1001 For 1 First Love

1001 For 1 First Love
Bunga Tidur yang Lalu



Rai sedang berjalan menuju taman bermain di family garden perumahan tak jauh dari rumahnya, dia membawa sekotak kue yang baru saja dibeli. Ada beberapa anak laki-laki yang tengah bermain disana. Sekitar empat dari mereka berbadan besar dan berusia sekitar sepuluh tahun, datang menghadang Rai. langkah kaki Rai terhenti. Dia menelan ludah sedikit merasa khawatir.


“Sini makananmu!” pinta salah seorang dari mereka.



“Gak mau. Ini punya Rai.” Rai memegang erat kotak kuenya.



“Ah, dasar anak kecil. Sini kotaknya. Atau aku pukul ya!” ancam teman satunya. Rai sedikit gemetar, tapi ia tak sudi menyerahkan kotak kue tersebut. Dia akan memakannya dengan kak Tegar untuk makan siang setelah bermain.


“Pokoknya enggak!” kata Rai gentar.


Salah satu dari keempatnya langsung merampas kotak kue tersebut dan mendorong Rai hingga terjatuh.


Keempat anak laki-laki itu tertawa lebar sambil mencicipi kue. Mata Rai berkaca-kaca. Dia sadar tak akan mampu melawan mereka yang lebih tua dan lebih besar secara fisik. Apalagi dia seorang perempuan. Tak berapa lama, Tegar datang langsung memukul anak laki-laki yang mendorong Rai.


“Auch. Sialan. Kamu berani ya? Dasar, ayo kita keroyok,” kata anak tersebut.


Dua temannya memegangi Tegar. Dan yang lain langsung memukul wajah serta menonjok perutnya. Rai menjerit ketakutan. Untungnya perkelahian itu tak berlangsung lama. Ada satpam yang melihat dan segera melerai mereka.


Satpam tersebut menjewer anak-anak berandal itu lalu menyuruh mereka push up dan minta maaf pada Rai dan Tegar.


Rai duduk di bangku taman dengan Tegar. Bibir Tegar berdarah. Rai terisak sedih.


“Kakak terluka.”



“Gak pa\-pa Rai. Cuma berdarah dikit kok. Aku kan cowok, ini sudah biasa,” kata Tegar sok ksatria.



“Mereka jahat sekali ya kak. Udah ngrebut kue aku dan memukul kakak.”



“Iya. Kamu tenang saja. Selama ada kakak, Rai gak perlu khawatir. Kak Tegar akan selalu melindungi kamu.”




“Kakak akan selalu di dekat kamu supaya kamu bisa aman. Kita akan selalu bersama, jadi jangan takut.”



“Janji?” tanya Rai sambil mengulurkan kelingkingnya. Tegar tertawa kecil, dia mengulurkan jari kelingkingnya juga.


----


“Kak Tegar jahat. Baru kemarin kakak bilang kalau mau selalu jagain Rai. selalu didekat Rai. kenapa sekarang mau pergi.” Rai sudah berkaca-kaca. Dia akan melepas kepergian Tegar dan mamanya. Sang mama sudah berada dalam mobil. Tegar masih berada diluar.


“Maaf ya Rai. Aku terpaksa.” Tegar menunduk sedih. Tas ranselnya merosot dari bahu. Rai melipat tangan angkuh dan ia menggigit bibir menahan tangis.



“Kakak gak sayang sama Rai ya?”



“Kakak sayang sama kamu Rai. Tapi, kakak harus ikut mama.”



“Rai... mamanya kak Tegar sekarang sendirian. Kamu harus ngerti sayang, bahwa sang mama butuh kak Tegar supaya melindungi dan menjaganya. Kasihan mamanya kak Tegar gak punya teman,” ujar bunda memegang pundak Rai. Rai masih tak melepaskan lipatan tangannya yang angkuh.



“Trus siapa yang jadi pelindung, penjaga dan teman Rai?” protesnya.



“Kan kamu punya bangau\-bangau kertas itu. Mereka bisa jadi teman kamu. Meskipun kita jauh, aku akan selalu mengirim surat buat kamu supaya kita tetap berteman,” jawab Tegar. Rai tak berkomentar.


Tegar mendengus pasrah. Dia kemudian masuk ke dalam mobil. Mobil langsung meluncur pergi. Tangis Rai pecah. Dia berlari dan berteriak memanggil Tegar untuk kembali.


Tegar melihat Rai yang berusaha mengejar mobil mereka. Rai terjatuh saat mengejar mobil. Sahabat terbaik dan kakak baginya sedang meninggalkannya seorang diri.


***