atau hilang ingatan,” terang dokter Suta.
Rai menoleh heran dan berkata, “Kalau Rai amnesia, kenapa Rai masih bisa mengenal bunda, papa dan bibik serta keluarga lainnya? Rai juga mengenal diri sendiri.”
Dokter Suta mengangguk. “Bukan amnesia biasa. Akan tetapi Retrograde amnesia, ketidakmampuan seseorang mengingat peristiwa yang berlangsung sebelum kejadian trauma. Bisa sebulan, dua bulan bahkan setahun sebelum kejadian kecelakaan tersebut. Saat itu kamu tidak ingat tentang kecelakaan itu, tidak ingat kalau orang tua kamu telah bercerai, dan tidak ingat sebagian besar masa kecilmu saat usia enam tahun. Kejadian-kejadian itu seperti tak pernah ada bagimu. Kamu menganggap keluargamu masih baik-baik saja. Yah seolah di-skip begitu saja,” kata dokter Suta.
“Apa itu sebabnya Rai lupa dengan teman dekat Rai si Tegar? karena kami kenal sewaktu Rai usia enam tahun?” tanya Rai heran. Sekali lagi dokter Suta mengangguk.
“Bisa juga karena kamu terlalu sedih, kecewa dan sakit hati atas kepergiannya ke Surabaya dan juga sedih atas perceraian itu sehingga menimbulkan trauma. Jadi, memori dalam otak kamu mengenai dia hilang begitu saja. Dua hal yang sangat menyakitkan buat kamu.”
“Tapi, kenapa Rai baru ingat sekarang setelah sekian tahun?”
“Seperti kamu bilang. Kamu sudah dewasa dan tentu saja amnesia kamu bukan jenis permanen. Bukan alzheimer atau dementia. Entah karena kondisi dan situasi yang membuat kamu bisa ingat kembali. Apalagi setelah kamu mengalami operasi di otak. Rai, untuk alasan agar tidak menyakiti perasaan kamu dan membuat kondisi kamu semakin memburuk, sayalah yang menyarankan agar kamu hidup normal seolah kejadian sebelum kecelakaan itu tidak pernah ada. Tentang sahabat kecil kamu, si Tegar dia punya peranan penting dalam ingatan kamu dan juga kejadian tersebut. Saat kamu tersadar, kamu sendiri telah lupa bahwa pernah punya teman kecil bernama Tegar. Jadi...kami sepakat agar kamu tidak mengenalnya dan mengingat semua itu sama sekali,” bibir dokter Suta terasa kelu ketika mengucapkan kalimat terakhir.
“Maksud dokter memanfaatkan amnesia Rai buat nutupi semua sandiwara kedua papa\-mama yang sudah cerai?” tanya Rai ketus. Kali ini bekas operasi di kepalanya benar\-benar terasa nyeri dan dadanya sesak akibat shock. Dokter Suta nampak mengkeret dari kursinya.
“Hh..pantas aja bunda gak mau cerita soal kak Tegar. Benci melihat album foto kecilku karena ada Tegar. Kalian semua jahat. Gimana bisa misahin kenangan teman dekatku sendiri untuk kebohongan itu. Gimana bisa kalian menjadikan kak Tegar sebagai tumbal? Orang yang sangat aku sayangi dan nyaris aku lupakan begitu saja setelah sekian lama.” Rai nyaris berteriak saking marahnya dan tak kuasa menahan rasa sakit di kepala dan juga sesak napas.
Saat itu bunda masuk dengan mata terbelalak kaget melihat Rai memarahi dokter Suta.
“Rai... ada apa ini ?” bunda heran dan tidak senang dengan sikap Rai yang kurang sopan.
“Cukup semua sandiwaranya. Bunda, papa, om Suta sama aja. Semuanya KELUAR!” Rai berteriak dan meledak\-ledak disela\-sela kesakitannya. Dokter Suta keluar dengan wajah murung. Bunda masih mencoba menenangkan Rai yang menangis.
“Ada apa Rai? Kamu tenang dulu,” kata bunda berusaha memegangi Rai yang mengamuk sambil melempar\-lempar barang di dekatnya.
“Cukup bunda. Rai sudah tahu dan paham semuanya. Rai gak bisa memaafkan bunda dan papa. Sebaiknya bunda keluar sekarang, atau Rai yang keluar,” nada Rai terlihat mengancam.
Bunda terisak mendengar Rai yang mengusirnya. Saking marahnya, Rai tak mengijinkan siapapun masuk termasuk dokter dan suster yang akan memeriksanya.
Dia tak mau makan dan bahkan melepas infus dengan paksa. Untungnya ada petugas yang melihat Rai akan kabur dari rumah sakit dan segera diberikan suntikan penenang, sehingga Rai bisa kembali ke kamarnya tanpa perlawanan.