
“Nih semua barang di brankas elo. Buat apaan sih,” kata Vania menumpahkan isi tasnya di ranjang.
“Gue baru ingat dan sadar kenapa selama ini mimpi gue dan di surat, selalu aja kak Tegar ngomongin tentang bangau kertas. Yah origami ini. Ternyata itu adalah pesan supaya gue cepet nyelesaikan buat ini sampai seribu,” terang Rai.
“Emang ini udah ada berapa?”
“Kayaknya baru seratusan.”
“Hah?wah bakalan lembur donk Rai.”
“Makanya itu Van, gue minta tolong elo bantu buatin dan juga ajarin bikin ini. Elo kan mahir buat ginian. Gara\-gara amnesia gue lupa cara buatnya meskipun sekarang gue ingat masa lalu gue, tapi itu gak ngebantu.”
“Hmm...butuh waktu lama juga sih kalau sebanyak itu.”
“Ayolah, Van..pliss..” rengek Rai.
“Oke\-oke. Tapi, setelah jadi seribu bangau elo mau ngapain?”
“Ke Surabaya. Seperti rencana awal.”
“Kenapa harus nunggu bikin origami segala?”
“Selain nunggu gue sembuh dan keluar dari sini, gue harus bikin origami buat dibawa ke Surabaya. Karena ini sesuai permintaan dan keinginan kak Tegar,” ucap Rai mendramatisir. Vania tak berkomentar lagi, dia mengajari Rai membuat origami berbentuk bangau setahap demi setahap.
***
“Raii....” teriak Vania saking senangnya saat membuka pintu.
Rai tersentak kaget dengan jeritan Vania ditengah keasyikannya menulis satu persatu lembar demi lembar kertas lipat yang berisi impian-impian. Selama semalaman akhirnya dia baru bisa membuat tiga buah origami.
Hanya tiga buah. Kemarin siang Vania mengajari dengan begitu cepat. Sehingga Rai kesulitan untuk mengikuti. Raut muka Rai berubah heran ketika Zac dan Sam datang bersama Vania.
“Kenapa kalian kemari?” tanya Rai.
“Setelah gue pikir\-pikir, terlalu lama buat gue bikin sendiri tuh origami. Apalagi elo yang gak pinter\-pinter bikinnya. Gue minta bantuan mereka supaya lebih cepat buatnya dan setelah gue ajari Cuma lima menit mereka udah bisa bikin sendiri dengan lihai,” jelas Vania. Rai manggut\-manggut. Ide Vania cemerlang juga.
Tanpa banyak bicara lagi, Vania sudah menyuruh dua cowok tersebut untuk mulai membuat bangau kertas. Ada canda. Tawa, beberapa kertas lipat yang sobek dan kusut sedangkan Rai tak hentinya menulis ratusan cita-cita pada kertas yang akan dilipat.
Sampai sore mereka menghasilkan sekitar lima ratus bangau kertas dalam ukuran mini.
Tak kalah limbah yang mereka hasilkan juga amat banyak. Hingga membuat suster yang datang membawakan nampan makan malam untuk Rai melotot marah. Selagi Zac dan Sam yang sukarela membersihkan, Rai berbisik pada Vania.
“Udah jadian lo sama kak Sam
“Lha trus, kenapa akhir\-akhir ini dia ngikutin elo?” tanya Rai menahan tawa.
“Dia itu ngikutin si Zac waktu gue minta bantuan bikin origami. Karena dia ngebet ingin ikutan ya gue manfaatin aja sekalian. Nambah pekerja. Hehe...” Vania terkikik.
“Jahat juga lo manfaatin anak orang. Pekerja. Emangnya romusha apa.” Rai tak kalah ikut terkikiknya. “Tapi Van, apa Zac tahu rencana gue?” tanya Rai tiba\-tiba sedih.
“Oh ya. Maaf gue harus cerita semuanya ke dia. Gak mungkin gue minta bantuan dia, tanpa ada alasan jelas. Apalagi ini nyangkut elo.”
“Terus, apa katanya? gimana reaksinya?” Rai penasaran.
“Dia gak komentar apa\-apa. Cuma bilang oke. Dan kayaknya dia paham banget sama situasi serta kondisi elo.”
Keterangan Vania tak menghiburnya. Malah membuatnya semakin sedih dan terpukul.
Untuk apa Zac membantunya melakukan sesuatu untuk cowok lain. Apa Zac tidak cemburu, marah atau sakit hati? Kenapa dia malah membantunya. Rai memandangi mantan kekasihnya itu dengan seksama.
Dan dia menyadari bahwa Zac nampak semakin kurusan serta dua lingkaran hitam dibawah matanya.
Jauh sekali di lubuknya ada sedikit rasa sesal ketika mengucapkan kata-kata putus dan mengatakan bahwa meski Zac adalah pacar pertamanya namun bukan cinta pertamanya. Ucapan macam apa itu? Entah perasaannya saat itu masih dilanda kekalutan bercampur aduk.
Mungkin benar ucapan Vania, dia agak sinting menyukai orang lewat surat-surat usang itu.
Rai tidak tahu bagaimana kelanjutan cerita hubungannya dengan Zac.
Dia ingin menyelesaikan urusannya dengan kak Tegar terlebih dahulu. Bertemu dengannya, menjelaskan semua kesalah pahaman, meminta maaf dan setelahnya Rai berharap ada akhir yang bahagia.
“Hh..rasanya tangan gue keriting bikin tuh mainan,” celetuk Sam meremas-remas jari-jari tangannya sendiri, ia meregangkan otot. Lamunan Rai buyar seketika.
“Makasih ya kalian mau bantu. Besok bisa bantu lagi kan? tinggal dikit lagi kok,” pinta Vania.
“Tinggal dikit? yang bener kurang separoh lagi bebh. Kurang 500. Wah, beneran keriting nih tangan,” sahut Sam. Mendengar kata\-kata bebh dari mulut Sam, Vania merasa geli dan jijik.
“Yah.. seenggaknya ini demi sohib gue. Berarti sohib kalian juga kan? gue traktir deh entar,” kata Vania.
“Gak usah pake traktir segala. Cukup elo mau nge\-date sama gue,” ujar Sam terkekeh. Vania menelan ludah kelagapan dia melirik Rai meminta tolong.
“Hahaha...gue bercanda, Van. Masa’ gue pamrih gitu. Meskipun elo ogah pacaran sama gue, gue gak akan nyerah gitu aja,” kata Sam sambil mengedipkan mata. Semua orang ikut tertawa lepas.
***